Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Panggilan Sayang


__ADS_3

Indri menunduk malu mendengar ucapan ibunya. Tidak biasanya dia seperti ini. Dulu sewaktu pernikahan pertama dengan Sam, ayah kandung Dhea, dia tidak pernah mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Seperti tidak ada rasa. Tapi saat dengan Adi, entah kenapa dia tidak bisa tenang tenang saja saat Adi tidak ada kabarnya.


Akhirnya Indri memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomer HP Adi via aplikasi WA. Dia tidak sabar menunggu balasan dari duda beranak satu itu.


Sementara itu Adi masih terus bernostalgia dengan kawan kawan nya.


Suara rocker khas nya yang sudah tidak keluar ternyata masih enak di dengar. Ya sebelas dua belas sama suara sang vokalis band Dewa yang lama.


🎵


Takkan ku temui wanita seperti mu


Takkan ku dapatkan rasa cinta ini


Kubayangkan bila engkau datang


Kupeluk bahagiakan aku


Ku serahkan seluruh hidupku


Menjadi penjaga hati mu


🎵


Deerrtttt deerrtttt


Tiba tiba ponsel pintar Adi bergetar.


Adi segera meraih ponselnya. Walah! Pesan dari Indri. Adi segera menepuk dahinya.


Dia lupa mengabari Indri kalau ada acara dengan kawan kawan lamanya.


Dengan gaya sok cool nya, Adi selfi dengan background temannya yang masih menabuh alat musik mereka.


Cekrek


Dengan caption "maaf yank lupa mengabari, ada undangan dari kawan". Terkirim. Centang dua abu abu.


Indri yang masih megang hapenya, buru buru membuka layar kunci ponsel nya. Matanya melotot melihat Adi sedang di studio musik.


"Emang bisa main musik?"


Hanya itu balasan dari Indri. Janda muda itu merasa lega. Setidaknya dia tau Adi ada dimana sekarang.


"Sudah di balas sama Adi?"


Ucapan Bu Sarmi mengagetkan Indri.


"Ihh ibuk bikin kaget saja deh".


"Hehehehe ibu lihat wajah mu lega setelah pegang hape. Pasti itu dari Adi ya", Bu Sarmi tersenyum penuh arti.


Indri hanya tersenyum tipis sambil melirik Dhea yang sudah tertidur pulas di depan tv.


'Calon ayahmu itu benar-benar pintar Ya, tiap hari bisa membuat ibu mu merindukan nya', batin Indri dalam hati.


Adi dan teman nya segera keluar dari studio musik Alhambra. Sudah 3 jam mereka bermain musik.


"Ternyata gebukan drum mu masih ampuh juga Ga, walau sedikit kaku di awal tadi", ujar Adi sambil menyambar rokok Yoga. Rokok nya sendiri habis tadi.


"Hehehehe, perlu rutin nih. Kita perlu refreshing walau cuma sebulan sekali. Gimana bro??", tanya Yoga.

__ADS_1


"Tuh tanya mereka. Kalau aku sih yes", Adi menatap Ruri dan Ari.


Dua orang jomblo itu segera mengacungkan jempol nya.


"Nah lo, kamu atur saja. Soalnya kamu itu yang paling sulit kumpul", seloroh Adi disambut tawa Ruri dan Ari. Yoga hanya tersenyum kecut mendengar gurauan temannya.


Lepas itu, mereka membubarkan diri. Adi segera memacu motornya menuju ke rumah nya. Tak lupa mampir ke warung nasi goreng di perempatan lampu merah kecamatan Selo.


Usai membayar nasi goreng yang dibungkus, Adi kembali memacu motornya.


10 menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah. Cinta masih melihat YouTube di depan tv sementara Bu Siti sudah ketiduran saat Adi datang.


"Ta, mau nasgor gak?", Adi melirik ke jam dinding yang menunjuk angka 22.10.


Cinta segera menghambur ke arah ayahnya.


"Mau yah mau", ucap Cinta yang memang penggemar nasi goreng.


"Ambil piring ke dapur, jangan lupa bangunkan Mbah mu tuh", Adi menunjuk Bu Siti yang sedang nyenyak tidur.


"Mak e Mak,


Bangun Mak. Ayah bawa nasi goreng tuh", Cinta menggoyangkan tubuh Bu Siti. Perempuan paruh baya itu membuka matanya.


Cinta membawa 3 piring dan sendok ke depan tv..


Malam itu mereka bertiga menikmati nasgor spesial sebelum beranjak ke kamar tidur masing-masing.


Di dalam kamar, Adi mengirim pesan singkat pada Indri via aplikasi WA.


Minggu pagi ini udara terasa segar.


Gluk gluk gluk


Begitu ketemu, Adi langsung menenggak minuman kaleng itu. Sedikit banyak mampu menghilangkan serik di tenggorokan nya meski suaranya masih belum normal seperti biasa.


Hari ini Adi berencana mengajak Indri jalan-jalan. Ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi pacaran.


Duda beranak satu itu segera ngacir ke kamar mandi. Setelah hampir 15 menit, Adi sudah mulai berganti baju usai mandi dan keramas.


Dandanan Adi nyantai banget. Kaos oblong putih dengan tulisan "Dearest Husband", celana pendek kain nya, serta sandal gunung. Juga jam sport dan jumper resleting melengkapi penampilan Adi pagi hari itu.


Bu Siti yang beberapa hari menyadari ada sesuatu yang terjadi semakin mengerutkan keningnya melihat penampilan Adi.


'Seperti orang lagi jatuh cinta'


"Mau kemana le?", tanya Bu Siti sambil memperhatikan Adi.


"Ke proyek buk", Adi tetap fokus ke kaca lemari pakaian. Semprotan parfum eau de toilet semakin membuat gaya Adi layaknya ABG.


"Ke proyek kog kayak mau pacaran gitu", Bu Siti berlalu meninggalkan Adi menuju dapur.


Duda beranak satu itu hanya cengengesan.


Usai berdandan ganteng, Adi segera mengeluarkan motor Vixion dari parkiran. Setelah memakai helm, dia langsung gaspol ke arah rumah Indri.


Sampai di rumah Indri, Adi segera memarkir motornya. Rumah kelihatan sepi. Biasanya Dhea langsung menghambur keluar saat Adi datang, tapi pagi itu dia tidak kelihatan.


Saat masuk ke dalam rumah, Adi melihat Indri sedang menyisir rambut hitamnya. Perempuan itu sudah berdandan cantik walau dengan gaya sederhana. Celana jeans hitam, kaos lengan panjang putih dengan hiasan bunga dan sepatu flat shoes nya.


"Dhea kemana? Kog tidak kelihatan", tanya Adi celingukan mencari Dhea.

__ADS_1


"Ikut ibuk ke rumah Paklik Jarno di kampung sebelah", jawab Indri sambil memoles bibir mungilnya dengan lipstik yang tinggal separuh.


Tadi pagi, saat Indri bilang Adi mengajak nya jalan, Bu Sarmi langsung memandikan Dhea dan membawanya ke tempat Jarno, adik nya.


Perempuan paruh baya itu rupanya memberi kesempatan kepada Adi berdua dengan Indri tanpa gangguan dari Dhea. Bu Sarmi pengen Adi segera memantapkan hati nya dengan Indri agar duren sawit itu segera melamar putri bungsu nya.


Adi yang menyadari tindakan Bu Sarmi tersenyum penuh arti.


Indri yang sudah selesai berdandan, segera berjalan keluar dengan kruk nya. Walaupun sudah berkurang jauh rasa sakit di kakinya, tapi dia masih menjalankan ucapan dokter agar kakinya sembuh total.


"Yuk om ganteng kita berangkat", ajak Indri pada Adi yang masih duduk di kursi ruang tamu.


"Bentar dulu. Panggilan kamu ke aku harus di rubah ya. Nanti kalau kita keluar, terus orang lain dengar kamu panggil aku om, bisa bisa aku di kira om kamu. Ogah ah", Adi mulai rewel.


"Lha terus panggil apa dong?", tanya Indri kebingungan. Dia sudah terbiasa memanggil Adi dengan sebutan om ganteng.


"Ya sembarang, pokok bukan om lagi", Adi mulai memakai helm nya.


Indri mengerutkan keningnya. Seperti mencari kata yang pas untuk panggilan sayang buat Adi.


"Emmmmmm gimana kalau mas ganteng saja?".


"Boleh, apa saja boleh asal bukan om", jawab Adi sambil melangkah keluar dari rumah.


"Oke deh om eh mas ganteng", Indri kemudian mengunci pintu rumahnya lalu meletakkan kunci di bawah speedometer listrik.


Setelah itu dia menuju ke Adi yang sudah nongkrong di atas motor nya. Sedikit berhati hati, Indri naik ke boncengan motor. Tangan kiri nya menenteng kruk saat Adi menjalankan motor nya meninggalkan rumah.


"Eh mas ganteng, kita mau kemana??", tanya Indri. Adi yang menjalankan motor nya dengan kecepatan rendah, segera menjawab pertanyaan Indri dengan suara sedikit keras.


"Ke pantai"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author jadi pengen ikut ke pantai nih😁😁


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2