
Mulai hari ini, Adi resmi menjadi pacar Indri. Sebenarnya sih malu Adi, dia bukan ABG lagi tapi apa daya dia harus melalu proses itu lagi disaat usia nya tidak bisa di katakan muda.
Sore terasa lebih sejuk dari biasanya. Bu Sarmi membantu Indri mandi. Meski sedikit sulit, akhirnya Indri mandi juga. Selesai mandi Bu Sarmi membantu Indri berganti baju.
"Le, gak mandi sekalian?
Sudah sore loh, mandi lewat magrib gak baik Lo untuk kesehatan", tawar Bu Sarmi sekaligus mengingatkan Adi.
Adi sedang sibuk dengan Dhea.
"Gak buk, nanti saja di rumah.
Eh buk besok waktunya kontrol ya?", tanya Adi. Dia lupa lupa ingat soal jadwal kontrol untuk Indri.
"Iya Le, kenapa to?", tanya Bu Sarmi.
"Gak papa buk, biar pagi saya telpon Eko untuk ngantar ke rumah sakit", ujar Adi sambil memandang kearah Indri yang sedang menyisir rambutnya yang basah.
"Ah ibu jadi ndak enak Le, selalu merepotkan kamu", ujar Bu Sarmi sedikit malu. Memang semua biaya pengobatan Indri di tanggung oleh Adi, Bu Sarmi tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk Indri.
"Sudah kewajiban Adi buk,
Kalau gitu Adi pamit dulu buk. Wassalamu'alaikum", ujar Adi sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Walaikumsalaam", jawab Bu Sarmi sambil menyambut uluran tangan dari Adi.
"Sayang, aku pulang dulu ya?", pamit Adi ke Indri.
Wajah Indri memerah kembali saat mendengar kata sayang dari Adi. Janda muda itu hanya mengangguk saja. Adi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Indri segera menyambut tangan itu dan mencium punggung tangan Adi.
Si gadis kecil Dhea juga salim sama Adi, sama sekali tidak rewel.
Adi men-start motor Vixion kesayangannya itu dan segera memacu kuda besi nya pulang ke desa Mande habitat aslinya.
Sepanjang perjalanan Adi bernyanyi lagu dari Naff, band favoritnya.
🎵🎵
**Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usia ku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahan ku
Dan bila nanti engkau di samping ku
Jangan pernah letih tuk mencintai ku**...
🎵🎵
20 menit kemudian Adi sudah sampai di rumah nya. Duda beranak satu itu segera mendorong motor nya menuju ke dalam rumah.
Di depan tv, Cinta asyik menonton YouTube dari hp. Hape?? Mata Adi mendelik ke arah hape di tangan putri semata wayangnya itu.
Bu Siti yang baru menyeduh minuman di dapur, melihat Adi kebingungan segera mendekati putra nya itu.
__ADS_1
"Buk itu hape punya siapa??", tanya Adi sambil memandang kearah Cinta.
"Itu tadi Si Eti yang ngasih. Katanya dari Niken", jawab Bu Siti.
'Niken ngasih hape? Si licik itu pasti merencanakan sesuatu',batin Adi.
"Ada apa Le? Ada yang menggangu pikiran mu?", tanya Bu Siti begitu melihat Adi seperti termenung.
"Gak buk, cuma heran aja", jawab Adi sambil melepas ransel dari punggungnya.
"Heran kenapa??", Bu Siti serius menatap Adi.
"Heran tumben ingat kalau punya anak disini. Seperti biasanya kalau dia memberi sesuatu itu pasti punya niat tersembunyi.
Ibu ingat, waktu dia tiba-tiba membelikan cincin emas dulu. Dia baik baikin ibuk, ujungnya semua surat penting bahkan KK kami hilang, setelah sekian tahun baru ketahuan kan kalau dia yang mengambil", Adi kambuh waspada. Dia sama sekali tidak pernah percaya Niken. Soalnya bukan sekali dua kali dia di akali Niken. Dia tidak mau tertipu oleh Niken lagi.
Hemmmm
Bu Siti menghela nafas panjang.
Wanita paruh baya itu hafal sifat putranya. Sekali di tipu selamanya tidak akan percaya lagi.
"Sudah Le, jangan suudzon. Barangkali dia sudah berubah", ucap Bu Siti yang bermaksud menenangkan Adi.
"Eleh, sampai mati dia juga gak akan berubah buk", jawab Adi seraya masuk ke kamar tidur nya.
Bu Siti menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra kesayangannya itu.
Sementara itu, Cinta sedang chat dengan Niken.
📳
Ayahmu sudah pulang Ta?
Sudah buk
Setiap hari pulang sore buk
Hemmmm.. Ayahmu pernah bawa calon ibu baru ke rumah belum?
Belum buk, tapi pernah pulang sama Tante Maya.
Siapa Tante Maya?
Cinta cuma dibawakan martabak
📴
Sementara itu Niken di Surabaya menggeram menahan marah.
'Siapa Maya? Kenapa sampai Mas Adi membawa dia pulang', berjuta pertanyaan memenuhi otak Niken
'Aku tidak akan membiarkan wanita lain mendekati mu Mas Adi. Kau hanya milik ku'
Sementara itu, Adi bergegas menuju kamar mandi dan mengguyur badan nya dengan segarnya air bak mandi. Usai mandi, Adi berganti pakaian. Kaos singlet dan celana kolor setia menemani tidur Adi hingga pagi menjelang tiba.
Hari ini waktunya Indri kontrol. Pagi sekali Eko sudah datang ke rumah Adi dengan mobil sejuta umat nya.
"Kita kemana bos hari ini?", tanya Eko sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah Adi.
"Ke orang yang kemarin kita antar pulang dari rumah sakit Ko", jawab Adi sambil menyulut rokok Diplomat favoritnya. Eko yang paham kebiasaan Adi, sudah mematikan AC mobil sejuta umat nya dari tadi.
"Lha kenapa lagi bos? Bukankah seharusnya sudah cukup untuk membantu nya?", Eko tak mengerti.
"Dia begitu karena aku Ko, sudah tanggung jawab ku untuk membuat nya kembali seperti semula", Adi mengepulkan asap rokok nya.
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah Indri. Dengan bantuan Adi, Indri masuk ke mobil. Dhea yang sekolah, di tunggu Bu Sarmi. Jadi mereka hanya bertiga berangkat ke rumah sakit.
Adi tidak duduk di depan, tapi menemani Indri di belakang. Sepanjang perjalanan mereka saling berpegangan tangan. Eko mengintip mereka dari kaca spion.
__ADS_1
"Asem si bos. Ternyata dia dekat sama perempuan ini. Aku di jadikan obat nyamuk', gerutu Eko dalam hati.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Eko segera memarkir mobilnya. Indri yang sudah mulai terbiasa berjalan dengan kruk nya berjalan di samping Adi menuju ke tempat dokter spesialis ortopedi. Dokter Wahyu namanya.
Untung saja pasien tidak terlalu banyak sehingga giliran Indri di periksa tidak terlalu lama.
Seorang suster keluar dari ruang praktek dokter Wahyu.
"Bu Indri Hapsari", panggil sang suster.
Indri dan Adi segera masuk ke ruang praktek dokter Wahyu.
Setelah seperempat jam di periksa, Dokter Wahyu memberikan instruksi agar gips Indri di bongkar sebab fraktur tulang nya tidak terlalu parah, namun Indri wajib memakai kruk selama sebulan ke depan dan selama tiga bulan tidak boleh angkat beban lebih dari 10 kg.
Senyum mengembang dari bibir Indri. Dia sedikit lega.
Usai gips di bongkar pergerakan Indri menjadi lebih leluasa. Selesai membayar biaya, mereka berdua menuju ke parkiran mobil. Eko sudah menunggu mereka. Mobil sejuta umat nya Eko melaju meninggalkan rumah sakit.
"Ko, cari makan dulu ya? Laper nih", ujar Adi.
Eko mengangguk tanda mengerti.
"Lha emang om ganteng tidak pernah sarapan gitu ya?", tanya Indri.
"Gak pernah, gak nafsu makan kalau pagi", jawab Adi singkat.
"Padahal sarapan pagi itu baik loh om ganteng untuk menjaga kesehatan", Indri perhatian.
"Ya nanti kalau kamu masakin aku makan pagi", ujar Adi santai.
Indri cengar-cengir sendiri.
Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka berdua.
Eko yang jadi obat nyamuk hanya bisa pasrah melihat kemesraan mereka berdua.
'Nasib jomblo gini amat ya'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Dukung untuk author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍
Selamat membaca 😁😁😁
__ADS_1