
Tuuuttttttttttttt
tuuuttttttttttttt...
Adi mencoba menelpon kakak nya Hari agar menjemputnya di rumah Indri. Namun kakak Adi yang berprofesi sebagai pedagang buah itu tidak juga menjawabnya.
"Kemana sih Mas Hari? Selalu pas aku butuh pasti sulit di hubungi", gerutuan segera terdengar dari mulut Adi. Hari sudah beranjak sore, dia ingin pulang. Tadi Eko di WA katanya ada keperluan di Malang dan belum pulang.
"Gimana mas? Bisa Mas Hari jemput?", tanya Indri lembut.
"Tau nih. Dari tadi di telpon juga gak ngangkat. Kalau gak ada yang jemput, nanti malam nginep aja disini", Adi tersenyum penuh arti.
"Haaaaaaaahhhh??!!!!
Mas belum boleh ya nginep disini. Gak gak boleh", Indri mengayunkan tangan nya tanda melarang.
"Lha kenapa yank?", Adi tersenyum geli melihat tingkah Indri.
"Apaan.. Mas Adi ada orang aja main sosor seenaknya, apalagi kalau sampai nginep ihhh", Indri merinding disko membayangkan kalau Adi menginap, terus malam malam Adi menyusulnya tidur pasti ahhh... Indri langsung merona wajah nya.
"Hehehehe pasti ngehalu yang gak gak deh kamu yank..
Tuh merah mukanya", Adi cengengesan.
Indri semakin merah wajah nya.
Trio ghibah yang baru kena musibah, kembali nguping pembicaraan mereka. Sepertinya mereka belum kapok juga.
"Mosok beneran Adi mau nginep disini?", tanya Bu Yati pada Yu Nem.
"Wah bakalan kejadian ini", sahut Sudarti.
"Sudah tua masih juga ngeres. Yuk pulang, dari pada disini kita ngiler sama kemesraan mereka", Yu Nem melangkah keluar dari dapur. Sudarti dan Bu Yati mengikuti langkah nya.
Bu Sarmi yang baru masuk dapur, melihat dapur kosong, celingukan mencari trio ghibah yang pulang tanpa pamit.
"Wooo dasar gemblung. Main pulang tanpa pamit", gerutu Bu Sarmi kemudian.
Saat Adi kebingungan, Wawan datang bersama Dhea dan Aldi. Mereka baru dari rumah Pak Jarno menghadiri ulang tahun cucunya yang ketiga. Begitu turun dari motornya Wawan, dan melihat Adi gadis kecil itu segera menghambur ke arah Adi minta gendong.
"Ayah baru kerja?", tanya Dhea dengan memeluk Adi.
"Iya nak, ayah baru kerja", jawab Adi sambil tersenyum licik pada Indri sambil menggendong Dhea ke arah dapur, waktunya mandi.
Perempuan itu buru buru menundukkan kepalanya, takut Adi membaca isi otaknya. Setelah melihat Wawan, selintas ide segera berkelana di kepala Indri.
"Eh mas Wan, bisa minta tolong gak?", tanya Indri pada Wawan yang baru naik teras depan rumah dengan Aldi.
"Ehh minta tolong apa Ndri??", Wawan sedikit penasaran.
"Itu, tolong antar mas Adi pulang. Tadi kesini dia diantar temannya. Bisa mas?", Indri menatap penuh harap.
"Yo gak papa. Sekarang atau kapan?", Wawan bertanya lagi.
"Yo sekarang to mas. Sudah sore ini", Indri melirik langit yang mulai berwarna kuning.
"Oke. Panggil sana calon suami mu. Tak tunggu di depan", Wawan ngeloyor keluar sedang Indri langsung menuju ke arah dapur, memanggil Adi.
Tak berapa lama kemudian, Adi dan Indri sudah sampai di teras rumah. Setelah bersalaman dengan Indri, Adi melangkah keluar rumah dan naik ke motor Supra nya Wawan. Sekejap kemudian, mereka berdua sudah berlalu meninggalkan rumah Indri.
Indri melambaikan tangannya saat mereka mulai keluar halaman rumah.
__ADS_1
Motor Wawan terus membelah jalanan. Motor tua yang sudah tidak karuan catnya itu terus melaju.
Sepanjang perjalanan, mereka nyaris tanpa bicara kecuali saat Adi mengarahkan jalan menuju rumah nya.
Agaknya masalah dulu membuat Wawan takut untuk akrab dengan calon adik iparnya itu. Adi pun mengerti. Walau Adi calon adik ipar, tapi secara usia dia lebih tua 3 tahun dari Wawan.
30 menit kemudian, mereka sampai di rumah Adi.
"Mampir dulu mas", tawar Adi kepada Wawan.
"Gak wes, terimakasih. Kasian Aldi dan Narsih nunggu di rumah", Wawan menolak halus.
"Ya sudah kalau begitu. Ini buat beli bensin mas. Hati hati di jalan", Adi menyalami Wawan seraya memasukkan 2 lembar ratusan ribu dan langsung menuju ke teras rumah nya setengah berlari.
Wawan yang hendak menolak, sudah tak melihat lagi Adi. Dia membuka tangan nya, dan melihat 2 lembar ratusan ribu itu. Mantan preman Bungurasih itu tersenyum tipis.
Hemmmm
'Tak salah pilihan adik ku. Dia benar benar baik', batin Wawan.
Pria itu lalu memutar motor nya dan meninggalkan tempat itu segera.
Adi langsung menuju ke arah kamar mandi setelah mengambil handuk di kamar tidur nya.
Bu Siti yang sedang menggoreng dadar jagung manis, langsung menoleh saat Adi mengambil sebiji gorengan itu.
"Darimana Le? Kog ngilang seharian", tanya Bu Siti sambil terus melanjutkan aktivitas nya.
"Dari rumah Indri buk", Adi mengunyah dadar jagung manis nya. Terasa gurih dan manis.
"Hoalah Le, baru juga tadi malam kesana, kog ya sudah kesana lagi.
"Ya jelas dong, aku masih ingin nambah momongan buk. Biar rumah ini ramai suara anak kecil", ujar Adi sambil berlalu menuju kamar mandi.
Jeburrr jeburrr
Suara air mengguyur langsung terdengar dari dalam kamar mandi. Air kran bergemericik.
"Buk, shampoo nya habis ya? Perasaan kemarin masih banyak", teriak Adi dari dalam kamar mandi.
"Tumpah le, tadi keranjang nya jatuh", jawab Bu Siti kemudian.
15 menit kemudian, Adi sudah selesai mandi. Calon suami Indri itu segera bergegas menuju kamar tidur nya untuk berganti baju. Tak lupa tangannya menyambar dadar jagung manis buatan ibunya.
Cinta yang baru pulang sekolah Diniyah, langsung berlari masuk setelah memarkir sepeda Polygon nya di teras.
Adi yang baru selesai ganti baju, langsung menggendong gadis kecil itu saat melintas di depan kamar tidur nya.
"Dapat jackpot", ujar Adi sambil mencium pipi putri kecilnya itu.
Kumis Adi yang sudah tidak bercukur 2 hari membuat Cinta meronta-ronta kegelian.
"Sudah ayah.. Cinta sudah gede. Malu", teriak Cinta sambil merosot turun dari gendongan Adi.
"Lahh baru juga kemarin ngompolin ayah, kog sekarang sudah bilang gede", ucap Adi yang di sambut kepalan tangan dari Cinta. Gadis kecil itu segera masuk kamar tidurnya. Sudah pasti mau nonton YouTube dari hp nya.
Adi terkekeh geli melihat ulah putri kecilnya itu.
Duren itu kembali menuju ke arah dapur. Kembali menyambar dadar jagung manis yang ada di meja dapur. Selain bothok teri, dadar jagung manis adalah salah satu makanan favorit Adi.
"Buat lauk Le, jangan di ganyang gitu napa?", gerutu Bu Siti melihat Adi terus memakan dadar jagung manis itu dengan cabe rawit.
__ADS_1
"Lah sama sama dimakan buk, hajar aja sekarang", Adi terus saja melanjutkan acara makan dadar jagung nya.
Habis satu, tangan Adi meraih satu lagi. Bu Siti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Adi.
"Assalamualaikum..."
Terdengar suara dari luar pintu rumah. Suaranya familiar. Cewek lagi.
"Walaikumsalaam,
Siapa Le?", tanya Bu Siti pada putranya itu.
"Meneketehe...
Orang kita sama sama di sini", jawab Adi asal.
"Coba kamu lihat siapa tamunya, barangkali penting. Sana buruan", perintah Bu Siti kemudian.
"Ogah, Adi lapar buk. Ibu saja yang kesana. Adi masih mau makan", Adi berdiri sambil mengambil piring dan mengisi nasi dari magicom.
Duda beranak satu itu segera memenuhi piring nya dengan sayur lodeh nangka muda, dadar jagung manis dan pindang ikan laut. Dia makan dengan lahap karna seharian perutnya hanya kemasukan kopi dan pisang goreng di rumah Indri.
Bu Siti mengelus dadanya melihat ulah putranya itu dan meninggalkan dapur. Untung acara masaknya sudah rampung.
Sesampainya di ruang tamu, seorang gadis nampak berdiri di depan pintu rumah. Memakai jilbab dan nampak sopan. Di tangan nya sebuah rantang susun stainless steel nampak sedikit berat.
Heni...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lah ini kenapa nongol juga sih? 😱
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya ❤️❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁😁
__ADS_1