Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Elekton Plus


__ADS_3

Bagio yang datang ke operator mixer sound sistem, langsung mendekat pada Adi saat melihat Adi menemani Indri untuk menyalami para tamu.


"Selamat ya coy, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah. Cepet punya momongan", ujar Bagio sambil tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


'Tumben otaknya waras. Apa setelah sekian tahun akhirnya nya otaknya berfungsi?', batin Adi keheranan.


Indri segera menyikut pinggang Adi saat Adi tak segera menjawab.


"Aduhh..


Apa sih yank?", Adi meringis sambil menoleh ke arah Indri. Perempuan itu mencebikan bibirnya ke arah Bagio.


"Eh iya ya coy, oke oke.. terimakasih doanya", ujar Adi sambil menyalami tangan Bagio.


"Eh sompret..


Lambat bener jawabnya. Pasti lagi melamun jorok ya kamu?", tuduh Bagio mulai songongnya.


Adi hampir mengumpat keras. Untung dia sadar dalam posisi sebagai tuan rumah. Coba kalau bukan, pasti Bagio dia maki maki.


'Ya Allah, aku berlindung kepada engkau dari godaan setan yang terkutuk', doa Adi dalam hati.


"Jangan ngeres deh coy.. Aku tadi lihat ada cicak menyambar serangga di terop mu sana", Adi berusaha mengendalikan mulutnya.


"Alah gak mungkin. Mana kelihatan cicak dari sini? Pasti kamu ngelamun jorok sama Pur..."


Adi langsung membekap mulut Bagio dan menggelandang nya menjauhi orang orang. Sambil sedikit senyum malu, dia menarik Bagio ke salah satu sudut terop yang sepi.


Hmpphhhh hemmmmph


Bagio berusaha berbicara mesti mulut nya tertutup.


"Sorry coy,


Cablak boleh tapi juga harus lihat keadaan", Adi mulai tidak suka sifat Bagio yang tidak tahu situasi.


Adi melepaskan bekapannya.


"Maaf coy, ini mulut kalau ngomong suka blong rem nya.


Maaf banget", ujar Bagio tidak enak hati. Dia sadar bahwa ia salah tempat kalau ngomong slengean di depan orang banyak.


Hemmmm


"Eh coy, besok setelah ijab kan walimah. Apa gak ada niat hiburan gitu? Masak nikah cuma muter CD doang?", sambung Bagio kemudian.


Adi mengerutkan keningnya.


'Benar juga ini mulut ember. Terlanjur rame rame, tambah rame aja sekalian'.


"Kau punya pandangan elekton plus gak?", tanya Adi kemudian. Elekton plus kan gak butuh panggung luas. Di pojok teras juga bisa. Begitu pikir Adi.


"Jangankan elekton plus, konser pun aku bisa atur", Bagio kembali kumat sombongnya.


"Eleh lagakmu seperti EO aja,


Coba deh buktikan. Aku mau elekton plus pakai artis Intan Chaca bisa gak?", tantang Adi kemudian.


"Eh sompret,


Jangankan Intan Chaca, Nella Kharisma aku bisa datangin buat kamu. Lewat CD tapi hahahaha", Bagio tertawa terbahak-bahak.


"Huuu sombong dulu, pembuktian zonk...


Dasar anak tuyul pe'a", gerutu Adi sambil melengos pergi.


Bagio buru buru menghadang nya.


"Eh slonong boy, main kabur aja.


Jadi gak Intan Chaca nya?", tanya Bagio kemudian.

__ADS_1


"Jadi, asal budgetnya dikit", jawab Adi sambil mengeluarkan sebungkus rokok Diplomat dan mengambil sebatang. Dengan perlahan dia menyulut nya.


"Aseemmm...


Siapin duit 1,5 juta, itu harga teman. Elekton plus kendang dan gitar. Artis 2.


Bisa gak??", Bagio menatap wajah Adi serius.


"Deal. Besok sore sebelum temu manten, stand by disini. Pokok aku mau semalam los", jawab Adi sambil tersenyum.


Bagio mengacungkan jempol tanda setuju.


Malam semakin larut. Para tamu sudah sepi. Adi melangkah masuk ke dalam rumah Bu Sarmi.


Dhea yang biasanya reseh sudah tidur di depan TV dengan Aldi, anak Wawan. Semua tempat penuh dengan sanak saudara jauh yang rewang di rumah itu, bahkan ada yang tidur di atas kursi depan.


Cuma ada satu kamar tidur yang tidak boleh di tempati oleh mereka. Kamar tidur untuk Adi.


Adi perlahan melangkah kesana.


Pintu kamar tertutup kelambu dan sedikit terbuka. Tanpa banyak bicara, Adi melangkah masuk.


"Ahhhhh masss...."


Indri berteriak lantaran kaget Adi nyelonong masuk tanpa mengetuk. Perempuan itu sedang berganti baju dan posisi setengah telanjang, memamerkan keindahan tubuhnya bagian atas.


Adi melongo melihat itu semua.


Sebagai lelaki normal, naluri lelaki nya langsung bangkit. Ada yang berdiri tapi bukan tiang bendera. Laki laki itu menelan ludah nya dengan kasar.


Clegukk!


Indri buru buru menutupi tubuhnya dengan menyambar selimut yang ada diatas bantal.


"Mas,


Kenapa masuk gak ngetuk pintu sih?", tanya Indri sambil memakai atasan baby doll nya.


"Lha siapa yang tau? Salah nya pintu kamar terbuka gitu", Adi tak mau disalahkan.


"Aku lupa mas, badan ku capek. Pengen cepat ganti baju dan tidur", ujar Indri yang sudah selesai berganti baju.


"Kalau gitu, kamu tidur lah yank", Adi hendak pergi keluar.


"Mas gak tidur?", tanya Indri menatap wajah Adi dengan penuh pertanyaan.


"Lha mau tidur dimana? Semua tempat penuh orang gitu", Adi melirik ke arah ruang tamu yang di tiduri sanak saudara Indri.


"Ya tidur disini mas, cuma ada syaratnya. Mas jangan macam-macam", Indri menepuk kasur di bawahnya.


'Gimana bisa gak macam macam coba? Tadi udah melihat gunung Fujiyama gitu'


"Iya,tapi nanti aja. Mas mau menemani yang melekan manten sebentar, kamu tidur aja dulu yank", Adi melangkah keluar dari kamar menuju teras. Untuk meredakan sesuatu yang berdiri tapi bukan tiang bendera itu, Adi merubah konsentrasi pada permainan kartu remi yang lagi seru-serunya.


"Mas bos, sampean tidur aja sana", ujar Pak Wito yang malam itu kena jepit jemuran baju di telinga nya. Sejak Adi ikut bermain, dia kalah melulu.


"Lah nanggung Pak Lik, ayo lanjut lagi", Adi terkekeh geli. Dia tidak suka berjudi, tapi kalau Remi dia lumayan jago.


"Heeee besok kan mau ijab kabul mas bos, daripada ngantuk pas di ijabkan hayoo", Pak Wito terus mendesak Adi untuk mundur.


"Kalau aku mundur, siapa yang gantiin?", Adi mencoba untuk bertahan.


"Ada Memet, dia yang gantiin", ujar Pak Wito tersenyum tipis.


Akhirnya Adi mengalah. Tak tega juga melihat telinga tua Pak Wito penuh jepit jemuran baju.


Jam sudah menunjuk angka 01.22


Adi beringsut mundur ke dalam rumah dan menuju ke arah kamar. Pintu kamar tidak di kunci.


Dia masuk nyaris tanpa suara. Perlahan dia menatap wajah Indri. Perempuan itu tetap cantik walau tanpa make up. Rambutnya yang acak-acakan malah menambah pesona kecantikan alami wanita itu.

__ADS_1


Sambil tersenyum tipis, Adi membuka kemeja batik yang sedari tadi dia pakai. Kebiasaannya sebelum tidur adalah melepas baju menyisakan singlet dan bersarung. Adi sudah mempersiapkan itu semua.


Usai menggantung baju di pintu kamar, perlahan Adi merebahkan tubuhnya di samping Indri. Perempuan itu sama sekali tidak terganggu tidurnya, malah terlihat semakin pulas.


Adi memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Indri dengan seksama.


Hemmmm


'Besok perempuan cantik ini akan menjadi sah milik ku', batin Adi. Senyum manis mengembang di bibirnya.


Perlahan Adi memutar tubuhnya untuk tidur terlentang seperti kebiasaan nya di rumah. Rasa kantuk mulai menyerang nya. Perlahan dia menutup mata nya.


Blukk


Sebuah tangan menimpa perut Adi. Dan itu tangan Indri. Adi yang baru saja tertidur langsung melek lagi dan melirik Indri yang ndusel di ketiak nya karena musim kemarau yang dingin membuat nya kedinginan. Tak ingin menderita geli karena dengusan nafas sang calon istri, perlahan Adi menyelusupkan tangan kanan nya di bawah leher Indri. Jadilah Indri tidur dengan kepala di dada bidang sang calon suami nya.


Malam itu Indri tidur nyenyak dalam dekapan hangat Adi.


Adzan subuh berkumandang dari mushola Kyai Samingun yang tak jauh dari rumah Bu Sarmi. Suara toa itu mampu membangunkan semua orang yang ada di rumah Bu Sarmi, kecuali dua insan yang sebentar lagi akan menikah.


Indri begitu pulas di pelukan Adi.


Dhea yang baru bangun celingukan mencari ibunya. Bu Sarmi yang juga baru bangun, memutar tubuhnya sampai berbunyi kreekk.


"Ibuk In mana Mak?", tanya Dhea sambil mengucek bola matanya.


Bu Sarmi menguap lebar sambil menatap ke sekeliling nya. Indri tidak ada. Perempuan itu segera berdiri sambil menggendong Dhea. Perlahan perempuan paruh baya itu melangkah menuju ke arah kamar tidur Adi. Dua pasang sandal menjadi bukti kalau mereka sedang berdua. Bu Sarmi hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.


"Mak, ibuk In mana?", lagi lagi anak itu kembali bertanya.


"Ibuk In masih tidur, jangan gangu ya Nduk", ujar Bu Sarmi sambil menunjuk kamar tidur Adi.


Dhea segera merosot turun dari gendongan Bu Sarmi dan menggedor pintu kamar Adi.


"Ibuuuuukkkkkkkkkkk!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dhea jangan nakal ya 😌😌😌


Ibuk Indri masih pules di keloni Ayah Adi 😁😁


Author mengucapkan beribu terima kasih kepada kakak reader tersayang semuanya yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini 👍👍 👍👍❤️❤️❤️❤️


Like, vote dan komentar nya author tunggu loh

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2