
Adi terkekeh geli mendengar bisikan pak Modin Jamroni. Diam diam Modin desa Mande ini gaul juga.
"Berapa biayanya pak Jam?", tanya Adi kemudian.
"Alah gampang itu mas. Lengkapi dulu berkasnya, setelah baru njenengan bayar administrasi nya", jawab pak Modin Jamroni sambil menghisap rokok nya.
Sebagai sesama anggota LPMD, mereka memang akrab.
Adi kemudian mohon pamit, dia akan berangkat kerja. Kekurangan berkas diantar nanti sore. Setelah bersalaman, duda beranak satu itu melangkah keluar dari rumah Modin desa Mande itu segera. Kemudian motor Vixion Adi segera melaju meninggalkan tempat itu menuju ke kecamatan Sambi, tempat Antok mulai pekerjaan baru.
15 menit kemudian, Adi sudah sampai di kecamatan Sambi tempat Antok mulai menggarap saluran air.
Tampak beberapa orang sedang menggali tanah untuk membuat pondasi drainase.
"Tok, jangan lupa. Kemiringan nya 1 : 2 loh. Lebar lantai 40. Bibir cover 60. Awas jangan sampai kurang dari itu", Adi mengingatkan.
"Gambarnya bos?", Antok menatap wajah Adi.
"Nanti habis ini aku ke kantor CV Barata Konstruksi.
Sekalian minta bon buat Sabtu depan", ujar Adi sambil memandang ke arah galian tanah. Sudah dapat beberapa meter.
"Oiya Tok, yang kamu tinggal di talud tikungan berapa orang?", sambung Adi kemudian.
"5 orang bos, 2 tukang 3 kuli", jawab Antok segera.
Adi mengangguk tanda setuju. Laki laki itu kemudian menunjukkan beberapa titik ujung pekerjaan yang harus dilakukan Antok. Kepala tukang nya itu manggut-manggut saja.
Usai memberikan beberapa pengarahan, Adi meninggalkan lokasi proyek drainase itu dan menuju ke arah proyek talud tikungan. 20 menit kemudian, duda beranak satu itu sudah memarkir motornya di sebelah lokasi proyek talud.
Terlihat pak Hari dan Pak Din, sang tukang, sedang menyetrik nat diantara batu batu muka. Pak Wito dan 2 orang lain nya sedang mengaduk adonan semen dengan air pada ember kecil.
"Pak Lik, ini tolong nanti belikan rokok untuk konco konco pekerja ya", ujar Adi sambil menyerahkan duit 50 ribu pada Pak Wito.
"Siap mas bos", Pak Wito tersenyum senang.
Adi segera kembali menuju motor nya dan menuju ke rumah Indri.
Pak Hari, si tukang batu, segera mendekati Pak Wito.
"Pak Wit, kog bos memanggil kamu dengan sebutan Pak Lik, apa hubungan mu dengan bos besar??", Pak Hari penasaran.
Pak Wito langsung tersenyum bangga.
"Mas bos itu mau nikah dengan ponakan ku Mas Hari, jadi bulan depan dia itu adalah keponakan ku".
"Ohh begitu ya", ujar Pak Hari kemudian.
'Wah ternyata pak Wito ini mata mata bos', batin pak Hari.
Adi langsung memarkir motornya di depan teras. Duda itu bergegas masuk ke dalam rumah. Indri sedang duduk di kursi ruang tamu langsung berdiri saat melihat calon suami nya datang.
"Kog pagi pagi sudah kemari mas? Ada apa?", tanya Indri penasaran.
"Ya kangen sama kamu yank", ucapan bucin Adi langsung membuat Indri salting abis.
"Mas mas, wong baru juga semalam ketemu, masak sudah kangen lagi?", Indri mencoba untuk menenangkan diri nya dari gombal maut Adi.
"Aku itu kangen nya sama kamu itu setiap detik yank, pengen nya dekeeeettt terus sama kamu", Adi semakin merajalela kegombalannya.
Indri semakin salah tingkah.
"Ihhh apaan sih mas,, yang bener aja deh..".
Hehehehe
__ADS_1
Adi terkekeh geli melihat wajah Indri yang merona merah. Senang rasanya bisa menggoda Indri pagi pagi.
"Aku mau ajak kamu jalan yank, biar kamu gak bosan di rumah terus", Adi serius.
Wajah cantik Indri langsung berbinar seketika kala mendengar ucapan jalan dari Adi.
"Mau mas mauuuuuu", Indri refleks memeluk tubuh Adi. Dia begitu senang.
"Ayo siap siap kalau gitu", Adi menatap wajah Indri. Perempuan itu langsung ke kamar untuk berganti baju.
"Eh yank, Dhea sama ibuk kemana??, Adi celingukan mencari putri kecil Indri Hapsari itu.
"Ikut ibuk, katanya ke rumah Lik Jarno. Minggu depan ater-ater mas", jawab Indri dari dalam kamar tidur. Ater-ater itu mengabari keluarga kalau ada hajatan, entah itu menikah, selamatan atau acara lainnya. Biasanya ada bungkusan nasi saat orang yang bertugas menyampaikan pesan sang empunya hajat.
"Ohhh, ya udah. Pantesan rumah jadi sepi gini", Adi menyulut sebatang rokok nya.
15 menit kemudian, Indri sudah keluar dari kamar tidur nya.
Janda muda itu terlihat anggun dengan baju putihnya. Adi sampai terpana dengan penampilan sang calon istri.
"Kamu cantik sekali yank".
Indri tersenyum malu-malu. Mereka berdua segera menuju ke luar rumah. Tak lupa Indri mengambil helm nya. Selepas mereka berdua keluar, Indri langsung mengunci pintu dan meletakkan kunci di bawah keset.
Setelah Indri naik ke jok belakang, motor Adi melaju meninggalkan rumah itu.
Sepanjang perjalanan, Indri memeluk pinggang Adi. Kini dia tidak malu lagi. Toh sebentar lagi juga sah jadi suami istri 'kan?
Motor Adi terus melaju ke arah kantor CV Barata Konstruksi di kota Patria. Setelah melewati tujuh tanjakan dan 8 belokan, Adi dan Indri sampai di kantor CV Barata Konstruksi.
Suasana kantor sedang ramai.
Adi langsung memarkir motornya di parkiran samping.
"Mas, aku disini saja ya?", Indri agak takut. Dia tidak biasa berhadapan dengan orang lulusan sekolah.
Mereka berjalan menuju pintu kantor CV Barata Konstruksi.
"Selamat pagi"
Ucapan Adi sontak membuat semua orang menoleh ke arah pintu kantor. Andis, Agung, Bos Alex dan tentu saja Maya Barata.
"Eh mas Adi, selamat pagi mas", jawab Agung segera.
"Wehh tumben nongol di kantor. Ada apa Di?", tanya Alex segera.
"Iya loh mas, hampir sebulan gak nongol ke kantor. Sibuk banget ya?", tanya Andis berikutnya.
Hanya Maya yang diam melihat kedatangan Adi. Peristiwa kemarin membuat dia sedikit membuat nya takut untuk mencoba mendekati Adi.
Adi tersenyum mendengar ucapan mereka.
"Ada repot sedikit. Oiya semuanya, perkenalkan ini Indri Hapsari calon istri ku. Bulan depan kami menikah".
"APAAAAA??!!"
Semua orang di kantor CV Barata Konstruksi langsung syok berat mendengar ucapan Adi terutama Maya.
Indri hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Adi.
"Bentar mas, gak ada angin gak ada hujan kog tau tau mau nikah. Kapan pacaran nya??", Agung kepo banget. Apalagi melihat Indri yang cantik dan anggun, juga kelihatan kalau usia nya terpaut jauh dari Adi.
"Pacaran itu tak perlu lama, yang penting niat nya serius. Buat apa juga lama lama pacaran, kalau cuma buat senang senang saja??
Lagipula aku bukan ABG lagi Gung", Adi tersenyum tipis.
__ADS_1
"Bener banget tuh mas, kalau nunggu mapan kapan nikah nya ya...
Dengar tuh Ndis?", Agung menatap Andis sambil tersenyum penuh arti.
"Kog jadi aku? Kita ini lagi bahas tentang mas Adi Gung", Andis mendelik sewot kearah Agung.
Hehehehe
Agung terkekeh geli.
Bos Alex langsung mendekati Adi dan menyalami nya.
"Selamat ya Di. Akhirnya kamu akan melepas masa duda mu".
"Sama sama bos, oiya bos aku kemari mau minta lay out pekerjaan di kecamatan Sambi. Sudah ada kan?
Sekalian minta bon buat besok Sabtu. Gak sekarang sih", ujar Adi kemudian. Alex mengacungkan jempol nya dan menoleh ke arah Andis.
"Ndis, print lay out pekerjaan di kecamatan Sambi. Sekalian RAB nya juga".
Andis segera mengeprint apa pesanan bos Alex. Kemudian menyerahkan pada Adi. Usai mendapat apa yang di inginkan, Adi dan Indri bermaksud untuk meninggalkan tempat itu namun Maya yang emosi langsung menyiram Indri dengan air.
Byurrr
Semua orang terkejut melihat ulah Maya.
"Maya!!!!
Apa yang sudah kamu lakukan???", teriak Adi geram. Buru buru Adi melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Indri yang basah.
Alex langsung mendekati Maya dan menampar pipi nya dengan keras.
Plakkk!!
"Dasar perempuan tolol"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
😱😱😱😱😱😱
Maya masih belum kapok juga ternyata 🤬
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁😁