Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Uang Kembalian


__ADS_3

Bu Yati melongo mendengar kata Adi. Apalagi Indri Hapsari, matanya melotot sesaat.


"Kenapa? Gak percaya?", ujar Adi melihat ekspresi Indri.


Noh tanya aja kalau gak percaya", timpal Adi sambil kembali memandang RAB nya.


Bu Yati segera beranjak setela yangh mengucapkan terima kasih pada Adi.


Indri masih juga belum sadar sampai Adi berteriak, " Mana mie goreng ku?".


Indri langsung balik ke dapur nya, untung mie nya belum hancur. Segera dia mengangkat panci kecil nya.


Ponsel pintar Adi bergetar, tanda ada notifikasi masuk.


Ada WA masuk, dari nomer tak dikenal lagi.


Assalamualaikum, Mas Adi.


Ini Heni. Save nomer WA ku yaa...


Heni?


Dapat nomer ku dari siapa?


Berbagai tanda tanya berkecamuk dalam pikiran Adi. Setelah berbagai pertimbangan, Adi akhirnya membalas pesan WA Heni


Walaikumsalaam.


Ok aku save


Centang dua. Terkirim.


Adi meletakkan ponsel nya, saat sebuah motor beat karbu masuk ke parkiran warkop X.


Di lihat tampangnya sih, dia orangnya pak Purwadi yang barusan WA. Tampang admin banget hehehehe.


Begitu masuk, si tampang admin itu celingukan mencari Adi. Setelah merasa yakin, dia mendekat ke meja Adi.


"Mas Adi ya?", tanya si tampang admin.


"Benar, siapa ya?", Adi balik tanya.


"Sapri, admin kantor CV Pak Purwadi", si tampang admin mengulurkan tangannya.


"Adi, buruh bangunan", seloroh Adi membuat Sapri tersenyum tipis.


"Monggo silahkan duduk, mau minum apa?", tawar Adi.


"Es teh aja mas", jawab Sapri sopan.


"Makan nya?, disini cuma ada mie soal nya", sambung Adi.


"Gak usah repot-repot mas, tadi sudah sarapan kog", tolak Sapri sambil membuka tas besar di tangan nya.


"Sebentar ya?", Adi lalu beranjak menuju dapur.


Indri yang sedang asyik menggoreng telur, di kejutkan suara Adi.


"Tambah es teh"


Indri seketika mendongak ke arah suara Adi.


"Memang kopi sudah habis Om ganteng?", Indri balik tanya bukannya menjawab.


"Tuh, ada tamu ku. Cepat ya gak pakai lama", Adi beranjak kembali ke meja nya.


'Huh om ganteng. Mentang-mentang juragan proyek', gumam Indri.


Tak berapa lama, Indri mengantar es teh dan mie goreng pesanan Adi.


"Monggo om ganteng, silahkan..".


Adi mengangguk pelan.


Sapri sedikit melirik lalu menyerahkan berkas RAB pekerjaan pengaspalan jalan pada Adi.


"Cek dulu mas. Itu RAB nya. kalau ada yang di tanyakan, silahkan", ucap Sapri sambil mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro, mengambil sebatang dan menyulutnya.

__ADS_1


Adi mengecek gambar proyek di kecamatan Wana dengan seksama.


Tak berapa lama kemudian, Adi bertanya pada Sapri.


"Pak Pur biasanya jalan berapa persen mas?"


"Waduh , saya kurang tau mas. Tapi dulu mandor lama nya bilang, 12 persen sih dari kontrak di potong PPN +PPh", jawab Sapri sambil menyebulkan asap rokok nya.


"Kalau lokasi dekat sih, segitu gak masalah. Cuma di kecamatan Wana, agaknya keberatan aku kalau segitu. Jauh dan lokasi ini sulit. Pekerjaan nya pasti lambat", ujar Adi kemudian.


"Coba mas Adi langsung ke Pak Purwadi. Saya hanya di suruh nganterin berkas", jawab Sapri sambil meminum es teh.


Hemmmm


"Memang pak Purwadi pekerjaan nya cuma ini aja mas?", Adi bertanya kembali.


"Selain di Wana, yang belum di garap ada kecamatan kota, sama di daerah wisata mas".


"Ohhh gitu, oke nanti saya hubungi langsung pak Purwadi nya", Jawab Adi sambil merapikan berkas RAB pekerjaan pengaspalan itu.


Sapri pamit. Pria tampang admin itu keluar warkop X setengah terburu-buru setelah membaca sebuah pesan di ponsel nya.


Adi masih menikmati sisa kopi nya dengan santai. Habis ini dia mau ke lokasi di kecamatan Gandu, mengecek kiriman aspal dari juragan aspal Feri sekalian mengecek persiapan material sebelum menggerakkan pekerja khusus pengaspalan jalan.


Kemarin dia sudah menaruh 4 orang pekerja untuk membersihkan lokasi, mungkin mereka sudah hampir selesai karna mereka terbiasa kerja cepat.


Warkop X mulai ramai. Beberapa orang remaja dan 2 orang seusia Adi tampak asyik di sudut warkop sambil menikmati kopi susu buatan Indri. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi mungkin sesuatu yang lucu karna mereka tertawa kecil.


Adi mengambil ponselnya, membuka kunci layar dan mencari kontak Warno.


Klik


Tombol hijau di tekan.


Tutttttt tuttt...


Halo bos


Halo pak Warno, gimana lokasi? Sudah beres?


Belum bos, agak susah ini. Banyak yang diuruk warga dengan gempuran rumah.


Oke siap bos.


Klik.


Adi segera menaruh ponsel nya, memasukkan kembali ke tas kecil kegemarannya.


Merapikan berkas RAB dari Sapri dan dari CV Multi Guna. Lalu memasukkan ke tas ransel besar nya.


Setelah menghabiskan kopi tubruk nya, Adi menuju dapur warkop X.


Indri terlihat sibuk, ada beberapa pesanan mie rebus.


'Lumayan cantik. Coba aku lebih muda 5 tahun, pasti tak pacari', batin Adi.


Memang Adi bisa menilai seseorang secara sekilas. Makanya pengalaman selama 13 tahun di bidang konstruksi, memberi nya banyak pengalaman soal fisik.


"Ndri, berapa kopi sama es teh dan mie ku tadi?", suara Adi membuat Indri menoleh.


"6 ribu tambah 8 ribu, semuanya 14 ribu. Sisa uang om ganteng kemarin kan masih, jadi tinggal tak kasih kembali 25 ribu ya?", jawab Indri.


"Gag usah, kembalian kemarin buat anakmu saja", jawaban Adi sukses besar membuat Indri bengong.


'Darimana om ganteng tau aku punya anak?', batin Indri.


"Woy malah bengong, nih uang kopi nya", Suara Adi menyadarkan Indri sambil menyodorkan uang 20 ribu.


"Sek sek sek, Om ganteng tau aku punya anak dari siapa?", tanya Indri penasaran.


"Di lihat sekilas juga kelihatan kalau kamu sudah punya anak. Tuh belut di perut gak bisa bohong", senyum Adi menyeringai.


"Ohhh", Indri refleks menutup perutnya.


Hehehehe


Adi cekikikan melihat tingkah Indri.

__ADS_1


"Ya dah, aku mau cabut dulu", Adi bergegas keluar. Indri yang tersadar belum memberikan kembalian, bergegas mengejar ke parkiran warkop X.


Adi sudah nangkring di motor Vixion kesayangannya saat kesayangannya saat Indri datang.


"Om ganteng, kembalian nya..", ucap Indri sambil menyodorkan uang 9 ribu.


"Buat jajan anakmu saja", jawab Adi sambil men-start motor nya.


Indri tersenyum malu dan berkata,


"Terimakasih om ganteng".


Adi bergegas memacu kuda besi nya, setelah menutup kaca helm KYT putih half facenya, melesat meninggalkan warkop X.


Indri termangu menatap kearah perginya Adi.


'Masih ada orang baik ternyata, udah ganteng, kerjaan mapan, duhh mau jadi istrinya. Eh ada apa barusan', batin Indri sambil menepuk bibirnya.


Indri segera masuk ke Warkop yang makin ramai, setelah baru saja masuk 3 orang.


Sementara itu, Adi melesat cepat menuju kecamatan Gandu. Hampir setengah jam, dia akhirnya tiba di lokasi proyek pengaspalan jalan.


Pak Warno, lelaki paruh baya yang biasa berperan sebagai pembakar aspal, terlihat menyambut nya.


"Siang bos"


"Siang pak. Kang Mat belum ikut masuk ya?", tanya Adi pada pak Warno.


"Belum bos, si mbok nya sering kumat. Kemarin sudah tak tanya bos, katanya dia bisa kerja atau tidak belum tau gitu", jawab pak Warno.


Hemmmmm


"Kalau gitu, coba tak cari tukang kicir yang lain. Ada sih pak Sam, tapi orang nya sudah sepuh.


Gak tega aku", ucap Adi.


"Ada sih bos tukang kicir kalau bos mau memakai tenaganya. Masih muda. Kerja nya cepat. Namanya Kris", sahut pak Warno.


"Boleh tuh, besok suruh masuk saja. Soalnya lusa, alat tumbuk nya sudah datang. Jadi kita bisa mulai bekerja", Adi semangat.


"Bos sukanya sama orang muda ya?", tanya pak Warno menyelidik. Dia khawatir karna dia sudah cukup berumur.


Adi cengengesan. Dia tau pikiran pak Warno.


Sengaja dia menjawab,


"Yang muda lebih asyik pak "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Coba yang muda lebih asyik maksud nya apa?


Auk ah gelap..

__ADS_1


Author aja bingung 😁😁😁


__ADS_2