Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Dhea


__ADS_3

Adi melangkah masuk ke rumah sakit. Udin hanya menatap kearah Adi yang kemudian menghilang di balik pintu resepsionis.


Saat tiba di kamar perawatan Indri, seorang gadis kecil nampak menangis. Wajahnya yang imut tampak memerah. Indri sedang berupaya menenangkan nya.


"Dhea, ibuk gak papa nak.. Cup cup jangan nangis lagi", ujar Indri sambil mengelus kepala Dhea, putri kecilnya.


Dhea terisak lirih berusaha menghentikan tangisannya.


Di dalam kamar perawatan, cuma ada Dhea dan Indri. Bu Sarmi tidak kelihatan.


"Assalamualaikum", Adi mengucapkan salam.


"Walaikumsalaam, eh Om ganteng.. masuk om", jawab Indri yang sumringah melihat kedatangan Adi.


"Dhea salim sama Om ganteng", perintah Indri pada gadis kecil itu.


Gadis kecil itu meraih tangan Adi dan mencium punggung tangan nya.


"Pintar nya.. Nama kamu siapa cantik?", tanya Adi sambil berjongkok di depan Dhea.


"Dhea ayah ganteng", jawab Dhea dengan polosnya..


"Dhea jangan nakal ya. Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu?", Indri mendelik marah pada Dhea walau hati nya berbunga bunga.


"Udah gak papa. Jangan marah terus napa sih?", Adi memandang Indri lalu mengarahkan pandangannya pada Dhea.


"Kenapa Dhea panggil aku ayah ganteng?", tanya Adi memperhatikan wajah bocah kecil itu.


"Karna Dhea gak punya ayah. Dhea pengen punya ayah", kembali air mata Dhea menetes di pipi gembul bocah itu.


Degg..


Hati Adi seperti mau rontok mendengar ucapan Dhea.


"He cup cup jangan nangis ya Dhea. Sekarang ini Dhea punya ayah. Ini ayah Dhea", ujar Adi sambil menaruh tangan mungil bocah itu di pipinya.


Dhea seketika menghentikan tangisannya.


Mulut mungil bocah itu tersenyum bahagia. Sepertinya dia senang sekali punya ayah.


Gadis kecil itu segera memeluk Adi dengan erat. Adi seketika menggendong bocah itu dan menepuk pundak nya..


Melihat Dhea begitu bahagia, Indri tersenyum tipis. Sudah lama dia tidak melihat Dhea sebahagia ini.


Adi lalu membawa tas plastik bawaannya ke atas nakas, sambil menggendong Dhea.


"Apa itu om ganteng?", tanya Indri yang penasaran.


"Nasi goreng, aku gak tau kamu suka atau tidak", ujar Adi yang lalu mendudukkan Dhea di ranjang sebelah Indri.


"Kamu mau?", tanya Adi yang di jawab Indri dengan senyum manis dan anggukan kepala.


"Anak ayah mau nasi goreng?", tanya Adi pada Dhea..


Bocah cilik itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Adi mengambil 2 piring di nakas dan menata nasi goreng spesial yang masih panas itu ke piring. Adi menyerahkan satu piring ke Indri, sedangkan satu piring dia pegang untuk menyuapi Dhea.


Dengan lahap, Dhea menyantap nasi goreng spesial yang disuapkan Adi.

__ADS_1


"Pintar nya anak ayah", puji Adi semakin membuat lahap gadis kecil itu.


Sementara Indri sangat terharu melihat om ganteng nya perhatian sama anaknya.


Dhea terus menyantap nasi goreng sampai habis separuh.


"Ayah, Dhea kenyang", ucap gadis kecil itu sambil menepuk perutnya.


Adi mengambil air minum mineral dan memberikan pada Dhea. Bocah itu langsung meminum nya. Sementara Indri terus memperhatikan interaksi antara dua orang itu. Ada raut bahagia di wajah Indri.


Usai minum, Dhea mengulurkan tangannya minta gendong Adi. Dalam gendongan Adi, Dhea menguap beberapa kali kemudian tertidur..


Bu Sarmi yang melihat kejadian itu dari luar benar benar tak bisa menahan air mata nya. Dia baru saja kembali dari membeli makanan untuk Indri. Pak Wito sudah pulang tadi sore, karna dia besok bekerja.


Perempuan paruh baya itu tau Dhea sangat merindukan figur ayah.


Bu Sarmi buru buru masuk dan menerima Dhea yang tertidur pulas di gendongan Adi.


"Maaf ya Nak merepotkan kamu", ujar Bu Sarmi sedikit malu sambil membenarkan gendongan Dhea.


"Gak papa Bu, saya juga punya anak kecil di rumah. Sudah tidak kaget dengan hal seperti ini", jawab Adi sambil mengelus kepala Dhea yang pulas tertidur.


Indri tersenyum penuh arti. Bu Sarmi juga.


Adi meletakkan sisa nasi goreng spesial nya di nakas.


"Bu ini nasi goreng nya masih ada loh. Sebaiknya di makan mumpung masih hangat", ujar Adi.


Sebuah piring, bekas alas makan Dhea segera di tumpangi kertas minyak pembungkus nasi goreng spesial. Adi mengulurkannya pada Bu Sarmi.


"Lha untuk kamu mana Le?", tanya Bu Sarmi kemudian. Perempuan paruh baya itu sudah menidurkan Dhea diatas tikar yang dia bawa dari rumah.


Mereka makan nasi goreng spesial dengan lahap.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Adi segera mohon pamit karna jam besuk sudah habis. Adi bersalaman dengan Bu Sarmi dan saat menyalami Indri, tiba tiba perempuan itu mencium punggung tangan Adi. Seperti salaman seorang istri pada suami saat suaminya berangkat kerja.


Deggg..


Jantung Adi seperti berhenti sesaat. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini.


'Ada apa dengan hatiku?'


Dengan gugup, Adi segera keluar dari kamar perawatan Indri. Bu Sarmi dan Indri memandang bayangan tubuh Adi yang menghilang di pintu rumah sakit.


"Kamu menyukainya Nduk?", tanya Bu Sarmi yang sukses membuat Indri menunduk.


"Ya kalau suka, ndak papa kog. Ibuk juga tidak keberatan", timpal Bu Sarmi kemudian.


"Tapi bu.....", ujar Indri jaim.


"Tapi apa? Dia lebih tua dari mas mu itu?", sahut Bu Sarmi seolah membaca isi hati Indri.


"Iya Bu, apa tidak jadi masalah?", tanya Indri hati hati.


"Yang kau nikahi itu orangnya, bukan umurnya Nduk. Aku sama bapak mu beda 15 tahun saja juga gak kenapa napa kog. Jangan menilai kebahagiaan itu dari sudut pandang sempit. Yang penting saling melengkapi satu sama lain. Dan ingat, Dhea suka padanya. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan mu untuk bersama dengan nya", nasehat bijak Bu Sarmi langsung membuat Indri berpikir.


'Benar juga kata ibu, dia Ganteng, baik, bertanggung jawab. Dan dia di sukai Dhea. Kurang apalagi coba?', batin Indri sambil memandang kearah pintu.


"Sudah jangan terlalu banyak mikir. Nanti di samber perempuan lain, nelangsa kamu".

__ADS_1


Ucapan Bu Sarmi seperti cambuk di telinga Indri. Wajah cantik Indri seketika memerah menahan malu.


Sementara itu, Adi sudah sampai ke tempat tinggal nya. Selesai memarkir motornya, dia bergegas menuju ruang tengah. Cinta yang ketiduran sambil memegang remote tv.


Perlahan Adi menggendong gadis kecil itu ke kamar Bu Siti dan menidurkan di kasur.


Selepas itu, Adi beranjak menuju tempat peristirahatan nya. Badannya begitu pegal setelah seharian bekerja.


Pagi menjelang tiba. Cuaca musim kemarau benar benar cerah, nyaris tanpa awan di langit.


Usai mengantar Cinta ke sekolah, Adi bergegas menuju ke arah rumah sakit daerah. Di jalan Adi sempat membeli bubur putih dan jenang dawet di tepi jalan. Adi membeli 4 bungkus.


Motor Adi terparkir di parkiran luar rumah sakit. Dengan langkah kaki tegap, Adi melangkah masuk ke rumah sakit. Di pos satpam, Udin sudah tidak ada. Mungkin sudah ganti shift.


Dhea yang sudah bangun, buru buru berlari menuju Adi saat Adi sampai di pintu kamar perawatan Indri.


"Ayah bawa apa?", tanya polos gadis kecil melihat tas plastik di tangan Adi.


"Dhea, gak sopan sayang", ujar Indri dari atas kasur.


"Namanya juga anak kecil. Wajar..


Ini ayah bawakan bubur putih sama jenang dawet. Dhea mau yang mana?", tawar Adi pada Dhea.


Gadis cilik itu tampak bingung. Kemudian berkata, " Jenang dawet yah".


Adi segera bergegas menuju nakas. Bu Sarmi jelas tidak bisa menyuapi Dhea karna sedang wash lap tubuh Indri.


Adi menyuapi Dhea dengan telaten. Bu Sarmi menggumam lirih namun masih terdengar oleh telinga Indri.


'Calon mantu idaman'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nantikan episode selanjutnya


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2