
Pak Jamroni yang diminta memberikan doa manten dari Pak Penghulu langsung memimpin doa usai akad nikah.
Pak Penghulu dari KUA Kecamatan Panggung langsung menyerahkan buku nikah untuk di tanda tangani oleh Adi dan Indri.
Tukang photo mengambil potret momen saat Adi dan Indri menandatangani buku nikah mereka.
Usai penandatanganan buku nikah, Penghulu berkumis tipis itu memberikan wejangan nikah kepada pengantin baru itu.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh
Alhamdulillah wa syukurillah
Khususon kepada Mas Adi dan Mbak Indri
Di pagi yang cerah ini, panjenengan berdua resmi menjadi suami istri. Mestinya panjenengan berdua sudah mengetahui bahwa berumah tangga itu adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda.
Berbeda pemikiran, berbeda pendapat dan berbeda keinginan.
Apalagi njenengan berdua sudah memiliki anak dari pernikahan terdahulu. Menyatukan itu mudah, mempertahankan itu yang sulit.
Belajar lah untuk saling melengkapi pasangan njenengan nggeh..
Al insanu makhalul khotoq wan nisysyian
Manusia itu tempat nya salah dan lupa. Mbak Indri, kalau mas Adi salah tolong dibenarkan. Begitu juga Mas Adi, kalau Mbak Indri lupa tolong di ingatkan.
Ngoten nggeh?", ujar Pak Penghulu sambil memandang kearah pasangan pengantin baru itu.
Adi dan Indri kompak mengangguk bersamaan.
"Mas Adi sudah tau kan kewajiban nya seorang suami itu apa?", Pak Penghulu itu tersenyum tipis memandang kearah Adi.
"Sudah pak Naib", jawab Adi singkat.
"Apa saja coba mas Adi? Coba aku ingin dengar", tanya Pak Penghulu berusia paruh baya itu segera.
"Memberi nafkah Pak Naib", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Itu salah satunya mas.
Kewajiban njenengan itu berkaitan dengan mencukupi kebutuhan keluarga. Apa saja itu?
Kalau di jabarkan akan makan waktu lama. Saya ingatkan poin penting nya saja nggeh.
Pertama, njenengan harus mencukupi kebutuhan istri. Termasuk kebutuhan batiniyyah istri njenengan. Itu juga salah satu hak njenengan sebagai suami mbak Indri.
Jadi nanti kalau nanti malam mas Adi pengen menjalankan sunnah rasul, tinggal bilang saja.
Ini panggilannya gimana mas Adi untuk mbak Indri?
Dhek, Yank, Mamah opo yang lainnya?", tanya pak penghulu senyum senyum tipis.
"Yank pak Naib", jawab Adi sambil menunduk. Indri turut merona wajah nya.
"Eh yank nggeh.. Mantap hehehehe
Lah contoh nya nanti malam, kalau Mas Adi pengen menjalankan sunnah rasul ya tinggal bilang,
Yank, Ayo waktunya nyangkul sawah", ucapan Pak Penghulu langsung disambut tawa semua orang. Adi dan Indri memerah wajahnya.
"Itu kewajiban loh Mbak Indri, njenengan harus patuh pada suami. Karena menolak suami itu dosa..
Yang kedua, njenengan harus baik dalam sikap dan tindakan pada istri njenengan mas Adi. Kalau ada masalah selesaikan dengan musyawarah dan kepala yang dingin. Jangan ambil keputusan di saat marah, jangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
KDRT itu gak boleh mas, dengan alasan apapun.
__ADS_1
Mpon, itu saja dari saya. Ada kurang lebih nya mohon maaf.
Sekali lagi selamat menempuh hidup baru kepada mas Adi dan Mbak Indri. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Wallahu muwafiq Illa Ahwa mitthoriq
Ihdinass shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa baroktuh
Ceklek
Pak Penghulu menutup wejangan nya.
Pak Jarno segera memberi kode pada Joko dan Tarno untuk membawa hidangan makan untuk pak penghulu serta 2 Modin desa itu.
Ada rawon daging yang di hidangkan, lengkap dengan sambel dan kerupuk udang.
Mereka memakan hidangan itu dengan lahap. Adi menyuapi Dhea dan Indri menyuapi Cinta. Pak Jamroni tersenyum tipis melihat aksi Adi dan Indri itu.
Usai makan, Pak Penghulu dan Modin desa Mande serta desa Marga undur diri. Narsih memberikan 3 kotak nasi dan jajan sebelum mobil mereka meninggalkan tempat itu.
Hari dan Pak Puh Bud juga pulang ke desa Mande usai acara akad nikah dengan Cinta, tapi nanti habis magrib mereka datang lagi untuk menyaksikan temu manten sekaligus walimah.
Semakin siang, tamu semakin ramai.
Sampai dhuhur, Adi yang lelah memilih untuk beristirahat di dalam kamar tidur. Hanya beberapa saat, Adi sudah pulas di atas ranjang.
Siang itu datang tamu tak diundang. Mereka adalah keluarga Sam, mantan suaminya Indri yang minggat ke Kalimantan.
Hadir Ibu Sam, adik Sam juga suaminya.
"Ehhh sugeng rawuh Bu Wati, monggo monggo pinarak", ujar Bu Sarmi sambil menyalami bekas besan nya itu. Walaupun dia benci Sam, tapi Bu Sarmi tidak kelihatan sewot dengan kedatangan mereka.
"Indri mana Bu Mi?", ada nada ketus di suara Bu Wati.
"Woh nggeh sebentar saya panggilkan. Monggo di cicipi jajan nya Bu", ujar Bu Sarmi ramah. Perempuan itu memang pintar menyembunyikan perasaannya.
Tak berapa lama kemudian Indri datang bersama Bu Sarmi. Melihat adiknya mendekati mantan mertua nya, Wawan yang sedang duduk di teras segera menghampiri dan menyalami Bu Wati dan keluarga nya.
Indri dengan sopan menyalami mereka bertiga.
"Wah ternyata kamu cepat melupakan Sam ya Ndri?", sindir Bu Wati dengan nada dingin.
"Lha buat apa diingat, wong cuma bekas suami saja", sahut Wawan ketus.
Bu Wati mendelik sewot kearah Wawan.
"Bu Wati, Sam kan sudah berkeluarga lagi. Apa salahnya jika Indri meneruskan hidupnya?", Bu Sarmi halus tutur kata nya.
"Huhhh..
Tak jamin mantu kalian juga tidak lebih kaya daripada keluarga kami", hina Bu Wati dengan sengit.
"Lebih baik tidak kaya harta tapi kaya hati. Dan yang paling penting bertanggung jawab, tidak kabur dari rumah", sindir Wawan.
Indri hanya diam saja dan tersenyum tipis.
"Ndri, panggil suami mu. Suruh kesini. Biar orang orang ini tau, kamu membuang batu dan mendapatkan berlian", perintah Wawan segera.
Indri segera beranjak ke kamar tidur Adi.
Pria itu masih pulas, terlihat gurat lelah di wajah nya. Indri tersenyum tipis dan segera mencium bibir suaminya untuk membangunkan Adi.
Cuppp
__ADS_1
Adi langsung terbangun setelah Indri mencium nya.
"Mas, ada yang ingin bertemu, tapi mas gak boleh kaget atau marah", ujar Indri tersenyum tipis.
"Siapa yank?", tanya Adi sambil menguap lebar.
"Mantan mertua, sama mantan adik ipar", jawab Indri sambil memandang wajah Adi. Dia takut Adi marah karena kehadiran mereka.
Tak di duga Indri, Adi malah tersenyum lebar mendengar ucapan Indri.
"Ayuk kita temui", ujar Adi sambil mengucek matanya.
"Mas gak marah?", tanya Indri penasaran.
Adi mengambil sisir. Pria itu malah asyik berkaca di lemari. Kemudian mengambil kopyah hitam dan memakai nya.
"Buat apa marah yank? Mereka tamu, ya hargai dong. Kalau ada kaitannya dengan masa lalu, ya itu masa lalu. Liat nih cincin, ini masa depan", ujar Adi sambil memamerkan cincin emas peningset nya.
Indri tersenyum bahagia mendengar ucapan Adi. Mereka berdua segera bergegas menuju ke terop di halaman rumah.
Melihat kehadiran Adi dan Indri yang menggelayut mesra di tangan Adi, Bu Wati dan keluarga nya melongo, apalagi melihat wajah Adi yang ganteng bak Ibnu Jamil artis FTV. Jauh lebih ganteng dari pada Sam.
"Perkenalkan, ini Adi Bu Wati.. Suaminya Indri. Mandor proyek, kalau urusan kaya atau tidak Bu Wati bisa kira kira sendiri", ujar Wawan sedikit ketus. Dia benar-benar tidak terima di ejek Bu Wati.
Bu Sarmi hanya tersenyum tipis, walau dalam hati dia mencibir mantan besannya itu.
Adi segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman sambil tersenyum tipis. Bu Wati dan Nuning seperti terhipnotis oleh kegantengan Adi. Apalagi Nuning yang tidak segera melepaskan tangan Adi.
Hemmmmm
Ehemmmm
Deheman Indri membuat Nuning sadar dan melepaskan jabatan tangan nya. Pitoyo mendelik sewot kearah istrinya itu.
"Nah sudah liat kan Bu suamiku. Mohon maaf jika kurang sopan, tapi bagi saya mantan hanya barang bekas. Tidak sepatutnya hadir lagi dalam kehidupan saya.
Permisi Bu, suami saya ingin kopi. Mohon maaf tidak bisa menemani lama-lama", ujar Indri sambil menggelandang tangan Adi masuk ke dalam rumah.
Bu Wati dan keluarga nya tertunduk malu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bener banget tuh 😁😁😁
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini 👍👍👍👍
Selamat membaca guys 😁😁😁😁
__ADS_1