Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Undangan Kantor Desa


__ADS_3

Adi memacu motornya dengan kecepatan sedang. Adzan magrib berkumandang saat dia hampir sampai rumah. Setelah melewati tikungan dekat rumah Heni, terus memacu motornya.


Begitu turun, Adi buru buru membuka tasnya. Khawatir berkas nya terkena minyak dari makanan pemberian Bu Sarmi.


Aman ternyata. Adi segera menenteng tas plastik pemberian Bu Sarmi masuk. Melihat Bu Siti sedang menonton TV bersama Cinta, Adi mengulurkannya tas plastik itu padanya.


"Dapat darimana Le?", Bu Siti heran karena mirip nasi dari kondangan.


"Dari teman Buk. Rumahnya ada acara slametan keluarga", jawab Adi dari dalam kamarnya.


Adi segera melepas jaket dan celana panjang jeans nya. Kemudian bergegas menuju kamar mandi.


Usai mandi, Adi bergegas sholat magrib. Ingin rasanya menumpahkan kegelisahan hati nya dan mengadu ke Yang Esa dalam doa nya malam ini tapi Adi hanya berdoa semoga dia selalu mendapat kesehatan dan kekuatan untuk menghadapi kerasnya kehidupan.


Dengan cepat, Adi menuju meja dapur. Walah ternyata Bu Siti masak botok teri kesukaan nya. Duda beranak satu itu lahap menyantap nasi, sayur labu siam, botok teri dan perkedel tahu.


Kembali ke depan, Cinta ternyata sudah tidur di depan TV. Bu Siti yang tidak kuat menggendong Cinta hanya menunggu Adi untuk menggendong putri semata wayangnya itu.


"Buk, kalau Adi menikah lagi boleh gak buk?".


Ucapan Adi sontak membuat Bu Siti melongo.


Buru buru Bu Siti menempelkan tangan nya ke dahi putranya itu.


"Ibuk apaan sih?", tanya Adi jengah.


"Ngecek kamu Le. Tidak demam ternyata", jawab Bu Siti terheran heran.


"Maksudnya apa sih buk?", Adi mengerutkan keningnya.


"Lha kamu itu aneh. Tidak ada angin tidak ada hujan nanya nikah. Demam juga tidak. Kesambet setan mana kamu Le?", Bu Siti masih bingung.


"Yeeeee ibuk aneh-aneh deh. Aku cuma tanya nikah malah di kira kesambet setan", gerutu Adi.


"Lha habisnya ibu suruh kamu nikah lagi dari dulu sampai tipis bibir ku, kamu jawab saja gak. Ya wajar to aku khawatir Le...


Kamu mau nikah sama siapa? Heni?", tebak Bu Siti.


"Bukan buk, bukan Heni", jawab Adi.


"Lha terus siapa? Maya sekretaris kantor mu yang kemarin bawa martabak itu?", Bu Siti mencoba tebakan nya.


"Alah buk, aku ini orang gak punya. Punya istri kayak Maya, gak kuat buk buat beli bedaknya. Apalagi Maya bisa nya cuma masak mie instan. Bisa bisa aku keriting kalau tiap hari makan mie instan terus", Adi menggendong Cinta ke kamar Bu Siti.


"Lha piye to? Kenalan mu itu yang ibuk tau cuma Maya dan Heni. Atau mau rujuk sama Niken?", tanya Bu Siti penasaran.


"Ogah. Barang yang sudah ku buang pantang aku ambil kembali. Kayak gak ada perempuan lain aja di dunia ini", jawab Adi sambil menidurkan Cinta di kasur kamar Bu Siti.


"Ehh jangan gitu. Gak boleh ngomong gitu. Ibu lihat kemarin, dia sepertinya masih mengharapkan mu Le.. Lagian kamu juga punya anak dengan dia. Apa salahnya jika kamu rujuk dengan Niken?", Bu Siti mencoba menasehati.

__ADS_1


"Sekali ogah ya ogah buk. Lagian ibuk tau sendiri saat Adi tidak ada harganya di matanya. Orang kayak gitu buk, seumur hidup juga gak akan sadar. Kalau dia mau sadar dan ingat anak, itu sudah 3 tahun yang lalu. Nyatanya mana?", Adi mulai gusar. Ingatan rasa sakit hati nya seperti terbuka lagi mengingat kejadian masa lalu.


Bu Siti terdiam seketika.


Dia pernah melihat kondisi Adi begitu hancur 3 tahun yang lalu. Bahkan dia sendiri yang menganjurkan untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan dengan Niken.


"Lha terus mau nya kamu nikah sama siapa?", tanya Bu Siti kemudian.


"Nanti tak kasih tau kalau waktu nya sudah dekat. Sekarang ibuk doakan saja, semoga orang yang Adi suka, juga suka sama Adi", Adi melangkah meninggalkan Bu Siti menuju kamar tidur nya.


"Amiinnn", jawab Bu Siti seraya menatap punggung anaknya itu.


Malam semakin larut, Adi sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan Indri menari nari di pelupuk matanya.


Malam itu Adi bermimpi tentang Indri.


Pagi menjelang. Suara adzan subuh menggema di mushola Kyai Harun. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua penghuni Desa Mande.


Adi bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu dengan cepat. Air bak mandi nya begitu dingin. Walaupun bolong-bolong, Adi berusaha menjalankan ibadah nya selaku umat muslim. Yah, walau kalau kerja sering lupa waktu.


Usai sholat subuh, Adi tidur lagi dan bangun saat pintu kamar nya di gedor Bu Siti.


Pagi ini Adi mendapat undangan ke kantor desa. Semalam dia membaca di grup WA.


Sebagai anggota LPMD, dia wajib hadir untuk sekedar absensi.


Karena mampir ke kantor desa, Adi memakai hem kotak kotak biru favoritnya. Bercelana jeans biru gelap. Jaket nya dari parasit kuning. Bersepatu safety shoes merk Crocodile. Sedikit semprotan parfum eau de toilet.


'Pantesan saja, dandanan nya kayak orang lagi jatuh cinta gitu'.


Motor Adi melaju sedang dengan Cinta di depan Adi. Setelah menurunkan Cinta di sekolah nya, Adi memacu motornya ke kantor desa yang hanya berjarak 100 meter dari sekolah SD nya Cinta.


Masih sepi. Hanya ada Pak Bayan Wardi yang mulai menyapu teras kantor desa.


"Acaranya siang ya pak?", tanya Adi pada Pak Bayan yang sudah mau pensiun itu.


"Jadwal jam 7 mas, tapi namanya orang Indonesia, jam nya pasti jadi karet alias molor", jawab Pak Bayan.


Adi hanya tersenyum saja. Kemudian dia mengambil rokok Diplomat favoritnya dan menyulut sebatang.


"Rokok pak Wardi", tawar Adi kepada Bayan Wardi.


"Gak mas, matur nuwun. Sudah lama pensiun merokok", tolak pak Bayan Wardi sambil terus menyapu.


Setelah hampir habis sebatang rokok, barulah berurutan para perangkat desa hadir. Di mulai dari Kamituwo Slamet sampai yang terakhir Pak Lurah Bejo.


"Lho mas Adi sudah datang, tak kira kalau repot kerja", ujar Imam ketua LPMD desa Mande.


"Nuruti kerja juga gak ada habisnya mas. Saya ikut keputusan rapat nya. Sini tak absen saja", jawab Adi.

__ADS_1


Imam yang hafal dengan kebiasaan Adi, segera membuka map nya. Walaupun jarang hadir di rapat desa, tapi setiap ada masalah pembangunan Adi selalu terlibat.


Selesai absensi, Adi segera menyalami Pak Lurah Bejo dan Kamituwo Slamet. Lalu dengan sedikit cengengesan, dia pamit berangkat kerja.


Setelah helm KYT putih half facenya terpasang di kepalanya, Adi memacu motornya menuju ke arah kecamatan Waru. Hari ini hari pertama pindah lokasi, kebetulan juga hari Jumat. Pasti ribet banget.


Kedatangan Adi pagi hari itu membantu proses pekerjaan yang biasanya tersendat. Kemampuan manajemen lapangan nya yang sudah teruji secara resmi menjadi daya saing lebih di banding mandor proyek yang lain.


Sebelum jam 10, pekerjaan sudah lancar. Sapri yang juga datang pagi diam diam kagum dengan kemampuan Adi dalam menata pekerjaan.


Jam sudah menunjuk angka 11. Adi menyuruh pak Warno mengistirahatkan anak buah nya. Entah mereka Jumat an atau tidak,Adi selalu menghentikan pekerjaan saat jam 11 pada hari Jumat.


Setelah memberi arahan pada pak Warno, Adi berniat menemui Bu Rini yang tadi sudah mengirim pesan singkat agar Adi menemui nya di desa Jati di kecamatan Selo.


"Mau kemana bos? Buru buru banget", tanya pak Warno.


Adi sambil memakai helm nya menjawab kalem,


"Janjian sama istri orang"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya jelas istri orang lah, kalau istri sapi mana bisa diajak janjian 😁😁😁

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍


Selamat membaca guys 😁


__ADS_2