
Mobil Eko dan Hari terus melaju dengan kecepatan sedang di ruas jalan kabupaten.
Adi yang duduk di sebelah Eko terus membolak balik tangan kiri nya. Matanya menatap cincin emas yang melingkar di jari manis nya.
Adi seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Baru kemarin rasanya dia menjadi duda, tapi hari ini status nya akan segera berganti menjadi suami.
Eko yang sedang mengemudi, melirik kelakuan si mandor proyek itu.
"Pamer ya bos?", tanya Eko sambil melajukan mobilnya.
"Gak lah. Percuma juga pamer. Buat apa? Cuma menambah luka dalam seorang jomblo", Adi terus menatap cincin emas di jari manis nya.
"Bahasamu bos bahasamu.....
Kejam sekali tidak berperikemanusiaan", Eko melirik Adi dengan sengit.
Hehehehe
Adi malah cengengesan seakan tak berdosa.
30 menit kemudian, mobil mereka sudah sampai di rumah Adi.
Adi segera turun dari mobil di ikuti oleh Bu Siti, Pak Puh Bud, dan Cinta. Eko segera membuka bagasi mobil nya. Tadi ada jajan yang di berikan sama Bu Yati pada Eko saat mereka masih rembukan di dalam rumah.
"Bu, ini di taruh dimana??", tanya Eko sambil membawa 2 nampan plastik yang terbungkus plastik bening bermotif pink.
"Lho apa ini Ko??", Bu Siti nampak kebingungan.
"Ini dari orang tua nya Indri Bu, tadi dikasih waktu njenengan masih di dalam rumah sama saudaranya gitu", jawab Eko sambil menurunkan nampan itu di meja.
Eko segera keluar lagi dan mengambil lagi 2 nampan plastik seperti itu.
Bu Siti hanya geleng-geleng kepala melihat itu semua. Akhirnya Bu Siti membagi satu nampan untuk Hari, satu untuk pak Puh Bud, satu untuk Eko.
"Kog buat saya Bu?", tanya Eko sambil memandang ke arah Bu Siti.
"Iya buat kamu, biar cepat ketularan dapat jodoh. Gak jomblo akut", sahut Adi sambil memberikan 3 lembar ratusan ribu pada Eko.
Meski kesal dengan ucapan Adi, tapi Eko tidak kesal dengan duitnya.
Usai Eko pamitan bareng Hari dan Pak Puh Bud, mereka bertiga segera beristirahat di kamar masing-masing.
Pagi menjelang siang.
Hari Minggu ini, semua pekerjaan libur kecuali di kecamatan Wana. Adi dengan bangun telat.
Sampai jam 8 baru bangun dia.
Saat bangun, semua orang tidak ada. Entah kemana Bu Siti dan Cinta pagi ini. Adi segera menuju kamar mandi sambil menguap lebar beberapa kali.
Hanya sepuluh menit dia mandi, lalu berbalik menuju kamar dan berganti pakaian. Di masih memakai kaos singlet dan celana jeans hitam nya.
Tin tiiinnnn
Suara klakson mobil berhenti di depan halaman rumah Adi.
Adi yang mendengar, segera melihat keluar.
Maya Barata sedang turun dari mobil nya.
Dandanan Maya terlihat sedikit seksi kali ini. Celana pendek sebatas lutut, sepatu flat shoes Nike, kaos oblong putih kedodoran, jam tangan sporty wanita nya, tak lupa kacamata hitam nya.
"Selamat pagi Bu Sekretaris,
Ada hal apa yang membuat mu datang ke gubuk ku ini??", Adi bertanya sopan terhadap adik bos kantor nya itu.
Tanpa menjawab, wanita itu langsung memeluk tubuh Adi.
"Eeeeee ehhh apa apaan sih?", Adi kaget melihat ulah adik bos Alex ini.
__ADS_1
"Aku kangen kamu mas. Hampir satu bulan mas Adi gak ke kantor. Di vc gak pernah diangkat.
Tega bener bikin orang kangen", ujar Maya tanpa melepaskan pelukannya pada Adi.
"May, lepasin. Jangan kayak gini to. Malu di lihat orang", Adi berusaha melepaskan diri dari pelukan Maya.
"Gak, gak akan Maya lepas. Kalau mas Adi gak janji ikut aku ke rumah om Eros", Maya tetep keukeh memeluk Adi. Untung saja tidak ada Bu Siti atau orang lain yang lewat. Kalau ada, bisa habis Adi.
"Ok ok May, aku ikut kamu tapi lepasin dulu pelukan mu okey???", Adi akhirnya mengalah.
Maya lantas melepaskan Adi.
Setelah Adi selesai berpakaian, Adi naik ke mobil Maya untuk ikut perempuan itu ke rumah Eros Barata, kakak mantan bos nya Dedi Barata.
Mobil Maya melaju meninggalkan rumah Adi.
Tak berapa lama kemudian, Bu Siti yang masih melihat motor Adi celingukan mencari putra bungsu nya itu.
'Ini motor masih disini, lha orangnya kemana?'.
Sementara itu Adi dan Maya meluncur ke Tulungagung. Setelah melewati kota, mereka terus meluncur ke barat menuju arah Trenggalek.
Di barat Jembatan Kali Lembu Peteng, mobil Maya meluncur ke selatan. Memasuki Desa Tawing, mereka berhenti di barat pasar Tawing.
Maya memarkir mobil nya dan bergegas turun menuju sebuah rumah kuno namun megah milik kakeknya, sang mantan lurah Tawing.
Adi mengekor di belakang nya.
Maya celingukan mencari keberadaan kakeknya yang biasanya duduk di kursi teras rumah kuno itu. Tidak ada.
Maya bergegas masuk. Om nya Eros Barata nampak sedang menikmati sarapan pagi. Melihat Maya, pria flamboyan itu tersenyum.
Sementara Adi duduk di ruang tamu.
"E-eh ponakan ku sudah datang. Ada apa May?", tanya Eros Barata.
"Orang nya mana?", tanya Eros kemudian.
"Tuhh", ujar Maya melirik Adi yang sedang menghisap rokok nya.
"Oww, ok deh. Kamu tunggu deh", ujar Eros Barata sambil masuk ke dalam kamar pribadi nya. Ada bau kemenyan yang tiba tiba tercium.
Adi yang merasa ada yang aneh, hanya berdoa dalam hati.
Maya mengikuti langkah Eros masuk ke kamar. 15 menit kemudian, mereka berdua keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
Eros segera menyalami Adi. Tangan Eros terasa hangat.
"Om aku pamit dulu ya?", ujar Maya sambil tersenyum penuh arti.
"Ok ponakan. Hati hati ya", jawab Eros seraya mengangguk tanda mengerti.
Maya dan Adi bergegas menuju mobil Maya. Kemudian mobil Maya segera berpuasa dan kembalikan ke arah kota Tulungagung.
Sepanjang perjalanan, entah kenapa Adi merasa Maya sangat menarik. Lama dia menatap wajah Maya yang sedang mengemudi.
Maya yang sadar Adi memperhatikan nya, tersenyum penuh arti.
"Ada apa mas? Kog dari tadi menatap May terus?", ucap Maya sambil mengulum senyum.
Adi salting abis saat aksinya ketahuan si sekretaris kantor itu.
"Gak, gak papa kog. Cuma...", Adi tak meneruskan kalimatnya.
"Cuma apa mas?", Maya terus tersenyum tipis.
"Hari ini kamu cantik sekali", ujar Adi kemudian.
Maya tersenyum penuh arti. Gadis itu segera teringat ucapan Eros, om nya.
__ADS_1
Flashback on
Eros masuk ke kamar pribadi nya, langsung mengambil kemenyan dari buntalan kain putih di lemari. Anglo berisi arang kayu jati tampak mengepul saat Eros memasukkan secuil kemenyan kesitu.
Sekedar informasi, Eros ini seorang paranormal yang cukup terkenal di daerah Tulungagung. Dia terkenal ampuh dalam urusan pelet.
Mulut Eros komat kamit membaca sesuatu saat Maya menyusul masuk.
Eros segera menaruh tangan nya diatas asap kemenyan sejenak, lalu laki laki itu berdiri kemudian membasuh muka Maya.
"Ingat May, ini tidak bertahan lama. Kalau laki laki itu beragama dan taat sholat, ini mudah luntur. Kamu harus bergerak cepat".
Flashback off
Maya tertegun sejenak lalu menatap wajah Adi.
'Maaf mas, cuma dengan cara ini aku bisa mendapatkan kamu. Cinta ku kau tolak, dukun ku bertindak'
Maya terus melajukan mobilnya, setelah perempatan lampu merah tiba tiba perempuan itu memutar mobilnya ke kiri, memasuki sebuah hotel berbintang tiga.
Usai memarkir mobilnya, Maya menuntun Adi ke resepsionis hotel.
"Kamar untuk sehari, ada yang kosong?", Maya menatap wajah resepsionis hotel.
"Deluxe room mbak, nomer 97. Mbak mau ambil?", resepsionis hotel itu menatap wajah Maya lalu ke Adi yang seperti orang kebingungan.
Maya hanya mengangguk sambil mengeluarkan kartu debit nya.
Seorang bellboy mengantar mereka sampai di kamar. Maya mengeluarkan selembar 50 ribu pada bellboy itu yang segera keluar.
"Mas, aku mandi dulu ya", ujar Maya sambil tersenyum genit.
Adi hanya tersenyum saja. Pikiran nya kosong.
'Kenapa aku disini?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduh Mak e, apalagi ini?? 😱😱😱😱
Tolong dong !!!
Author mengucapkan terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini ya 👍👍👍
Setiap dukungan kalian dalam bentuk vote, like dan komentar sangat berarti untuk kelanjutan dari cerita ini 😁😁😁
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1