Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Pantai Berpasir Putih


__ADS_3

Dengan senyum bahagia, Indri memeluk pinggang Adi. Meski hanya dengan sebelah tangan nya. Motor Adi melesat menuju arah Pantai Tambakrejo.


Setelah mengisi bensin di SPBU selatan jalan, mereka melanjutkan perjalanan. Indri terlihat begitu menikmati perjalanan itu. Pemandangan jalan ini sudah lama tidak dilihat nya. Terakhir ke pantai hampir 3 tahun yang lalu.


Setelah bercerai, Indri hanya berfokus menafkahi Dhea. Nyaris dia tidak pernah berwisata. Kalaupun pergi dari Warkop X, itu hanya urusan kondangan atau acara keluarga.


Motor Adi terus melesat membelah jalanan. Hampir satu jam perjalanan, mereka tiba di perempat besar sebelum arah ke pantai. Tempat itu bekas terminal angkot yang sudah tidak beroperasi lagi. Ramainya kendaraan pribadi seperti mobil dan motor di daerah ini, mengakibatkan matinya salah satu profesi yang sempat menjadi primadona di kalangan masyarakat desa. Sopir angkot.


Adi menghentikan laju motornya disitu.


"Tadi belum sarapan kan yank?", Adi menoleh ke arah Indri.


"Belum mas, ibuk belum sempat masak sudah mengajak Dhea ke tempat Paklik Jarno", jawab Indri malu-malu.


Adi tersenyum tipis dan segera mengarahkan motor nya menuju sebuah warung d salah satu sudut bekas terminal angkot itu.


Mereka masuk ke dalam warung makan yang berjejer rapi disitu. Warung khas bedengan dengan luas 4x4 meter.


"Bu, nasi sama sayur lodeh nangka, ikan jendil dan bakwan jagung. Minum nya es teh saja", ujar Adi ke penjaga warung, seorang ibuk ibuk paruh baya.


"Yank, kamu mau pesan apa?"


"Itu saja mas, nasi sama lodeh nangka dan bakwan jagung. Minumnya sama kayak punya mas", jawab Indri sambil tersenyum.


"Lauknya cuma itu doang yank? Yakin?", tanya Adi mengerutkan keningnya.


"Iya mas, itu sudah cukup", Indri menatap Adi. Dia malu kalau minta yang aneh-aneh.


"Lah, jangan bilang kalau kamu malu yank. Ini mas mu masih punya cukup duit buat bayarin kamu makan", ujar Adi seolah tau apa yang Indri pikirkan.


"Bu, tambah ayam goreng ya buat piringnya dia", timpal Adi yang di sambut anggukan kepala dari ibuk ibuk penjaga warung makan itu.


Mereka sarapan pagi dengan lahap. Tidak biasanya Adi lapar jam segini. Mungkin pengaruh acara semalam dengan Yoga dan kawan kawan membuat nya kekurangan asupan karbohidrat.


"Berapa buk?", tanya Adi usai mereka makan.


"30 ribu mas", jawab si ibuk ibuk paruh baya itu.


"Lha tadi aku tambah kerupuk rambak ini, sudah di hitung belum?", Adi menunjuk plastik bekas kerupuk.


"Tambah 2 ribu mas, jadi semua 32 ribu".


Adi segera membuka tas kecilnya, mengeluarkan duit 32 ribu kembalian dari SPBU tadi.


Setelah itu, Adi dan Indri melanjutkan perjalanan menuju ke pantai. Di pintu masuk area wisata, Adi membayar tiket masuk untuk mereka berdua.


Para tukang parkir saling melambaikan tangannya menawarkan jasa parkir saat motor Adi masuk ke area wisata. Adi langsung menuju ke salah satu area parkir di bawah pohon cemara udang.


Semua tatapan mengarah ke Indri dan Adi saat Adi dengan telaten membantu Indri yang kesulitan berjalan di pasir pantai menggunakan kruk nya.


Seorang wisatawan bahkan sengaja memotret dan merekam video kemesraan mereka dan mengunggah nya di akun media sosial nya dengan hastag "ternyata cinta sejati masih ada". Sebentar saja, video itu langsung viral di FB.


Mereka semua trenyuh pada keadaan Indri sekaligus iri melihat Adi begitu perhatian terhadap perempuan itu.


Adi menuntun Indri ke sebuah warung di pinggir pantai yang menjual bakso dan es degan.


Usai mendapat tempat duduk, Adi langsung menuju ke tempat penjualnya.


"Buk, pesen bakso dua sama es degan nya dua ya. Meja di sebelah sana", Adi menunjuk meja yang di bawah pohon cemara udang.


"Siap mas", jawab si ibuk ibuk penjaga warung es degan itu sambil mengacungkan jempol nya.


Adi segera kembali ke dekat Indri yang asyik menatap ke laut lepas. Angin laut yang berhembus sedikit kencang mengibarkan rambut hitam panjang Indri.


'Gak salah aku pilih dia. Cantik sih', batin Adi sambil tersenyum.

__ADS_1


Sadar dirinya diperhatikan Adi, Indri segera menunduk.


"Mas kenapa senyum senyum gitu? Ada yang aneh ya dengan wajah ku", tanya Indri.


"Iya ada. Ternyata setelah ku perhatikan, kamu cantik juga yank", jawab Adi tersenyum manis.


"Aihh mas ternyata pintar banget ya gombalin orang", Indri memerah wajahnya.


"Lha ini gak gombal yank..Beneran loh, kamu cantik ", Adi mencoba meyakinkan Indri.


Percakapan mereka terhenti saat es degan dan bakso mereka datang.


Cuaca pantai yang panas di tambah ramai nya pengunjung membuat mereka lebih memilih untuk santai di meja mereka tanpa kemana mana. Apalagi kondisi Indri yang belum begitu prima, tidak berani memaksakan diri untuk sekedar bermain di laut.


Meski demikian, bukan berarti mereka tidak bisa bermesraan. Layaknya ABG yang baru mengenal cinta, apa saja di lakukan berdua.


Bahkan ke kamar mandi pun mereka berdua hehehehe. Bukan ngeres, tapi Indri butuh bantuan untuk berjalan.


Jam sudah menunjuk angka 14.00


Adi mengajak Indri ke sungai kecil di sisi timur pantai. Ada tebing batu yang tinggi menjulang.


Adi ingin memfoto Indri disana. Usai memfoto beberapa scene, Adi berselfi ria bersama Indri dengan gaya lebay..


"Yank...", ujar Adi sambil memandang ke layar ponsel pintar nya.


Indri yang duduk di batu besar di belakang Adi menggelayut mesra di pundak sang duda beranak satu itu.


"Iya mas, ada apa?"


Adi menoleh ke arah Indri, dengan cepat dia mencium pipi perempuan itu.


"I love you"


Ucapan dan gerak cepat Adi membuat Indri memerah wajahnya. Di tempat umum ini, tindakan Adi benar benar mengejutkan.


"Apa sayang?", Adi kembali melihat layar ponsel nya.


"Ini tempat umum mas, ihhh mas bener bener gila ya", Indri merengut kesal.


"Iya aku sudah gila karna tergila-gila sama kamu yank".


Blushhh


Wajah cantik Indri seketika memerah seperti kepiting rebus.


'Ih mas bikin aku deg-degan deh'


"Yank, capek belum??", tanya Adi sambil memandang lagi kearah Indri. Ada titik titik keringat di dahi perempuan itu. Segera Adi mengambil jumper nya, dan menyeka keringat Indri.


Perempuan itu tersenyum manis menerima perlakuan Adi. Selama ini tidak sekalipun di perlakukan layaknya ratu oleh mantan suaminya sekalipun.


"Sudah mas, yuk pulang. Nanti takutnya Dhea rewel. Kasian ibuk repot mengurusnya", jawab Indri sambil memandang kearah langit biru.


Adi segera membantu Indri turun dari batu besar. Setelah melewati pantai berpasir putih itu dengan sedikit kesulitan karena Indri yang memakai kruk, mereka melangkah menuju parkiran.


Sepanjang perjalanan, puluhan stand menjual ikan asap yang merupakan oleh oleh khas pantai Tambakrejo.


Tiba tiba terlintas pemikiran Adi melihat Indri yang terus memandangi ikan asap itu. Adi tau, Indri tidak akan pernah meminta Adi untuk membelikan sesuatu. Dia yang harus peka dan mengerti setiap keinginan calon istri nya itu.


"Yank, beli oleh oleh untuk ibuk yuk", ujar Adi sambil menarik tangan Indri ke arah stand penjual ikan asap.


Indri tersenyum tipis.


Sesampainya di sana, mereka berdua memilih beberapa ikan asap yang sudah setengah matang.

__ADS_1


"Kurang gak yank?", tanya Adi sambil memandang kearah Indri seakan meminta jawaban.


"Gak mas, itu sudah banyak kog", Indri kembali tersenyum.


"Untuk pak Wito juga yank. Cukup gak?", Adi mengira kepantasan oleh oleh untuk orang di rumah Indri.


"Mas sudah cukup. Tangan ku nanti gak kuat kalau nenteng itu sampai rumah".


Mendengar ucapan halus dari Indri, membuat Adi sadar jarak jauh perjalanan mereka.


Setelah membayar ikan asap, mereka berdua berlalu meninggalkan tempat itu menuju ke arah parkiran motor.


Motor Adi melesat meninggalkan pantai berpasir putih itu. Adi menggantung ikan asap di stang motor nya, agar Indri tidak kecapekan menentengnya.


Setengah jam mereka sudah melewati bekas terminal tempat mereka sarapan pagi. Motor Adi belok kanan melewati wilayah kecamatan Wana.


Adi terus memacu motornya menuju ke arah rumah Indri. Setelah melewati pasar tradisional di depan kawedanan, motor Adi belok kiri menuju lampu merah.


Kebetulan Wawan, kakak Indri baru saja membeli pakan burung peliharaan nya. Dia melihat Indri nampak begitu bahagia bersama Adi.


'Kenapa aku begitu bodoh? Kebahagiaan Indri yang terpenting', batin Wawan.


Selama ini dia memang paling tidak setuju dengan kebersamaan Adi dan Indri. Namun sekarang melihat mereka berdua terlihat bahagia, Wawan sudah ikhlas Adi bersama dengan adiknya.


Motor Adi kembali meraung membelah jalanan. Tak berapa lama kemudian, Adi sudah sampai di Warkop X, motor Vixion Adi berbelok ke arah rumah Indri.


Bu Sarmi tersenyum penuh arti melihat Indri yang turun dari boncengan motor Adi. Jelas sekali terlihat kalau putri bungsu nya itu bahagia.


'Semoga cepat di halalkan ya Nduk'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mas Adi kapan nih lamaran nya??


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk sedekah like vote dan komentar nya ya 👍👍

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2