Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Kapan Dilamar?


__ADS_3

Mobil sejuta umat nya Eko perlahan berhenti di sebuah rumah makan Ndeso. Tempat nya bersih dan pelayanan nya juga ramah. Menu nya pun ramah di kantong.


Selesai memarkir mobilnya, Eko lebih dulu masuk sedangkan Adi membantu Indri untuk turun. Mereka mencari tempat berkursi meskipun pada dasarnya konsep rumah makan itu adalah lesehan.


"Mau makan apa yank?", ujar Adi tanpa merasa bersalah pada Eko yang plonga plongo seperti kambing ompong.


"Terserah om ganteng saja, Indri bisa makan apa saja kog om", Indri tersenyum manis.


"Termasuk makan cinta dariku?", tanya Adi sambil terus membaca menu.


Blushhh


Wajah cantik janda muda itu memerah. Sejak kemarin, dia selalu salah tingkah saat bersama lelaki itu.


Eko yang seakan dianggap tidak ada, hampir mengumpat.


'Ini orang bener gak ada akhlak. Di tempat umum masih juga sok romantis. Dasar bucin', gerutu Eko dalam hati.


"Kog diam yank??", tanya Adi sambil melirik Indri.


"Ihhh apaan sih om ganteng nih, malu om", Indri menunduk saja.


Adi terkekeh geli.


"Ya udah aku yang pesen.


Mbak sini", Adi melambaikan tangannya, dan seorang gadis muda berpakaian waitress mendekat.


"Mbak, nasi putih 2, cah kangkung saus tiram 2, ikan bakar 2, penyetan 2, sama es jeruk nya 2".


Si gadis muda mencatat semua pesenan Adi.


"Kog cuma 2 bos? Lha aku mana?", protes Eko.


"Pesen saja sendiri", jawab Adi singkat.


'Dasar orang lagi kasmaran, dunia terasa milik berdua. Yang lain cuma ngontrak', gerutu Eko.


Akhirnya Eko memesan nasi putih, lele bakar, dan es teh.


Setelah menunggu hampir 15 menit, makanan pesenan mereka akhirnya tiba. 15 menit terasa cepat untuk Adi dan Indri, sedangkan 15 menit itu terasa seperti 15 tahun buat Eko yang tersiksa dengan aroma cinta Adi dan Indri yang bertebaran dimana-mana.


Adi dengan santainya suap suapan dengan Indri. Eko hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan yang ada.


"Kamu kenapa Ko? Kusut gitu. Gak enak makanannya?", tanya Adi melihat Eko gak semangat sama sekali.


"Enak bos, yang gak enak hati ku", jawab Eko sambil memasukkan nasi ke mulutnya.


"Lah kalau gak enak hati, pesen hati ayam atau hati sapi kan enak Ko", Adi tersenyum tipis. Dia tau Eko pasti iri melihat nya dengan Indri. Dia sengaja menggoda nya. Sahabat lamanya ini jomblo akut berkarat. Setelah di tinggal pergi pacar nya, dia tidak pernah pacaran lagi.


Eko hanya menggerutu terus.


Setelah selesai makan, Adi membayar dan mereka bertiga meninggalkan Lesehan Ndeso itu. Mobil sejuta umat nya Eko melaju menuju ke arah rumah Indri.


Adi membuka pintu mobil sejuta umat nya Eko begitu mereka sampai di rumah Indri 30 menit kemudian. Indri beringsut pelan dan dengan hati hati mencoba untuk berdiri saat kaki kiri nya sudah menginjak halaman rumah.


Kaki yang sudah seminggu lebih tidak bergerak itu begitu nyeri. Indri limbung dan menubruk Adi dengan posisi Adi di bawah dan Indri diatas.


Brukkk..


Saat itu secara tidak sengaja bibir Indri Hapsari menempel lembut di bibir Adi. Untuk beberapa detik mereka terdiam seketika.

__ADS_1


Eko yang baru keluar, melihat pemandangan itu.


Ehemmmm


Suara deheman Eko membuyarkan adegan romantis ala drakor mereka. Buru buru Indri berusaha untuk bangun. Wajahnya merah seperti tomat matang.


Adi pun sama. Segera dia bangun dari jatuhnya dan segera membantu Indri berdiri. Melihat Indri meringis menahan sakit, Adi langsung menggendong Indri masuk ke dalam rumah. Sementara Eko membawakan kruk Indri.


Dhea yang baru pulang dari sekolah dengan Bu Sarmi, segera menangis keras melihat Adi menggendong ibunya.


Huaaaa.....


Selesai menidurkan Indri di ranjang ruang tamu, Adi setengah berlari mendekati Dhea. Gadis kecil itu membuka tangan nya minta di gendong.


"Anak ayah kenapa menangis?", tanya Adi sambil memandang gadis kecil di gendongan nya itu.


"Ayah gendong buk e, Dhea mau di gendong ayah hiks", jawab Dhea sambil terus terisak lirih.


"Ini kan sudah di gendong ayah. Tadi ayah bantuin buk e Dhea. Kan kaki buk e Dhea masih sakit, jadi ayah gendong. Cup cup sudah jangan nangis lagi. Nanti pipi nya kempes Lo nak", ujar Adi menenangkan tangisan Dhea.


Perlahan tangis Dhea mereda.


Bu Sarmi tersenyum tipis melihat cucu kesayangannya itu begitu lengket sama Adi.


"Nah sekarang Dhea ganti baju Nak, sama Mbah ya. Ayah masih ada repot ini", Adi mengulurkan Dhea pada Bu Sarmi. Dhea hanya mengangguk dan patuh.


Perempuan paruh baya itu segera membawa Dhea masuk ke dalam rumah untuk berganti baju sekolah menjadi baju sehari hari.


Eko yang penasaran dengan sikap Adi segera mendekati mandor proyek itu.


"Bos, kog lengket banget sama bocah itu. Ada apa sebenarnya?".


Otomatis kalau dia merasa nyaman, ya begitulah akhirnya", ujar Adi sambil menepuk celana jeans hitam nya yang sedikit kotor gara gara di tubruk Indri tadi.


"Hemmmm gitu. Kalau ku lihat nih ya bos, kayaknya si bos beneran jatuh cinta sama cewek itu", Eko menunjuk ke dalam rumah. Sudah pasti maksudnya adalah Indri.


"Aku sudah bukan jomblo lagi Ko, dia sekarang pacar ku", Adi tersenyum sombong sekali.


"Lah pantesan betah berlama-lama di sini, wong karena ada perempuan nya.


Eh bos, pacaran sih gak ada yang melarang tapi ya mbok jangan di setiap tempat memamerkan kemesraan. Hargailah para jomblo yang ada di sekitar biar tidak enek dengan mu", omel Eko panjang lebar.


"Lah salah sendiri kenapa betah jadi jomblo. Justru dengan sikap ku, aku berharap bisa menjadi motivasi para jomblo untuk segera memiliki pasangan", Adi tak mau kalah.


"Huh namanya bucin tetep bucin. Dasar bucin tua", tukas Eko menggerutu.


"Gak papa bucin, daripada jadi jomblo akut berkarat", sahut Adi.


Saling ledek antara mereka berhenti saat Bu Sarmi memanggil mereka.


"Nak Adi, nak Eko sini...


Minum kopi dulu".


Adi dan Eko segera bergegas menuju ke dalam rumah. Kopi buatan sendiri dari Bu Sarmi memang enak. Katanya sih, campuran nya hanya 20 persen. Artinya 1 kg biji kopi Arabika di campur 2 ons beras.


Sambil ngopi mereka berbincang hangat.


Usai ngopi, Adi pamitan karena harus kerja. Ini hari Sabtu dan dia di tunggu di 3 tempat sekaligus.


Bu Sarmi dan Indri memandang kearah mobil sejuta umat nya Eko yang perlahan mulai meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


"Nduk, ada yang mau ibu tanya ke kamu.


Jawab dengan jujur", ujar Bu Sarmi pada Indri yang baru duduk di ranjang.


"Iya buk, gak usah pakai gaya interogasi gitu kenapa??", Indri menatap wajah sepuh ibunya.


Hehehehe


"Kamu pacaran ya sama Nak Adi?",Bu Sarmi menatap kearah wajah cantik putri bungsu nya itu.


Indri hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan ibunya.


"Sejak kapan Nduk? ", tanya Bu Sarmi kepo.


"Sejak kemarin buk. Emang kenapa sih??", Indri jadi penasaran.


Bu Sarmi hanya tersenyum tipis. Indri semakin penasaran dengan ibunya. Tidak biasanya ibunya kepo banget sama urusan nya.


"Malah senyum senyum. Jawab buk".


Bu Sarmi lagi lagi tersenyum tipis. Perempuan paruh baya itu menatap wajah cantik Indri, kemudian berkata,


"Ibuk cuma pengen tau,


Kapan kamu dilamar?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo om ganteng kapan lamaran nya?


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Tak bosan mengingatkan buat kalian semua, untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍


Share juga boleh di grup FB Noveltoon yak


Selamat membaca guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2