
Si mbak penjaga apotek segera mencari permintaan Adi. Tak berapa lama kemudian, dua butir obat sakit gigi di serahkan pada Adi.
"Sementara dua butir saja ya pak. Ini obat keras. Kalau belum sembuh, besok bapak bisa kemari lagi", ujar si mbak segera.
Usai membayar obat, Adi segera meminum obat itu. Karena teringat belum sarapan, Adi segera bergegas keluar dari apotek itu kemudian menjalankan motor nya ke arah pasar kecamatan Sambi.
Tadi saat menuju apotek, dia melihat ada yang jualan jenang dawet di selatan pasar. Kelihatannya ramai. Pasti enak, begitu pikir Adi.
Di depan stand jenang dawet, Adi menghentikan laju motornya. Usai melepas helm nya, dia bergegas menuju ke tempat duduk yang tersedia di belakang stand itu.
"Mbak, jenang dawet gak pakai es ya", ujar Adi kemudian. Seorang wanita seusia Indri langsung membuat pesanan Adi. Kebetulan sudah agak sepi, jadi si wanita itu dengan cepat mengantar pesanan Adi.
Saat Adi mulai menyendok jenang dawet nya, tiba tiba terdengar suara dari si wanita itu.
"Mas Adi ya?".
Adi segera mendongak ke arah suara itu.
"Eh iya. Siapa nggeh?", Adi lupa lupa ingat dengan wajah perempuan itu.
"Ya ampun cepet banget lupa sama aku.
Ini Ratna mas. Ratna Sari.
Masih lupa juga?", perempuan itu tersenyum menatap wajah ganteng Adi.
"Ratna? Sebentar..
Ratna Ratna Ratna ahhhh.. Ratna yang dari grup Facebook itu ya?", ujar Adi mencoba meyakinkan diri nya.
"Iya mas, Ratna Sari dari grup Facebook. Mas kog gak pernah aktif di grup lagi.
Memang ada masalah ya mas?", Ratna menatap wajah Adi.
"Ahh gak juga, cuma lagi sibuk kerja aja. Jadi gak bisa ikut kumpul kayak dulu lagi.
Eh kamu ngapain disini? Kerja disini?", Adi mengalihkan topik pembicaraan.
"Ini punya ibuk aku mas, aku bantu bantu saja", ujar Ratna sambil duduk di seberang meja Adi.
"Oh gitu, pantesan baru lihat kamu disini. Aku sering lewat sini", Adi menyendok jenang dawet nya.
"Ngapain mas?
Mas Adi punya kerjaan disini ya?", Ratna menatap wajah Adi dengan penuh penasaran. Dulu saat aktif di grup FB, Ratna diam diam naksir sama Adi. Cuma Adi cuek saja, tak lebih menganggap Ratna sebagai teman satu komunitas. Setelah ada masalah dengan pengurus komunitas, Adi menghilang bagai di telan bumi.
"Iya, tuh di selatan balai desa", Adi meneruskan makan jenang dawet nya.
"Yang saluran air itu mas? Itu proyek mas Adi?", Ratna semakin kepo.
"Bukan, aku cuma kuli aja disana", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Elehh ngapusi (bohong), mana ada kuli pakaiannya rapi kayak gitu mas mas", Ratna ternyata sempat memperhatikan penampilan Adi.
Hehehehe
Adi cengengesan sambil tersenyum.
"Berapa Rat?", tanya Adi yang baru menyelesaikan makan nya.
"Gak usah mas, gratis buat mas Adi", jawab Ratna sambil tersenyum.
"Gak ah, aku gak hobi gratis. Bikinkan 14 bungkus lagi dong", Adi menghitung jumlah pekerja di pekerjaan Antok. Ada pak Wito juga disana.
Ratna melongo mendengar ucapan Adi.
__ADS_1
"Kog malah bengong? Buruan buatkan. Agak cepetan dikit ya", imbuh Adi kemudian.
Ratna segera tersadar dan buru buru mulai membungkus jenang dawet. 15 menit kemudian, pesanan Adi sudah rampung.
"Berapa semuanya Rat??", tanya Adi kemudian.
"42 ribu mas. 3000 kali 14 bungkus" jawab Ratna sambil mengelap peluh di keningnya.
Adi segera mengambil duit 50 ribu dari tas kecilnya dan menyerahkan pada Ratna. Bakul jenang itu kemudian mengambil kembalian 8 ribu buat Adi. Walaupun sedikit kerepotan membawa nya, akhirnya Adi berhasil juga meninggalkan stand jenang dawet itu.
Sesampainya di tempat kerja Antok, Adi segera memanggil Antok. Pria kurus itu segera mendekati bos nya.
"Nih, bagikan pada orang-orang", ujar Adi segera.
"Terimakasih bos, kalau bisa yang sering saja", jawab Antok sambil tersenyum tipis.
"Ngarep...
Yo wes aku mau berangkat ke kecamatan Gandu dulu", Adi lantas memutar motornya dan menggeber motornya menuju ke arah kecamatan Gandu tempat proyek dam sungai kecil nya.
Saat melewati stand jenang dawet, Adi mengklakson 2 kali. Ratna langsung tersenyum sambil menatap motor Vixion Adi yang melaju kencang kearah Utara.
20 menit kemudian, Adi sudah sampai di proyek dam sungai kecil itu. Nampak banyak perubahan saat di tinggal Adi acara keluarga kemarin.
Sisi barat sungai sudah terpasang diatas muka air rata rata, sehingga aliran sungai kecil itu sudah berpindah arah. Sedangkan sisi timur, pondasi sudah rampung, tinggal memasang sayap nya.
Didik sambil berkacak pinggang terus memperhatikan penghitungan badan sayap dasar. Bagian ini harus lebih baku karena akan menerima terjangan air setiap hari. Kalau jelek, bisa bisa cepat hancur.
Adi dengan seksama memperhatikan situasi sungai kecil itu segera. Pekerjaan mereka tergolong cepat. Adi tersenyum sambil mengkalkulasi berapa banyak pemasukan yang di dapatkan.
"Bahan apa yang kurang?".
Suara Adi membuat Didik segera menoleh. Para pekerja juga ikut menoleh.
Didik segera mendekati bos nya itu.
"Gak, dari drainase di Sambi. Bahan apa yang kurang?", Adi melihat bahan baku masih menumpuk di samping molen beton.
"Aman bos. Bos besar kemarin kesini liat liat. Pas bahan kurang, langsung di telpon pak Bakri suruh antar. Jadi sudah tidak ada masalah lagi", ujar Didik sambil menjumput rokok yang baru di keluarkan Adi.
"Oh syukurlah kalau begitu", jawab Adi singkat.
"Kog lemes gitu manten baru bos? Gak dapat jatah?", Didik melihat Adi kurang semangat.
"Enak aja, los kalau urusan itu.
Gigi ku nih sakit", Adi mengelus pipi nya.
"Yahhh, manten baru kog sakit gigi. Harusnya boyoken (rematik) kek, atau anemia kek. Ini malah sakit gigi", seloroh Didik sambil mengebulkan asap rokok nya.
"Berisik deh.
Emang siapa bisa pilih penyakit? Mulut mu asal nyeplos aja kalau ngomong", Adi mendelik sewot.
"Ye manten baru sensitif amat ya", Didik tersenyum kecut.
"Biarin,
Tak doain kamu juga sakit gigi biar bisa merasakan nikmatnya", Adi melirik jam tangannya.
Angka sudah menunjuk pukul 11.40.
"Suruh mereka istirahat dulu. Aku mau tidur dulu. Duhhh...", ujar Adi sambil berlalu menuju ketempat penitipan barang. Disana Adi tidur akibat pengaruh obat sakit gigi nya.
Jam 15.40 Adi terbangun dari tidurnya. Sakit gigi nya sudah tidak terlalu terasa tapi masih terasa cenut cenut.
__ADS_1
Tanpa berpamitan, Adi segera memutar motor nya untuk pulang. Dia tidak berani minum obat sakit gigi itu, karena perutnya hanya terisi jenang dawet selama seharian ini.
Sesampainya di rumah, Adi langsung memarkir motornya di teras. Melihat sang suami pulang, Indri bergegas menghampiri dan salim dengan mencium punggung tangan nya. Adi sedikit bisa melupakan rasa sakit gigi nya.
Melihat suaminya kusut, Indri segera bertanya.
"Ada apa Mas? Kog kusut gitu? Ada masalah dengan pekerjaan?".
"Gigiku sakit yank...", ujar Adi memelas.
"Lah kog bisa?", Indri penasaran, pasalnya tadi pagi masih baik baik saja.
"Gara gara es teh sialan tadi", Adi menggerutu sambil memberikan helm nya pada Indri. Tas dan jaketnya juga.
"Mas sudah minum obat?", Indri mengelus wajah lelaki itu dengan lembut.
"Udah, tapi belum makan apa apa dari tadi. Cuma jenang dawet doang", Adi merebahkan tubuhnya di depan TV.
"Yuh kasian. Tak ambil makan ya mas, habis itu minum obat nya", ujar Indri sambil meletakkan barang-barang Adi di kursi ruang tamu. Adi mengangguk tanda mengiyakan.
Walhasil, Indri harus menyuapi Adi yang jadi kolokan karena sakit gigi nya.
Usai minum obat, bayi besar itu tidur lagi dengan paha Indri sebagai bantal nya. Indri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah sang suami. Itu pun harus pakai elus pipi nya agar Adi segera tidur.
Terpaksa Cinta dan Dhea di mandikan oleh Bu Siti, karena setiap Indri bergerak Adi langsung terbangun. Kolokan abis pokoknya.
Menjelang magrib, Adi terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum tipis melihat paha Indri masih menjadi bantal tidur nya. Wanita itu juga ketiduran rupanya.
"Yank, bangun..", ujar Adi sambil tersenyum tipis.
Indri segera mengerjapkan matanya sebentar, kemudian perempuan itu segera bangun dari duduknya.
"Mas sudah mendingan?", tanya Indri sambil memandang wajah Adi dengan penuh kasih sayang.
Adi hanya tersenyum saja dan mengangguk pelan.
Hemmmm
'Bayi besar ini sudah sembuh rupanya', batin Indri dalam hati.
Malam itu usai para bocil tidur, Indri kembali harus melayani bayi besar yang pengen dimanja.
Hadehhh...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa semua manten baru kolokan kayak mas Adi ya? 🤦🤦🤦🤦
Kakak reader tersayang semuanya, terimakasih atas dukungannya ❤️❤️