
Adi membawa satu mangkok bakso sambil menggendong Dhea. Gadis kecil itu tidak mau turun dari gendongan Adi, jadi terpaksa mas pedagang bakso keliling yang mengantar bakso pesenan nya ke rumah. Indri juga tidak bisa bergerak leluasa karena di gips hanya menunggu Adi.
Setelah duduk di kursi, Dhea baru mau diturunkan dari gendongan Adi.
"Dhea, suap sama buk e ya?", tanya Indri. Gadis kecil itu hanya menggeleng.
"Dhea jangan bandel ya, itu ayah lagi repot nak. Sini suap sama buk e nak", bujuk Indri Hapsari lagi sambil menunjuk pada Adi yang lagi mengambil duit untuk membayar.
Bocah itu memandang kearah Adi.
"Ayah repot?", tanya Dhea dengan polosnya.
Adi hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Tuh ayah geleng-geleng kepala", Dhea menunjuk Adi.
Janda muda itu mendelik tajam kearah Dhea.
Dia tidak habis pikir kenapa Dhea begitu lengket dan patuh dengan Adi sedangkan pada Indri selalu berontak.
'Ini anak sebenarnya anak siapa sih?'
Dengan telaten pria beranak satu itu menyuapi Dhea. Mas pedagang bakso hanya tersenyum geli. Dia kenal Indri, dulu mereka satu sekolah di SMP cuma beda kelas.
"Mas Ton, maaf ya membuat menunggu", ujar Indri pada pedagang bakso itu.
"Gak apa apa. Sudah kewajiban kog", jawab pedagang bakso bernama Tono itu.
Dari jalan, Bu Sarmi yang baru dari tegalan melihat Adi. Wanita paruh baya segera mendekati Adi.
"Baru datang to Le?".
"Sudah dari tadi Bu. Ibuk mau bakso??", tawar Adi.
"Gak Le terimakasih", jawab Bu Sarmi sambil tersenyum. Dia tidak enak sama Adi yang baik kepada keluarganya.
Wajah Tono si pedagang bakso merenggut mendengar jawaban Bu Sarmi.
"Tumben masih siang sudah kesini Le,
Ada apa loh?", tanya Bu Sarmi sedikit heran.
"Kangen sama Dhea Buk", jawab Adi sambil memandang kearah Indri.
"Dhea apa ibunya??", Bu Sarmi tersenyum penuh arti.
Uhuk uhuk..
Ucapan Bu Sarmi sukses membuat Indri tersedak bakso.
"Ibuk apa apaan sih? Baru pulang dari tegalan sudah ngaco aja", Indi menyeka kuah bakso yang keluar dari hidung nya. Perih.
"Lha salah siapa bilang kangen ke Dhea tapi yang di pandang ibunya?", cerocos Bu Sarmi tanpa basa-basi.
Muka Adi merona merah. Tak disangka Bu Sarmi memperhatikan dia saat berbicara tadi.
"Ibu gak keberatan kog kalau Nak Adi jadi mantu ku", ucapan terang-terangan dari Bu Sarmi membuat Adi melongo. Indri langsung menunduk, seketika memerah wajahnya.
Tono si pedagang bakso itu hanya kebingungan melihat adegan mereka.
Usai berkata demikian, Bu Sarmi segera bergegas menuju dapur nya seakan tidak berbuat apa-apa. Meninggalkan Adi dan Indri dengan sejuta pikiran mereka.
'Apa ini yang namanya restu dari calon mertua?', batin Adi sambil menyuapi Dhea.
Indri pun menggerutu dalam hati.
'Ibuk kog gak punya malu sih? Ya kalau om ganteng mau, kalau gak kan malu aku'.
"Ayah haus".
Ucapan Dhea membuat mereka tersadar dari lamunan mereka masing-masing.
__ADS_1
Adi segera menyerahkan mangkok bekas bakso yang sudah di tumpuk dan buru buru ke dalam rumah mencari air putih untuk Dhea. Begitu ketemu, langsung menuju Dhea.
Tono sang pedagang bakso tidak segera pergi setelah menerima mangkok.
"Lho mas, masih ada yang kurang?", tanya Adi.
"Itu bakso nya masih ada", Tono menunjukkan semangkok bakso yang masih utuh.
"Astaghfirullah. Kog pikun gini ya?", Adi menepuk dahinya.
"Gara gara kamu ini"..
"Kog Indri yang di salahin?", Indri tak terima.
"Ya kalau bukan kamu siapa dong? Dhea? Gak mungkin Dhea salah. Ya Dhea ya?", Adi memandang Dhea seakan meminta bantuannya. Adi seketika menyantap bakso nya.
Dan gadis kecil itu mengangguk tanda setuju.
"Nah kan cari alasan sama Dhea.
Itu salah om ganteng sendiri. Sudah tua, makanya pikun", Indri tetap ngotot tak mau kalah.
"Biarin tua. Tua tua begini kamu juga cinta kog", cerocos Adi pede..
Deggg..
Ucapan Adi sontak membuat Indri salting berat.
Wajah cantik janda muda itu merona bagai tomat matang.
'Orang ini terlalu kejam. Dia mengobrak abrik hati ku sampai berdebar kencang'.
Adi yang sudah selesai menyantap bakso nya, segera menyerahkan mangkok ke Tono. Penjual bakso itu segera menerima dan buru buru meninggalkan tempat itu. Sudah cukup dia melihat adegan romantis seperti itu. Bikin iri.
Bu Sarmi yang baru dari dapur membawa segelas kopi tubruk dan meletakkan di samping Adi.
"Ayo Le diminum kopi nya".
"Kaki kamu lagi sakit. Tidak boleh minum kopi tubruk. Aku cuma buatkan kopi khusus buat mantu ku", Bu Sarmi santai sambil menggandeng tangan Dhea untuk mandi. Tumben gadis kecil itu menurut.
Indri mendelik sewot. Seketika itu juga melirik Adi yang senyum senyum di sampingnya.
"Apa senyum senyum sendiri gitu? Sudah puas? Sudah merasa menang di bela ibuk sama Dhea? Dasar om ganteng li...."
Cupp
Adi mengecup bibir mungil Indri dengan cepat menghentikan omelan janda muda itu.
"Aku cinta kamu"
Boom!!!
Dada Indri rasanya mau meledak mendengar kata cinta dari om ganteng nya. Untuk beberapa saat pikiran Indri melayang dari raganya.
"Kog malah diam?
Gak mau ya??", tanya Adi kemudian.
"E-eh bukan gitu, anu om", Indri tergagap berbicara dengan Adi.
"Anu apa?", Adi menyipitkan matanya.
"Kita kan kenal belum ada sebulan, dasar om ganteng mau sama Indri itu apa?", Indri menatap lekat wajah Adi seolah mencari jawaban atas pertanyaan nya.
Adi tersenyum tipis mendengar perkataan Indri.
"Malah senyum senyum lagi, alasan nya apa?", Indri semakin penasaran.
"Ndri, cinta itu tidak butuh alasan mengapa dia datang di hati. Kalau kamu masih butuh alasan untuk cinta, itu bukan cinta tapi kompromi hati", jawab Adi dalam sekali.
Deggg
__ADS_1
Kembali hati Indri berdetak kencang mendengar ucapan dari duda beranak satu itu.
Sejujurnya, dia suka pada Adi sejak pertama mereka bertemu. Dia suka sifat Adi yang baik dan ramah. Belum lagi, kompor dari pak Wito yang mengatakan Adi tidak pernah rewel dengan para pekerja. Nanik pun sukses mengompori Indri dengan kata kata mutiara nya.
"Om ganteng yakin mau sama Indri?", Indri menatap Adi, ingin melihat apa Adi berbohong pada nya atau tidak.
Adi tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Indri menghela nafas panjang, meyakinkan diri dan berkata pelan.
"Indri..
Indri juga suka om ganteng.
Indri juga cinta om ganteng", jawab Indri yang langsung menunduk.
Adi tersenyum lega.
Binar mata Adi yang penuh cinta itu bersinar lagi setelah sekian lama membeku.
Tangan Adi segera menyentuh dagu lancip Indri. Perlahan duda beranak satu itu mengangkatnya. Saat dua mata mereka bertemu, jantung Indri berdetak kencang. Pelan tapi pasti wajah mereka semakin mendekat.
Indri perlahan menutup mata nya.
Adi semakin mendekatkan bibirnya ke arah bibir mungil Indri.
"Ayaaaahhhhh"
Teriakan Dhea mengagetkan mereka berdua. Buru buru Adi dan Indri saling menjaga jarak. Indri kesal tapi menutup mulutnya rapat-rapat.
Dhea yang baru selesai mandi segera menghambur ke arah Adi.
"Ayah pakai baju", ujar Dhea sambil mengulurkan tangannya yang membawa baby doll nya.
Adi tersenyum kecut. Dengan segera ia memakaikan baju yang di ulurkan Dhea kepadanya.
Bu Sarmi yang terengah-engah mengejar Dhea, memandang wajah Indri yang kusut karna gagal mesra akibat gangguan Dhea.
'Alhamdulillah putriku sudah menemukan kebahagiaan nya kembali'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.......
Duh Dhea, kasian ibu Indri tuh😂😂
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁
Jangan lupa dukung author terus semangat menulis cerita cinta Mas Adi dan Mbak Indri dengan like vote dan komentar nya 👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁