Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Tragedi Sebelum Lamaran


__ADS_3

Pak Jarno segera memanggil Bu Sarmi untuk rencana lamaran malam Minggu depan.


"Yu, sesuai kesepakatan tadi, malam Minggu depan, Adi dan keluarganya akan kemari.


Apa kau sudah siap Yu?", ujar Pak Jarno sambil menatap kakak sulungnya itu.


Wawan dan Pak Wito yang masih disana, juga ingin mendengar kesiapan Bu Sarmi.


"Yo siap gak siap Jar, namanya juga dadakan. Besok tak jual ali-ali (cincin) buat persiapan. Waktu nya tinggal 3 hari to?", Bu Sarmi menghela nafas panjang.


"Lha kenapa mesti jual cincin yu? Lombok mu kan sudah mulai panen to?", tanya pak Wito penasaran.


"Gundul mu itu Wit. Lombok baru panen sekali, cuma 5 kg. Cuma dapat duit berapa? Lamaran itu ngundang tamu. Aku gak mau malu-maluin", Bu Sarmi mendelik ke arah pak Wito yang langsung garuk-garuk kepalanya.


Malam itu mereka berbincang hangat untuk mempersiapkan lamaran. Indri hanya mendengar saja tanpa ikut bicara. Namun hati janda muda itu tengah bahagia.


Sementara itu, Adi yang sudah sampai di rumah segera memarkir motornya di dalam.


Bu Siti yang masih asyik menonton TV sedikit kaget melihat putranya itu yang tidak segera beranjak ke kamar tidur nya. Cinta sudah mendengkur halus di depan TV.


Perempuan paruh baya itu segera mendekati Adi.


"Ada apa Le? Baru mesra mesra dengan Indri kog lemes gitu?", tanya Bu Siti penasaran.


"Tadi aq di tarap (ditanya serius) sama keluarga nya Indri buk. Mereka meminta aku mengajak keluarga kita untuk segera melamar Indri", Adi menyulut sebatang rokok nya. Hembusan nafasnya mulai bercampur asap rokok.


"Lah kan bagus. Kalau aku yang punya anak perempuan, pasti kamu juga tak gitukan. Wong kamu hobinya main sosor gitu kog hehehe", Bu Siti terkekeh geli.


"Duh ni ibuk. Anak lagi pusing malah diketawain", gerutu Adi.


"Lah emang kenapa? Kamu bukan ABG lagi. Mau nunggu apalagi? Mumpung ada yang mau Le. Lagipula Indri juga cantik dan keibuan gitu. Masih muda lagi. Kalau di poles dikit, pasti kinclong kayak batu marmer dari Tulungagung. Gak kalah dengan si Maya dan Heni", cerocos Bu Siti seperti iklan sabun colek.


"Heleh bilang aja ibuk pengen cepet-cepet punya mantu lagi. Biar bisa pensiun dari masak di dapur", Adi mencebikan bibirnya.


"Kalau iya kenapa? Lagian kamu itu sudah ada yang mau, masih aja banyak alasan. Mereka minta lamaran kapan?", kali ini Bu Siti serius menatap wajah Adi.


"Malam minggu besok buk", Adi menatap pintu rumah yang masih terbuka.


"Apaa?? Dasar bocah gemblung. Kog cepet banget Le?", Bu Siti terkejut mendengar ucapan Adi.


"Yeeee tadi minta cepet-cepet, sekarang baru dengar malam minggu besok sudah ngatain gemblung.


Mau nya ibuk apa sih?", Adi melirik ke arah Bu Siti yang duduk di kursi sofa.


"Dengar ya Le Cah Bagus, lamaran itu bukan urusan main-main. Butuh duit untuk sanggan. Butuh kendaraan. Butuh kasih tau Pak Puh mu juga. Karena waktunya tinggal 3 hari, makanya mulai besok harus siap-siap. Paham kau Cah Bagus??", Bu Siti menggeram menahan emosi.


"Urusan duit untuk sanggan (barang bawaan lamaran), sama kendaraan beres. Ibuk tinggal kasih tau Pak Puh Bud sama mas Har sudah beres.


Eh buk, lamaran besok sekalian sisetan (tunangan) gak ya?", Adi menatap wajah sepuh ibunya itu.


"Yo terserah kamu Le, kalau punya duit mending belikan cincin buat Indri. Walaupun cuma 2 gram itu memperjelas status bahwa kalian sudah ada ikatan resmi", Bu Siti tersenyum simpul.


Adi langsung garuk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


Bukan masalah duit, tapi waktu nya yang dia bingungkan. Kerjaan numpuk, sebentar lagi pak Warno pindahan dari kecamatan Waru ke kecamatan Wana. Belum lagi kelompok Didik yang sudah taraf akhir finishing jembatan, dan siap pindah ke Dam sungai. Juga Darsiman dan Darsiyo yang hampir separuh mengepruk batu gebal persiapan onderlaag di depan SMP Jati.


Hanya kerjaan Antok di talud tikungan saja yang masih bisa diabaikan.


Haish embuh..


Adi segera menuju kamar tidur nya, melepaskan jaket dan ransel punggungnya. Lalu menyambar handuk dan menuju kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian terdengar kran air memancar. Dan bunyi deburan air.


Adi keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Setelah memindahkan Cinta ke kamar tidur nya bersama Bu Siti, Adi segera dia masuk kamar tidur. Entah kenapa dia ingin tidur cepat malam ini. Setelah mengirimkan chat via aplikasi WA pada Indri, duda beranak satu itu memutuskan untuk tidur.

__ADS_1


Pagi pun tiba.


Adi hari itu sibuk berat, sudah sejak pagi duda beranak satu itu menata persiapan pindahan ke kecamatan Wana. Untung nya pelaksana CV Megah Sarana, si Sapri, membantu menyiapkan pikep untuk membawa alat alat yang bisa di dulukan.


"Tumben cepet di pindah bos", ujar pak Warno sambil menaikkan artco alias gerobak dorong satu roda itu ke atas pikep.


"Ada repot pak No, mending yang bisa diangkut segera di pindah lebih dulu", jawab Adi sambil terus menaikkan alat kerja.


Pak Warno hanya manggut-manggut saja mendengar kata kata bos nya itu.


Usai menaikkan alat, pikep Sapri segera meluncur ke arah kecamatan Wana dengan 2 orang anak buah pak Warno untuk membantu menurunkannya.


Sementara Adi segera meluncur ke depan SMP Jati tempat persiapan onderlaag, meninggalkan Pak Warno yang harus melakukan finishing pengaspalan jalan. Masih kurang 25 meter.


Di depan SMP Jati, 2 orang tukang kepruk batu andalannya Adi, Darsiman dan Darsiyo sibuk menghantam batu kali itu dengan palu godam nya.


Bukk bukk..


Dua tiga kali gebuk, batu batu kali itu terbelah menjadi beberapa bagian.


Dengan santai, Adi segera memarkir motornya di dekat mereka berdua. Dua saudara itu langsung berhenti bekerja begitu melihat Adi.


"Rokok mu endi Le? (Rokok mu mana Le?)", ucap Darsiman sambil berjalan menuju ke arah Adi. Mandor proyek itu segera mengeluarkan sebungkus rokok Surya 12 dari tas kecilnya dan mengulurkan pada Darsiman.


"Rokok an dulu Yo, kerja terus bikin cepat tua", teriak Darsiman pada adiknya Darsiyo yang masih memukulkan godamnya.


Darsiyo segera melempar palu godam nya ke atas rumput batu yang sudah terbelah dan mendekati mereka berdua.


"2 hari lagi selesai Le, kamu tenang saja. Oiya aku kasbon Le, 300 ribu saja. Bensin nya Darsiyo habis tuh", ujar Darsiman. Tanpa banyak bicara, Adi segera membuka tas kecilnya dan mengambil duit 3 lembar ratusan ribu lalu menyerahkan pada Darsiman. Dua orang bersaudara itu tersenyum girang. Usai itu, Adi bergegas menuju ke proyek jembatan CV Barata Konstruksi.


Sementara itu, Bu Siti di rumah sibuk berbicara dengan Pak Budiono. Saudara tua ayah Adi yang sudah meninggal dunia. Ditemani Hari Sugiarto kakak Adi, mereka berbincang membahas tentang rencana lamaran Adi malam Minggu besok.


Adi masih mengegas motor nya menuju proyek talud CV Multi Guna usai menyelesaikan kewajiban kontrol ke proyek jembatan CV Barata Konstruksi. 20 menit kemudian Adi sudah di proyek talud. Dengan gaya khas nya, duda beranak satu itu segera memberikan beberapa arahan pada Antok sang kepala tukang.


Sementara itu, di seberang jalan, 2 orang mengendarai motor trail menatap sinis ke arah Adi.


"Iyo Ro, dia orang nya. Aku ingin sekali memberinya pelajaran", jawab lelaki berambut gondrong itu.


Mereka berdua adalah Tono dan Bero, dua preman kampung yang sering bikin onar. Tono sangat menyukai Indri tapi janda muda itu tidak pernah menanggapinya. Dua lelaki sangar itu segera meninggalkan tempat itu.


Adi menunggui proyek talud tikungan itu sampai jam bubar kerja.


Selepas jam kerja selesai, Adi segera mengegas motor nya menuju ke rumah Indri. Kebetulan Dhea di ajak Bu Sarmi pergi ke rumah Pak Jarno di kampung sebelah, ada sesuatu yang perlu di bahas mengenai persiapan lamaran.


Adi segera memarkir motornya di samping teras rumah. Indri menyambut kedatangan calon suami nya itu dengan tersenyum senang.


Mereka duduk berdua sambil menonton TV.


Sepasang mata menatap sebal saat Adi masuk ke rumah.


Hari semakin malam, suasana begitu sepi di desa Marga. Jam sudah menunjuk angka 20.15 tapi Bu Sarmi belum juga pulang.


"Mas, ibuk kog belum balik sih?", ada nada cemas di dalam pertanyaan Indri.


"Coba di telpon saja yank", jawab Adi sambil menatap wajah Indri.


Belum sempat Indri menelpon, tiba tiba puluhan orang berkerumun di depan rumahnya.


"Woy bajingan, keluar kau!", teriak seorang lelaki di depan pintu rumah yang membuat Adi dan Indri kompak menoleh.


"Ada apa ini Ton? Kenapa teriak teriak di depan rumah ku?", Indri menatap Tono yang mendelik tajam kearah Adi.


"Kalian berdua sudah berbuat zina. Kalian mengotori kampung ini dengan perbuatan bejat kalian", mulut berbisa Tono langsung bereaksi.


"Ngomong apa kamu? Jangan bikin fitnah!", teriak Indri geram.

__ADS_1


"Alah sok suci. Seorang bakul kopi pasti gampang memasukkan lelaki ke rumah nya", ejek Tono. Dia puas bisa menghina Indri.


"Hei jaga mulut mu. Kalau kau punya bukti nya kami zina, bawa kesini. Jangan asal tuduh tanpa bukti", Adi yang sedari tadi diam saja mulai meradang.


"Banyak omong kau", teriak Tono. Preman kampung itu segera melompat dan melayangkan pukulan ke wajah Adi.


Bukkkkk


Adi yang tidak siap langsung terjatuh ke lantai.


Indri berteriak keras melihat calon suami nya itu terkapar dan langsung mendekati nya. Perempuan cantik itu menangis tersedu-sedu. Tono menyeringai lebar.


Mendengar keributan di rumah Bu Sarmi, para tetangga langsung bergerak mendatangi. Wawan, Pak Wito dan beberapa warga langsung kesitu.


Melihat Adi terduduk di lantai dengan bibir pecah dan berdarah, Wawan marah besar.


"Ada apa ini Ndri?", tanya Wawan pada adiknya itu.


"Tono memukul mas Adi. Dia bilang kami berbuat zina padahal kami hanya nonton TV menunggu ibuk pulang dari rumah Lik Jarno mas", Indri sesenggukan menangis. Dia tidak rela jika ada yang menyakiti calon suami nya itu. Adi tersenyum tipis sambil mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.


"Bajingan kau Ton. Apa masalah mu dengan Adi ha?", teriak Wawan geram.


"Dia akan melakukan zina Wan, kau harus tau. Bajingan proyek seperti dia pasti hanya mendekati Indri hanya untuk mesum saja. Begitu proyek kelar, dia pasti meninggalkan adikmu. Itu sudah biasa bagi orang proyek seperti dia", fitnah beracun Tono kembali menyembur.


"Dasar tolol. Dia itu calon adik ipar ku. Kemarin malam kami sudah bicara soal hubungan mereka. Besok malam Minggu, mereka akan melamar kesini.


Kalau sampai keluarga Adi membatalkan lamaran nya karena ulah mu ini, kupastikan akan ku habisi kau", ancam Wawan murka.


Di banding Wawan, Tono hanya anak kecil. Wawan pernah menjadi anak buah preman di Terminal Bungurasih selama 5 tahun sebelum memutuskan untuk pensiun dan menikahi Narsih.


Tono pucat seketika.


Teman teman Tono yang ikut menggerebek rumah Indri, satu persatu segera meninggalkan tempat itu dengan diam diam. Mereka takut akan murka Wawan.


Adi tersenyum kecut sambil menahan perih di sudut bibirnya. Indri menatap wajah Adi dengan seksama.


"Kau tidak apa-apa mas?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duhhh author kog ikut emosi sih dengan preman pasar ini 😡😡😡


Ikuti terus kisah selanjutnya guys jangan lupa untuk sedekah like vote dan komentar nya 👍

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author untuk terus semangat menulis 😁😁


Selamat membaca 🙏😁🙏


__ADS_2