Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Adi terbangun saat alarm ponsel pintar nya berbunyi. Mata Adi menatap Indri yang sedang memandang nya.


Buru buru Adi bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Indri.


"Maafkan aku ya, sumpah aku gak niat nabrak kamu", ujar Adi penuh penyesalan.


Indri tersenyum tipis. Dia melihat om ganteng nya benar benar tulus meminta maaf.


"Iya om ganteng, namanya juga musibah siapa yang berharap. Cuma...", Indri tak meneruskan kalimatnya. Dia gundah. Pekerjaan di warkop adalah satu-satunya penyambung hidup untuk dia dan putri kecilnya.


"Masalah biaya di rumah sakit aku bertanggungjawab. Jangan khawatir", potong Adi segera.


"Aku percaya om ganteng. Pekerjaan ku gimana??", Indri berusaha keras air mata nya tak menetes.


Adi tergagap. Dia lupa dengan itu. Setelah menghela nafas, Adi tersenyum tipis.


"Selama kamu sakit, gaji mu dari warkop X biar aku yang membayar nya''.


"Jangan om ganteng, gak boleh gitu. Om ganteng kan juga masih punya kewajiban untuk anak. Gak usah repot-repot", sahut Indri segera. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Adi membayar biaya perawatan di rumah sakit saja dia sudah bersyukur.


"Sudah jangan banyak rewel deh. Kamu sekarang tanggung jawab ku. Sampai kamu sembuh dan bisa bekerja lagi.


Ya sudah aku mau keluar sebentar, kamu baik baik dulu disini", ujar Adi sambil berdiri dan melangkah keluar kamar perawatan. Indri memandang lelaki itu sampai tak terlihat lagi.


'Dia lelaki yang bertanggung jawab', gumam Indri. Tak terasa sebuah senyuman manis mengembang di bibirnya.


Adi melangkah keluar menuju sebuah minimarket di luar rumah sakit. Membeli beberapa makanan ringan dan roti. Air mineral kemasan botol , tisu basah dan kering. Setelah merasa cukup, duda beranak satu itu kembali ke ruang perawatan Indri.


Indri mendengar pintu kamar perawatan terbuka dan Adi masuk dengan membawa plastik besar. Adi tersenyum tipis dan meletakkan belanjaan di atas nakas.


"Kenapa repot gitu sih om? Indri jadi gak enak sama om ganteng nih", ujar Indri sambil terus memandangi Adi yang menata barang.


"Duh ternyata kamu cerewet juga ya..


Sudah di bilang diam masih juga komplain", jawab Adi tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatannya.


"Kamu gak mengabari keluarga mu?", tanya Adi kemudian.


"Ya ampun Gusti Allah, sampai lupa", Indri buru mencari ponsel nya di tas nya. Ketemu ! dan dia membuka kunci layar ponsel nya, ratusan notifikasi WA dan panggilan tak terjawab memenuhi layar ponsel.


Indri segera membalas salah satu chatting saudaranya, Mas Wawan. Dia memberi tahu kamar perawatan nya. Selebihnya chatting tetangga mulai di balas satu persatu.


Rata rata mereka menanyakan perihal kecelakaan yang menimpa Indri.


Dan pagi itu yang segera membalas chat nya adalah Febi, tetangga yang juga teman sekolah nya dulu.


Sementara Indri sibuk membalas chat, Adi keluar kamar dan menelpon Bu Siti.


📞


Assalamualaikum buk.


Walaikumsalaam Le. Kemana saja kamu? Semalam tidak pulang, juga tidak mengabari ibuk.


Maaf buk, semalam Adi kecelakaan. Ini ada di rumah sakit.


Haaaaa??? Terus gimana keadaan mu Le? Kamu baik-baik saja to?


Adi gak apa apa buk, cuma yang tabrakan sama Adi itu kakinya retak. Jadi harus di rawat di rumah sakit.


Syukurlah kamu gak papa. Yowes ati ati. Selesaikan semua masalah nya.

__ADS_1


Iya buk. Sementara titip Cinta dulu ya buk.


Wassalamu'alaikum.


*Walaikumsalaam.


📞*


Adi menutup telponnya dan kembali ke dalam. Indri tersenyum tipis melihat om ganteng yang masih setia menunggu nya.


"Om ganteng gak kerja?", tanya Indri hati hati.


"Kalau nanti keluarga mu sudah datang, aku baru pulang. Ini kan hari Minggu", jawab Adi sambil mengirim pesan ke pak Warno.


"Oh ya lupa aku. Hehehehe", Indri tertawa kecil.


Adi melirik Indri. Perempuan ini cantik, juga baik, sayang masih kecil. Begitu pikiran nya.


Untuk mengusir bosan, bermain game online. Baru satu set, suara riuh membuat nya berhenti.


Seorang pria usia 30 an masuk bersama seorang wanita tua.


"Mas Wawan, ibuk..", ujar Indri melihat kakak dan ibunya masuk.


Pak Wito salah satu pekerja Adi yang juga Paklik Indri ikut masuk ke dalam.


Wawan yang melihat kaki kanan Indri di gips, emosi nya langsung panas. Melihat Adi yang masih disitu, mata Wawan merah.


"Jadi kamu yang nabrak adik ku ha", Wawan maju hendak memukul Adi langsung di tahan pak Wito.


"Mau apa kamu Wan? Jangan bertindak bodoh", teriak Pak Wito. Indri dan Ibunya kaget melihat ulah Wawan.


"Mas Wawan apa apaan sih?", teriak Indri dari kasurnya.


Plakk..


Tamparan Bu Sarmi, ibunya Indri, menghentikan gerakan Wawan. Mata Bu Sarmi mendelik tajam kearah Wawan.


"Kamu mau menambah masalah Wan?", teriak Bu Sarmi.


"Tapi Bu..."


"Tidak ada tapi tapi. Dengar ya Wan, adikmu walau kena musibah, tapi orang ini sudah bertanggungjawab. Aku sudah tanya suster semua biaya pengobatan sudah di bayar oleh nya. Tinggal biaya rawat inap. Kalau kamu kasar sama dia, terus dia tidak mau membayar sisa biaya nya, mau kamu bertanggungjawab?", Bu Sarmi mendelik tajam.


Wawan diam seribu bahasa.


"Maafkan saya Bu, sudah mencelakai putri ibu. Saya tidak sengaja", ucap Adi yang membuat Bu Sarmi segera menoleh ke arah nya.


"Wong namanya musibah, siapa yang mau. Namanya siapa Le?", tanya Bu Sarmi.


"Namanya Adi yu, dia bos besar tempat aku bekerja di proyek talud", sahut pak Wito yang membuat Bu Sarmi segera tersenyum.


'Orang kaya rupanya'


"Oalah bos mu to Wit, Ndak apa apa Le..


Yang penting Indri sudah tertolong. Aku berterimakasih Lo le", jawab Bu Sarmi.


"Dia langganan ngopi di warkop X buk", timpal Indri kemudian sambil tersenyum malu.


"Walah, dunia memang sempit. Ternyata sudah kenal sama Indri to?", tanya Bu Sarmi menatap kearah Adi.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Wan, kamu pulang dulu. Ijin ke pak Soleh. Mumpung masih pagi. Biar juragan nya Indri segera mencari pengganti sementara", perintah Bu Sarmi sambil menatap Wawan.


Tanpa banyak bicara, Wawan segera keluar ruangan itu.


"Nak Adi, Ndak pulang dulu to? Nanti kasian istri nya menanti loh hehehe", ujar Bu Sarmi.


"Gak papa Bu, saya nanti langsung berangkat kerja kog. Tadi saya sudah telpon ibu saya", jawab Adi malu malu.


"Lho kog ibu? Istrinya tidak?", Bu Sarmi mengernyitkan keningnya.


Adi diam tidak menjawab. Indri tersenyum dan menarik ibunya mendekat. Sambil berbisik Indri bilang, " dia duda buk".


Mata Bu Sarmi melebar seketika.


Adi tersenyum tipis.


"Karna ibu dan pak Wito sudah disini, saya mohon pamit Bu. Kebetulan sudah di tunggu orang di lokasi. Kalau ada apa-apa, tolong saya di kabari. Permisi Bu. Wassalamu'alaikum", Adi berpamitan.


"Walaikumsalaam", jawab Bu Sarmi, Indri dan pak Wito kompak.


Adi balik badan, dan melangkah keluar dari kamar perawatan Indri menuju parkiran rumah sakit.


"Dia orangnya gimana Wit?", tanya Bu Sarmi sedikit berbisik pada adiknya.


"Baik yu, waktu simbok mau berobat ke pak Mantri, dia yang kasih duit. Tanya Indri kalau tidak percaya", jawab Pak Wito sedikit membela bosnya.


Hemmmm..


Bu Sarmi menarik nafas lega..


'Akan ku jodohkan dia dengan anak ku'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ikuti terus kisah ini


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁😁😁*


__ADS_2