Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Cincin Tunangan


__ADS_3

"Gak papa yank, tenang saja", ujar Adi berusaha menenangkan hati Indri. Perempuan itu terus terisak dari tadi.


Pak RT dan Kamituwo segera menyeruak maju menengahi suasana. Sesaat sebelum bicara, Kamituwo Mukti yang merupakan pemimpin kampung itu melihat ke arah Adi yang bibirnya berdarah, lalu menatap wajah Tono dengan tatapan geram.


"Kau ini selalu bikin ulah. Kalau belum masuk ke dalam tahanan, belum kapok juga kau rupanya".


Tono yang biasanya garang dan sangar langsung lemas mendengar ucapan Kamituwo Mukti.


"Ya gak gitu Mbah Wo, maksud saya kan baik", ujar Tono mencoba berkelit.


"Baik dengkul mu mlocot itu..


Sekarang kalau sudah begini bagaimana tanggung jawab mu?", tanya Kamituwo Mukti mendelik tajam kearah Tono.


Bu Sarmi yang baru datang, terkejut melihat ramai-ramai di rumahnya.


"Ada apa ini Wo? Kog ramai begini?", tanya Bu Sarmi sambil menggendong Dhea yang sudah ketiduran.


"Ini anaknya Sutikno menggerebek Indri sama mas itu. Katanya mau zina. Belum jelas apa apa sudah mukul si mas itu", Kamituwo Mukti menerangkan.


"Woalah, aku tau Wo. Korak (Kotoran rakyat) ini sudah lama ngejar-ngejar anak ku. Tapi anak ku tidak mau. Sekarang cari perkara dengan menuduh yang gak gak.


Ini itu calon mantu ku wo, malam minggu besok mau lamaran. Aku tidak mengada-ada. Wawan dan Wito itu saksinya", Bu Sarmi emosinya langsung naik.


"Woo dasar bajingan", Kamituwo Mukti yang sudah geram langsung menampar pipi Tono dengan keras.


Plakkkk


Tono langsung terjengkang. Puluhan warga sekitar langsung mengerubungi Tono berniat menghajarnya.


"Tahan!"


Teriakan Adi membuat gerakan mereka langsung berhenti seketika.


"Dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya ke saya. Saya mohon bapak dan mas sekalian jangan main hakim sendiri.


Sekarang lepaskan saja dia. Kalau lain kali berani berulah lagi, terserah bapak dan mas semuanya".


Tono yang sudah pucat wajah nya karena hendak di hajar warga kampung seketika berubah menjadi gembira. Dia benar-benar berterima kasih kepada Adi.


Kamituwo Mukti menarik nafas lega. Sebab kalau sampai Adi memperpanjang masalah sampai ke polisi, pasti dia juga yang repot karna Tono itu warganya.


Setelah meminta maaf atas ketidak nyamanan itu, Kamituwo Mukti segera menyeret Tono di ikuti oleh semua orang ke rumah nya. Tinggal Bu Sarmi, Pak Wito, dan Wawan yang masih disitu.


"Hiks hiks hiks....", Indri masih terisak lirih.


"Kog masih juga nangis sih yank?", Adi mendekat ke arah Indri.


"Aku takut mas", ujar Indri lirih.


"Takut? Takut kenapa yank?", Adi jadi kebingungan. Dia mengira Indri syok dengan kejadian ini.


"Takut mas gak jadi ngelamar Indri gara gara ulah Tono tadi", Indri terus meneteskan air mata nya.


"Astaghfirullah...


Kamu ngomong apa sih yank? Ya gak mungkin lah aku batalin rencana lamaran. Ada ada saja deh", ujar Adi sambil tersenyum simpul.


'Lagian kalau sampai aku batalin lamarannya, bisa bisa aku di hajar sama ibuk ku hehehehe'


Jawaban Adi membuat semua orang tersenyum lega. Isak tangis Indri langsung berhenti seketika berganti binar mata bahagia.


Perempuan itu tanpa malu langsung memeluk tubuh Adi dengan erat.


Ehemmmm ehemmm ehemmm


Wawan yang tidak batuk berdehem keras untuk mengingatkan Indri kalau mereka masih ada disitu.


Tapi bukannya melepaskan pelukannya, Indri malah semakin erat memeluk tubuh Adi.

__ADS_1


Ehemmmm ehemmm


Kini ganti Pak Wito yang berdehem keras. Adi yang merasa jengah dengan perlakuan Indri, segera berbisik di telinga calon istri nya itu.


"Yank, sudah. Malu sama orang orang".


Perempuan cantik itu langsung mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Pak Wito, Wawan dan Bu Sarmi yang senyum senyum geli.


Perlahan Indri melepaskan pelukannya pada Adi. Laki laki itu kemudian membimbingnya untuk duduk di ranjang berlapis kasur kapuk di ruang tamu.


Bu Sarmi segera menidurkan Dhea di kasur kamar tidur nya. Pak Wito dan Wawan langsung duduk di kursi ruang tamu.


Adi kemudian mengambil sebatang rokok Diplomat dan menyulutnya. Pak Wito pun segera ikutan mengambil rokok.


"Sebenarnya tujuan saya kemari tadi pengen minta ijin ke ibuk. Besok pagi saya mau ajak Indri untuk membeli cincin tunangan", Adi membuka percakapan.


Bu Sarmi langsung tersenyum mendengar ucapan Adi, begitu juga Indri.


"Lha kenapa kog pakai ijin segala to Le? Kalau sama kamu perginya, ibuk gak keberatan kog", Bu Sarmi ikut duduk di kursi ruang tamu.


"Ya gak enak to buk. Wong Indri masih punya orang tua. Gak baik main ajak tanpa ijin dari ibuk", Adi menghembuskan asap rokok nya.


"Nah betul itu mas bos Yu, gak baik tanpa seijin orang tua nya", Pak Wito menimpali.


"Rasah melu omong Wit (Gak usah ikut bicara Wit), bikin orang emosi saja", Bu Sarmi mendelik sewot kearah pak Wito. Adik bungsu Bu Sarmi itu langsung mengkerut seketika.


"Besok mau beli cincin jam berapa Le? Jangan terlalu pagi. Nanti kalau ada kamu, Dhea mesti gak mau jauh", sambung Bu Sarmi kemudian.


Adi melirik jam tangannya. Sudah menunjuk angka 10.17


"Ya agak siang Bu, pagi saya ke kecamatan Wana dulu. Ini sudah malam buk, saya mohon pamit pulang dulu", ujar Adi seraya bangkit dari tempat duduknya.


Usai menyalami pak Wito, Wawan dan Bu Sarmi , Adi pamitan pada Indri. Janda muda yang statusnya segera berubah itu segera mencium punggung tangan Adi.


Motor Adi melaju meninggalkan rumah itu.


20 menit kemudian Adi sampai di rumah nya. Bu Siti yang membuka pintu rumah dengan setengah ngantuk tak melihat bibir Adi yang pecah. Adi segera melepaskan baju dan ransel punggungnya, lalu bergegas mandi.


Pagi itu Adi segera bersiap-siap. Cinta yang hendak berangkat ke sekolah, sedang memakai sepatu nya. Bu Siti yang sedang menyuapi Cinta karena gadis kecil itu terlambat bangun.


Pasangan bapak dan anak itu segera naik ke atas motor dan melaju meninggalkan rumah tempat tinggal mereka.


Usai menurunkan Cinta di depan sekolahnya, Adi melajukan motornya menuju ke arah kecamatan Wana. Sebelum memasuki wilayah kecamatan Wana, Adi mampir lebih dulu ke sebuah apotek. Membeli obat penyembuh luka dari dalam.


Duda beranak satu itu segera meneruskan perjalanan ke kecamatan usai mendapatkan apa yang dia butuhkan.


Di kecamatan Wana, Adi segera memarkir motornya. Di lokasi proyek pengaspalan jalan yang baru itu para pekerja nampak sibuk menata aspal untuk di bakar. Sedangkan beberapa nampak sedang membersihkan lokasi proyek dengan sapu lidi.


Sapri yang kebetulan hadir segera mendekati Adi. Melihat bibir Adi yang masih bengkak, si tampang admin itu kaget.


"Tuh bibir kenapa mas?", tanya Sapri penasaran.


"Biasa, jagoan ya gini. Dikit dikit pasti penuh memar", Adi cuek sambil mengambil pil yang baru di beli di apotik dan menelan nya dengan bantuan teh botol yang ada di tas ransel nya. Saat sadar belum sempat sarapan, duda beranak satu itu segera menghentikan seorang bakul etek (penjual sayur keliling pakai motor) yang kebetulan lewat. Pria itu buru buru menyambar gorengan weci favoritnya. Habis 3 biji, dia segera membayar nya. Tak lupa semua gorengan dia beli, untuk di bagikan ke pekerja nya.


"Eh Pri, bilang ke pak Purwadi ya..


Aku butuh duit nih. Kalau bisa Minggu ini yang di kecamatan Waru di cairkan. Kalau gak semua, ya minimal separuh deh", timpal Adi kemudian.


"Nanti saya kabari mas. Pak Purwadi nanti sore pulang dari Bojonegoro", ujar Sapri sambil tersenyum.


Usai mengarahkan para pekerjanya, Adi segera meninggalkan lokasi proyek pengaspalan itu. Dia memacu motornya menuju ke arah rumah Indri.


20 menit kemudian, Adi sudah memarkir motornya di depan rumah Indri. Si janda muda itu ternyata sudah berdandan cantik menunggu kedatangan calon suami nya.


"Langsung berangkat saja ya yank??", tanya Adi.


Perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Hatinya tengah berbunga bunga.


Adi segera memutar motor nya. Setelah membantu Indri untuk naik, motor Adi melaju dengan kecepatan sedang. Saat melewati proyek talud CV Multi Guna itu, Antok tak sengaja melihat.

__ADS_1


"Woyyy boss...", teriak Antok yang hanya di balas klakson 2 kali. Motor Adi terus melaju tanpa berhenti.


'Si bos sama siapa tuh?', batin Antok.


15 menit kemudian, motor Adi berhenti di depan sebuah pasar tradisional di depan eks kawedanan Daya. Ada puluhan toko emas berjajar di sepanjang jalan.


Usai memarkir motornya, mereka berdua masuk ke salah satu toko emas.


"Ada yang bisa di bantu pak buk?", tanya penjaga toko emas itu ramah.


"Itu nyari cincin buat lamaran. Ada gak??" Adi melirik ke etalase kaca.


"Oh ada pak. Silahkan kemari", jawab si mbak mbak penjaga toko emas.


Mereka berdua segera menuju ujung etalase toko. Puluhan cincin emas terpajang rapi disana. Mata Indri melebar melihat sepasang cincin sederhana yang terlihat elegan.



"Mas yang itu ya?", pinta Indri penuh harap.


Adi tersenyum tipis.


"Yang ini berapa mbak?", tanya Adi sambil menunjuk pada cincin emas pilihan Indri.


"Yang ini 2,3 juta pak, beratnya 2,5 gram kadarnya 22 karat. Bapak mau ambil yang ini?", si mbak penjaga toko menatap wajah Adi.


"Sebentar mbak..


Yakin mau yang ini yank??", tanya Adi pada Indri. Perempuan itu segera mengangguk.


"Iya mbak, yang ini tolong di bungkus ya", sambung Adi kemudian. Si mbak mbak penjaga toko emas itu segera mengambil permintaan Adi dan menuliskan nota pembelian nya setelah Adi menyerahkan duit pembayaran.


"Lainnya yank, tuh pilih aja", ujar Adi sambil memandang kearah Indri.


"Gak mas, itu sudah lebih dari cukup. Nanti saja kalau mas sudah longgar tidak ada kebutuhan lain, boleh ajak kesini lagi", Indri tersenyum bahagia. Dia malu untuk meminta lebih.


Adi tersenyum tipis. Dia suka pengertian dari calon istri nya itu. Walaupun sekarang pegang duit banyak, tapi sekarang dia masih harus mencukupi kebutuhan biaya pekerjaan nya. Tidak mungkin dia sembrono hanya untuk menuruti gengsi semata.


Dalam hati Adi berjanji, bila musim pekerjaan ini usai, dia akan membelikan perhiasan untuk Indri.


Setelah itu mereka segera berlalu dari toko emas itu. Adi menjalankan motor nya pelan saja. Perutnya lapar.


Di sebelah perempatan lampu merah, mereka berhenti.


"Kenapa berhenti mas?", tanya Indri yang keheranan.


Indri tak menyadari, di tempat mereka berhenti ada sebuah warung bakso solo. Adi segera turun dari motor nya, dan membantu Indri turun. Adi kemudian menjawab pertanyaan Indri kalem.


"Laper yank"


.


.


.


.


.


.


.


.


Duhh saking bahagianya, Indri gak merasa lapar ya 😁😁😁😁


Ikuti terus kisah selanjutnya guys jangan lupa untuk sedekah like vote dan komentar nya 👍

__ADS_1


Dukungan kalian semua sangat author butuhkan agar terus semangat menulis 😁😁


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2