
Adi terkejut mendengar ucapan Bu Mamik. Apalagi banyak anggota keluarga Heni di sana.
Adi jengah bukan main.
Sore itu Heni terlihat cantik dengan gaun berwarna krim di padu motif bunga biru langit.
Hijab syar'i dengan warna senada membuat wanita itu benar benar bintang acara sore itu.
"Ibuk apaan sih? Jangan bikin mas Adi malu dong", sahut Heni membela Adi walaupun wajah nya sendiri merah seperti kepiting rebus.
"Selamat ulang tahun ya Hen, semoga semua doa nya di kabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa", Adi mengulurkan tangannya berisi kado yang baru dia comot dari dalam tas nya.
Heni benar benar terlihat bahagia dengan kado ulang tahun dari Adi. Senyum manis mengembang di wajah bulat telur nya.
"Cieeee yang dapat kado dari gebetan", ujar Bu Mamik meledek Heni.
"Buk, apaan sih?! ", ujar Heni yang tersenyum malu-malu tapi mau.
"Udah jangan ngoceh aja, gak kasian apa sama Adi..
Di, ayo duduk sini sebelah ku", ujar ayah nya Heni dengan ramah.
Adi beringsut duduk dekat dengan Pak Rahmat ayahnya Heni. Bu Mamik buru buru menarik Heni agar duduk di sebelah Adi. Setelah Heni duduk, Bu Mamik menyusul di sebelah Heni.
Setelah itu, seorang pelayan masuk membawa kue ulang tahun yang menunjuk angka 26.
Suasana tambah meriah saat Heni meniup lilin.
"Potong kuenya potong kuenya sekarang juga sekarang juga", sorak sorai tamu semakin membuat riuh suasana.
Heni dengan hati hati memotong kue dan menaruh diatas piring kecil. Semua orang bertanya dalam hati, kepada siapa potongan pertama di berikan.
Heni langsung menuju Adi yang ada di sudut ruangan. Dan menyerahkan potongan kue ulang tahun nya. Fajar, Bu Mamik dan pak Rahmat tersenyum penuh arti. Mereka tau bahwa Heni benar benar menyukai Adi.
Semua keluarga Bu Mamik cukup antusias dengan kehadiran Adi. Sebab selama ini Heni tidak pernah mengenalkan seorang pemuda kepada mereka.
Sampai magrib pun, acara tetap meriah. Heni dan Adi ikut sholat berjamaah di mushola kecil di rumah makan di imami ayah Heni.
Selesai sholat, Adi bermaksud pamit. Tapi di cegah Bu Mamik.
"Bu Mik, saya pulang dulu ya, terimakasih untuk jamuan nya"..
"Eeetttt tunggu dulu Di, kita pulang sama sama. Mobil Fajar sudah penuh. Dita dan Irfan sudah tidur", potong Bu Mamik.
"Maksudnya gimana Bu Mik, gak paham saya", jawab Adi sambil garuk-garuk kepala.
"Maksudnya Heni pulangnya gimana? Kamu tega Heni pulang naik ojek?", Bu Mamik menyudutkan Adi.
"Apa mau Heni saya bonceng motor Bu Mik?", sahut Adi kemudian.
"Mau,pasti mau. Ya kan Hen?", Bu Mamik menatap wajah Heni sambil mengerling mata.
Wajah cantik Heni auto merona, dan mengangguk tanda setuju.
"Ya sudah kalian berangkat dulu, kami beresin dulu pembayaran nya.
Hati hati ya Di, titip putri bungsu ku", ujar Bu Mamik seraya menarik tangan pak Rahmat untuk menjauh.
"Kita pulang sekarang?", tanya Adi sambil menatap wajah Heni.
"Ayo mas, eh sebentar aku ambil helm dulu ya", ujar Heni kemudian berlalu ke mobil Phanter nya Fajar.
__ADS_1
'Helm? Kog ada helm di mobil Fajar? Apa ini di rencanakan?' batin Adi sambil memakai helm KYT putih half facenya.
Tak berapa lama kemudian Heni datang dengan memakai helm.
Adi sudah men-start motor Vixion kesayangannya, Heni langsung naik. Sedikit kesulitan karna gaun panjang nya, tapi kemudian berhasil juga. Segera tangan Heni melingkar mesra di pinggang Adi. Adi pun tak bisa protes, dan segera menjalankan motor nya meninggalkan restoran itu.
Sepanjang perjalanan, Heni menyandarkan kepalanya ke pundak Adi seperti pasangan ABG lebay yang baru pacaran. Jantung Heni berdetak kencang. Ada rasa bahagia bisa memeluk tubuh Adi walau hanya boncengan.
Setelah 30 menit, Adi sampai di rumah Bu Mamik. Heni segera turun dari motor Vixion Adi. Dan segera membuka kunci pintu rumah nya.
"Mas, kenapa masih di situ?", panggil Heni melihat Adi masih di atas motor nya.
"Lha memang mau pulang kog", ujar Adi cuek saja.
"Mas tunggu sebentar. Aku punya sesuatu buat Cinta", Heni berlari masuk ke dapur rumah nya.
Tak berapa lama kemudian, Heni membawa box es krim dan satu tas plastik berisi fried chicken hasil masakan nya.
Tanpa basa basi Heni menggantungkan box es krim di stang motor Adi.
"Ini buat Cinta, besok box es krim nya tak ambil lagi ya mas. Punya Irfan itu hehehehe.
Ya sudah mas Adi boleh pulang. Hati hati", Heni mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Adi menyambut nya dan.....
Cup..
Heni mendaratkan ciuman ke punggung Adi layaknya salaman seorang istri pada suami saat mau berangkat kerja.
Adi tersenyum tipis. Sudah lama dia tidak merasakan sensasi di manja seorang wanita seperti ini.
"Wassalamu'alaikum".
"E-eehh iya Walaikumsalaam", Adi tergagap berbicara.
Adi segera memutar motor nya, setelah posisi siap Adi menoleh ke Heni dan perempuan itu tersenyum manis.
Adi memacu motornya, berpapasan dengan mobil Phanter milik Fajar di tikungan. Adi membunyikan klakson 2 kali lalu segera menghilang di gelap malam.
Baru Heni mau masuk rumah, mobil Fajar masuk ke halaman rumah.
Fajar yang baru turun, bukan nya menggendong dua anak nya yang tidur, malah mendekati Heni.
"Gimana Hen?", ujar Fajar nyengir kuda.
"Gimana apa sih mas? Kalau tanya yang jelas", potong Heni.
"Itu si Adi gimana? Jangan pura pura bego deh", sungut Fajar karna jawaban Heni.
"Mas Adi? Mas Adi orangnya baik, ganteng, perhatian, sopan, pekerja keras beda dengan mas Fajar", ucap Heni.
"Hem bucin akut kalau ngomong asal bunyi aja. Sana puji terus sampai kering itu bibir", Fajar kesal dengan sikap Heni langsung ke mobil Phanter milik nya.
Bu Mamik yang super kepo, segera mendekati Fajar.
"Gimana jar? Ada peningkatan tidak?", tanya Bu Mamik dengan raut wajah penasaran.
"Ibuk tanya aja Heni sendiri", jawab Fajar ketus.
"Lha kog malah ibu di suruh tanya sendiri. Kamu itu gimana to jar jar...", Bu Mamik menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
__ADS_1
"Auk ah gelap", Fajar ngeloyor masuk rumah sambil menggendong si kecil Irfan yang sudah tertidur.
Bu Mamik hanya menggeleng melihat tingkah laku putra sulungnya itu.
Adi memacu kuda besi nya dan sudah sampai di rumah. Pintu rumah masih terbuka, dan sepertinya ada tamu. Setelah motor terparkir di teras, Adi masuk ke dalam rumah. Ternyata tamunya pak RT.
"Eh mas Adi, kebetulan ini", ujar pak RT.
Adi menyerahkan box es krim dan tas plastik isi fried chicken kepada Bu Siti.
Bu Siti segera membawa box es krim dan tas plastik itu ke belakang.
"Ada pak RT? Tumben mampir ke rumah", ujar Adi sambil melepaskan tas ransel nya.
"Besok Minggu kita ada acara kerja bakti mas, semua warga diminta berpartisipasi", jawab pak RT menunggu jawaban Adi.
"Inshaa Allah pak, belum bisa bilang bisa. sebab saya ada pekerjaan aspal di kecamatan Gandu. Kalau pekerja masuk saya harus tetap ke lokasi proyek", jawab Adi diplomatis.
"Lha memang kalau Minggu gak libur ya mas?, pak RT kepo.
Adi tersenyum kecut dan menjawab,
"Kami bukan pegawai pak, yang tiap Minggu ada jadwal libur nya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat menjalankan ibadah puasa ya guys
*Simak terus cerita ini.
Jangan lupa untuk dukung author dengan like vote dan komentar nya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁😁*