Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Film India


__ADS_3

Adi segera keluar dari kamar tidur nya. Segera menyambar handuk nya dan bergegas menuju kamar mandi. Olahraga sore ini membuat nya bersemangat meski harus memenuhi keinginan sang istri.


Malam itu mereka beristirahat dengan tenang sampai pagi menjelang tiba.


Seperti biasanya, Indri dari pagi sudah muntah muntah. Bener bener teler dia. Morning sicknes nya membuat perempuan itu jadi tidak bisa beraktivitas sebelum jam 10.


Terpaksa Adi yang mesti bangun pagi untuk mengantar dua putri kecilnya berangkat sekolah. Baru saat pulang Indri bisa menjemput mereka.


Tak terasa sudah hampir 3 bulan usia kandungan Indri. Selama ini kontrol kandungan rutin di lakukan baik ke Dokter Herman maupun ke bidan desa. Perut Indri yang dulu rata sekarang sudah mulai buncit. Yang disyukuri Indri, morning sicknes nya mereda.


Cuma nafsu makan Indri saja yang meningkat drastis. Dulu makan paling 2 kali sehari, sekarang sehari bisa 4 sampai 5 kali tergantung mood nya.


Saat ini Adi sedang liburan, karena proyek nya baru tutup buku. Ke kantor CV Barata Konstruksi pun jika ada telpon dari bos Alex. Rencana untuk membuat kamar baru pun sudah hampir terlaksana, sebab semua bahan mulai pasir, batako, besi dan semen sudah di beli oleh Adi.


"Mas, besok jadi mulai gali pondasinya?", tanya Indri sambil mengelus perutnya.


"Ya jadi yank, tuh adik udah mulai besar. Dhea udah berani bobok sendiri. Cinta juga sudah minta kamar tidur nya sendiri. Kalau tidak segera, keburu keluar si adik kita yang repot nantinya", jawab Adi sambil tersenyum tipis.


"Tukang nya siapa mas? Sudah ada belum?", tanya Indri penasaran.


"Ada, si Antok yank..


Kenapa emangnya?", Adi menatap wajah Indri yang mulai chubby. Nafsu makan istri nya benar benar luar biasa belakangan ini berakibat berat badan nya naik secara signifikan.


"Mas Wawan sama Lik Wito kan nganggur mas, daripada nyari orang lain, mending kasih kerjaan ke saudara kan bagus. Itung itung sedekah mas", jawab Indri yang kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Hemmmm..


Begini yank, bukan mas gak percaya sama Mas Wawan soal tukang rumah nih, tapi mas kan belum lihat hasil kerja mas Wawan kayak gimana.


Begini aja wes, test drive gak papa. Mas Wawan jadi tukang biar di bantu Pak Wito. Antok biar tetep pasang juga, sekalian bawa pembantu 1 orang. Toh lebih cepat lebih baik kan?", ucapan Adi langsung disambut senyum manis Indri.


"Yo wes, aku tak telpon mbak Narsih dulu ya, biar besok mas Wawan dan Lik Wito langsung kesini", Indri segera berlalu ke arah kamar tidur untuk mengambil hape nya.


Bu Sarmi yang baru pulang dari pasar, meletakkan belanjaan nya di meja. Tadi pagi dia dan Nita belanja kebutuhan untuk acara besok.


"Wehhh edan..


Belanja habis duit 300 ribu dapat nya cuma segini. Sekarang semua kog jadi mahal ya?", gerutu Bu Siti sambil membongkar belanjaan nya di atas meja


Nita yang membawa kelapa dan minyak tampak keberatan menjinjing tas besar itu.


"Eh adik ipar gak ada akhlak,


Bantuin angkat Napa sih??", teriak Nita yang melihat Adi masih asyik menikmati rokok nya.


Dengan cengengesan Adi berdiri sambil mengangkat kelapa dalam tas plastik rajut itu.


"Banyak amat beli kelapa nya buk, buat apa?", tanya Adi pada Bu Siti saat meletakkan bawaan nya itu di sebelah nya. Indri yang baru dari dalam kamar tidur langsung mendekat ke ibu mertua nya.

__ADS_1


"Itu untuk persiapan telonan sekalian biar tidak bolak balik ke pasar", ujar Bu Siti yang tidak mengalihkan perhatian nya dari belanjaan nya.


"Owh....", Adi ber-oh ria sambil manggut-manggut.


"Jadi besok kan gali pondasi nya Di?", tanya Nita sambil mendudukkan dirinya di sofa samping Bu Siti.


"Kata Pak Puh Bud, hari yang cocok besok. Aku sih ngikut aja", jawab Adi yang duduk menjajari istri nya.


"Kamu sudah ngabarin tetangga sekitar kita?", tanya Bu Siti kemudian.


"Hanya Kang Min, Lik Sukir dan Memet Bu.. Wong ya cuma bikin tambahan kan, bukan bangun baru", Adi menatap wajah Indri.


"Eh yank, mas Wawan sama Pak Wito gimana? Bisa?", tanya Adi sambil memandang wajah chubby istri nya.


"Bisa mas, barusan Mbak Narsih bilang bisa", jawab Indri sambil tersenyum.


Siang itu mereka mulai mempersiapkan segala keperluan untuk besok. Nita dan Bu Siti menggoreng tahu dan kentang. Sementara Indri mengupas bawang merah dan putih untuk persiapan bumbu. Yu Sih yang baru saja datang, sibuk mencukil kelapa di belakang.


Adi juga belanja satu slop rokok untuk acara besok. Sekalian juga dia mengumpulkan alat kerja nya yang ada di belakang rumah.


Menjelang malam, anak anak asyik menonton TV usai belajar di temani Bu Siti, Adi dan Indri. Mereka ribut berebut remote tv untuk mencari saluran acara favoritnya. Adi ingin nonton bola, Bu Siti dan Indri mau melihat sinetron sedang Dhea ingin nonton serial duo botak asal negeri jiran.


Akhirnya semua kalah dengan Dhea. Cinta memilih menonton Drakor di hape nya. Adi streaming bola di ponselnya dan Indri serta Bu Siti memilih duduk menemani Dhea sampai serial duo botak asal negeri jiran itu selesai.


Malam semakin larut. Dhea sudah berlalu ke kamar nya. Cinta dan Bu Siti juga sudah tidur di kamar mereka. Tinggal Adi dan Indri yang masih menonton film Shahrukh Khan yang entah sudah diputar berapa kali, tapi tetap saja Indri menyukainya.


"Gak bosen yank?", tanya Adi sambil menguap. Kelihatannya dia mulai mengantuk.


"Hadehhh..


Padahal nonton film ini sudah 5 kali. Masih aja suka", gerutuan terdengar dari mulut Adi.


"Gak peduli ya, suka ya suka. Pokoknya mas Adi harus nemenin aku sampai film habis", Indri mendelik ke arah suaminya.


"Iya iya mas temenin sampai selesai", Adi merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai.


Jam 22.30 film India selesai. Indri yang sedari tadi asyik menonton tak menyadari kalau Adi sudah pulas tidur. Melihat suaminya tertidur, Indri segera membangunkan nya.


"Mas, bangun..


Katanya nemenin malah tidur.


Bangun mas, ayo pindah ke kamar".


Adi menggeliat dari tidurnya dan segera mengikuti langkah sang istri menuju kamar tidur mereka.


Keesokan paginya..


Adi sibuk menyalami orang orang yang datang untuk membantu penggalian pondasi ruang tambahan mereka.

__ADS_1


Semua orang yang di kabari Adi hadir termasuk Wawan dan Pak Wito. Sebelum dimulai, Mbah Sunar memimpin kenduri selamatan. Semua orang yang hadir duduk bersila di ruang tamu.


Ada ingkung ayam, apem, jenang merah putih, sambel goreng kentang, tahu goreng, mie goreng dan urap sayur sebagai lauk. Tak lupa buceng dan nasi gurih juga ada.


Dengan lancar, Mbah Sunar membacakan hajat niat kenduri selamatan pagi itu.


Usai kenduri, beberapa orang pulang ke rumah masing-masing membawa berkat nasi kemudian tak lama balik lagi.


Mulailah mereka bahu membahu menggali tanah untuk pondasi bangunan tambahan dengan kompak.


Adi segera membuka satu slop rokok yang kemarin dia beli. Bu Siti menyiapkan aneka jajan dan minuman untuk para sayan ( orang yang bekerja tanpa di upah /gotong royong).


"Kog kamarnya gede banget Di?", tanya pak Puh Bud sambil mengebulkan asap rokok.


"Lha gimana loh Puh? Kalau terlalu sempit, takutnya tidak cukup ruang karena bayi kan biasanya gerak terus", jawab Adi sambil tersenyum.


"Eleh alasan doang..


Bayi atau bapak nya yang gerak terus?", Pak Puh Bud tersenyum penuh arti.


Dengan tersenyum malu-malu, Adi menjawab.


"Dua duanya Puh".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*I*kuti terus kisah selanjutnya gaes..


Yang suka dengan cerita ini silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2