Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Tunggu Tanggal Mainnya


__ADS_3

Bu Siti melongo mendengar jawaban Adi. Jawaban Adi benar benar mengagetkan nya.


'Sama pacar?? Sejak kapan dia punya pacar?', batin Bu Siti dengan berbagai pertanyaan melintas di kepala nya.


Bu Siti segera membuatkan kopi tubruk untuk Adi. Dia begitu penasaran dengan omongan putra bungsu nya itu. Selama ini Adi sulit sekali dekat perempuan, kalau ada yang dia akui sebagai pacar, itu berarti dia serius. Bu Siti hapal betul watak putranya itu.


Sementara Adi terus mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk merilekskan tubuh dan pikiran nya.


Begitu keluar kamar mandi, Bu Siti ternyata masih menunggu Adi.


"Siapa pacar mu Le? Kog belum di kenalkan ke ibuk", tanya Bu Siti sambil memperhatikan Adi.


"Lah emangnya boleh buk?", tanya Adi balik sambil menggosok rambut nya yang basah.


"Lahh piye to? Apa pernah ibuk melarang kamu pacaran?", Bu Siti berkacak pinggang.


Adi cengengesan.


"Nanti buk, Adi kenalkan. Kan Adi juga baru pacaran nya".


"Tidak bisa! Besok kamu harus ajak dia kesini. Ibuk gak suka ya kamu main bawa anak orang sembarangan. Kalau ketahuan tetangga, bisa jadi fitnah. Pokoknya besok kamu bawa dia kesini", Bu Siti mendelik tajam kearah Adi. Sebenarnya perempuan paruh baya itu bahagia mendengar Adi mau menjalin hubungan dengan wanita lagi. Makanya dia bersikeras untuk memaksa Adi membawa pulang pacar nya.


"Ihhh ibuk ini. Besok itu Adi sibuk buk. Kerjaan numpuk. Kapan coba punya waktu untuk mengajak dia kesini?", Adi berjalan menuju ke kamar tidur nya.


"Eleh alasan. Pokoknya besok harus kamu bawa dia kesini. Lagian pekerjaan mu kan cuma ngecek kerjaan anak buah mu, bisa di percepat juga", Bu Siti membuntuti Adi.


"Iya iya buk iya. Besok Adi ajak kesini. Sudah puas??", Adi masuk ke kamar tidur dan menutup pintu kamar nya.


Bu Siti tersenyum puas mendengar jawaban Adi.


**


Sementara itu Depi yang kritis akibat kecelakaan, sedang di tangani oleh team medis di UGD rumah sakit daerah.


Dari pelacakan team kepolisian serta data di KTP nya, keluarga nya segera di hubungi.


Tok tok tok


Ketukan pintu rumah Depi terdengar keras. Ibu Depi, Bu Yuni segera membuka pintu rumah.


Saat pintu terbuka, dua orang anggota polisi berdiri di depan pintu.


"Selamat malam Bu, apa benar ini rumah saudari Depi Ambarwati?", tanya seorang polisi yang berkumis tipis.


"Iya pak betul. Ada apa pak?", Bu Yuni sedikit ketakutan. Pikiran nya bercampur aduk, takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


"Maaf Bu, kami menginformasikan bahwa saudari Depi Ambarwati mengalami kecelakaan di wilayah kecamatan Waru", jawab si anggota polisi.


"Astaghfirullah....


Ya Allah Depiiiii...


Gimana keadaan nya sekarang pak?", Bu Yuni terkejut mendengar ucapan dari polisi itu.


"Maaf Bu, sekarang saudari Depi Ambarwati sedang di rawat di UGD RS Daerah. Apa ibu ada nomor telepon untuk suaminya mungkin?", tanya polisi itu kemudian. Dari data yang diperoleh menyebutkan Depi sudah bersuami.


"Oh ada pak. Sebentar saya ambilkan", Bu Yuni bergegas ke kamar mengambil ponsel jadulnya.


"Ini pak..


081xxxxxxxxx"

__ADS_1


Polisi berkumis tipis itu segera menelepon kontak nomor yang di berikan Bu Yuni.


📞


Polisi : Halo selamat malam. Apa benar ini saudara Agus Rahman. Suami dari saudari Depi Ambarwati?


Agus : Benar pak. Maaf ini siapa ya?


Polisi : Kami dari kepolisian resor Kota Patria. Ingin memberi tahukan anda bahwa Saudari Depi Ambarwati mengalami kecelakaan di tikungan kecamatan Waru. Saat ini kondisinya kritis. Mohon saudara Agus Rahman segera ke RS Daerah untuk memantau perkembangan kondisi saudari Depi.


Agus : APAAA?? Ya Allah ya Tuhan.. Iya pak, saya usahakan untuk segera kesana. Terimakasih atas informasinya.


Polisi : Oke kami tunggu pak. Selamat malam.


📞


Usai menelpon, dua anggota polisi itu segera mohon diri. Bu Yuni bergegas menelpon kakak Depi untuk memberi tahu.


Agus segera bergegas menggendong Lisa. Dia langsung mengegas mobilnya meninggalkan rumah nya menuju ke RS Daerah. Sepanjang perjalanan, pria itu hanya berdoa semoga Depi baik baik saja.


"Mama kenapa pa?", tanya Lisa.


"Gak papa Nak, Lisa tidur saja ya. Nanti kalau sudah sampai, papa bangunin", jawab Agus sambil terus memacu mobilnya.


Lisa hanya mengangguk tanpa bertanya lagi.


Mobil Agus terus melaju ke rumah sakit.


Satu jam setengah kemudian, mobil Agus sudah memasuki area rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Agus langsung ke ruang informasi seusai memarkir mobil nya.


Agus langsung berlari ke ruang UGD RS Daerah. Disana Bu Yuni, Deni kakak Depi dan istrinya sudah disana.


"Bu, bagaimana keadaan Depi?", tanya Agus pada Bu Yuni.


Agus langsung lemas mendengar ucapan Bu Yuni.


Malam semakin larut dan segera berganti pagi.


Semalam suntuk, Agus nyaris tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya bisa menatap tubuh Depi dari luar kaca UGD yang terpasang berbagai peralatan medis.


Dokter jaga mengecek kondisi tubuh Depi. Tanda vital kehidupan nya masih normal. Hanya kondisi nya saja yang masih belum sadar.


"Gimana dok kondisi istri ku? Apakah dia tertolong?", tanya Agus begitu dokter jaga itu keluar ruangan UGD.


"Pasien masih tertolong. Tapi pendarahan pada kepala nya mungkin akan menyebabkan koma. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong istri anda", jawab sang dokter.


Agus kembali menatap wajah Depi dengan lesu.


'Aku pasti akan merawat mu Dep, demi Lisa'


**


Pagi itu Adi bergegas berganti baju usai mandi. Seperti biasanya, hari ini dia akan menuju ke proyek pengaspalan jalan di kecamatan Waru.


"Yahh, aku bareng", teriak Cinta yang masih memakai sepatunya.


Adi tersenyum tipis. Usai bersepatu, Cinta segera berlari menuju ayahnya yang sudah nangkring di motor nya.


Motor Adi melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah Cinta. Usai menurunkan Cinta, duda beranak satu itu segera menggenjot motor nya menuju ke lokasi proyek.


Sampai di lokasi, terlihat beberapa pekerja sedang sibuk mengayak koral yang bercampur abu batu. Ada juga yang sibuk membersihkan tanah dengan sapu lidi di area pekerjaan.

__ADS_1


Pak Warno sang kepala tukang, nampak menyeruput kopi yang ada di samping tempat pembakar aspal nya.


"Aspal nya sisa berapa pak No?", tanya Adi sambil berjalan mendekati lelaki paruh baya itu.


"Tinggal 3 drum bos yang belum di bakar. Yang ini tinggal 3 setengah doang. Kayaknya kurang sekitar 1 drum", jawab Pak Warno kemudian. Laki laki itu lalu mengecek sisa aspal di pembakaran dengan sepotong kayu kecil.


"Sudah laporan ke Sapri?", tanya Adi seraya mengintip drum aspal yang mengeluarkan asap putih itu.


"Sudah bos. Kata pelaksana itu, suruh di habiskan dulu", jawab Pak Warno kemudian.


Hemmmm


'Pola kerja brengsek ini', batin Adi.


"Ya sudah kita ikuti saja apa kata mereka. Bilang ke tukang kicir mu si Kris Kris siapa pak No itu?".


"Kriswanto bos", Pak Warno tersenyum tipis.


"Ya si Kriswanto agar jangan menghemat aspal. Aku tidak mau kualitas pekerjaan q menurun", ujar Adi sambil mengeluarkan sebungkus rokok. Bukan Diplomat favoritnya, tapi rokok Surya 12.


"Ganti rasa bos?", tanya pak Warno saat Adi menyulut sebatang rokok.


"Gak pak, cuma kemarin ke Pantai Tambakrejo nemu nya rokok itu", Adi mengepulkan asap rokok nya. Duren sawit itu memandang kearah ujung pekerjaan.


"Pantesan gak kesini. Ada acara apa bos ke Tambakrejo?", Pak Warno kumat keponya. Pria paruh baya itu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


"Biasa, ngajak calon istri liburan tipis tipis", ujar Adi tersenyum lebar.


"Lahh sudah dapat to bos? Kapan di resmikan?", kembali pria paruh baya itu bertanya.


Adi hanya tersenyum tipis saja, kemudian berkata dengan suara rendah.


"Tunggu saja tanggal mainnya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kapan ya? Ya sabar aja ya 😁😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys 👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2