Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Lamaran


__ADS_3

Adi segera mandi. Air dingin di bak mandi nya benar benar terapi ampuh untuk menyegarkan otak nya yang kelelahan. Seharian lelah bekerja dan beraktivitas terobati dengan kesegaran air mandinya.


Malam itu dia tidur dengan nyenyak.


Hari Sabtu pagi, matahari bersinar cerah di langit timur. Adi terbangun dari tidurnya saat ketukan pintu kamar tidur nya terdengar keras.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Le bangun le.. Sudah pagi", terdengar suara Bu Siti dari luar pintu kamar.


Adi menguap lebar sambil menatap lobang angin di jendela kamar nya. Terlihat langit sudah terang.


Duda beranak satu itu segera turun dari kasur nya yang empuk dan lembut seperti roti tawar berlapis keju. Dengan langkah setengah sadar dia menuju ke arah pintu kamar.


Ceklek


"Ada apa sih buk? Pagi-pagi sudah teriak teriak seperti orang kebakaran saja", Adi menggerutu. Memang Bu Siti tidak pernah membangunkan Adi, tapi khusus untuk hari ini dia membangunkan putra bungsu nya itu.


"Eeeeee anak ini. Hari ini itu hari apa? Hari Sabtu, nanti sore malam Minggu. Waktu nya lamaran. Hari ini kamu tidak boleh pulang kesorean", cerocos Bu Siti sambil berkacak pinggang.


"Kan masih nanti sore buk. Lagian hari ini jadwal Adi cuma ke kecamatan Wana. Jadi gak harus bangun pagi", Adi menguap lebar dan kembali ke dalam kamar bermaksud untuk tidur lagi.


Bu Siti segera menarik tangan Adi.


"Ehhh malah mau tidur lagi. Ayo sana mandi", ujar Bu Siti sambil menggelandang tangan Adi ke kamar mandi.


Mau tidak mau Adi menuruti perintah sang ibu tersayang nya.


Pagi itu usai mandi, Adi segera bersiap siap. Tapi saat hendak berangkat, tiba tiba notifikasi WA masuk ke ponsel pintar nya.


Dari Didik!


'Bos, otewe rumahmu', cuma begitu bunyinya.


Adi langsung membatalkan rencana perginya.


"Buk tolong bikinkan kopi dong", teriak Adi dari ruang tamu.


"Lah gak jadi pergi Le?", tanya Bu Siti dari dapur.


"Didik mau kesini buk. Aku tunggu saja", jawab Adi sambil mendudukkan pantat nya di sofa ruang tamu.


Bu Siti dari dapur membawa secangkir kopi tubruk pesenan Adi. Usai meletakkan kopi, perempuan paruh baya itu segera menuju ke arah kamarnya. Cinta yang yang baru di bangunkan rupanya tidur lagi.


"Astaghfirullah. Bapak sama anak kog sama saja.


Ta Cinta..


Bangun Nduk, sudah siang ini", teriak Bu Siti sambil menggoyangkan badan Cinta.


Putri semata wayang Adi itu menggeliat dari tidurnya lalu menguap lebar. Perlahan dengan setengah ngantuk, dia keluar dari kamar sambil meraih handuk bergambar Disney princess nya.


Adi masih asyik menyeruput kopi nya saat Didik datang dengan Paino.


"Assalamualaikum Mas bos", ucap Paino.


"Walaikumsalaam. Ayo masuk", jawab Adi tanpa berdiri dari tempat duduknya.


Didik dan Paino langsung mendekat ke arah Adi. Paino yang baru pertama kali ke rumah Adi menatap sekeliling rumah.


'Mas bos rumah nya biasa saja. Tidak besar tapi bersih dan rapi'.


"Ada apa pak No?", tanya Adi sambil tersenyum.


"Enggak mas bos, itu anu", Paino tergagap berbicara. Dia takut menyinggung perasaan Adi.


"Kenapa pak? Rumah saya kecil gak kayak mandor proyek yang lain?


Hehehehe


Rumah itu hanya tempat berteduh pak. Asal cukup untuk tidur sekeluarga sudah cukup. Tak perlu besar, tak perlu mewah. Yang penting, kita nyaman di dalamnya", Adi tersenyum tipis.


Paino langsung manggut-manggut mendengar ucapan Adi. Bosnya ini memang sederhana orang nya.

__ADS_1


Didik segera mengambil rol pekerja di pekerjaan jembatan CV Barata Konstruksi. Adi memeriksa laporan itu dengan teliti. Kemudian dia membayar upah pekerja yang sudah dia siapkan.


Bu Siti dari dalam membawa 2 gelas kopi dengan nampan dan meletakkan di atas meja.


"Kog repot repot Bu?", basa basi Didik.


"Hanya kopi. Sebentar lagi nyonya Adi yang membuatkan kopi nya", ujar Bu Siti sambil melirik ke arah Adi.


Didik dan Paino saling berpandangan sejenak. Mereka bingung dengan kata-kata Bu Siti.


"Maksudnya apa Bu? Bukankah mas bos ini duda?", tanya Didik penasaran.


"Eeee jangan salah. Sebentar lagi mau lamaran loh Adi", Bu Siti menjawab sambil berlalu menuju dapur.


Didik dan Paino kaget mendengar jawaban Bu Siti. Mereka berdua langsung menatap wajah Adi.


"Beneran bos? Kapan?", Didik kepo.


"Nanti sore", jawab Adi singkat padat dan jelas.


Dua bawahan Adi langsung melongo. Berbagai pertanyaan melintas di kepala mereka. Tapi mau bertanya lebih mereka sungkan.


Usai Didik dan Paino pamit, Adi segera mengambil tas ransel punggungnya dan berangkat ke proyek pengaspalan jalan di kecamatan Wana.


30 menit kemudian, Adi sudah sampai di dekat tempat tungku aspal berada. Para pekerja nya sedang asyik bekerja. Kriswanto sang tukang kicir sedang asyik mengayunkan kicir aspal nya. Di sekelilingnya, sepuluh orang sedang membawa cikrak yang terbuat dari tutup drum aspal.


Adi memperhatikan mereka dengan senyum.


Pak Warno yang melihat bosnya itu segera mendekati. Adi mengeluarkan sebatang rokok Diplomat dan menyulut nya.


"Aman kan bos?", ucap Pak Warno kemudian.


"Aman terkendali", jawab Adi sambil mengepulkan asap rokok nya.


Sapri yang juga melihat Adi segera mendekati mandor proyek itu. Di tangan nya ada sebuah amplop coklat besar berisi duit.


"Ini mas titipan dari pak Purwadi. Kata beliau ini separuh dulu. Sisanya setelah team 100", ujar Sapri.


Adi segera membuka amplop coklat itu dan tersenyum lebar.


"Sampaikan kepada pak Purwadi, terimakasih banyak ya Pri".


Hari itu Adi menyelesaikan semua kewajiban nya dan pulang ke rumah pada jam 5 sore.


Sesampainya di rumah, semua orang ternyata sudah bersiap siap. Bu Siti sibuk bersama Nita dan Yu Sih menata sanggan untuk lamaran.


Hari yang melihat kedatangan Adi sedikit sore, segera menghardik adiknya itu.


"Eh sompret... Kurang sore pulang mu. Ditunggu dari tadi malah santai saja".


"Banyak kerjaan mas", ujar Adi sambil berlalu menuju kamar tidur nya.


Hari menggerutu dalam hati.


Selepas magrib rombongan keluarga Adi berangkat ke rumah Indri. Adi nampak gagah dengan celana kain nya, kemeja batik modern dan kopyah hitam.


Rombongan terdiri dari dua mobil. Mobil Hari di belakang membawa Hari, Nita dan dua putri mereka, Jenny dan Novel serta sanggan lamaran. Sementara itu mobil sejuta umat nya Eko, membawa Adi, Bu Siti, Pak Puh Bud dan Cinta.


Di rumah Bu Sarmi, nampak semua orang sedang sibuk. Indri sudah berdandan cantik dengan memakai kebaya putih dan jarik parang berwarna kuning kecoklatan. Kebetulan Nanik yang pintar bersolek, mendandani Indri dengan riasan tipis. Janda muda itu terlihat cantik sekali.


Di dapur, kuartet ghibah Yu Nem, Sudarti, Bik Sum dan Bu Yati sedang sibuk meracik soto ayam.


"Dar, tauge nya kamu taruh dimana?", tanya Yu Nem yang baru selesai menata suwiran daging ayam dan kentang diatas nasi putih.


"Itu diatas pogo (rak gantung) Yu", jawab Sudarti sambil menunjuk ke atas.


"Wah cah iki. Aku mana bisa meraihnya. Ti Yati, tolong ambilkan Ti", Yu Nem meminta bantuan Bu Yati. Istri pak Wito itu segera berdiri dan mengambil tauge di atas pogo.


"Eh rodok cepet titik ( Eh agak cepat sedikit), rombongan lamaran nya sudah datang", teriak Bik Sum yang baru masuk dapur.


Benar saja. Rombongan Adi mulai memasuki halaman rumah Bu Sarmi. Adi segera turun begitu mobil Eko sudah di parkir, di ikuti Bu Siti, Pak Puh Bud, dan Cinta. Eko segera membuka bagasi mobil nya. Bu Siti segera mengambil sanggan lamaran yang ada di belakang. Hari pun juga demikian.


Pak Jarno, Pak Wito, Wawan dan Bu Sarmi segera mendekati mereka.


"Sugeng rawuh teng gubug ipun Indri nggeh (Selamat datang di gubuknya Indri ya) Pak, Bu", ujar Pak Jarno sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Pak Puh Bud.

__ADS_1


Pak Puh Bud tersenyum tipis sambil menyambut uluran tangan Pak Jarno.


Bu Situ segera mengulurkan sanggan lamaran yang di bawanya kepada Bu Sarmi. Nita pun segera mengulurkan sanggan pada Narsih yang ikut menyambut kedatangan mereka. Jeni juga ikut mengulurkan sanggan lamaran. Nanik segera membantu menerima.


Mereka semua segera masuk ke dalam rumah Bu Sarmi usai saling bersalaman.


Indri yang duduk di dalam segera menyalami mereka dengan berdiri. Meski kaki nya masih belum boleh berdiri tanpa kruk, tapi karna ini acara keluarga Indri memaksakan diri.


Adi segera duduk di sebelah Indri.


Setelah bertanya keadaan keluarga masing masing, Pak Puh Bud tersenyum simpul dan berkata halus.


"Mohon maaf Pak. Kedatangan kami sekeluarga atas dasar keinginan anak kami yang bernama Adi ini untuk melamar putri keluarga ini. Apakah maksud baik kami ini bisa diterima?", tanya Pak Puh Bud sambil tersenyum.


"Urusan anak muda, biar mereka yang memutuskan Pak. Kami selaku orang tua hanya bisa merestui keinginan mereka.


Nduk Indri,


Apa kamu bersedia menerima lamaran dari mas Adi ini?", Pak Jarno menatap wajah Indri.


"Saya bersedia Pak Lik", Indri menjawab dengan malu-malu.


"Lah gimana gak mau wong sudah lengket kaya perangko gitu", celetuk pak Wito yang disambut tawa orang orang di ruangan itu.


Wajah Indri dan Adi merah seketika.


'Awas kau pak Wit, kupotong nanti bayaran mu', gerutu Adi dalam hati.


"Alhamdulillah ya, akhirnya di terima. Ayo Le, katanya mau sisetan (tunangan) sekalian. Mana cincin nya?", Pak Puh Bud tersenyum menatap Adi. Nanik yang di belakang Indri, segera menyodorkan sebuah tas plastik berisi cincin tunangan yang kemarin di beli Adi.


Adi lalu mengambil cincin emas. Kemudian setelah berkata "Bismillahirrahmanirrahim", Adi memakaikan cincin di jari manis Indri.


Indri pun sama, dengan menahan grogi, janda muda itu perlahan memakaikan cincin di jari manis Adi.


"Alhamdulillah", semua orang di dalam rumah menarik nafas lega dan tersenyum.


Dhea yang sedari tadi hanya diam saja di samping Bu Sarmi, tiba tiba berkata,


"Ayah,


Kapan aku punya adik?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya ampun Dhea😱😱😱😱


Itu ayah Adi dan Bu Indri baru juga lamaran..


Masak sudah minta adik??😁😁😁😁

__ADS_1


Terimakasih author ucapkan kepada kakak reader yang sudah berbaik hati memberikan like vote dan komentar nya πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Selamat membaca 😁😁😁😁


__ADS_2