Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Persiapan


__ADS_3

Motor Vixion Adi segera meraung membelah jalanan. Meski hanya dengan kecepatan 60 km/jam, motor itu melaju stabil di jalan raya.


Indri yang sedang bahagia setelah mengetahui ibu Adi sangat baik padanya, tersenyum simpul. Ketakutannya dengan mertua kejam akibat nonton sinetron di salah satu tv swasta musnah sudah. Mantan mertua nya dulu memang tidak bisa di bilang baik, tapi juga tidak terlalu kejam. Menghadapi calon mertua baru yang sempat membuat Indri grogi berat, nyatanya malah berbanding terbalik dengan bayangannya sendiri.


Dua puluh menit kemudian, mereka mulai memasuki jalan cor beton yang menuju ke rumah Indri.


Adi segera memarkir motornya di depan teras rumah Indri. Adi turun duluan, dan segera membantu Indri untuk turun dari jok belakang motor Vixion kesayangannya itu.


Bu Sarmi di dapur mendengar suara motor Adi, segera bergegas keluar menuju ke arah Adi dan Indri.


Indri segera menyerahkan rantang susun plastik ke Bu Sarmi.


"Apa ini Nduk?", tanya Bu Sarmi saat menerima rantang itu.


"Dari calon besan mu buk", Indri tersenyum manis.


Bu Sarmi melongo mendengar ucapan Indri.


Dia sampai tak sadar saat Indri dan Adi melangkah masuk ke dalam rumah.


'Langsung di beri makanan? Ini berarti calon besan ku menyukai Indri. Alhamdulillah ya Allah', batin Bu Sarmi. Perempuan paruh baya itu tersenyum dan langsung menuju dapur.


Dhea yang baru pulang dari rumah Wawan, melihat motor Adi langsung berlari menuju ruang tamu.


Gadis kecil itu celingukan mencari Adi, begitu ketemu langsung menghambur ke arah Adi.


"Ayaaaahhhhh.."


Adi segera mengulurkan tangannya untuk menggendong Dhea.


"Anak ayah darimana?", tanya Adi sambil memandang muka Dhea yang kelihatan cemong.


"Dari rumah mas Aldi yah", tanya Dhea sambil menggigit tangan nya. Aldi adalah putra Wawan.


"Berarti belum mandi ya? Pantesan bau asem", Adi mengendus tubuh gadis cilik itu.


"Hehehehe", Dhea terkekeh geli dengan perlakuan Adi. Indri hanya tersenyum tipis melihat interaksi antara dua orang tersayang nya.


Bu Sarmi yang membawa nampan berisi kopi, segera meletakkan nampan di meja.


"Yuk mandi Nduk.. Kasian ayah mu capek tuh", Bu Sarmi mengulurkan tangannya untuk menggendong Dhea. Gadis kecil itu menurut dan segera berpindah ke Bu Sarmi. Mereka lalu menuju kamar mandi di belakang dapur.


"Yank, belum komplit", Adi segera duduk di sebelah Indri. Duda beranak satu itu segera menyeruput kopi nya.


"Apa yang belum komplit mas?", tanya Indri seraya memicingkan matanya.


"Sun ping dua nya", Adi berkata seperti tidak ada beban.


Wajah Indri segera merona merah.


"Tadi kan sudah mas, masak sun lagi?".


"Yah tadi kan cuma sekali yank..


Kurang dong", ujar Adi sambil memainkan baju Indri. Tingkah lakunya persis anak kecil merengek minta mainan.


Adi yang biasanya sangar dan dingin saat di lokasi proyek, bener bener berubah jadi kolokan dan bucin mutlak saat bersama Indri.


Indri tersenyum manis dan menyodorkan pipinya.


Cuppp


Adi bergerak cepat. Ciumannya sukses mendarat di pipi kiri janda muda itu.


"Sudah kan mas?", Indri melirik ke Adi.

__ADS_1


"Nambah yank", Adi memonyongkan bibirnya lagi. Tanda dia minta ciuman bibir.


Indri memejamkan matanya. Bersiap menerima ciuman mesra di bibir nya. Dengan lembut Adi perlahan mengulum bibir mungil Indri.


Janda muda itu menerima semua perlakuan Adi, dengan penuh perasaan. Tangan Indri segera melingkar di tengkuk Adi dan menarik nya. Hisapan demi hisapan Adi membuat perempuan itu kesulitan bernapas.


Adi segera melepaskan pagutan nya, saat melihat Indri kehabisan nafas.


"Ahhh ahhhh"


Indri merasa lega saat Adi melepaskan nya. Namun perempuan itu juga kembali menarik leher Adi, bersiap untuk babak kedua.


"Ayaaaahhhhh.."


Teriakan Dhea membuat dua insan yang sedang kasmaran itu langsung ambil jarak. Dhea berlari sambil mengenakan handuk dari arah dapur.


Indri yang sudah siap dicium Adi melengos kesal.


'Kayaknya bakal rebutan waktu mas Adi deh sama Dhea", batin Indri.


Dhea langsung menghambur ke arah Adi.


"Woh anak ayah sudah seger..


Pakai baju dulu dong nak", ujar Adi yang membuat Dhea segera merosot turun dari pelukan Adi dan berlari menuju lemari plastik susun. Gadis kecil itu segera mengobrak abrik tumpukan pakaian di lemari itu.


Begitu dapat yang dia cari, gadis cilik itu segera menuju Adi dan menyerahkan baby doll warna biru muda.


"Dhea, pakai baju sama ibuk Mi saja ya. Ayah lagi capek tuh", ujar Indri mengusir halus Dhea.


Adi terkekeh geli mendengar suara Indri.


'Kayaknya ada yang masih kurang puas nih dengan ciuman ku', batin Adi.


"Ayah capek?".


Adi hanya menggeleng sambil tersenyum penuh arti.


"Ah ibu bohong. Ayah gak capek", teriak Dhea sambil mendelik ke arah Indri dan berkacak pinggang. Janda muda itu langsung menatap wajah Adi dengan kesal.


"Ihh jadi laki kog gak peka sih. Sebel deh", gerutu Indri yang masih terdengar oleh Adi. Laki laki itu hanya senyum senyum sendiri seraya memakaikan baju pada Dhea.


Saat mereka masih asyik menikmati kebersamaan, dari teras rumah muncul Wawan, Pak Wito dan Pak Jarno.


Melihat Adi yang sedang memakaikan baju pada Dhea, Wawan tertegun sejenak. Ada rasa haru menyeruak masuk ke dalam dadanya.


Rupanya mereka bertiga datang atas permintaan Bu Sarmi yang tidak ingin berlama-lama melihat Adi wira wiri dengan Adi tanpa kepastian yang jelas.


"Assalamualaikum".


Ucapan Pak Jarno membuat Adi dan Indri menoleh ke arah pintu.


"Walaikumsalaam", jawab Adi dan Indri kompak.


Adi segera berdiri sambil menggendong Dhea kemudian dia menyalami pak Wito, Pak Jarno dan Wawan.


Tiga lelaki itu segera duduk di kursi ruang tamu. Adi pun mengikuti gerakan mereka dan duduk di sebelah Indri. Dia lantas mengeluarkan 2 bungkus rokok Diplomat dan Surya 12 dari dalam tas kecil nya, lantas menyuguhkan di meja.


"Ada apa Pak Lik? Tumben kompak begini", tanya Indri menatap wajah Pak Jarno.


"Ngene lo Nduk.. Aku Ki pengen takon karo mas mu kui (Begini lo Nduk.. Aku ingin bertanya sama mas mu itu)", jawab pak Jarno sambil menyulut sebatang rokok yang baru dia comot dari suguhan Adi.


"Tanya apa Paklik?", Indri masih kebingungan, sementara Adi dengan santainya menyulut sebatang rokok Diplomat.


"Mas ini namanya Adi ya?", Pak Jarno menatap Adi.

__ADS_1


"Enggeh Pak, nama saya Adi", jawab Adi tenang.


"Aku dengar kamu punya hubungan dengan Indri. Aku cuma mau tanya, kamu itu niatnya seperti apa sama ponakan ku ini?


Maaf lo ya, kami ini orang desa. Orang pelosok. Kalau ada berita akan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Jadi bahan rasan-rasan (ghibah).


Makanya, kami menanyakan kabar ini kepada mu", ujar pak Jarno menatap wajah Adi dengan serius.


Adi yang sudah menduga ini cepat atau lambat terjadi segera menghela nafas panjang. Sejenak dia menoleh ke arah Indri yang juga menatap nya dengan penuh harapan. Adi akhirnya meyakinkan diri nya bahwa Indri adalah jodoh nya.


"Niat saya ingin menjadikan Indri sebagai istri Pak. Tapi sebagai seorang anak, saya juga harus tetap berbicara dengan orang tua. Tidak boleh grusa grusu. Saya ini tinggal punya ibuk. Walaupun saya yakin dia setuju, tapi saya belum sempat berbicara masalah lamaran untuk Indri", jawab Adi dengan tenang.


"Bagus, aku suka kejujuran mu Le. Kalau bisa secepatnya yo Le, ajak orang tua mu atau yang mewakili kesini.


Nanti biar antar orang tua yang menghitung hari untuk kalian", Pak Jarno tersenyum tipis juga Pak Wito yang kelihatan lega. Wawan hanya diam mendengar semua percakapan Adi dan Pak Jarno, walau dalam hati dia turut bersyukur.


"Insyaallah malam Minggu depan, saya dan keluarga kemari untuk melamar Indri Pak Lik", Adi mantap berkata. Indri langsung menyunggingkan senyuman bahagia.


Bu Sarmi yang diam diam menguping pembicaraan mereka, tersenyum lega.


"Hehehehe bagus bagus..


Eh Le, dengar dengar kamu itu mandor proyek ya?", tanya Pak Jarno kemudian.


"Lah ini itu bos ku lo Kang, dia itu yang garap plengsengan tikungan itu", sahut Pak Wito sambil menatap pak Jarno.


"Ealah, dunyo kog supek eram (dunia kog sempit sekali)", Pak Jarno menggelengkan kepalanya.


Setelah berbincang hangat cukup lama, Adi segera pamitan. Indri menatap kepergian Adi dengan penuh perasaan cinta.


'Sebentar lagi, aku akan menjadi istri Mas Adi'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duhhh author juga pengen nikah😁😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys 👍👍


Dukungan kalian sangat berarti buat kelangsungan cerita Mas Adi dan Mbak Indri.


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2