Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Heni Patah Hati


__ADS_3

"Ayo masuk Hen, kenapa disitu?", ajak Bu Siti melihat Heni yang berdiri di depan pintu rumah.


"Enggeh buk", jawab Heni melangkah masuk.


"Ada apa Cah ayu? Sini duduk dulu", Bu Siti menepuk sofa ruang tamu. Heni menurut. Perempuan itu segera mengikuti Bu Siti, dan duduk di sebelah nya.


"Saya di suruh ibuk, di rumah tadi masak banyak", Heni mengulurkan rantang susun stainless nya.


"Lho ngrepoti saja, sampaikan terimakasih banyak sama Jeng Mamik ya", Bu Siti menerimanya.


Heni melirik ke arah dapur. Bu Siti paham langsung tersenyum tipis.


"Nyari Adi Hen? Orang nya masih makan tuh di dapur, baru juga pulang".


Heni yang ketahuan, langsung menunduk. Wajah nya merah seperti kepiting rebus.


Bu Siti kemudian bergegas menuju ke dapur. Adi yang masih makan, menoleh ke arah ibunya.


"Apa itu buk?", tanya Adi kepo.


"Makanan dari Jeng Mamik. Kamu mau?", Bu Siti menawarkan.


"Gak. Perut ku emang karet apa? Ini saja belum habis", Adi menerus makan dadar jagung manis nya.


Bu Siti segera menukar makanan di dalam rantang susun itu dengan beberapa baskom. Ada semur ayam kecap, sambal goreng kentang dan mie goreng.


Setelah selesai makan, Adi mencuci tangan dan melangkah menuju ruang tamu.


"Hai Hen, tumben kemari", sapa Adi.


Heni yang sedang asyik melamun langsung menoleh ke arah sumber suara. Malam itu Adi terlihat gagah dengan baju kotak-kotak nya.


"Ehh mas Adi. Itu di suruh ibuk mengantar makanan. Tadi pas acara, ibuk masak banyak gitu", Heni sedikit tergagap berbicara dengan Adi. Dekat dengan lelaki satu ini selalu membuat jantung nya berdetak kencang.


"Oh gitu. Gimana ngajarnya? Lancar?", tanya Adi kemudian.


"Alhamdulillah mas, ya walaupun banyak suka dukanya", jawab Heni tersenyum tipis.


"Suka dukanya? Maksudnya apa?", Adi penasaran.


"Ya suka karena bisa membagi ilmu mas, dukanya kalau di ledek teman teman pengajar", Heni menatap wajah Adi. Beberapa hari tidak bertemu, laki laki itu terlihat sedikit hitam. Walaupun tetap saja tidak mengurangi ketampanannya. Malah terlihat semakin macho.


"Diledekin? Kog bisa?", tanya Adi semakin kepo.


"Ya kan tinggal Heni pengajar yang masih singgel mas. Lain nya sudah pada punya anak", Heni menunduk malu.


"Ya kamu cepetan cari pasangan dong. Masak mau sendiri terus?", Adi tersenyum tipis.


"Bagaimana kalau aku sama mas Adi saja?", tiba tiba meluncur kata kata itu dari Heni.


Entah dapat darimana keberanian Heni berkata.


Ucapan nya langsung membuat Adi terpana sejenak. Duda beranak satu itu kemudian tersenyum.


"Maaf Hen, sebaiknya kita tetap bersaudara saja. Dari dulu kamu itu kamu ku anggap adik ku sendiri.Tidak lebih", Adi menyulut sebatang rokok. Wajah cantik Heni langsung berubah muram.


Bu Siti yang baru saja keluar dari dapur, segera meletakkan rantang susun stainless itu ke meja. Heni segera berdiri.


"Buk, Heni pamit pulang. Assalamualaikum", Heni segera bersalaman dengan Bu Siti dan bergegas keluar dari rumah itu tanpa bersalaman dengan Adi.


Suara motor matic nya segera meraung meninggalkan rumah Adi.


"Itu Heni kenapa Le? Kog tiba-tiba aneh gitu", Bu Siti menatap wajah Adi.


"Tadi Heni meminta Adi jadi suami nya, Adi jelaskan kalau dari dulu dia cuma Adi anggap adik. Terus itu ngeloyor pulang", Adi segera beranjak ke kamar tidur nya.


"Ya semoga dia gak sakit hati Le, dia sebenarnya anak baik", Bu Siti menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Cinta itu tidak bisa dipaksa buk, kita boleh mencintai siapa pun, tapi kita juga tidak bisa memaksa orang untuk menerima cinta kita.


Iya kan??", Adi masuk ke dalam kamar tidur nya.


Bu Siti hanya tersenyum kecut. Dia hanya berharap Heni baik baik saja setelah ini.


Heni terus memacu motornya menuju rumah. Air mata gadis itu terus berjatuhan membasahi pipinya.


Sesampainya di rumah, gadis itu langsung masuk ke kamar nya. Dan mengunci pintu kamar. Di dalam kamar, Heni menangis tersedu-sedu.


Bu Mamik yang kaget melihat perubahan wajah Heni, langsung memburu ke arah kamar Heni.


"Hen Heni, buka pintunya..


Ada apa Nduk? Hen Heni..."


Heni tetap saja menangis.


Meski Bu Mamik berulang kali mencoba membujuk Heni untuk membuka pintu, tapi tetap saja gadis itu tidak bergeming.


Bu Mamik segera menelpon kakak nya, Pak Hendro. Tak berapa lama kemudian, Pak Hendro datang.


"Masih belum di buka Mik?", tanya Pak Hendro.


"Belum mas. Kita dobrak saja mas pintu nya. Aku khawatir terjadi apa-apa", raut wajah Bu Mamik terlihat cemas.


Pak Hendro mengangguk tanda mengerti. Pria berbadan besar itu segera mengambil ancang-ancang. Dan..


Bruakkk


Pintu kamar Heni langsung terbuka lebar.


Heni masih menangis tersedu-sedu diatas kasur. Matanya bengkak. Bu Mamik langsung mendekati putri bungsu nya itu.


"Ada apa Hen? Cerita dong sama ibuk", Bu Mamik mengelus kepala Heni. Gadis itu langsung bangun dan memeluk ibunya. Tangisannya masih berlanjut.


Huuu... huuuu...


Mendengar nama Adi disebut, perlahan Heni melepaskan pelukannya pada Bu Mamik.


Dengan terisak lirih, Heni kemudian bicara.


"Mas Adi menolak ku buk hiks hiks".


"Haaaaaaaahhhh??!


Atas dasar apa dia menolakmu?", Bu Mamik kaget mendengar penuturan Heni.


"Mas Adi hanya menganggap Heni adik. Tidak lebih dari itu hiks hiks", Heni terus terisak lirih.


"Sudahlah Hen, sudah. Kita tidak bisa memaksa orang untuk menerima perasaan kita. Sudah ya jangan menangis lagi.


Mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk kamu", Bu Mamik mencoba menghibur Heni.


Heni masih terisak walau tak sekeras tadi. Hatinya hancur berantakan. Malam itu menjadi saksi Heni patah hati yang kedua kalinya. Dengan orang yang sama.


Malam berganti pagi.


Pagi itu Adi sudah bersiap untuk berangkat kerja. Tidak seperti biasanya yang bangun kesiangan, pagi ini dia bangun cepat.


Usai memakai helm KYT putih nya, Adi segera memacu motornya menuju ke arah dam sungai kecil di utara kecamatan Gandu.


30 menit kemudian, duda yang sebentar lagi berganti status itu sudah sampai di lokasi proyek. Dua orang kepercayaan nya, Didik dan Paino sudah lebih dulu sampai disana.


Mereka melihat proses penggalian tanah untuk pondasi, sekaligus mengubah aliran sungai kecil itu dengan excavator.


"Tumben sekali berangkat pagi bos", ujar Didik saat Adi mendekat ke arah nya.

__ADS_1


Iya lah, waktunya kerja keras. Sebentar lagi mau punya istri, butuh biaya buat menghalalkan nya", jawab Adi sambil tersenyum simpul.


"Lahh berarti lamaran kemarin beneran bos?", Didik melebar matanya.


"Ya iyalah, kamu pikir bercanda ya? Enggak lah, gendeng apa buat candaan", Adi mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.


"Dapat orang mana bos? Janda apa perawan?", tanya Didik penasaran.


"Dasar kepo. Urusin noh cewek yang kamu hamilin. Jangan ngurusi hidup orang melulu", jawab Adi mendengus dingin.


Didik langsung diam seketika.


"Pak No, usai galian ini rampung separuh, para pekerja suruh masuk ya", Adi menatap Paino. Laki laki itu segera berdiri dan menghormat layaknya tentara.


Mereka bertiga terus menatap excavator yang sedang menggali tanah itu.


Menjelang siang, Adi meninggalkan lokasi proyek baru itu. Tujuan nya ke lokasi proyek di depan SMP Jati.


20 menit kemudian Adi sudah sampai di depan SMP Jati. Setelah Adi memarkir motornya, laki laki itu celingukan mencari dua tukang kepruk batu nya.


Dua orang itu ternyata sedang ngopi di rumah salah satu warga.


Darsiman segera berteriak memanggil Adi saat Adi berjalan menuju ujung pekerjaan.


"Ngopi dulu bos"


Adi segera mendekati mereka berdua.


"Ini besok rampung ya Lik?", tanya Adi pada dua orang berbadan gempal itu.


"Beres Le, hari ini tinggal 2 rit doang", ujar Darsiman sambil mengelap peluh yang membasahi keningnya.


Adi mengacungkan jempol nya.


"Gak biasanya Le, kamu seperti mengejar sesuatu ya,


Butuh buat apa sih?", Darsiman menatap wajah Adi dengan penuh selidik. Tidak biasanya Adi ngoyo mengerjakan proyek. Baru kali ini dia seperti ini.


Adi cuma nyengir kuda sambil berkata dengan pelan.


"Butuh duit banyak buat nikah"



. visual Mas Adi tadi malam nemuin Heni.


.pict by Google


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh author juga sama nih 😁

__ADS_1


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini ya kakak reader tersayang semuanya ❤️❤️❤️


Selamat membaca 😁😁😁


__ADS_2