Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Kikil Pedes


__ADS_3

"Kamu masih lapar yank??", tanya Adi sambil menatap wajah Indri.


"Dah kenyang mas, tapi kayaknya cuma enak gitu makan mie ayam yang sayurnya ijo ijo gitu", Indri langsung memasang muka pengen nya.


Adi yang tak tega, langsung melajukan motornya usai Indri naik ke boncengan. Motor Adi melaju meninggalkan warung bakso solo itu menuju arah timur ke kecamatan Selo.


Dipertigaan Desa Duren, Adi berbelok pada warung mie ayam yang buka di sebelah lampu merah.


"Mas,


Mie ayam satu ya. Banyakin sayuran nya. Sama 2 es teh manis", teriak Adi usai mereka duduk di kursi tempat makan mie.


Adi memesan 1 mie ayam ekstra sayur dengan 2 es teh. Perutnya tidak mampu menampung makanan lagi, jadi dia cuma pesan mie ayam 1 porsi.


Si mas pedagang mie ayam itu berfikir Adi pasti sangat pelit karena masuk warung hanya memesan 1 porsi untuk dua orang. Kalau sampai Adi tahu pikiran si mas pedagang mie ayam itu, pasti ngamuk ngamuk.


Setelah pesanan datang, Indri dengan semangat 45 langsung mencampur caos, kecap dan cabai sebagai bumbu mie ayam nya.


Baru dua suap, Indri meletakkan garbu dan sendoknya.


"Kenapa yank?", tanya Adi sambil menyeruput es teh manis nya.


"Dah puas mas,


Yuk kita pulang", ujar Indri sambil tersenyum dan berdiri. Dengan sedikit dongkol, Adi mengikuti nya kemudian keluar dari warung mie ayam itu setelah membayar nya.


Setelah itu mereka pulang ke rumah. Usai mengantar Indri pulang, Adi berangkat kerja. Tujuan utama nya adalah lokasi proyek drainase di kecamatan Sambi tempat Antok bekerja. Sudah mendekati tutup buku tahap DAU, jadi harus cepat selesai sebelum kena denda.


Motor Adi melaju meninggalkan rumah nya dengan kecepatan sedang menuju ke lokasi proyek. 20 menit kemudian, laki laki itu sudah sampai di lokasi pekerjaan.


"Eh si bos datang. Gimana bos? Beres urusan nya?", tanya Antok saat Adi berjalan ke arahnya.


"Beres, sekalian nurutin kemauan istri Tok", jawab Adi sambil menyulut sebatang rokok.


"Lah maksudnya apa bos?", Antok penasaran dengan omongan Adi.


"Istri ku ngidam Tok, hamil muda dia", jawab Adi seraya mengebulkan asap rokok nya.


"Haaaaaaaahhhh....


Hamil bos? Kog kilat gitu?", sontak Antok kaget mendengar ucapan Adi barusan.


"Iya, emang kenapa?", Adi menatap wajah Antok.


"Wahhh si bos hebat ya, baru sebulan nikah, langsung tekdung. Aku aja 3 tahun baru bisa hamil", puji Antok sambil tersenyum tipis.


"Rejeki Tok, kalau Allah yakin kita bisa merawatnya pasti dia kasih momongan secepatnya. Aku malah bersyukur istri ku cepat hamil", ucapan Adi bijaksana seperti ucapan ustadz Sanuri saat yasinan malam Jumat.


"Bener bos, anak itu amanah. Titipan Tuhan harus kita jaga baik-baik", Antok menimpali.


"Dihhh tumben sekali omongan mu kayak Kyai Tok,


Kesambet setan darimana kau?", cibir Adi sambil tersenyum tipis. Memang jarang Antok bicara bener, kalaupun bener itu pas lagi ngitung duit bayaran.


"Yeehhhh si bos, jelek jelek begini Antok pernah ikut mondok bos", ujar Antok tak mau kalah.


"Serius? Mondok di pesantren mana Tok?", tiba tiba Adi kagum mendengar Antok pernah mondok.


"Itu mondok 3 hari di pesantren kilat ramadan", ujar Antok sambil malu-malu.


Musnah sudah kekaguman Adi barusan.


"Eh somplak, dengar ya..


Kalau mondok begituan aku setiap tahun juga ikut waktu sekolah dulu. Dasar pe'a...", gerutu Adi sambil mendelik tajam kearah Antok. Kali ini dia benar-benar tertipu oleh bahasa mondok dari Antok.

__ADS_1


Antok cengar-cengir seakan tak berdosa.


Saat Adi sedang dongkol karena Antok, tiba tiba terdengar suara dering telepon dari tas kecilnya.


Tuuuttttttttttttt


Tuuuttttttttttttt..


Adi segera membuka tas kecilnya itu, kemudian melihat sebuah nomer telpon tidak di kenal masuk.


'Nomer siapa ini?', batin Adi sambil memandang layar ponsel pintar nya.


Ceklek


"Hallo siapa ya?", ujar Adi perlahan.


Terdengar suara berisik dari seberang.


"Halo halo mas, Ini aku Niken", suara seorang perempuan yang amat di kenal Adi.


"Mau apa kau menelpon ku?", terdengar suara dingin dari mulut Adi.


"Mas, aku kangen pada mu", ujar Niken dengan suara bergetar.


"Sorry ya Ken, aku sudah menikah. Hidupku bahagia. Anak ku senang. Aku sudah tidak butuh orang seperti mu ada di hidupku.


Jadi tolong mulai detik ini juga jangan pernah ganggu hidup ku lagi. Oke?", suara Adi tegas dan berwibawa.


"Mas, tak bisakah kita kembali seperti dulu lagi mas? Aku sangat mencintaimu mas", ucapan Niken terdengar memelas.


"Maaf, sudah tidak ada tempat untuk mu di hati ku. Jangan kau ungkit masa lalu yang hanya menjadi pengganjal masa depan.


Sory aku harus kerja".


Ceklek


Setelah seharian bekerja, Adi merasa lelah. Sore itu usai memasukkan motor nya dan sholat magrib, Adi merebahkan tubuhnya di kasur kamar tidur nya. Tak terasa dia ketiduran.


Indri yang melihat sang suami terlihat kecapekan, hanya tersenyum tipis sambil memakaikan selimut pada suaminya yang sudah pulas merangkai mimpi. Setelah sholat isya', Indri ikut merebahkan tubuh nya di pelukan hangat Adi yang sudah jadi kebiasaan nya selama menjadi istri Adi.


Jam 12.35 Adi terbangun dari tidurnya. Dia celingukan, kemudian bergegas bangun. Istri nya tidak ada di sampingnya.


Adi kemudian bergegas mencari nya. Mendengar suara di dapur, Adi bergegas menuju ke sana. Dilihat nya sang istri sedang bolak balik membuka pintu kulkas.


"Nyari apa yank?"


Mendengar suara Adi, Indri langsung menoleh. Seketika itu pula dia tersenyum lebar.


"Lapar mas, mau makan..


Tapi gak ada yang cocok dengan mau ku", ujar Indri kemudian. Padahal dalam kulkas dua pintu itu aneka sayuran, telur, daging dan ayam ada. Buah apel dan jeruk juga ada.


"Terus mau nya makan apa yank?", tanya Adi sambil garuk-garuk kepala.


Mendengar tawaran Adi, Indri segera menghampiri suami nya.


"Malam gini enaknya makanan yang sedikit pedas sama berlemak gitu mas. Kayak e enak kalau makan usus pedes atau kikil (kulit sapi) pedes gitu deh mas", Indri semangat 45 menceritakan keinginan nya.


Huft...


Adi mendesah panjang. Jam segini adanya makanan seperti itu cuma di depan STM Kebangsaan tempat sekolah nya dulu yang jaraknya 20 km dari rumah nya.


Melihat Adi mendesah, seketika mata Indri langsung berkaca-kaca. Entah kenapa sejak tau positif hamil, bentar bentar dia baper.


"Iya iya, mas belikan. Gak usah nangis gitu dong yank", ujar Adi sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Makasih cintahh", rona bahagia terlihat dari wajah Indri.


Adi langsung berganti baju dan memakai jaket pendaki gunung nya yang tak tembus dingin. Tak lupa celana jeans hitam dan bersepatu untuk meminimalisir udara dingin yang akan menyentuh kulit nya.


Dengan segera ia melajukan motornya menembus gelapnya malam menuju ke arah STM Kebangsaan., Untung nya dia rapat menutup tubuhnya, kalau tidak bisa bisa dia menggigil kedinginan.


20 menit kemudian, Adi sudah sampai. Tapi suasana di situ sepi. Tidak terlihat orang berjualan. Adi segera memutar motor nya menuju kearah kawedanan, dan disana hanya ada orang jualan nasi goreng dan lalapan Lamongan.


Dengan sedikit putus asa, Adi memutari sekitar tempat itu berharap menemukan apa yang di carinya. Namun sia sia saja.


Setelah itu Adi memutuskan untuk pergi ke arah pasar induk di barat Kawedanan. Akhirnya dia menemukan apa yang dia cari.


"Buk, usus pedes nya 15 ribu ya sama kikil pedes nya sama 15 ribu di bungkus", pesan Adi pada si ibuk ibuk penjual makanan di sudut selatan teras pasar.


Tanpa banyak bicara, si ibuk yang seumuran dengan Bu Siti itu dengan cepat membungkus pesanan Adi. Usai membayar Adi segera bergegas memacu motornya menuju rumah.


Jam sudah menunjuk angka 01.20 saat Adi sampai di rumah.


Indri yang ketiduran di sofa ruang tamu menunggu kedatangan sang suami, langsung membuka pintu rumah begitu Adi sampai.


Adi langsung menyerahkan tas plastik berisi usus pedes dan kikil pedes itu pada Indri. Dengan mata berbinar, Indri membawa tas plastik itu menuju dapur dan membuka nya di atas meja makan.


Dengan sendok dia menyuapkan sesendok kikil pedes itu ke mulutnya. Kemudian sesendok lagi usus pedes itu lalu meletakkan sendok nya.


"Loh kog udah yank?", tanya Adi yang melihat Indri minum air putih usai makan dua sendok pesenan nya.


"Dah cukup mas,


Aku dah kenyang. Waktunya untuk tidur cantik", jawab Indri sambil berlalu menuju kamar tidur.


Padahal 15 ribu kikil dan usus pedes itu banyak, terus yang mau makan siapa?


Adi hanya mengelus dadanya melihat ulah Indri.


Duhhh...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya.


Selamat membaca guys 🙏😁🙏😁🙏

__ADS_1


__ADS_2