
Adi diantar oleh Roni sampai di depan rumah Indri. Pria itu menolak untuk masuk dengan alasan ada keperluan yang mendesak. Kalau bukan karena Adi, paling dia tidak mau mengantar. Adi pernah menolongnya.
Roni memutar motor nya, meninggalkan Adi di depan pagar halaman. Setelah Roni tidak terlihat, Adi melangkah masuk ke rumah Indri.
Pintu terbuka, tv menyala. Tapi Indri tidak kelihatan.
'Kemana Indri?', batin Adi sambil melangkah masuk.
"Yank yankk.. Assalamualaikum".
"Walaikumsalaam".
Terdengar suara balasan dari arah dapur. Adi bablas menuju dapur. Indri sedang duduk di dipan kayu sambil memisahkan kacang tanah dari pohon nya, ada trio ghibah Sudarti, Yu Nem dan Bu Yati juga membantu. Bu Sarmi masih membersihkan perkakas yang di pakai acara kemarin dibantu Bik Sum dan Narsih.
"Lho mas Adi, kog tidak ada suara motor nya? Darimana mas?", tanya Indri sambil berdiri lalu berjalan menuju Adi dengan bantuan kruk.
"Tadi ada acara di Tulungagung. Karena kelamaan, aku pulang duluan", jawab Adi sedikit berbohong.
"Owhh.. Ya sudah mas ke ruang tamu sana, tak bikinkan kopi", ujar Indri setelah menyalami Adi dengan mencium punggung tangan nya.
Adi menurut. Duda beranak satu itu kembali ke ruang tamu dan mendudukkan tubuhnya di kursi. Sedangkan Indri segera menuju ke rak dapur. Menata gelas sambil menaruh kopi dan gula. Tak berapa lama kemudian, janda muda itu segera berjalan ke arah ruang tamu dimana Adi berada.
"Di minum mas", ujar Indri usai meletakkan kopi di atas meja.
"Kau mau mencelakai ku yank??", Adi mengebulkan asap rokok nya.
"Lho kok mas bisa mikir gitu?", Indri balik tanya.
"Itu kopi panas yank, kalau aku minum sekarang, bisa melepuh bibir ini", Adi mencebikan bibirnya.
Indri langsung menepuk jidatnya seketika.
"Duh mas, aku itu hanya mempersilakan mas minum. Gak harus sekarang. Lagian itu ada lepeknya. Apa perlu aku tuang di lepek, terus aku tiup biar gak panas?".
"Mau nya gitu sih yank", Adi asal nyeplos aja.
"Ihhh maunya", Indri memutar matanya malas dan duduk di sebelah Adi.
"Buruan yank", Adi sengaja menggoda Indri.
"Mas kog manja banget sih perasaan", sambil menggerutu, Indri menuangkan kopi ke lepek. Terasa banget kalau Adi seperti bayi besar. Indri meniup kopi itu. Setelah beberapa saat dengan mesra, perempuan itu menyorongkan kopi di lepek pada mulut Adi.
Adi dengan tampang blo'on, meminum kopi tubruk dari lepek di tangan calon istri nya itu.
"Duhh manjanya. Untung ganteng. Kalau gak tak goreng dah buat campuran kopi", gerutu Indri melihat Adi keasyikan meminum kopi dari lepek di tangan Indri.
Adi cuma nyengir kuda sambil terus menyeruput kopi nya.
Begitu habis, Indri menuangkan kopi lagi. Adi pun dengan manja menyeruput kopi tubruk nya.
3 pasang mata mengintip aksi mereka dari pintu tembusan dapur. Gerombolan itu adalah grup ghibah di dapur.
"Wah mesra sekali mereka ya Yu Nem, aku jadi iri", ujar Sudarti setengah berbisik.
Yu Nem pun terus menatap aksi mereka sambil bergumam lirih.
"Kira kira Kang Paidi mau gak ya tak tiupin kopi kayak gitu", Yu Nem menggaruk kepalanya. Paidi adalah suami Yu Nem. Lelaki yang berprofesi sebagai tukang gergaji kayu itu terkenal kaku.
"Ojo ngimpi Yu (Jangan mimpi Yu), suami mu itu sudah seperti tunggak kayu jati, kaku nya minta ampun. Mana bisa romantis seperti itu", sahut Bu Yati setengah berbisik pelan.
"Alah, Wito juga sama. Daripada romantis gitu, Wito paling pilih ke tegal nyabut ketela. Kamu juga jangan mimpi ya", Yu Nem sengit.
"Sssstttttt...
__ADS_1
Sudah jangan berisik. Mereka nanti tau kalau kita ngintip", ujar Sudarti sambil mendelik ke arah mereka berdua.
Ehemmmm
Ehemmmm
Deheman Bu Sarmi membuat Sudarti kaget. Tangan kiri nya yang menyangga kusen kayu terlepas. Wanita paruh baya itu jatuh menabrak kelambu yang jadi pembatas rumah dan dapur.
Sreeetttttt
Brukk
Aduuhhhh...
Yu Nem dan Bu Yati ikut terjatuh menimpa Sudarti. Badan kerempeng nya serasa di timpa dua karung gabah seberat 170 kg.
Mendengar suara itu, Adi dan Indri langsung menoleh. Melihat tiga ahli ghibah itu bertumpuk di pintu, mereka berdua sejenak saling berpandangan kemudian tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha
Bu Sarmi juga terpingkal-pingkal melihat kejadian itu. Narsih istrinya Wawan juga mengulum senyum. Bik Sum yang sedang menenteng ompreng tersenyum tipis melihat 3 orang itu saling tindih di lantai.
"Sokor( syukur dengan konotasi mengejek)!!.
Dah tua masih pecicilan. Rasain sekarang", Bik Sum mengejek mereka bertiga.
Bu Yati segera berusaha bangun. Kepalanya benjut beradu dengan kepala Yu Nem. Dia mengelus kepala nya yang terasa sakit.
Yu Nem apes dobel. Kepalanya langsung benjol. Sudarti yang paling apes. Sudah ditimpa dua gajah duduk, tangan kiri nya terantuk lantai. Auto berdarah karena luka.
"Kalian ini loh ada ada saja, sudah tua. Sudah menikah, kog ya masih sempat sempatnya mengintip orang bermesraan.
Apa dirumah tidak ada yang seperti itu?", Bu Sarmi geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Eh Yu Ti, bisa bisanya nyalahin orang. Noh Yu Nem yang pertama kali ngasih ide", Sudarti menunjuk Yu Nem. Perempuan paruh baya itu memijat tangan kiri nya yang sakit.
"Enak saja, aku mau ikut karena di ajak Yati ya", Yu Nem sengit.
"Sudah sudah. Kalian bertiga ini memang gak nyebut ( maksudnya gak sadar umur), sudah tua masih kayak ABG yang kurang kerjaan", Bu Sarmi menengahi suasana.
Bu Sarmi segera masuk ke dalam rumah. Mengambil balsem dan plaster penutup luka.
Segera dia mengoleskan balsem ke luka Sudarti, dan menutupi luka pakai plaster.
Adi dan Indri masih terkekeh geli melihat tingkah trio ghibah itu.
"Lucu ya yank. Saudara mu itu loh", ujar Adi sambil memandang keributan di pintu dapur.
"Hehehehe iya mas. Itu hukuman buat tukang intip seperti mereka. Biar kapok dan gak ngurusi orang lain lagi", Indri terus nyukurin mereka.
Yah, yang namanya tukang ghibah gak akan bisa kapok sebelum di kubur. Hari ini kapok, besok pasti beraksi lagi.
Indri bangkit dari kursinya. Saat itu dia hendak ke dapur mengambil pisang goreng yang tadi masih ada.
Namun Indri melupakan sesuatu. Kruk nya! Baru dua langkah, Indri limbung hendak jatuh. Adi segera melompat ke arah Indri dan menyambar pinggang calon istri nya itu.
Akhirnya adegan ala drama Korea terbaru itu segera tersaji di depan mata orang orang yang ribut tadi.
Adi menatap wajah Indri. Dan Indri yang terkaget, juga menatap wajah Adi.
Terbuai suasana, Adi mendekatkan wajahnya ke wajah Indri. Dan...
Cuppp!
__ADS_1
Adi mengecup bibir mungil janda muda itu di depan semua orang.
Para ahli ghibah dan Bu Sarmi melongo melihat kejadian itu. Yu Nem sampai ngiler gak terasa.
"Yank kamu gak papa?".
Ucapan Adi membuyarkan pesona adegan romantis itu.
"Gak papa mas, gak papa. Ya gak papa", Indri terbata-bata menjawab pertanyaan Adi. Laki laki itu segera membantu Indri berdiri.
"Kalian masih disitu?", tanya Indri pada mereka.
Mereka yang menonton adegan tanpa sensor itu segera tersadar dan buru buru memberi jalan kepada Indri yang sudah di beri kruk oleh Adi.
Yu Nem segera menepuk pundak Sudarti yang masih melongo.
"Woy eling Dar, film drama Korea nya sudah buyar. Kamu masih melongo saja. Jangan jangan kesambet setan kamu ya?".
"Aduh Yu, sampean ini jan kudu tak jiwit ae ( kamu ini pengen tak cubit saja). Kemesraan mereka berdua itu bikin iri", Sudarti tersenyum kecut. Teringat suaminya, Parto yang tak pernah bisa mesra meski sudah 25 tahun menikah.
Indri yang baru mengambil sepiring pisang goreng, melenggang ke arah Adi yang masih duduk di kursi ruang tamu.
Sudarti kembali menatap mereka yang duduk berdua. Dengan mesra, Indri menyuapi Adi pisang goreng. Adi pun melakukan hal yang sama. Jadilah mereka suap-suapan seperti tidak ada orang lain yang melihat.
Siapa yang gak iri coba??.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huft author bikin episode ini juga nahan iriπ
Terimakasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita Mas Adi dan mbak Indri ya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Yang namanya kesangkut, author minta maaf ππππ
Selamat membaca guys ππ
__ADS_1