
Adi segera menutupi kikil pedes di bawah tudung saji kemudian menyusul istri nya ke kamar tidur. Rasa dingin akibat naik motor membuat nya ingin merem saja.
Di dalam kamar, Indri terlihat rebahan sambil membenarkan selimut Dhea yang melorot karena polah anak itu waktu tidur.
"Mas,
Sepertinya rencana mas untuk membuat kamar tidur lagi lebih baik di segerakan deh", ujar Indri sambil tersenyum tipis saat Adi mulai merebahkan tubuh nya di samping Indri.
"Lha kok tumben mikir seperti itu yank,
Ada yang menggangu pikiran mu?", Adi menoleh ke arah Indri.
"Aku cuma mikir mas, kalau kita gak tambah kamar yang sedikit lebih besar, nanti pasti ribet deh. Mumpung dedek belum gede", ujar Indri sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Ya juga sih, nanti aku bicara dulu sama ibuk. Kita juga perlu dengar apa katanya", Adi mengelus rambut Indri.
"Sekarang kita tidur yuk, sudah hampir subuh nih. Aku ngantuk nih", timpal Adi kemudian. Indri menurut. Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah pulas.
Dari mushola Kyai Harun, adzan subuh berkumandang keras. Namun Adi dan Indri yang baru saja memejamkan mata, terasa nyenyak tidur nya. Mereka terbangun saat Dhea membangunkan dan itu sudah jam 5.30!
Indri segera menuju ke dapur, terlihat Bu Siti sedang asyik mengulek bumbu. Tercium aroma bawang putih yang terasa menyengat di hidung Indri. Dan...
Hoooeegggghhh
Hoooeegggghhh
Lagi lagi perempuan itu muntah muntah. Sepertinya morning sicknes juga menyerang Indri. Bu Siti hanya tersenyum tipis melihat Indri yang muntah muntah akibat bau bawang putih.
'Sepertinya hidung Indri sensitif sama bau ikan dan bawang putih', batin Bu Siti.
Pagi itu Indri kembali teler dengan morning sicknes nya. Untung Adi sudah paham kondisi itu, yang sama seperti saat Cinta dalam kandungan.
Setelah mengantar Dhea dan Cinta ke sekolah mereka masing-masing, Adi bablas berangkat kerja.
Indri sedang rebahan di sofa. Perutnya mual sekali pagi itu. Sudah 4 kali dia bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk muntah muntah.
Dari depan rumah, 2 motor berhenti di halaman.
Dari kaca jendela, terlihat 4 orang turun dari motor dan bergegas masuk ke rumah Adi.
"Assalamualaikum".
Suara dari luar pintu membuat Indri bangun dari rebahan nya.
"Walaikumsalaam", jawab Indri sambil berjalan ke arah pintu rumah.
Ceklek
"Ya Allah Mak e...
Kog gak ngabarin dulu kalau mau kesini?", teriak Indri sambil memeluk tubuh tua Bu Sarmi. Ya, tamu pagi itu adalah Bu Sarmi, Nanik, Wawan dan Narsih.
"Lah, kamu biasa jebas jebus (nongol) ke rumah, kog sudah seminggu gak datang. Mak khawatir dengan mu Nduk", ujar Bu Sarmi sambil tersenyum.
"Ehh ayo duduk dulu buk.. Biar enak ngobrol nya", Indri menyalami kedua kakak nya dan Nanik sahabat nya. Mereka segera bergegas duduk di sofa.
"Anak anak mu kemana Nduk?", tanya Bu Sarmi setelah celingukan mencari Dhea dan Cinta.
"Ibuk ini pikun atau gimana to.. Ya jelas mereka sekolah to buk", sahut Wawan sambil tersenyum.
"Oiya ya, lali (lupa) aku", Bu Sarmi menepuk jidatnya seketika.
Dari arah dapur, Bu Siti melangkah menuju ruang tamu. Tadi sepertinya dia mendengar suara Bu Sarmi besannya.
"Wealah ada besan to. Apa kabar nya Bu?", Bu Siti segera menyalami besannya juga Wawan, Narsih dan Nanik.
"Alhamdulillah baik Bu,
Buk e mas Adi sendiri pripun (bagaimana)?", tanya balik Bu Sarmi.
"Sae (baik) Bu.. Eh maaf tak tinggal sebentar nggeh, saya masih masak", ujar Bu Siti segera.
"Loh kog masih masak sendiri Buk e Mas Adi?", tanya Bu Sarmi sedikit kaget. Dia sudah siap untuk mengomeli Indri karena malas di rumah mertua.
"Gak pa pa Bu. Biasanya yang masak Indri, tapi karena hidung nya lagi sensitif sama bau bawang putih, saya yang masak", Bu Siti tersenyum simpul.
__ADS_1
"Maksud nya gimana Buk e Mas Adi? Indri sakit?", Bu Sarmi penasaran.
"Mboten Bu, itu bawaan dari cucu kita", jawab Bu Siti sambil tersenyum penuh arti dan berlalu menuju dapur.
"Hahhhhh?!!!
Maksud nya kamu hamil Nduk?", Bu Sarmi menatap wajah Indri seketika. Semua orang menatap Indri seolah menanti jawabannya.
Sambil tersenyum, Indri menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah...
Kog cespleng gitu ya mas Adi?", ujar Bu Sarmi sambil tersenyum setelah melihat anggukan kepala dari Indri.
"Yo gak masalah to buk, lagian Dhea juga sudah gede. Sudah pantas punya adik. Buat apa juga di tahan tahan?", Indri langsung tertawa kecil usai berkata.
"Ih kamu itu ya.. Dulu suruh cepat cepat nikah sama Adi, alasan saja. Sekarang setelah tau enaknya punya suami mandor proyek ganteng, eh malah malu-maluin teman mu ini", ujar Nanik ikut nimbrung percakapan mereka.
"Hehehehe..
Syirik aja kau nik. Ternyata mas Adi itu perhatian banget Nik, apalagi setelah tau aku hamil gini. Minta apa aja pasti dituruti", Indri tersenyum bahagia.
"Ya memang rejeki mu Ndri,
Tapi kamu harus tetap awasi loh suami mu itu. Rawan di gaet perempuan gatel", ujar Nanik mengompori Indri.
"Lah asal ngomong aja kamu Nik..
Mas Adi itu setia, gak hobi macam macam", ujar Indri membela suaminya.
Siang itu suasana rumah Adi benar benar ramai dengan kehadiran Bu Sarmi, Wawan, Narsih dan Nanik.
Jam 14.00 mereka pamitan pulang. Indri mengantar mereka sampai di halaman rumah.
Sore itu, jam 16.15 Adi sudah sampai di rumah seperti biasanya. Baru sampai, Indri sudah mengajak Adi untuk keluar jalan jalan mumpung anak anak sekolah TPQ.
Meski lelah Adi menuruti kemauan istri nya. Motor Adi melaju menuju ke sebuah toko gerabah di selatan pasar kecamatan Selo. Indri pengen membeli tempat bekal makan untuk sarapan Adi. Karena Adi capek, Indri tak memaksa Adi untuk ikut masuk ke toko gerabah tersebut.
Adi dengan santainya menyulut rokok Diplomat nya sambil menunggu istri nya keliling toko.
Tiba tiba seorang wanita muda menjawil lengan Adi.
Ngapain disini?", ternyata itu adalah Ratna, anak bakul jenang dawet yang tempo hari ketemu di kecamatan Sambi.
"Itu ngantar istri ku belanja. Tau tuh apa yang di belinya.
Lha kamu ngapain juga disini?", tanya Adi kemudian.
"Lah mas, rumah ibuk ku kan di timur pasar itu to. Masak lupa sih?", jawab Ratna sambil tersenyum tipis.
Indri memilih kotak bekal makan untuk Adi berwarna biru baru saja membayar di kasir saat matanya melihat Adi sedang ngobrol dengan seorang wanita.
Entah kenapa tiba-tiba dia teringat ucapan Nanik tadi siang. Hatinya langsung mendidih.
Dengan segera dia mendekati suaminya itu.
"Mas...", panggil Indri sedikit keras.
"Eh sudah selesai yank,
Habis ini kemana lagi?", tanya Adi sambil tersenyum tipis kearah istrinya itu.
"Ini siapa mas?", tak menjawab pertanyaan Adi, Indri malah balik bertanya.
"Ohhh,
Kenalkan ini Ratna, teman komunitas Facebook. Rat, kenalkan ini Indri istri ku", ujar Adi kemudian.
Mereka kemudian bersalaman. Namun raut wajah kesal Indri tak dapat disembunyikan.
"Mau kemana yank?", tanya Adi setelah Indri naik ke boncengan motor.
"Pulang", ucap Indri dengan ketus.
Huft
__ADS_1
'Pasti ngambek kalau begini', batin Adi sambil melajukan motornya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Indri langsung turun begitu saja dan melangkah masuk ke dalam kamar. Adi bergegas menyusul nya. Bu Siti tidak ada dan anak anak belum pulang dari sekolah TPQ nya.
"Kamu kenapa yank? Kog tiba-tiba aneh gitu?", tanya Adi perlahan.
"Mas tu ya, bisa bisanya tebar pesona sama cewek lain saat aku sibuk memilih tempat bekal makan untuk mas..
Harusnya mas itu mikir, aku istrimu sedang mengandung anak mu. Kamu malah enak enakan ngobrol dengan perempuan", omelan Indri mengalir lancar bak air di pipa PDAM.
"Dia itu teman yank, masak dia nyapa aku diam saja?", Adi mencoba menjelaskan.
"Alah alasan..
Harusnya mas itu mikir. Mas itu sudah menikah. Jaga jarak dengan perempuan lain. Jangan tiap ada perempuan mendekat mas kasih kesempatan.
Ingat tuh cincin emas di jari manis", omelan Indri terus keluar.
"Iya iya, mas gak gitu lagi deh. Janji", Adi menahan diri untuk tidak emosi.
"Pokoknya mulai besok kalau keluar rumah harus ajak aku, gak boleh sendiri kecuali urusan kerja.
Kalau keluar gak usah rapi rapi banget. Dandan sewajarnya saja.
Ingat mas ingat.. Mas itu sebentar lagi anaknya ti..."
Belum sempat Indri meneruskan omelan nya, Adi yang gemas langsung nyosor ke bibir Indri.
Perlahan Adi menyelusupkan tangan kanan dalam kaos oblong Indri, dan meremas lembut sesuatu yang ada di situ.
Mulanya Indri menolak, tapi lama-lama dia panas juga di sentuh Adi.
Detik berikutnya, erangan kenikmatan dan desahan penuh nafsu memenuhi kamar tidur mereka. Setelah mencapai puncak asmara mereka, menata nafasnya masing-masing.
"Ayah, Buk In...", teriak Cinta dan Dhea dari luar pintu rumah membuat Indri buru buru memakai pakaian nya. Adi tersenyum lebar saat melihat istrinya tersenyum manja sambil mengerlingkan sebelah matanya sesaat sebelum berlari menuju pintu rumah mereka.
'Benar juga kata orang, semua masalah rumah tangga selesaikan di atas kasur', gumam Adi sambil tersenyum.
Ceklek...
Kepala Indri nongol dari luar pintu kamar tidur.
"Mas,
Pengen sate jamur"..
Hadehh....
Mulai lagi deh..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
__ADS_1
Yang suka dengan cerita ini, monggo silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca guys 🙏😁🙏😁🙏