
Indri melirik jam dinding di Warkop X. Sudah hampir jam 12. Suasana warkop rame, banyak orang mampir sekedar ngopi atau mencari gorengan atau mie.
Sudah 2 hari Om ganteng tidak pernah nongol, biasa nya jam 9 lebih sedikit sudah duduk di bangku dekat stop kontak di meja ujung. Indri menatap bangku kosong itu dengan perasan hampa.
'Kemana si om ganteng ya? Apa dia lagi sibuk?', batin Indri sambil ngelamun di dapur nya. 2 hari ini pikiran nya kacau gara gara ucapan si om ganteng.
Indri Hapsari, janda muda 23 tahun. Punya putri kecil berusia 4 tahun. Indri menikah di usia muda, saat usia nya baru 18 tahun. Pernikahan paksa nya berakhir perceraian setelah suaminya kedapatan selingkuh dengan istri teman nya. Mereka kabur ke Kalimantan, meninggalkan Indri dengan seorang bayi kecil bernama Dhea yang berusia 2 tahun. Orang tua Indri langsung mengurus surat cerai untuk Indri begitu tau menantu pilihan mereka berselingkuh.
Kini Indri menjalani hidup mereka dengan bekerja untuk menghidupi Dhea, putri semata wayangnya.
Berbagai hinaan dan cercaan orang lain sudah sering dia dengar saat status jandanya. Satu tahun setelah bercerai, Indri berpacaran dengan Eko. Saat orang tua Eko tau Indri seorang janda, serta merta mereka menghina Indri habis-habisan.
Hampir setahun Indri pilih menyendiri tanpa ada orang dekat di hatinya. Dia menutup rapat pintu hati nya dan memilih bekerja untuk menghidupi Dhea.
Tapi 3 hari yang lalu, seorang lelaki yang sudah berumur, sukses membuat jantung Indri berdetak kencang. Jauh lebih kencang dari kecepatan pesawat jet tempur. Pria itu pantasnya menjadi om nya, karna dilihat sekilas dia sebaya dengan Paklik bungsu dari ibunya.
Indri mendesah panjang, jam sudah mencapai angka 12.40.
'Dia tidak datang lagi hari ini', gumam nya.
Indri bekerja shift siang di warkop itu. Sesuai permintaan nya ketika awal bekerja. Jam 5 sore, di diganti oleh Doni yang bertugas di shift malam.
Wajah Indri kusut seperti cucian kering tidak di setrika.
"Kopi tubruk hitam gula dikit aja. Mie goreng pakai kuah dikit, tambahin sayur sama telor ceplok dua ya".
Suara itu?
Suara om ganteng!
Indri mendongak ke arah suara, dan wajah om ganteng nongol disana. Ada gurat kelelahan di wajah om ganteng.
Wajah cantik Indri seketika cerah seperti mendapat undian berhadiah.
Sebelum Indri menjawab, om ganteng sudah meninggalkan Indri menuju tempat favorit nya.
Indri tersenyum lebar dan segera menata kopi untuk si om ganteng, Adi. Kompor gas menyala memanaskan air di panci kecil.
Sepulang dari Malang, Adi maraton mengerjakan proyek. Dengan 3 proyek langsung di bawah pengawasan dan 1 proyek baru dari pak Purwadi membuat Adi sibuk.
Untung saja Antok dan Didik sangat profesional, kalau ada masalah mereka cepat mencari solusi tanpa harus Adi yang turun tangan. Kecuali urusan pengawas lapangan dinas pekerjaan umum, mereka memilih tidak merepotkan Adi.
Tapi karena itu tanggung jawab Adi, mau tidak mau Adi harus mengontrol perkembangan proyek nya meski hanya beberapa jam saja.
Kemarin dia seharian di kecamatan Gandu karena proyek disitu menurunkan alat berat, jadi Adi harus ada. Apalagi orang baru bawaan pak Warno masih perlu di beritahu standar pekerjaan Adi agar kualitas pekerjaan nya tidak menurun.
Adi memang terkenal dengan kualitas pekerjaan yang bagus. Semua pengawas lapangan dinas pekerjaan umum tidak ada yang berani merendahkan kualitas pekerjaan Adi.
Pagi tadi, Adi sudah menengok pembersihan lokasi proyek pak Purwadi, lalu ke kecamatan Gandu. Rencana Adi mau ke talud tikungan dulu.
Tapi karena jam makan siang, dia memilih mampir ke Warkop X. Kepala Adi pusing karna tadi pagi gak sempat ngopi.
"Monggo kopi nya om ganteng", suara Indri menyerahkan secangkir kopi tubruk pesenan nya.
"Terimakasih", Adi langsung menuang kopi tubruk nya di lepek.
Srutttttt..
Adi memang kecanduan kopi. Kalau pagi gak ngopi pasti kepalanya pusing.
Rasa pusing nya berangsur hilang begitu kopi tubruk nya tinggal setengah cangkir.
__ADS_1
Adi melihat Indri sedang sibuk menyiapkan mie pesenan nya. Jujur saja Adi suka model perempuan seperti itu. Cantik alami, make up ala kadarnya, body oke, rambut hitam panjang dengan tinggi 160 an cm.
Ting Ting..
Notifikasi WA masuk, terlihat dari Heni, Depi, Maya dan beberapa kolega dekat nya.
Dengan malas, Adi membuka kunci layar ponsel pintar nya.
Ada WA Maya yang kepo, Heni yang ingin bertemu dan Depi yang ngajak ketemu.
Adi hanya membalas sekedarnya saja. Isi kepala Adi hanya menyelesaikan salah satu proyek secepatnya.
Kemarin dari pak Purwadi, Adi terima kasbon 5 juta rupiah dan Pak Basuki 10 juta. Memanage duit dan tenaga agar semua terakomodasi dengan baik. Sabtu besok adalah pembayaran untuk jembatan CV Barata Konstruksi, dan di Talud, sedangkan di aspal pak Pur dan di kecamatan Gandu masih Minggu depan.
Di ATM Adi masih tersimpan 30 juta, dan uang cash Adi pegang 10 juta. Adi tak perlu pusing untuk membayar pekerja nya.
"Ini om ganteng mie nya", ucap Indri sambil menaruh mangkok mie goreng nya.
"Eh bikinin es teh dong. Jangan terlalu manis ya, kan liat kamu sudah manis", gombal Adi asal sambil mengaduk mie goreng nya.
Semburat merah terlihat merona di wajah Indri, dengan gugup janda satu anak ini bergegas menuju dapur nya.
'Eh kenapa tuh orang? kog merah gitu? Aku kan cuma asal bicara', batin Adi sambil menyendok mie goreng nya.
Indri benar benar kaget di gombali Adi. Biasanya cowok cowok sudah biasa gombal ke dia, tapi dengan om ganteng ini Indri benar benar salting abis.
Dengan dada berdebar-debar, Indri mengaduk gelas berisi es teh.
'Om ganteng gak ada akhlak, bikin aku berdebar', gerutu Indri.
Suasana warkop X yang lumayan ramai tidak bisa mengalihkan pandangan Indri dari Adi.
Indri buru buru mengantarkan es teh buatan nya.
"Om ganteng, dua hari gak keliatan. Banyak kerjaan ya?", ujar Indri menutupi kegugupannya.
"Iya, lagi pusing. Kenapa mau mijitin?", jawab Adi sambil terus meneruskan makan nya.
"Yee enak aja, minta pijit sama istri sana", Indri melengos.
"Kan aku duda, lupa ya?", Adi mengambil es teh nya.
'Ahhh suegerrr'
"Alah banyak lelaki bilang duda di luar rumah, tapi di rumah istri menunggu", Indri mencibir.
Adi hampir mengumpat kesal.
Segera dia membuka tas kecilnya, mengambil KTP nya dan melempar ke atas meja.
"Tuh baca kalau tidak percaya"
Dengan segera Indri meraih KTP di atas meja.
Nama : Adi Prasetyo
Tempat tanggal lahir : xxxxxxx, 27 Desember 1988.
Status : Cerai hidup.
Indri langsung meringis setelah membaca.
__ADS_1
Sedangkan Adi segera memasukkan kembali KTP nya.
'Eh beneran duda si om ganteng', batin Indri bersorak gembira.
"Kamu kenapa senyum senyum sendiri? Sudah mulai panas ya ", tanya Adi melihat senyum tipis Indri.
Blushhh
Wajah cantik alami itu langsung merah kayak kepiting rebus.
"Eh boleh minta nomer telpon nya gak?", tanya Adi kemudian.
Astaga, inilah yang Indri tunggu dari kemarin.
"Buat apa om?", ujar Indri jaim.
"Ehh itu ya itu buat telpon lah, masak buat nakut-nakutin tikus", jawab Adi sambil garuk-garuk kepalanya.
"Ihhh tega, masak nomer cewek secantik dan seseksi Indri buat nakut-nakutin tikus sih? Kejam amat si om..", jawab Indri pura pura merajuk.
"Boleh gak? Gak boleh ya gak papa", Adi berdiri.
Indri yang kaget langsung menjawab, " Boleh boleh om, gitu aja marah".
Padahal Adi berdiri karena ingin melepas hem nya, gerah.
Indri buru buru ke belakang. Di lemari dapur atas. Hp android versi lama nya tersimpan. Setelah itu dia bergegas ke Adi.
"0888xxxxxxxxx, itu nomer HP ku om".
Ting Ting..
Sebuah notifikasi WA masuk ke
"Tuh nomer ku, di simpan. Tapi awas jangan di kasih ke sembarang orang", ujar Adi sambil menyimpan kembali ponsel pintar nya.
Indri hanya tersenyum tipis, balik ke dapurnya karena ada orang baru masuk memesan kopi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya readers kalau up episode nya lambat
__ADS_1
Karena fokus author masih di novel author pertama yaitu : BABAT NEGERI LELUHUR
Thanks for reading my novel..