Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Power Bank


__ADS_3

Indri langsung turun dari motor matic nya setelah sampai di kafe Y. Di parkiran motor terlihat motor Vixion merah dengan helm KYT putih terparkir di salah sudut parkir. Mata Indri langsung panas rasanya.


Dengan penuh nafsu amarah, Indri langsung masuk ke kafe Y. Dengan tatapan mata nanar, matanya menyapu seluruh ruangan kafe Y yang terlihat sepi karena cuma ada beberapa pengunjuk yang tampak asyik menikmati makanan ringan dan minuman yang tersedia di kafe Y.


Seorang wanita muda berjalan mendekati Indri. Dia nampak penasaran dengan Indri yang terlihat seperti kucing mencari tikus dengan tatapan mata dingin nya.


"Maaf mbak, ada yang bisa di bantu??", tanya si wanita muda itu dengan sopan.


"Saya lagi nyari orang mbak. Apa ada yang bernama Heni pesan tempat disini?", tanya Indri yang mencoba menekan amarah nya.


"Sebentar ya mbak, sepertinya tadi ada yang reservasi atas nama itu tapi lupa dimana tempat nya..


Mari ke meja resepsionis mbak", ujar si wanita muda itu dengan sopan.


Dengan langkah lebar, Indri mengikuti si wanita muda itu ke meja resepsionis. Si wanita muda kemudian mengecek buku tamu dan menemukan nama Heni Wijayanti reservasi di meja no 28.


"Ini ada nama Heni Wijayanti mbak, di meja no 28", ujar si wanita muda itu menatap wajah Indri.


"Itu di sebelah mana mbak?", tanya Indri dengan tak sabar.


"Itu meja private room mbak, ada di lantai dua.


Mari saya antar", jawab si wanita muda itu yang segera melangkah menuju ke lantai dua. Dengan menaiki tangga mereka akhirnya tiba juga di lantai dua. Indri terus berjalan mengekor di belakang si wanita muda tadi.


"Ini mbak private room meja no 28", ujar si wanita muda itu setelah mereka sampai di tempat yang di tuju.


Dengan penuh emosi, Indri segera membuka handel pintu di private room itu.


Dan Heni disana!


Sendiri.


"Eh apa apaan ini? Kenapa kau datang kesini?", ujar Heni yang terkejut dengan kedatangan Indri.


"Mana suami ku?!", teriak Indri dengan lantang.


"Suami mu? Mas Adi?


Dia tidak kesini", jawab Heni sambil berdiri.


"Alah pasti kamu bohong!


Katakan dimana suami ku? Kalau tidak akan ku remas mulut mu itu", emosi Indri segera meletup.


"Buat apa aku bohong? Dia tidak kemari. Memang kemarin aku minta dia kemari, tapi buktinya dia tidak datang. Jangan asal bicara ya", jawab Heni mulai gusar.


"Dasar perempuan gatel. Mulut mu perlu di remas rupanya", teriak Indri sambil bergerak menuju Heni. Tangan Indri langsung menarik jilbab Heni kemudian menjambak rambutnya.


Si wanita muda yang melongo melihat kejadian itu langsung bergegas memisahkan mereka. Suara ribut-ribut segera mengundang perhatian dari para pengunjung dan pekerja kafe Y. Mereka mengerubungi private room no 28 dan menonton adegan itu.


"Don,


Bantuin aku nih", teriak si wanita muda pada seorang pemuda pekerja di kafe Y yang baru saja datang.


Indri terus menarik rambut Heni yang mulai berantakan. Jilbab syar'i nya sudah tidak karuan bentuknya. Heni menjerit kesakitan akibat jambakan dari Indri.


Wawan yang di parkir motor, langsung bertanya kepada seorang pekerja yang hendak melihat keributan.

__ADS_1


"Ada apa mas?", tanya Wawan yang penasaran.


"Ada perempuan lagi ribut mas. Rebutan suami katanya", jawab si pekerja sambil setengah berlari menuju private room no 28 di lantai dua. Wawan yang perasaannya tidak enak, langsung ikut berlari mengikuti pekerja itu.


Alangkah terkejutnya Wawan melihat Indri sedang bergumul dengan Heni dan dua orang pekerja kafe Y mencoba memisahkan mereka berdua.


"Astaga Indri, apa apaan kamu?", teriak Wawan sambil bergegas mendekati adiknya. Mendengar teriakan Wawan, Indri melepaskan jambakan nya pada Heni. Si wanita muda tadi dan pekerja yang di panggil Don segera mengatur jarak antara mereka.


"Dia itu mas, wanita gatel. Pantas untuk aku hajar", ujar Indri sambil menatap geram kearah Heni yang berantakan dandanan nya.


"Gatel gimana? Apa salahnya?", Wawan menatap ke arah Indri.


"Dia ngundang mas Adi kesini mas. Dari tadi mas Adi aku telpon gak bisa, pasti sama perempuan gatel itu", jawab Indri yang hendak menjambak Heni lagi.


Namun dengan sigap, Wawan menahan tubuh adiknya itu.


"Sudah diam!


Sekarang aku tanya sama kamu mbak. Benar kamu ngundang suami adikku kesini", Wawan menatap ke arah Heni. Heni hanya mengangguk pelan.


"Tuh kan baru ngaku, akan ku remas mulutnya itu mas", ujar Indri dengan emosi yang meledak-ledak.


"Cukup Indri..


Sekarang kamu lihat disini Adi ada gak?", Wawan melotot ke arah Indri. Adiknya itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak ada, berarti Adi tidak disini..


Dan kau mbak baju biru,


Heni menangis sesenggukan di pojok private room no 28. Kepalanya sakit akibat dari jambakan Indri. Tapi lebih sakit lagi pandangan orang-orang yang menonton keributan tadi.


"Huh ternyata pelakor", ujar seorang perempuan cantik yang ada di dekat pintu.


"Sayang ya, cantik cantik sukanya suami orang", seorang lelaki muda turut menimpali.


"Nyesal aku simpati sama dia, kalau aku jadi perempuan tadi sudah ku hajar dia", seorang wanita di sebelah nya menyahut.


Berbagai gunjingan terus menghujat Heni yang masih sesenggukan di sudut ruangan.


Wawan melajukan motornya dengan kecepatan sedang kearah rumah Adi di kecamatan Selo. Sepanjang perjalanan dia terus mengomel tentang sikap ceroboh Indri. Adiknya yang sudah tenang, hanya diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Nanti kalau sampai rumah mertua mu, awas kalau kau sampai marah marah tidak jelas lagi.


Adi itu lagi kerja, dia nyari duit buat kamu, buat anak di perutmu, buat Dhea, buat bayar aku dan Lik Wito.


Kalau kamu tidak percaya suami mu, larang saja dia kerja. Cukup nunggu kamu di rumah. Nanti kau dan Dhea biar di kasih makan batu.


Kamu itu sudah tau kerjaan Adi seperti apa. Kenapa masih juga punya pikiran yang aneh aneh. Otak mu dimana sih?", Wawan terus mengomel di sepanjang jalan.


20 menit kemudian, mereka sampai di rumah Adi. Tanpa banyak bicara, Indri langsung masuk kamar tidur. Dia merebahkan tubuhnya ke kasur. Pertarungan nya dengan Heni tadi benar-benar membuat nya lelah. Tapi sekeras apapun Indri mencoba memejamkan matanya, bayangan suaminya terus melintas di pelupuk matanya.


Kembali Indri mencoba untuk menghubungi suami nya. Namun hasilnya nihil. Tetap saja operator seluler yang menjawabnya.


Sampai jam 5, Adi tetap tidak ada kabar nya. Indri terus mondar-mandir di ruang tamu. Sampai sebuah mobil Avanza berhenti di halaman rumah Adi. Indri dan Bu Siti segera menuju pintu rumah.


Seorang lelaki berkumis tebal dengan segera membuka pintu mobil dan Adi keluar dengan terpincang-pincang.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adziimmm..


Mas, kamu kenapa?", teriak Indri sambil berlari menuju Adi. Buru dia memapah tubuh suaminya.


"Tadi Mas ini menabrak seekor anjing yang melintas di kecamatan Bina Bu. Sudah di obati di puskesmas tadi", si lelaki itu menyahut seruan Indri.


"Masya Allah,


Terimakasih banyak atas bantuannya pak. Monggo silahkan pinarak riyen pak", ujar Bu Siti dengan sopan.


"Matur nuwun Bu, saya masih ada urusan. Mohon pamit nggeh", ujar si lelaki itu dengan sopan dan segera bergegas masuk kembali ke mobilnya lalu meninggalkan rumah Adi.


Dengan terpincang-pincang, Adi masuk ke dalam rumah dengan di papah Indri.


"Kog bisa begini sih mas? Gimana ceritanya?", tanya Indri penasaran sambil membantu Adi duduk di sofa ruang tamu.


"Tadi sewaktu baru uitzet di tempat Bu Rini, aku agak terburu-buru menuju ke kecamatan Wates. Sampai disana Alhamdulillah masih pas saat uitzet di garapan Pak Purwadi.


Nah pulang nya itu yang apes. Ada anjing berlari menyebrang jalan pas di depan ban. Hancur deh terlindas. Ya motor langsung roboh, aku terjatuh. Untung nya aku gak papa, tapi stang motor nya jadi bengkok.


Nah bapak itu tadi yang punya bengkel tempat motor ku di perbaiki", ujar Adi sambil meringis menahan sakit pada kaki kiri nya.


"Lha hapenya kog gak aktif kenapa?", Indri masih penasaran.


"Low batt. Itu power bank nya ketinggalan diatas tv", ujar Adi sambil menyelonjorkan kaki nya yg terasa cenut cenut.


Indri segera menoleh ke arah rak tv dan power bank Adi ada disana.


Astaga, jadi dia berantem sama Heni tadi cuma gara gara power bank Adi yang ketinggalan.


Indri langsung menepuk jidatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2