Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Nasi Pecel


__ADS_3

Alex menatap tajam ke arah Maya. Dia benar benar tidak menyangka akan kelakuan bar-bar adik nya itu.


"Bang, aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Dia sudah merebut mas Adi dariku.


Aku tidak terima bang, aku tidak terima", teriak Maya bagai orang gila.


Maya berlari hendak menjambak rambut Indri. Alex dengan cepat langsung menangkap tangan adiknya itu dan mencengkeram kuat kuat.


"Lepaskan aku bang,


Akan ku bunuh perempuan laknat itu", teriak Maya bagai kesurupan setan pasar.


Adi langsung melindungi Indri dengan tubuh nya. Alex berteriak keras pada Andis dan Agung yang melongo melihat kejadian itu.


"Pegangi dia, jangan sampai lepas".


Agung dan Andis seketika bergegas mencekal erat tangan Maya.


Alex segera mendekati Adi.


"Di, maaf ya.


Sebaiknya kau bawa calon istri mu pergi dari sini. Masalah lain nanti kita bicarakan ya. Aku mohon", ujar Alex memelas sambil menatap wajah Adi. Laki laki itu segera mengangguk tanda mengerti.


Duda beranak satu itu segera menuntun Indri keluar dari kantor CV Barata Konstruksi. Sekejap kemudian dia dan Indri sudah meninggalkan tempat itu.


Maya terus berteriak teriak keras.


"Lepaskan aku brengsek,


Akan ku beri perempuan laknat itu pelajaran"


Plakkk


Alex kembali menampar pipi Maya dengan keras. Berharap Maya segera sadar dari kelakuan bodohnya. Namun, bukan nya berhenti dan sadar, Maya malah semakin beringas.


Takut Maya semakin liar, Adi segera mengikat tangan dan kaki Maya dengan tali dari ruang perlengkapan. Kemudian dengan bantuan Agung dan Andis, Alex segera menaikkan Maya ke Pajero sport putih nya. Kemudian membawanya pulang ke rumah.


Sementara itu, Adi membonceng Indri yang basah kuyup oleh guyuran air dingin dari Maya meninggalkan kota Patria. Setelah lampu merah, dia berbelok ke kiri menuju ke kecamatan Kani. Di depan sebuah toko baju, Adi menghentikan laju motornya.


"Mau ngapain mas?", tanya Indri sambil menggigil kedinginan.


"Sudah jangan banyak tanya. Ayo ikut masuk yank", jawab Adi sambil menarik tangan Indri.


Indri mengikuti langkah sang calon suami itu memasuki toko baju.


Si mbak kasir toko baju mengucapkan selamat datang pada mereka berdua.


Adi langsung mengambil sebuah kaos oblong hitam dan celana jeans kemudian menunjukkan pada mbak kasir toko.


"Mbak, ini catat ya", ujar Adi sambil mengangkat kaos dan celana jeans yang baru di comot dengan tangan nya.


Si mbak kasir toko mengangguk.


Adi segera menarik tangan Indri menuju tempat ganti baju.


Tapi Indri tidak segera masuk ke kamar ganti baju.


"Loh kog gak buruan ganti yank?? Cepetan nanti kamu masuk angin loh. Udah cepet sana masuk", ujar Adi sambil memandang Indri.


"Eh anu mas itu..", Indri tak meneruskan kalimatnya. Dia malu.


"Ada apa yank? Katakan saja gak usah ragu", Adi penasaran.


"Basah Mas. BH dan ****** ***** ku basah semua", Indri menunduk jengah, wajahnya merah seperti kepiting rebus.


Adi langsung tersenyum jahil.

__ADS_1


Langsung dia mendekatkan wajahnya ke telinga Indri dan setengah berbisik dia berkata pelan.


"Ukuran berapa yank??".


"36 B mas", Indri terus menunduk tanpa berani mendongak menatap wajah Adi.


"Kalau yang bawah berapa yank?", kembali Adi bertanya pelan dengan seringai nakal.


"L mas", jawab Indri singkat.


Adi bersiul kencang dan segera berjalan menuju si mbak kasir toko dan membisikkan sesuatu. Si mbak kasir tersenyum tipis dan mengangguk tanda mengerti.


Tak berapa lama kemudian, si mbak kasir toko baju kembali dengan membawa pesenan Adi. Sebuah BH berwarna hitam dan ****** ***** wanita berwarna pink. Perempuan itu segera menyerahkan sebuah tas plastik yang berisi dua benda pusaka para wanita.


Adi bergegas menuju ke tempat ganti dan menyerahkan tas plastik itu pada Indri.


Perempuan cantik itu langsung menerima tas plastik itu dengan senyum malu.10 menit kemudian Indri sudah keluar dari kamar ganti. Pakaian nya yang basah kuyup di masukkan ke dalam tas plastik tadi. Dengan polesan make up tipis, perempuan itu terlihat cantik seolah tidak terjadi apa-apa tadi.


"Duh cantik nya ayank mbeib ku", puji Adi yang membuat Indri salting berat.


"Ih mas apaan sih?", Indri tersipu mendengar pujian dari Adi.


Mereka berdua segera menuju ke mbak kasir toko baju dan membayar baju yang dipakai Indri. 3 lembar ratusan ribu masih sisa 75 ribu.


Dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu segera naik motor Adi, meninggalkan toko baju itu menuju ke arah kecamatan Gandu, tempat proyek dam sungai CV Barata Konstruksi berada.


Sebenarnya tujuan Adi mengajak Indri jalan-jalan selain untuk mengenalkan Indri pada rekan kerja nya juga agar Indri tau bagaimana rasanya menjadi seorang Adi yang harus wira wiri mencari duit. Setidaknya setelah menikah nanti dia tau kesibukan nya seperti apa.


Walau akhirnya rencana itu harus berantakan karena ulah Maya.


30 menit kemudian, mereka sudah sampai di lokasi. Adi segera memarkir motornya di atas tebing sungai. Dari atas tebing, kelihatan Didik dan para pekerja sedang sibuk menata batu pondasi dam sungai.


"Itu kedalaman pondasi sudah pas belum?".


Suara Adi membuat Didik dan para pekerja langsung mendongak ke arah sumber suara dan mendapati Adi sedang berjongkok disana dengan seorang wanita muda.


"Itu sudah pas 1,5 meter kedalaman nya?", tanya Adi sambil menunjuk ke arah pondasi dam sungai.


"Kurang bos, itu kedalaman pondasi nya hanya 145 cm. Tidak bisa lebih dalam lagi karena di dasar sungai ada lempengan batu besar", jawab Didik namun matanya terus menatap ke arah perempuan muda yang sedang duduk tak jauh dari tempat mereka.


"Woy playboy cap kadal, ngapain melotot ke calon istri ku? Naksir kau dengan dia?", Adi mendelik tajam kearah Didik.


"Hah? Calon istri mu bos?", Didik kaget mendengar ucapan Adi.


"Eh bandot bengek, kalau iya kenapa? Iri bilang dik", Adi sewot.


"Iri sih tidak bos, cuma heran aja. Tuh cewek cantik matanya katarak ya mau sama bos", Didik nyerocos kayak ember plastik bocor. Tak sadar bahwa ia sudah menyinggung perasaan Adi.


Duda beranak satu itu segera menyepak bokong Didik.


Bukkkkk


"Aduhh sakit bos,


Kenapa kau sepak bokong ku? Ada bisulnya ini", Didik mengelus bokongnya yang baru saja di sepak Adi.


"Kau sudah bosan ikut kerja sama aku? Mau kau ku pecat ya?", Adi geram dengan ulah Didik.


Didik baru sadar kalau dia sudah menyinggung perasaan Adi.


"Maaf bos, ampun...


Bercanda aku. Jangan marah bos. Ampun".


Adi mendengus dingin.


"Oke kali ini aku maafkan. Lain kali berani berulah, tidak ada kesempatan kedua", ancam Adi yang langsung membuat Didik merinding disko.

__ADS_1


Setelah cukup lama di situ, Adi membonceng Indri meninggalkan tempat itu menuju lokasi proyek onderlaag di depan SMP Jati.


Setelah lampu merah dekat pasar, Adi membelokkan motor nya ke sebuah warung nasi pecel di pinggir jalan. Cacing di perutnya sudah menyanyikan lagu orkestra sedari tadi.


"Mau makan mas?", tanya Indri begitu turun dari boncengan motor.


"Huk uh. Selain nasi pecel, ada kog menu lain nya yank", jawab Adi sambil tersenyum tipis.


"Ealah mas mas,


Aku itu perempuan desa. Sudah biasa makan seadanya. Kalau makan gak pernah pilih-pilih", Indri meletakkan helm nya ke atas jok motor.


Adi tersenyum penuh arti.


'Tak salah aku memilih mu yank', batin Adi sambil berjalan masuk ke warung nasi pecel.


Setelah memesan nasi pecel khas kota Patria 2 porsi, dan 2 gelas teh hangat mereka berdua duduk di salah meja kosong.


Begitu pesanan mereka datang, mereka berdua segera menyantap nasi pecel nya. Indri menyuapkan sesendok nasi pecel ke mulut Adi, dan Adi balas menyuapkan peyek ke mulut calon istri nya itu.


Mereka berdua begitu mesra, tidak malu malu lagi seperti dulu.


Siapa yang melihat, pasti iri dengan kemesraan mereka.


"Yank, maaf ya..", ujar Adi di sela sela waktu makan nya.


"Maaf? Buat apa mas?", Indri mengerutkan keningnya. Dia merasa Adi tidak ada salah.


"Ya maaf tadi kamu sudah jadi basah kuyup karena ulah Maya", ujar Adi sambil memandang wajah cantik Indri.


"Ohh itu, gak papa mas sudah resiko", Indri meneruskan acara makan nya.


"Resiko? Maksudnya apa yank?", ganti Adi yang kebingungan.


Indri dengan pelan berkata sambil tersenyum penuh arti,


"Resiko punya suami ganteng"


Duhh...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Huft bikin iri saja deh 🤭🤭


Terimakasih banyak author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya atas dukungannya terhadap cerita ini 👍👍


Ailupyu pull sekebon pisang ❤️❤️❤️

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁😁


__ADS_2