
Adi dan Eko langsung ke tempat proyek talud yang di tunggu Antok karena berdekatan dengan rumah Indri.
Begitu Eko memarkir mobil sejuta umat nya, Adi bergegas turun dan menuju ke sebelah molen beton. Ada 3 orang pekerja yang di bagian molen. Satu urusan air, satu semen dan satu koral. Sedangkan untuk menurunkan adonan, mereka menggunakan talang seng.
Cara itu sangat efektif untuk mempercepat proses pekerjaan karena memangkas waktu.
Antok tampak serius menata pondasi trap, dua tukang disampingnya juga bekerja cepat. Mereka benar benar bisa di andalkan.
Adi menyulut rokok Diplomat favoritnya, sambil melihat-lihat keadaan. Pak Wito Paklik nya Indri juga bersemangat. Pria paruh baya itu terlihat berpeluh.
"Proyek mu bos ini?", ucapan Eko yang tiba-tiba di sebelah Adi mengagetkan duda beranak satu itu.
"Sialan.. Kau mau aku mati jantungan ya Ko?", hardik Adi pada sopir kurus itu.
"Hehehehe, maaf bos.. Tak ada maksud seperti itu. Kalau si bos koit ya rugi dong aku", Eko cengengesan.
"Kog rugi?", Adi memicingkan matanya.
"Ya jelas dong bos, wong si bos sering kasih order buat aku. Kalau si bos koit, pelanggan setia ku kan hilang satu bos hehehehe", Eko terus terkekeh geli.
"Dasar budak duit", gerutu Adi sambil mengepulkan asap rokok nya.
Eko memang langganan Adi untuk semua kegiatan baik di luar proyek atau waktu team 100 dari dinas pekerjaan umum. Hubungan mereka sangat baik selama bertahun-tahun.
Antok mengusap peluh di dahinya, tak sengaja menoleh ke arah molen beton dan melihat bosnya sedang asyik berbincang dengan Eko. Antok juga sudah mengenal Eko, lantaran dulu Eko pernah berpacaran dengan tetangga Antok.
"Pak Har, tolong lanjutkan dulu. Si bos datang tuh", ujar Antok sambil melepas sarung tangan karet nya. Si tukang bernama Hari itu segera melanjutkan pekerjaan Antok, sementara Antok menuju ke arah Adi.
"Gimana bos? Ada yang perlu di benahi?", tanya Antok saat di dekat Adi.
"Gak, sudah bagus. Eh pak Maliki katanya kemarin kesini. Ngomong apa dia??", Adi penasaran. Maliki adalah pengawas lapangan dinas pekerjaan umum untuk proyek talud ini.
"Gak ngomong apa apa bos, cuma pipa drain nya di suruh tambah banyak. Itu saja", jawab Antok sambil mengibaskan topi nya.
Ohhhh
"Sendiri apa sama si Kukuh?", tanya Adi kemudian.
"Ya sama si konsultan perencana itu bos, tapi gak ngomong apa apa tuh dia", Antok kembali meyakinkan Adi.
"Ya kalau begitu aman,
Si Kukuh itu suka cari masalah Tok, hati hati kalau ketemu dia", Adi lega.
Antok celingukan mencari motor Adi. Eko yang baru mengambil air mineral di dashboard mobil nya, berjalan mendekat.
"Eh ngomong-ngomong tumben si bos naik mobil nya Eko, ada acara apa bos?", Antok kepo.
"Ada acara keluarga, kebetulan dekat jadi sekalian mampir kesini", jawab Adi singkat.
Setelah berbincang beberapa saat, Adi dan Eko segera bergegas meninggalkan tempat itu. Mobil sejuta umat nya Eko meraung membelah jalanan.
Di sebelah kantor desa Kani, Adi menunjuk sebuah warung nasi yang ramai. Eko yang paham, segera menepikan mobilnya. Pecel Mbok Darmi namanya. Meskipun menu utama nya nasi pecel, tapi segala jenis masakan ada disini.
__ADS_1
Adi bergegas menuju penjualnya. Seorang wanita usia 30 an dengan dandanan menor dan celemek menghiasi tubuhnya.
"Pesan apa mas?"
"Nasi pecel lauk telor ceplok sama sate usus 2. Minumnya es jeruk jangan terlalu manis", ujar Adi sambil berjalan ke arah meja kosong di sudut.
Eko ikut duduk di sebelah Adi.
"Kamu gak pesen Ko?", tanya Adi sambil memandang kearah Eko.
"Lha si bos tadi kan sudah?", jawab Eko santai.
"Enak aja, pesen sendiri sendiri. Kalau urusan bayar, semua di aku", Adi mendengus kesal.
Eko cengengesan sambil berlalu meninggalkan Adi dan memesan makanan. Tak berapa lama kemudian Eko kembali. Mulut nya mengunyah gorengan.
Setelah makan, Adi segera membayar dan minta diantar pulang. Naik mobil ke lokasi tidak membuat Adi nyaman. Mobil sejuta umat nya Eko melaju menuju ke arah rumah Adi.
Adi memberikan 3 lembar ratusan ribu untuk jasa Eko kali ini. Senyum lebar Eko mengembang. Selepas Adi turun, mobil sejuta umat nya Eko meninggalkan rumah Adi.
Adi bergegas menuju ke kamar nya, mengambil powerbank dan bersiap menuju kecamatan Gandu saat sebuah panggilan telepon berbunyi nyaring.
Pak Hasan, pengawas lapangan dinas pekerjaan umum untuk proyek jembatan CV Barata Konstruksi menelponnya.
Adi mengangkatnya, dan beberapa informasi dari pak Hasan dia dengar dengan baik. Setelah Pak Hasan menutup telponnya, Adi segera memakai baju kebesaran nya. Mengeluarkan motor nya dan melesat cepat menuju ke kecamatan Gandu.
30 menit kemudian, Adi sudah sampai di lokasi proyek pengaspalan jalan. Melihat situasi nya, besok pekerjaan ini selesai.
"Eh si bos datang, gimana bos? Aman kan?", ujar pak Warno saat Adi melepas helmnya.
"Syukurlah, asal si bos aman, pak Warno juga bahagia hahahaha", lelaki paruh baya itu tertawa sambil memamerkan gigi ompong nya.
"Bisa saja deh", senyum Adi sambil berdiri memandang kearah ujung pekerjaan.
Entah kenapa pikiran Adi teringat Dhea. Gadis kecil itu dan panggilan ayah nya terbayang di benak Adi. Ada rasa sayang dan rindu Adi pada bocah itu. Dia sendiri merasakan pahitnya di tinggal pergi ayahnya untuk selamanya saat masih kecil.
Adi buru buru mencari ponsel pintar nya. Membuka kunci layar ponsel dan mengirim pesan ke Indri lewat aplikasi WA.
Ndri, Dhea dimana? Tadi lupa pamitan aku sama dia.
Terkirim. Centang dua abu abu.
Setelah 3 menit, sebuah notifikasi WA masuk ke ponsel pintar Adi.
Itu lagi main sama keponakan om ganteng. Nanti tak bilangin kalau ayah nya kerja
emoticon senyum
Ya sudah, jaga baik-baik putri kecil ku.
Adi memasukkan kembali ponsel pintar nya dan mulai melangkah menuju pak Warno yang sibuk melempar kayu kering ke api tungku nya.
Siang itu Adi bersemangat bekerja. Dia yang mahir bermain kicir aspal, membuat tukang kicir aspal nya minder.
__ADS_1
Dari kejauhan, sebuah mobil Taft GT berhenti. Seorang pria berseragam ASN turun. Suyono namanya, pengamat wilayah dinas pekerjaan umum yang terkenal ketus dan menyebalkan.
Pria itu berjalan ke arah Adi yang masih sibuk mengayunkan kicir aspal nya.
"Nahhh mbok gitu, jadi mandor proyek jangan cuma pintar perintah saja".
Ucapan Suyono sukses menghentikan kesibukan Adi. Duda beranak satu itu lalu memanggil Kris, tukang kicir aspal nya untuk menyelesaikan.
Adi melepas sarung tangan nya, dan mendekati Suyono. Menjabat tangan pria berkacamata itu.
"Selamat siang Pak Yono, gimana kabar?", ujar Adi sopan.
"Keliling saja mas. Ini besok sudah selesai to?", tanya Suyono sambil memperhatikan titik finish pekerjaan.
"Di usahakan pak", jawab Adi diplomatis.
"Tenan loh ya (Beneran loh ya). Tanggal nya sudah mepet ini", kata Suyono mengingatkan.
Adi segera meraih tangan Suyono sambil memasukkan amplop kecil. Pria itu tidak bicara apa apa dan bergegas masuk ke mobilnya lalu menghilang seperti angin.
"Ada apa bos dengan demit tua itu?", tanya pak Warno setelah Suyono pergi.
Adi hanya tersenyum tipis sambil berkata,
"Cari uang makan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍
Selamat membaca 🙏🙏