Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Mantan Istri


__ADS_3

Adi masuk ke rumah dengan ogah-ogahan. Kalau saja dia tahu keluarga mantan mertua nya datang, lebih baik dia menemani Dhea di rumah sakit bersama Indri.


"Baru pulang Di?", tanya pak Latif mantan mertua Adi.


"Iya pak", jawab Adi singkat padat dan jelas.


Di ruang tamu, nampak mantan kakak iparnya Endro dan istri nya Reni. Cinta dan Cindy, anak Endro bermain di depan TV. Adi menyalami mereka, selayaknya tamu di rumah. Kemudian Adi bergegas menuju kamar tidur nya, mengambil handuk dan melangkah ke belakang. Dia mau mandi.


Bu Siti masih membuatkan minuman untuk mereka. Tampak gelas kopi berjajar rapi di atas meja dapur, tinggal menunggu air yang belum panas.


"Dari rumah sakit Le?", tanya Bu Siti melihat wajah putranya yang kusut.


Guyuran air dingin di bak mandi seketika menyejukkan otak dan hati Adi. Setelah selesai, Adi bergegas kembali ke kamarnya. Dengan kaos oblong putih, Celana soft jeans warna abu-abu, jam tangan lapangan merk Ca**** Adi menjelma menjadi sosok yang berbeda.


Adi mengambil sebungkus rokok Diplomat favoritnya, dan menyulut nya sambil berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.


"Tumben rame rame kesini,


Ada apa mas?, tanya Adi sambil menghisap rokok nya. Sejurus memandang kearah Endro lalu cuek.


"Itu di ajak sama bapak. Kangen Cinta katanya", ujar Endro sedikit gugup.


Adi tau, Endro lah yang banyak mengatur mantan istri nya, Niken. Sejujurnya Adi benci orang ini, tapi sebagaimana adat ketimuran, Adi masih menghargai orang yang bertamu pada mereka. Tidak lebih.


"Oh", Adi ber-oh ria sambil membuka ponsel pintar nya.


Bu Siti dari belakang membawa nampan berisi kopi.


"Monggo di nikmati kopi nya. Mumpung masih panas", Bu Siti mempersilahkan mereka meminum kopi yang baru dia hidangkan.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang wanita turun bersama seorang lelaki. Adi mengenali mereka. Mantan istrinya, Niken dan Havin tetangga pak Latif.


Mereka masuk membawa tas plastik berisi beberapa buntalan makanan. Melihat Niken, Adi segera berdiri meninggalkan ruang tamu. Pak Latif memandang kepergian Adi dengan wajah sayu.


Pria tua itu tau, putri nya yang bersalah atas perceraian Adi dan Niken. Jika orang lain, mungkin mereka sudah di usir dari rumah itu.


Niken sebenarnya menyesali perbuatannya, tapi karna gengsinya yang tinggi dia tidak mau meminta maaf kepada Adi. Apalagi ditambah tiupan provokasi dari Endro, kesombongan Niken sampai di puncak nya.


Niken adalah seorang BMI Hong Kong. Dia meninggalkan Adi dan Cinta saat bocah itu baru berumur 7 bulan. Dengan alasan ingin memiliki rumah sendiri, dia memohon kepada Adi untuk mengijinkan nya berangkat ke luar negeri.


Satu tahun pertama setelah kepergian nya, hubungan mereka masih baik. Menginjak tahun kedua, Niken menghilang. Rupanya semua hasil kerja nya di kirim ke Endro. Adi merasa geram. Mendekati kepulangan, Niken muncul lagi dengan sejuta omong kosong nya, dan Adi dengan bodohnya mempercayai ucapan Niken.


Selepas pulang itu, Niken datang ke rumah Adi. Ternyata dia kesana hanya untuk mengambil berkas berharga miliknya. Kebohongan kedua Niken masih Adi toleransi, karna memikirkan nasib Cinta. Selepas itu Niken menghilang lagi. Membuat Adi frustasi berat hingga lari ke minuman keras, purel dan karaoke.


Bu Siti yang tidak tega melihat penderitaan psikologis Adi, akhirnya memberi ijin untuk menceraikan istrinya. Selepas bercerai, kondisi tubuh dan psikologis Adi membaik. Dulu bobotnya tinggal 60 kg, selepas 2 tahun perceraiannya, bobot Adi jadi 75 kg. Adi mulai rajin sholat dan tidak pernah lagi ke tempat hiburan malam.


Dan kini setelah Adi mulai menemukan kebahagiaan, Niken muncul untuk mengganggu.


Tidak!


'Sudah tidak ada kesempatan untuk mu lagi Niken', batin Adi.


Adi santai menghisap rokok nya sambil memakan ayam goreng kentaki yang tadi sore dia beli di dapur.


"Mas, kog sombong amat sekarang".

__ADS_1


Suara Niken menghentikan pikiran Adi seketika.


Adi memandang kearah Niken dengan tatapan dingin.


"Emang apa urusannya dengan mu sekarang?", suara Adi ketus.


"Ya tidak ada sih, tapi sebagai tamu di rumah ini, bukankah kamu wajib menghargai dengan ngobrol di depan atau apa gitu", Niken tersenyum. Kalau dulu mungkin Adi memandang nya sebagai candu, tapi sekarang Adi justru ingin muntah melihat nya.


"Lha yang nyuruh kalian bertamu siapa? Kalian tidak kesini aku malah bersyukur", Adi sengak.


"Aku kan mengunjungi anak ku, apa tidak boleh aku memperhatikan anak ku??", tanya Niken mulai gusar.


"Kog sekarang baru ingat kalau punya anak? Kemarin kemana woy saat Cinta sakit dan masuk rumah sakit? Kamu kemana saat Cinta butuh perhatian ha?", teriak Adi geram.


Niken langsung diam. Dia sadar kalau dia memang salah. Dia ingin rujuk kembali dengan Adi. Karna itu dia datang kembali.


"Mas..."


Ringgggg.....


"Stop! Ada yang lebih penting dari omongan mu", ujar Adi mengangkat telpon yang ternyata dari Heni.


📞


Ya halo Assalamualaikum


Walaikumsalaam mas, Mas Adi sudah pulang?


Sudah dong, khawatir banget sama mas ya?


(Adi sengaja bermanis-manis di depan Niken)


(Suara Heni terdengar gugup)


Hehehehe iya, mas tau kog. Kamu lagi ngapain Hen??


Mengerjakan penilaian prakerin mas. Mas Adi sendiri sedang apa?


Lagi mikirin kamu


Hahhhh? Apa tadi mas bilang?


(Suara Heni terdengar lebih gugup)


Hehehehe, iya sudah lanjut kerjaan nya. Aku juga masih ada tamu nih.


Wassalamu'alaikum.


*Walaikumsalaam


📞*


Adi tersenyum lebar saat melirik ke arah Niken yang mendelik ke arah nya.


"Telpon dari siapa mas? Mesra banget", tanya Niken ketus.

__ADS_1


"Bukan urusan mu, mau telpon dari pacar ku kek, selingkuhan ku kek, dari calon istri kek itu semua bukan urusan mu lagi tau", Adi mencibir sambil berlalu meninggalkan Niken yang emosi.


'Kamu hanya milik ku mas, hanya milik ku. Tidak boleh ada wanita lain di hidup mu', batin Niken sambil memandang punggung Adi yang menghilang di balik pintu rumah.


Malam itu, Niken dan keluarga nya pamit pulang ke Surabaya. Bu Siti dengan segan meminta mereka menginap, tapi Niken bersikeras untuk pulang. Adi mengucapkan syukur atas keras kepala nya Niken.


Usai mereka pulang, Adi memasukkan motor Vixion kesayangannya. Bu Siti memandang wajah putra nya dengan tatapan mata yang aneh.


"Ada apa buk?", tanya Adi.


"Tidak ada apa apa. Cuma kasian sama pak Latif", Bu Siti menghela nafas panjang.


"Kasian kenapa? Toh mereka juga menolak menginap di sini", jawab Adi cuek.


"Ya itu karna sikap mu yang dingin Le..


Coba kamu sedikit ramah pada mereka, pasti mau menginap", Bu Siti berkata sambil membereskan gelas kopi.


"Ogah buk, males aku...


Orang seperti mereka itu di kasih hati minta jantung", Adi ngeloyor pergi.


"Jadi beneran kamu tidak mau rujuk dengan Niken Di?", tanya Bu Siti menyelidik.


Dari pintu kamar tidur nya, Adi berkata dengan suara nyaring.


"Tidak ada kesempatan kedua"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍


Selamat membaca. 😊😊😊


__ADS_2