Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Menjelang Ijab Kabul


__ADS_3

'Mau apalagi perempuan ini?', batin Adi.


Adi : Iya Ken, ada apa ya?


(Adi berusaha untuk tenang dan tidak merubah nada bicara nya agar terlihat biasa saja)


Niken : Aku dengar dari Cinta mas Adi mau menikah lagi. Benar itu mas?


(Ada nada tidak rela pada suara Niken)


Adi : Kalau iya kenapa Ken? Toh kita juga sudah bercerai. Suka suka aku lah.


(Suara Adi terdengar dingin dan cuek)


Niken : Ya gak bisa gitu mas. Apa mas sudah memikirkan perasaan Cinta? Apa mas yakin dia bisa menyayangi Cinta seperti anak nya sendiri? Cinta itu butuh kasih sayang yang tulus dari ibunya mas.


(Niken pidato bagai ahli juru kampanye saat pilkada)


Adi mendengus kesal mendengar orasi mantan istrinya itu.


Adi : *Gampang banget kamu ngomong soal kebahagiaan Cinta.Belajar dari mana kau ha?


Kemarin kemarin kemana aja? Saat Cinta butuh kasih sayang ibunya, kamu ada dimana? Saat Cinta sakit, kamu kemana?


Denger ya Ken, aku itu sudah hapal betul watak kamu. Aku itu kenal betul perilaku mu


Kamu gak usah repot-repot lagi sok mikirin kebahagiaan aku dan Cinta. Bagiku kamu tidak lebih dari bagian masa lalu ku. Dan kau pun tidak akan pernah menjadi masa depan ku juga.


Wassalamu'alaikum*.


📞


Ceklek


Adi dengan dongkol menutup telponnya. Dia benar benar kesal Niken masih menghubungi nya.


Prinsip hidup Adi, sekali hilang tak kan pernah ada kata kembali.


Dengan kesal dia menghembuskan asap rokok nya dengan cepat.


Di sisi lain bumi,


Flat E no 78 Yuen Long Hongkong.


Niken kelimpungan. Sekalipun dia menelpon lagi, pasti mantan suaminya itu tidak akan pernah mengangkat lagi. Mau keluar rumah buat beli nomor baru di toko indo dia tidak bisa karena majikan nya sedang ada di rumah.


Akhirnya dia mengirim chat ke salah satu temannya di Flat B yang ada di bawah. Minta tolong di belikan nomor baru.


Mau menghubungi Cinta juga tidak mungkin, karena jam segini Cinta pasti belum pulang dari sekolah.


'Arghhhhh...


Pokoknya mas Adi tidak boleh menikah dengan wanita lain', batin Niken.


Gara gara telpon dari Niken, mood Adi langsung hancur. Dengan kasar dia melempar putung rokoknya. Pria itu bergegas pergi meninggalkan dam sungai kecil itu. Kemudian dia menggeber motor Vixion kesayangannya, pergi ke kecamatan Sela untuk menenangkan pikiran nya.


20 menit kemudian, Adi sudah sampai di lokasi proyek itu..


Pak Warno sedang ngopi di dekat tungku pembakar aspal saat Adi datang.


"Halo bos, kog kusut amat mukanya. Ada apa bos??", tanya pak Warno heran. Belakangan wajah bos nya itu terlihat bahagia, tapi hari ini terlihat sangat berbeda.


"Gak pak No, cuma lagi jengkel aja", jawab Adi sambil mengambil sebatang rokok Diplomat nya. Pria itu segera menyulut dan menghisap rokok nya untuk meredakan emosi nya.

__ADS_1


"Lah wong mau nikah kog jengkel, ada apa sebenarnya bos?", pak Warno makin penasaran.


"Tadi baru saja di telpon mantan istri Pak No, dia pakai ngungkit kebahagiaan anak ku. Siapa gak kesal coba?? Pak Warno tau sendiri gimana susah nya saya dulu seperti apa. Enak banget dia ngomong soal anak.


Sumpah, aku benar-benar sebal pak No", jawab Adi sambil menghembuskan asap rokok nya kuat kuat.


"Jangan di pikir bos, anggap saja angin lalu. Kebahagiaan bos itu yang tau ya bos sendiri. Bukan mantan istri ataupun orang lain seperti aku ini", ujar pak Warno sambil melemparkan kayu kering ke perapian aspal yang mulai mengecil.


Adi langsung diam.


"Benar juga omongan pak Warno', batin duda beranak satu itu.


"Makasih pak No sudah menyadarkan ku", Adi tersenyum. Dia lega.


Sampai jam istirahat, Adi berada di depan SMP Jati bersama para pekerja aspalnya. Lepas jam istirahat, Adi segera memakai helm nya juga jaket kulit hitam yang sudah menemani perjalanan nya selama bertahun-tahun.


"Mau kemana bos?", tanya pak Warno saat melihat Adi sudah nangkring di motor Vixion nya.


"Mengejar kebahagiaan ku sendiri pak No hehehe", Adi terkekeh kemudian memacu motornya menuju ke arah rumah Indri.


Sepanjang perjalanan, siulan kecil berbunyi dari mulut Adi.


25 menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah Indri. Para tetangga dan saudara semuanya ,berkumpul di sana.


Kuartet ghibah, di tambah Lik Parmi istri Pak Jarno, Sari istri nya Irwan sepupu Indri (anak pak Jarno), Tia adiknya Irwan, Suci keponakan nya Sudarti semuanya pada sibuk dengan urusan masing-masing.


Kuartet ghibah ( Sudarti, Yu Nem, Bik Sum dan Bu Yati) asyik ngeghibah sambil mengiris bawang merah dan kentang. Suci sibuk menggoreng tahu. Sari dan Tia memisahkan tauge dari kulit kepala nya, Sedangkan Lik Parmi sibuk meracik soto untuk para anggota rewang.


Di depan, pak Jarno dan Pak Wito asyik berbincang dengan ketua RT lingkungan tempat tinggal Indri. Ada Irwan, Joko dan Yateno juga. Mereka menunggu tukang terop dan sound sistem yang akan datang siang ini.


Melihat Adi datang, Pak Wito bergegas menghampiri.


"Loh kog masih wira wiri mas bos? Apa gak bisa di tinggal dulu kerjanya?", tanya Pak Wito sambil menerima uluran tangan dari Adi.


Ini pada nunggu apa? Kog kumpul kumpul gini?", tanya Adi penasaran.


"Wohh ini nunggu terop sama sound sistem nya mas bos. Yuk monggo duduk dulu", Pak Wito mempersilakan Adi duduk. Adi segera menyalami mereka semua.


"Wooo ini to calon mantu nya Bu Sarmi. Yang mandor proyek itu. Salam kenal mas, saya RT disini. Nama saya Sumiran", ujar ketua RT bertubuh gempal itu.


"Nggeh pak, saya Adi", Adi menjabat tangan pak Sumiran dan duduk bersama mereka.


Indri yang baru saja dari dalam rumah melihat motor Adi langsung celingukan mencari calon suaminya itu. Dan dia menemukan sosok yang dia cari sedang asyik berbincang dengan para tetangga nya.


'Syukurlah dia cepat akrab sama tetangga', batin Indri sambil tersenyum tipis. Perempuan itu buru buru ke belakang bermaksud membuat kopi untuk para rewang laki laki di depan.


Tak berapa lama kemudian, Indri sudah keluar sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi.


"Lha manten e malah yang bikin kopi. Pasti nasgitel ini", ujar pak RT begitu Indri meletakkan nampan di atas tikar.


"Apa itu pak nasgitel?", tanya Adi penasaran.


"Nasgitel itu panas legi kentel hehehehe", pak Sumiran tertawa kecil memamerkan gigi nya yang mulai ompong.


Ohh begitu...


"Sebentar ya bapak bapak, saya masih ada perlu sama Indri. Nanti kita sambung lagi ngobrol nya", ujar Adi sambil berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Indri ke dalam rumah.


Para bapak bapak itu mengangguk tanda mengerti. Mereka melanjutkan obrolan ringan mereka.


"Yank, kog rame rame?


Kenapa kemarin gak ngomong?", tanya Adi saat mereka berdua di dalam rumah.

__ADS_1


"Aku juga gak tau mas, tau tau sudah seperti ini. Ibuk juga pesan baju manten untuk acara pernikahan besok.


Sebenarnya aku malu mas", ujar Indri sambil tersenyum kecut.


"Lha aku juga yank", ujar Adi sambil garuk-garuk kepala.


"Tapi ibuk mau nya kayak gitu, aku juga cuma bisa pasrah aja", Indri menatap Adi.


"Ya sudahlah, gak papa. Toh nyenengin orang tua gak ada salahnya kan? Paling juga semalam kita jadi tontonan orang, hehehehe", Adi terkekeh geli melihat muka Indri yang memelas.


"Ihhh mas ini malah ketawa lagi. Malu mas", sungut Indri.


"Iya iya mas paham kog. Tapi kita juga tidak punya pilihan lain", Adi menghela nafas panjang.


"Oiya yank, sehari sebelum ijab kabul aku sudah harus kesini ya?".


"Iya mas, emang ada apa??", Indri mengerutkan keningnya.


Adi hanya cengar-cengir tidak menjawab.


Indri semakin penasaran dengan kelakuan Adi.


"Malah cengar-cengir sendiri. Jawab mas, ada apa???", Indri serius bertanya.


Adi tersenyum jahil. Perlahan dia bangkit dari kursinya dan berbisik pelan di telinga sang calon istri.


"Kalau bobok disini, aku minta kamu temenin yank"


HAAAAHHH!!!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sabar mas Adi sabarrrrrr 🤣🤣🤣🤣


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini 👍👍👍👍


Lophe lophe dah ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁😁😁


__ADS_2