
Indri masih termangu memandangi wajah Adi. Tanpa sadar dia menyentuh bibirnya.
Adi dengan santainya berjalan mendekati Dhea. Gadis cilik itu tersenyum bahagia. Adi mengelus kepala Dhea.
Bu Sarmi tergopoh-gopoh masuk. Melihat Adi disitu, wajah Bu Sarmi lega.
"Nak, baru saja aku dari ruang informasi kalau besok Indri sudah boleh pulang".
"Alhamdulillah", teriak Adi dan Indri kompak.
"Tapi masalah nya ibu tidak punya cukup uang untuk membayar biaya perawatan nya", Bu Sarmi menundukkan kepalanya.
Adi buru buru mendekati Bu Sarmi.
"Bu tenang saja. Semua biaya pengobatan Indri adalah tanggung jawab Adi. Ibu tidak perlu repot-repot memikirkan nya".
Mata Bu Sarmi berkaca-kaca. Hati nya terasa lega. Indri pun tersenyum simpul melirik kearah duda beranak satu itu.
Adi bergegas menuju kasir rumah sakit. Usai membayar biaya perawatan Indri, Adi kembali ke kamar rawat inap Indri.
Dhea masih asyik dengan ayam goreng kentaki nya. Sedang Indri asyik berbincang dengan Bu Sarmi.
"Bu, saya pamit pulang dulu ya. Sudah malam. Oiya urusan pembayaran sudah saya selesaikan. Saya mohon pamit", ujar Adi sambil mengangkat ranselnya.
Dhea langsung berlari ke arah Adi.
"Ayah ikut".
Gadis cilik itu langsung memeluk kaki Adi yang membuat Adi langsung berjongkok sambil menggendong Dhea.
"Ehhh Dhea jangan nakal ya. Om ganteng ada pekerjaan. Dhea hayo, sini nak", ujar Indri sambil membuka tangan nya lebar.
Dhea menggelengkan kepalanya.
"Lho Dhea tidak boleh gitu. Besok ayah Dhea kesini lagi. Besok kita pulang Nduk. Sini sama Mbah cah ayu", bujuk Bu Sarmi.
Dhea tetap menggelengkan kepalanya.
Indri yang jengah seketika kesal dengan ulah Dhea.
"Dhea cepat turun! Kalau Dhea tidak mau turun, besok ayah Dhea tidak akan menjemput kita untuk pulang".
Indri mengerling mata pada Adi, memohon Adi mendukung nya.
Dhea menoleh ke Adi.
"Ayah besok jemput Dhea?".
"Iya nak, besok pagi ayah jemput. Ayah mau cari mobil buat besok kita pulang ya", jawaban Adi membuat Dhea tersenyum.
Gadis kecil itu melorot dari gendongan Adi. Kemudian meraih tangan Adi dan mencium punggung tangan Adi.
"Gadis pintar"
Dan ritual salim pun berulang lagi. Bedanya Indri begitu menikmati saat mencium punggung tangan Adi.
Bayangan Adi sudah menghilang di balik pintu rumah sakit. Namun Indri masih memandangi nya seolah Adi masih ada disana.
'Apakah om ganteng mencintai ku? Kalau tidak mencintai ku, kenapa tadi mencium ku? Apakah arti ku di hidupnya?'
Berjuta pertanyaan memenuhi otak Indri.
Adi memacu motornya meninggalkan rumah sakit. Usai mengisi bensin di pom bensin, Adi memacu motornya menuju ke selatan. Sesampainya di di kecamatan Selo, Adi menghentikan laju motornya.
Sebuah warung malam bertuliskan Lalapan belut, tampak ramai dengan pengunjung. Menu nya sederhana. Nasi plus belut goreng dengan sambal bawang di patok harga 8 ribu rupiah.
Adi mengambil tempat di ujung warung, seorang pelayan ibuk ibuk berusia muda mendekati nya.
__ADS_1
"Mau pesan apa mas? Tinggal belut sama ikan lele".
"Lalapan belut satu porsi, lele 2 porsi lalapan tanpa nasi", ujar Adi sambil mengambil sebotol minuman mineral di rak.
Sambil menunggu pesanan, Adi membuka ponselnya. Puluhan notifikasi WA memenuhi seluruh layar.
Sejak kecelakaan kemarin Adi memang tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Bukan apa-apa, tapi dia tidak mau konsentrasi nya buyar gara gara Depi, Maya atau Heni.
3 perempuan itu sukses membuat mood nya berantakan.
Satu persatu Adi membaca pesan di aplikasi WA. Rata rata sama, menanyakan kabar Adi yang menghilang selama 2 hari.
Dengan Santai, Adi membalas chat mereka satu persatu. Tak berlebihan, hanya sekedar nya saja.
Setelah pesanan datang, Adi memasukkan kembali ponsel pintar nya ke dalam tas kecil nya. Lalu Adi segera menyantap makanan nya. Perutnya benar benar lapar.
***
Di lain tempat, Heni yang asyik menonton TV di kejutkan oleh notifikasi WA. Wanita itu buru buru membuka aplikasi tersebut.
Ting Ting
Balasan dari Mas Adi, batin Heni gembira. Dari kemarin gadis itu bertanya tanya. Setelah mendapat balasan dia tersenyum tipis.
"Ada apa Hen? Kog senyum senyum sendiri?", ujar Bu Mamik yang mengagetkan Heni.
"Astaghfirullah. Ibuk bisa gak sih gak ngagetin orang??".
Wajah cantik Heni cemberut sedangkan Bu Mamik malah terkekeh geli.
"Dari Adi si duren gantengnya melebihi artis sinetron itu ya?", Bu Mamik sukses membuat wajah Heni merona.
"Ibuk apaan sih?? Kepo banget urusan anak muda", sergah Heni menyembunyikan ponselnya.
"Elehhh walaupun ibu sudah tua, tapi masih lebih pintar daripada yang muda tapi bego urusan pacaran", Bu Mamik mencibir.
"Auk ah gelap", Heni ngeloyor pergi.
***
Maya sedang asyik mengerjakan penawaran proyek, tak begitu memperhatikan saat notifikasi WA nya berbunyi.
Suara lagu pop rock dari The Calling yang di putar keras di kamarnya benar benar membuat nya tidak bisa mendengar suara apapun.
🎵🎶
**If i could
There i would
I Will go wherever you will go
When you high
Or down low
I Will go wherever you will go
🎵🎶**
Alex yang berada di luar kamar adiknya, hanya menggelengkan kepalanya dan memukul pintu kamar Maya dengan keras.
Brak brakkk
Maya mendengar pintu kamar nya di gebrak, buru buru mengecilkan volume music box nya.
"Ada apa bang?", tanya Maya bego.
__ADS_1
"Ada apa ada apa?? Noh musik mu bikin orang se kompleks perumahan komplain", Alex mendelik sambil bersungut-sungut.
"Lah suka suka May dong bang, orang aku gak pinjam music box mereka", jawab Maya acuh tak acuh.
"Ni anak kalau di bilangin pasti bantah melulu.
Kecilin gak suaranya? Kalau gak, aku hancurkan semua music box sialan itu", Alex meradang.
"Iya iya, gitu aja marah marah. Santuy dong keles", jawab Maya sambil menutup pintu kamar nya.
Tak berapa lama, suara musik mengecil.
"Untung kamu adik ku, kalau bukan sudah tak pestisida kamu", Alex bergegas turun ke lantai bawah rumah nya.
Maya yang merasa terganggu segera menutup laptopnya. Wajahnya cemberut.
Dengan malas dia mencari ponsel pintar nya. Dan ada notifikasi WA masuk dari Adi. Buru buru Maya membuka aplikasi WA dan sebuah emoticon senyum dan sebuah pesan dari Adi membuat mood Maya balik lagi.
Dengan cepat Maya membalasnya, namun centang dua abu abu.
***
Usai makan, Adi membayar dan segera bergegas keluar dari warung lalapan belut.
Setelah memakai jaket kulit dan helm KYT putih half facenya, duda beranak satu yang lagi galau itu menggenjot motor nya membelah jalanan.
Tak sampai 15 menit, Adi sudah sampai di habitat aslinya. Beberapa orang tampak berkumpul di rumah nya. Tampak mereka baru dari perjalanan jauh.
Perlahan Adi turun dari motor nya. Adi mengenali mereka. Keluarga mantan mertua nya!
'Ada apa mereka kesini?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada apa ini??
Author juga bingung 🤔🤔🤔
Ikuti terus jalan ceritanya guys
__ADS_1
jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍
Selamat membaca 😁😁😁