Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Sakit Gigi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, keluarga kecil Adi langsung masuk ke rumah. Bu Siti yang baru selesai sholat magrib langsung membuka pintu rumah.


"Darimana Le? Kog jam segini baru pulang?",


tanya Bu Siti.


"Beli mie ayam buk, sekalian ngajak Indri ke rumah Lik Man sama Bik Mus", jawab Adi sambil mendorong motor nya masuk ke dalam rumah.


Indri segera menuju dapur dan menyiapkan mie ayam ceker itu ke atas piring. Kemudian ia mengulurkan nya pada Bu Siti.


"Ini untuk ibuk, beberapa hari makan soto ayam pasti bosen kan?", Indri tersenyum manis.


Bu Siti tersenyum simpul saat menerima mie ayam ceker itu. Cinta langsung berlari menuju kamar mandi. Gadis kecil itu langsung berwudhu dan sholat magrib. Dhea segera duduk di depan TV, menonton serial kartun duo botak asal negeri jiran.


Bu Siti mendekati Dhea.


"Nduk kecil sudah maem mie ayam?", tanya Bu Siti sambil menatap wajah cucu sambungnya itu.


"Sudah Mak", jawab Dhea sambil terus memandangi layar TV.


"Nduk kecil mau makan lagi sama Mak?", Bu Siti tersenyum menggoda Dhea.


"Boleh ya Mak?", Dhea menatap wajah keibuan Bu Siti seakan meminta jawaban.


"Tentu saja boleh, Mak kan mbah nya Nduk kecil juga", ujar Bu Siti sambil menggulung mie di garpu nya, kemudian dia menyuapkan pada Dhea. Gadis kecil itu tersenyum senang.


Indri yang baru mengambil air wudhu, menghentikan langkahnya di dekat pintu tembusan. Dia tertegun sejenak melihat interaksi antara Bu Siti dan Dhea. Matanya berkaca-kaca.


'Ya Allah, terimakasih banyak atas ijin mu, aku kau pertemukan dengan keluarga ini', Indri terharu.


"Buk, terimakasih nggeh sudah menerima Dhea", ucap Indri sambil tersenyum manis.


Bu Siti menoleh kearah Indri.


"Kamu itu ngomong apa? Dhea ini kan cucu ku", Bu Siti kembali menyuapi Dhea.


Indri segera menuju kamar tidur Adi yang sekarang menjadi kamar tidur nya.


Perempuan cantik itu segera melaksanakan sholat magrib dengan khusu'. Usai sholat, dia berdoa sambil berurai air mata.


"Ya Allah,


Tetaplah jadikan keluarga kami seperti ini. Hamba mohon pada Mu untuk menjaga keselamatan, kebahagiaan, dan ketentraman hati keluarga kami.


Robbana atina fi dunya khasanah, wa bil akhiratil khasanah wa kina adzaban naar


Aamiin...."


Indri menutup doa nya dan segera melepaskan mukena nya. Kemudian berganti daster karena baby doll nya kotor.


Adi yang baru berwudhu kemudian sholat magrib, sementara Indri ke ruang TV untuk menemani Cinta yang sedang belajar di ruang tamu.


Usai sholat, Adi jadi kepikiran untuk menambah ruangan di rumah nya. Sekarang dengan tambahan Indri dan Dhea, mereka membutuhkan setidaknya satu kamar tidur lagi.


Tanah di Utara rumah masih ada 5 meter memanjang ke timur.


Otak mandor proyek nya langsung dengan cepat menghitung jumlah bahan dan semen yang di butuhkan. Setidaknya dia butuh duit sekitar 20 juta untuk membuat 1 kamar tidur yang luas, karna kamar tidur nya sekarang terlalu sempit untuk bisa sholat berjamaah dengan Indri.


"Ada apa mas? Kog kayak ada yang di pikirkan gitu?", tanya Indri yang baru dari dapur membuatkan kopi tubruk untuk sang suami.


"Ini yank, sepertinya kita butuh tambahan ruang deh. Kasian kalau tempat nya sempit, sementara anak anak butuh tempat untuk belajar. Kalau nanti adik mereka lahir, setidaknya kita butuh kamar lagi kan?", Adi menatap Indri sambil tersenyum tipis.


Muka Indri langsung merona merah.


"Mas ini, belum jadi udah mikir bikin kamar lagi", Indri tersipu mendengar ucapan Adi.


"Lha kalau belum jadi, nanti malam kita bikin lagi sampai jadi yank", Adi tersenyum licik.

__ADS_1


"Ihh mau nya", Indri semakin merah wajah nya.


"Mas juga pengen kita bisa sholat berjamaah yank, kalau nambah ruang kan bisa terlaksana", ujar Adi sambil menyeruput kopi tubruk nya.


"Emang mas masih punya cukup tabungan?", tanya Indri penasaran. Baru saja nikah, udah mikir bikin kamar lagi, pasti tabungan nya berkurang banyak, begitu pikir Indri.


"Insyaallah cukup yank, beberapa penghasilan dari proyek mas belum ambil. Tenang saja", ujar Adi kemudian.


"Aku ikut kata mas. Kewajiban istri patuh sama suami nya", Indri tersenyum manis.


"Nah harus itu yank, nolak suami dosa.


Yuk sekarang bikin dedek", seloroh Adi yang disambut cubitan mesra di pinggang nya.


"Ihhh apaan sih mas. Masih sore, anak anak belum tidur", Indri memerah wajahnya mendengar gurauan Adi.


Jam sudah menunjuk angka 21.15.


Mata Dhea sudah memerah. Beberapa kali gadis kecil itu menguap lebar tanda kantuk mulai menyerang. Dhea lalu mendekati Indri dan Adi yang masih berbincang hangat di ruang tamu.


"Ohhh anak ayah ngantuk ya sayang", ujar Adi saat melihat Dhea menguap lebar.


Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil menuju Adi. Pria itu segera menggendong Dhea dan membawanya ke kamar. Sementara itu Indri menemani Cinta yang masih duduk menonton sinetron di TV.


Jam 22.00 sinetron selesai. Cinta bergegas menuju ke kamar tidur Bu Siti yang sejak sore memilih tidur di kamar. Perempuan paruh baya itu kecapekan rupanya.


Indri langsung mematikan TV dan menyusul Adi ke kamar tidur. Melihat Adi yang ketiduran sambil memeluk Dhea, Indri tersenyum bahagia. Kelihatan Adi sayang dengan bocah cilik itu. Perlahan Indri membenarkan selimut Adi yang melorot.


Perempuan itu mencium pipi suaminya dengan lembut.


"Selamat tidur sayang ku", bisik Indri sambil merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


Malam semakin larut.


Jam 2 pagi Adi terbangun dari tidurnya karena pengen pipis. Pria itu segera turun dari ranjang nya dan bergegas menuju kamar mandi.


Perlahan dia mengusap kaki panjang itu. Merasa ada yang menyentuh nya, Indri terbangun dari tidurnya. Melihat sang suami tersenyum mesum, Indri langsung paham.


Malam itu mereka memadu cinta sebanyak 3 kali. Sampai adzan di musholla Kyai Harun berkumandang.


Dengan senyum bahagia, Adi segera menuju kamar mandi dan mandi besar. Usai mandi dan berwudhu, pria tinggi besar itu segera sholat. Indri yang juga selesai mandi besar dan berwudhu, menyusul sholat kemudian.


Usai sholat, Indri langsung ke dapur karena Bu Siti sudah mengiris bumbu saat Indri mandi tadi sementara Adi kembali tidur.


Pagi itu, Adi berangkat kerja dengan wajah sumringah. Indri mencium punggung tangan nya saat berpamitan. Motor Vixion Adi meluncur ke kecamatan Sambi tempat Antok membuat saluran drainase.


30 menit kemudian, Adi sudah sampai di lokasi proyek itu.


Melihat Adi datang, Antok segera menyambut bos nya itu.


"Duh pengantin baru..


Seger banget sih. Semalam dapat jatah berapa kali bos?", Antok nyengir kuda.


"Eh somplak..


Ini jam kerja, bukan waktu ngurusin rumah tangga orang", Adi garang banget.


"Iya iya bos, gitu aja marah. Udah nikah kenapa tambah garang sih?


Eh iya bos, kemarin di cari Pak Alex tuh", Antok menatap wajah Adi.


"Emang ada apa? Biasanya juga telpon kalau ada perlu", Adi menatap pekerjaan Antok yang sudah 60 persen.


"Mana saya tahu bos, orang juga gak bilang apa apa ke aku", jawab Antok sambil mengangkat bahunya.


"Nanti aku telpon orangnya.

__ADS_1


Paling juga ngajak rapat asosiasi pengusaha konstruksi lagi", Adi mengeluarkan sebungkus rokok, dan menyulutnya sebatang.


"Oh iya bos,


Ada es teh tuh. Di kasih warga", ujar Antok menunjuk teko plastik yang ada di sebelah molen beton.


Tanpa banyak bicara, Adi segera menenggak minuman dingin itu. Dan..


Clengg!!!!


Rasa sakit langsung menghajar gigi geraham Adi.


"Aduuhhhh....!!", Adi langsung memegangi pipinya.


Antok buru buru menghampiri.


"Kenapa bos??", tanya Antok kepo.


"Gigi geraham ku sakit. Gara gara es teh sialan ini", gerutuan segera terdengar dari mulut Adi.


"Sering bos kumat sakit nya?", tanya Antok penasaran.


"Kau ini, orang sakit gigi malah kau ajak bicara terus. Sakit nya minta ampun tau.


Udah lanjutkan pekerjaan mu, aku mau ke apotik dulu", hardik Adi pada Antok. Pria itu buru buru memakai helm dan jaket nya. Kemudian ia memutar motor nya dan langsung meninggalkan tempat itu menuju ke apotik di sebelah lampu merah kecamatan Sambi.


Sesampainya di apotik, Adi segera masuk setelah memarkir motornya.


Seorang pekerja apotik segera mendekati Adi, begitu pria itu mendekati etalase kaca.


"Nyari obat apa mas?", tanya si mbak itu dengan ramah.


"Obat sakit gigi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sakit gigi memang luar biasa. Bisa bikin darah naik seketika. Kalau ada yang bilang lebih baik sakit gigi dari sakit hati, sini author ajak ngopi bareng 😁😁😁😁😁


Author mah lebih pilih sakit gigi dari pada sakit hati 😎😎😎😎


Selamat membaca guys 🙏😁🙏😁🙏


.

__ADS_1


__ADS_2