Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Tidak Suka Pedas


__ADS_3

Pagi itu cuaca begitu cerah. Mendekati bulan Agustus, langit tampak begitu bersih nyaris tanpa awan.


Adi bersiap berangkat kerja. Cinta tampak sudah memakai baju batiknya, pertanda hari ini hari Kamis.


"Buk, saya berangkat dulu", ucap Adi dari atas motor Vixion kesayangannya. Cinta sudah nangkring di posisi favoritnya.


"Iya hati hati Le", teriak Bu Siti setengah berlari dari ruang tamu rumah.


Motor Adi melaju pelan meninggalkan rumah. Di tikungan jalan, Heni tiba tiba muncul dan membunyikan klakson. Perempuan itu mengekor di belakang motor Adi. Saat sampai di sekolah, Adi menurunkan Cinta. Seperti biasa, dia selalu meminta tambahan uang saku dari ayahnya.


"Cinta, sini..", panggil Heni yang membuat putri semata wayang Adi itu berlari mendekatinya.


Heni mengambil dompet dan mengulurkan duit 5 ribu rupiah pada Cinta. Mata bening Cinta melebar. Buru buru dia salim dan mencium punggung tangan Heni lalu berlari menuju gerbang sekolah nya.


Adi geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya itu.


'Dasar mata duitan. Warisan dari siapa sifat nya itu?'


"Makasih ya Hen, tapi jangan kebiasaan. Nanti anak itu jadi manja", ujar Adi sambil mengancingkan jaket nya.


"Kan tidak setiap hari mas. Lagi pula Cinta sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri", Heni sedikit menunduk tapi pipi nya yang merona sudah menjelaskan semuanya.


"Iya deh, terserah kamu aja".


"Eh mas, nanti jam 2 repot gak?", tanya Heni sambil berharap jawaban.


"Emang kenapa sih??", Adi menyelidik.


"Itu, kalau mas Adi tidak repot, aku pengen ngajak mas Adi makan. Hari ini aku gajian mas", ucap Heni malu malu.


Hemmmmm


"Ya wes, aku bisa. Dimana Hen?", jawab Adi yang tak enak menolak. Heni sangat baik kepada Cinta.


"Di cafe YY mas", Heni menanti ucapan Adi selanjutnya.


"Duh Hen, jangan di tempat kayak gitu. Kalau mau nraktir di warung nasi pecel atau nasi rames gitu aja, jangan di tempat mahal gitu lah.


Yang biasa biasa saja", ujar Adi sambil melihat jam tangannya.


"Ya sudah ke bakso mercon saja kalau gitu. Gimana mas?", tatapan mata Heni penuh harap.


Adi tersenyum tipis dan mengacungkan jempol tanda setuju.


"Ya dah mas, Heni berangkat ke sekolah dulu. Wassalamu'alaikum mas", Heni men-start motor matic nya.


"Walaikumsalaam", balas Adi.


Heni memacu motornya dengan raut wajah berseri seri. Setiap dia bertemu dengan Adi, jantungnya berdegup kencang.


Sementara Adi langsung merubah arah. Semula dia berniat mengunjungi proyek talud lebih dulu, tapi karena undangan Heni, dia merubah jadi tempat pak Warno lebih dulu.


Dengan cepat, Adi memacu motornya menuju ke kecamatan Gandu. Sampai di lokasi, semua pekerja nya tengah sibuk. Ada yang menyapu ulang, ada yang mengayak pasir juga ada yang sibuk membenahi alat.


Operator alat tumbuk, Alan, berjalan mendekati Adi.


"Bos, kayak e setengah hari sudah finishing. Habis ini pindah lokasi, atau alat kembali ke workshop bos?".


"Mau kamu gimana Lan?


Pindah atau pulang ke workshop?", Adi tanya balik.

__ADS_1


"Ya kalau ada yo pindah to bos..


Memang masih ada lokasi yang lain?", Alan menyelidik.


Adi tersenyum tipis. Dia sudah menduga jawaban Alan akan seperti itu.


"Ya kalau bisa setengah hari, tumbuk mu bisa pindah ke lokasi ku yang satunya Lan".


"Deal ya bos? Oke tak kejar bos. Nanti tak segera telpon ke sopir trailer nya", ujar Alan bersemangat.


Hari ini pak Warno dan kawan kawan benar benar di pepet sama alat tumbuk Alan. Sampai jam 11, pekerjaan itu sudah selesai.


Adi tersenyum lebar. Siasat nya benar benar jitu.


Pak Warno sampai berpeluh keringat. Adi segera mendekati pria paruh baya itu.


"Pak Warno tenang saja, tetap aku hitung sehari penuh asal patuh pada aturan ku".


Tampang pak Warno yang lemes tiba tiba bergairah kembali. Dengan segera ia mendekati juragan nya itu.


"Apa bos aturannya?".


"Bawa semua pekerja ke lokasi di kecamatan Waru. Suruh mereka bawa alat kerja juga gerobak aspal. Sampai disana nanti titipkan alat di tempat Ismoyo. Ingat, jangan ada alat tercecer", ujar Adi tegas.


"Kalau sudah disana, gimana bos?", tanya pak Warno masih penasaran.


"Ya kalian boleh pulang awal", jawab Adi santai.


"Siap bos!


Eh itu drum kosong nya gimana bos?", Pak Warno menunjuk puluhan drum aspal kosong di dekat tungku.


"Kumpulkan, untuk laporan itu. Nanti biar di urusi orang nya Bu Rini", Adi tersenyum tipis.


Sementara itu Alan juga sibuk menelepon sopir trailer nya, soal tempat Alan sudah tau lokasi nya.


Adi bergegas menuju ke proyek jembatan CV Barata Konstruksi. Motor kesayangannya melaju cepat menuju lokasi.


Sesampainya di lokasi, Adi melihat Alex dan Maya sedang berbincang dengan pak Hasan, sang pengawas lapangan dinas pekerjaan umum.


Setelah memarkir motornya, duda beranak satu itu menghampiri mereka.


"Ini dia yang ditunggu", ujar pak Hasan sambil menepuk pundak Adi.


"Hehehehe ada apa ya pak?", tanya Adi sambil tersenyum.


"Enggak ada apa apa. Itu loh, yang partisipasi gimana?", Pak Hasan menatap wajah Adi.


"Wo siap pak, tapi sekarang kami selesaikan dulu finishing nya. Kan gak lucu pak, masak proyek nya belum kelar sudah mengerjakan partisipasi nya", jawab Adi santai.


"Iya saya tunggu. Awas kalau bohong, tak blacklist kamu hehe", pak Hasan terkekeh.


Mereka lalu berbincang hangat.


Usai pak Hasan pergi, Alex mendekati Adi.


"Untung kamu cepat datang, kalau tidak bisa jebol aku lawan pak Hasan".


"Lha kenapa bos?", tanya Adi sambil menyulut rokok Diplomat favoritnya.


"Dari tadi itu orang nyerocos kayak ember bocor minta partisipasi nya segera di garap", jawab Alex sambil tersenyum.

__ADS_1


"Alah orang seperti dia itu ya begitu bos, asal kita jawab nya benar, pasti gak akan komplain macam macam", Adi tersenyum tipis.


Secara pengalaman menghadapi orang dan situasi lapangan, Adi jauh lebih jago ketimbang Alex yang duduk di kantor.


Mereka bertiga berbincang hangat sampai jam menunjukkan pukul 13.30


"Eh bos, aku cabut dulu ya. Ada urusan darurat nih", teriak Adi sambil memakai helm KYT putih half facenya.


"Mau kemana mas?", tatapan Maya menyelidik.


"Ada deh", jawab Adi sambil men-start motor Vixion kesayangannya. Motor meraung meninggalkan tempat itu. Maya langsung curiga.


Adi sampai di warung bakso beranak yang lagi ngetrend. Ada beraneka menu yang di tawarkan. Heni sudah menunggu kedatangan sang pujaan hatinya. Tadi sudah share lokasi lewat aplikasi WA pas Adi masih di lokasi proyek jembatan.


Mereka memesan menu berbeda. Heni penggemar pedas, memilih bakso jumbo mercon, sedangkan Adi yang tidak suka pedas memilih bakso jumbo beranak.


Sambil menunggu pesanan datang, Adi membuka kunci layar ponsel nya. 2 buah pesan aplikasi WA dari Depi dan Indri.


Saat membuka pesan WA Depi, wajah Adi langsung kusut. Perempuan itu ngotot ingin bertemu, dan Adi cuma membalas bahwa dia sedang sibuk di kejar deadline.


Sedangkan saat membuka chat Indri, Adi tersenyum tipis. Foto Dhea tersenyum dengan muka belepotan es krim cokelat, tagline nya pun menggugah perasaan kebapakan nya.


Om ganteng, lihat wajah anakmu ini.


Perubahan wajah Adi terlihat oleh Heni yang sedang memperhatikan nya.


"Pesan dari siapa mas? Kog serius banget".


Adi hanya tersenyum sambil memasukkan kembali ponsel pintar nya ke dalam tas kecil nya dan menjawab dengan tegas,


"Dari orang penting".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sepenting apa sih??


Ikuti terus kisah selanjutnya guys

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍👍


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2