
Usai makan, orang gila itu menatap ke arah Heni. Tiba tiba saja dia melompat ke arah Heni hendak mencium nya. Heni langsung berteriak histeris saat itu juga. Perempuan itu langsung berlari menjauh.
"Hahaha mbak cantik aku mau cium", sambil tertawa terbahak-bahak, orang gila mengejar Heni dengan hanya mengenakan celana yang baunya nauzubillah.
"Ihhh najis", ucap Heni yang terus berlari.
Suasana di warung tenda soto daging langsung kacau. Heni berlarian ke sekeliling meja dan orang gila itu terus berusaha mendekatinya.
"Mas, tolong bantuin dong", ujar si mas pedagang soto daging itu pada Adi.
'Huh, ada ada saja deh', gerutu Adi sambil meletakkan mangkok soto daging nya.
Adi yang baru memakan soto daging nya separuh, mau tidak mau berusaha membantu pemilik warung soto daging untuk menghentikan aksi orang gila itu segera.
Heni seketika bersembunyi di balik punggung Adi. Suasana ribut di warung soto daging langsung menarik perhatian beberapa orang yang lewat.
Salah seorang dari mereka menelpon dinas sosial kota Patria untuk melaporkan kejadian ini.
Orang gila itu terus berusaha untuk mendekati Heni yang bersembunyi. Meski sudah 4 orang berusaha menghentikan langkahnya namun dia selalu bisa lolos.
Suasana yang menonton adegan itu semakin ramai.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil truk dinas sosial kota Patria datang. Dengan delapan personil terlatih, mereka segera mengamankan orang gila itu.
Heni menarik nafas lega melihat orang gila itu di bawa oleh orang dinas sosial.
Pedagang soto daging hanya termangu melihat meja dan tendanya yang berantakan akibat ulah si orang gila.
Adi membayar 50 ribu tanpa meminta kembalian uang. Segera dia meninggalkan tempat itu.
Heni yang terlambat menyadari, hendak ikut pergi tapi di tahan oleh si pemilik warung soto daging.
"Apa maksudnya pak?", tanya Heni dengan sengit.
"Mbak harus bertanggung jawab terhadap kerusakan warung saya", ujar si pemilik warung soto daging.
"Lah kog bisa gitu pak? Ini semua ulah orang gila itu. Kalau bapak minta ganti rugi, silahkan minta ke orang gila itu", Heni langsung membuka dompetnya dan menaruh duit 200 ribu pada meja.
"Ini bayaran untuk soto yang saya makan pak, saya kapok makan disini", Heni ngeloyor pergi ke motor nya yang terparkir di samping warung itu.
Pedagang soto daging tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima nya, karna bagaimana pun ini adalah ulah orang gila.
Heni melajukan motornya mencoba untuk mengejar Adi. Namun sepertinya Adi memacu motornya dengan kecepatan tinggi hingga Heni tidak bisa menyusul nya.
Sesampainya di rumah, Indri menyambut kedatangan Adi dengan senyum manis nya.
"Sudah pulang mas? Capek ya?", tanya Indri sambil tersenyum.
"Iya yank, capek banget. Aku mandi dulu yank", jawab Adi sambil memberikan tas nya kepada Indri.
Dalam hati, Adi merasa ada yang aneh dengan kejadian tadi. Kemudian Adi teringat dengan kejadian Maya saat baru pulang dari Tulungagung, dan jika dihubungkan ada semacam benang merah untuk kedua kejadian itu.
Setelah mandi, Adi langsung mencari ponsel pintar nya kemudian memblokir nomor Heni.
__ADS_1
Indri yang melihat suaminya memblokir nomor telepon Heni, tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kenapa di blokir mas?", Indri menatap wajah Adi dengan penuh penasaran.
"Ya gak mau ada kontak lagi saja yank, toh aku dan dia tidak ada hubungan kerja. Buat apa juga aku nyimpan kontak Heni?
Bukannya tenang tapi malah bikin pusing", ujar Adi sambil melempar handphone itu ke atas kasur nya.
Indri langsung tersenyum bahagia.
Sejak saat itu, Heni tidak bisa menghubungi Adi. Berulang kali mencoba dengan berganti nomor, tapi setiap tau itu nomor Heni, Adi segera memblokir nya.
Tiga bulan sudah berlalu.
Adi lancar pekerjaan nya. Para juragan proyek terus memberikan kepercayaan kepada Adi untuk mengerjakan proyek nya.
Selain pak Purwadi, Bos Alex, Pak Basuki dan Bu Rini, kini Adi punya 2 juragan besar lainnya. Mereka adalah Pak Lucky dan Bu Dewi. Kehamilan Indri seperti membawa berkah tersendiri bagi Adi.
Saat ini, Adi sedang menggarap 5 proyek sekaligus. Drainase CV Multi Guna nya Pak Basuki di desa Selo, Saluran air CV Barata Konstruksi nya bos Alex di wilayah desa Rejo, Pengaspalan jalan di depan kantor desa Jambe nya Bu Rini, makadam jalan di depan makam desa Miri punya Bu Dewi dan talud nya Pak Lucky di samping stasiun Sambi.
Pagi itu, Adi membonceng Indri karena kontrol kehamilan di dokter Herman. Sejak 3 bulan ini dia terlalu sibuk nyari duit sehingga tidak sempat mengantar Indri ke dokter Herman, walaupun kontrol di posyandu selalu dilakukan.
Tadi pagi dia sudah mengontak Antok, Didik, Pak Warno dan Paino yang memegang masing-masing proyek Adi sebagai kepala tukang dengan mengatakan bahwa hari ini mungkin dia tidak datang ke lokasi proyek. Selain itu nanti sore adalah slametan tingkepan (tujuh bulanan) yang di rangkap dengan telonan nya.
Indri dengan perut besarnya langsung naik ke boncengan motor Adi. Berat badan Indri naik drastis, benar benar montok kayak gitar spanyol dia sekarang. Pakaian nya sekarang celana legging dan daster longgar kemudian ditutup jaket kain.
Segera Adi melajukan motornya menuju ke rumah sakit A di kota Patria. Sepanjang perjalanan, Indri memeluk tubuh suaminya dengan mesra.
Di perempatan lampu merah kecamatan Kani di timur kantor kabupaten, seorang wanita tua dengan tangan memegang cangkir plastik mendekati mereka.
Indri membuka dompetnya dan mengambil duit 10 ribu kemudian memberikan nya kepada perempuan tua itu.
Wajah perempuan itu langsung berbinar seketika dan kemudian berkata,
"Terimakasih banyak mbak, semoga yang diatas memberikan ganti yang lebih besar kepada mbak. Tak doakan mbak punya putra putra yang Sholeh".
Adi dan Indri segera menjawab dengan kompak.
"Aaammiiinnn"
Motor Adi terus melaju ke arah kota Patria usai lampu hijau menyala. Si perempuan tua itu terus memperhatikan mereka yang kemudian menghilang di keramaian jalan.
15 menit kemudian, Adi sudah memarkir motornya di area parkir rumah sakit A tempat dokter Herman praktek. Perlahan, Adi membantu Indri yang sedikit kesulitan berjalan dengan perut besarnya itu.
Mereka segera mengambil nomor urut dan ternyata mereka memperoleh nomor 2. Mereka memang berangkat pagi-pagi karena tidak mau mengantri lama.
Jam 7.30 Dokter Herman mulai membuka praktek nya.
"Bu Indri Hapsari, silahkan masuk", ujar si perawat setelah pasien pertama keluar dari ruang dokter Herman.
Indri berjalan pelan menuju ke ruang praktek dokter Herman.
"Loh mas Adi? Kog baru kontrol lagi?", tanya dokter Herman sambil memakai sarung tangan karet nya.
__ADS_1
"Hehehehe iya Dok, pekerjaan saya menumpuk sampai jarang punya waktu luang", jawab Adi malu-malu.
"Ya gak papa lah, namanya pekerja lapangan ya memang gitu", ujar Dokter Herman kemudian.
Si perawat sibuk mengoleskan sejenis gel pada perut Indri yang sudah disingkap dasternya sampai bawah dada. Sambil mengobrol dengan Adi, Dokter Herman meletakkan alat USG ke arah perut Adi.
Dokter Herman mengernyitkan keningnya merasa terkejut melihat ada dua bayi di dalam perut Indri. Dulu awal trimester pertama, tidak ada tanda-tanda akan menjadi kembar.
"Duh selamat ya Mas Adi dan mbak Indri,anak anaknya sehat", ujar dokter Herman sambil tersenyum tipis.
"Haaahhhh??!!
"Maksud nya apa Dok?", tanya Adi keheranan.
"Maksud nya anak mas Adi kembar. Nih liat saja", jawab Dokter Herman segera menunjuk ke arah monitor komputer. Dan benar saja, nampak dua bayi ada di dalam perut Indri.
"Alhamdulillah", Adi tersenyum lebar. Indri yang melihat kebahagiaan suaminya ikut terharu.
"Mas Adi gak mau tahu jenis kelamin bayi nya?", goda dokter Herman sambil tersenyum.
Adi menatap Indri seolah meminta jawaban. Indri menganggukkan kepalanya. Dengan pelan Adi mengangguk tanda setuju.
"Selamat, anak kembar mas Adi cowok semua"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca kak 😁😁