
Pak Puh Bud tersenyum simpul mendengar ucapan Adi. Pria sepuh itu hapal betul watak dan kepribadian Adi.
Siang menjelang tiba, sinar matahari sudah hampir tegak lurus diatas kepala. Antok dan Wawan dibantu Pak Wito dan Yudi tampak bermandi keringat.
Adi segera menarik tangan Wawan.
"Mas,
Sudah siang. Ayo makan dulu. Kasihan, adikmu repot repot masak loh untuk kalian", ujar Adi sambil tersenyum tipis.
Wawan mengangguk pelan. Dia segera berjalan
menuju ruang tamu yang di ubah menjadi tempat makan. Antok, Pak Wito dan Yudi mengikuti langkah mereka. Di dalam rumah, orang orang yang ikut sayan ( sambatan) sudah asyik menikmati makan siang.
Indri memasak sayur lodeh kentang dan tahu. Nita membuat telur dadar bayam sementara Bu Siti membuat trancam mentimun.
Setelah makan siang, orang yang sayan (sambatan) mulai bubar. Tinggal Mas Wawan, Antok, Yudi dan Pak Wito. Mereka beristirahat sambil menikmatinya kopi dan rokok yang sudah di sediakan.
"Le, besok kita telonan loh ya.. Suruh kakak ipar mu kesini bonceng Bu Sarmi", perintah Bu Siti saat Adi melewati dapur.
"Apa gak sebaiknya di barengin dengan tingkepan (tujuh bulanan) buk?", tanya Adi kemudian.
"Lah ya terserah kamu loh Le, mau bareng tingkepan Yo gak apa apa. Asal nanti siap selamatan dobel", jawab Bu Siti sambil tersenyum.
"Ya dobel gak masalah to Bu, lagi pula pas 7 bulan nya kan pas ramai proyek lagi hehehehe", Adi cengengesan.
Tak terasa sudah 15 hari Wawan, Antok, Pak Wito dan Yudi bekerja membuat ruangan baru untuk kamar Adi. Kerja mereka bagus dan cepat. Adi puas dengan hasil yang mereka buat.
"Di, genteng nya kapan datang?
Hari ini sudah selesai loh pasti selesai loh ngusuki (memasang usuk) dan ngerengi (memasang reng kayu)", tanya Wawan saat mereka baru selesai makan siang bersama.
"Nanti sore Mas, tadi pagi agen genteng nya sudah konfirmasi. Paling sebentar lagi datang", jawab Adi sambil mengebulkan asap rokok nya sambil duduk di kursi teras.
Benar saja!
Baru selesai Adi ngomong, sebuah truk bak berwarna putih berhenti di depan rumah Adi. Si sopir berperut buncit langsung turun dari kemudi truk kemudian melangkah ke arah rumah.
"Mas Adi, ini genteng nya mau di taruh dimana?", ujar si sopir truk yang bernama Reza itu.
"Turunin di teras saja Za, wong gak banyak juga", jawab Adi segera.
"Siap Bose..", Reza segera memajukan sedikit truknya. Kemudian dua orang lelaki bertubuh kekar, segera mulai menurunkan genteng Mantili dari Trenggalek itu dari bak truk.
"Tuh mas, besok sudah bisa dipasang kan? Hehehehe", Adi menoleh ke arah Wawan yang kaget melihat truk pembawa genteng. Dalam hati dia kagum dengan adik iparnya itu.
Tiba tiba terdengar suara telepon berdering.
Dan itu nada dering dari telpon Adi.
"Mas, ada telpon nih", teriak Indri dari dalam rumah.
"Angkat aja yank", jawab Adi tetap tidak beranjak dari tempat duduknya.
Indri langsung menekan tombol hijau pada layar ponsel pintar nya Adi.
"Halo Assalamualaikum", Indri mengucapkan salam.
"Walaikumsalaam, ini benar nomor telepon nya Mas Adi?", suara seorang wanita terdengar dari seberang sana.
"Iya betul, ini siapa ya? Maaf soalnya tidak terdaftar di kontak suami saya", tanya Indri dengan sopan.
"Eh iya, ini nomor baru. Hape saya baru saja hilang. Ini Bu Rini. Bisa saya bicara dengan Mas Adi?", ternyata itu Bu Rini.
__ADS_1
"Eh iya sebentar ya Bu, saya berikan ke orang nya", Indri kemudian berjalan ke arah teras sambil menenteng hape.
"Dari siapa yank?", tanya Adi yang masih asyik melihat dua orang pekerja Reza menata genteng di sisi selatan teras rumah nya.
"Katanya namanya Bu Rini mas, buruan jawab", ujar Indri sambil mengulurkan hape di tangan nya.
Buru buru Adi menerima nya.
"Halo Assalamualaikum Bu", Adi segera mengucapkan salam.
"Walaikumsalaam. Peh mandor proyek bojone anyar neh (istrinya baru lagi). Kapan rabimu (nikahmu) mas? Kog tidak ada informasi sama sekali", cerocos Bu Rini dari seberang sana.
"Hehehehe anu Bu, cuma ijab kabul doang kog.
Ada apa Bu bos? Mau kasih kerjaan lagi ya?", tanya Adi dengan penuh semangat.
"Iyo mas, tulung garapen (tolong kerjakan) makadam di desa Wentar yo. Itu bablas ngaspal juga. Panjang 723 meter. Nilai kontrak nya 200 juta", ujar Bu Rini segera.
"Assiaapp Bu hehehehe..
Yang saluran gak ada Bu?", tanya Adi kemudian.
"Wes iki, mulai serakah e", cibir Bu Rini dari seberang telepon.
"Hehehehe maklum Bu, butuhnya banyak. Persiapan untuk babaran (melahirkan) Bu", Adi cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya.
"Pohh gas pol to. Ya udah, saluran di desa Wentar selatan kamu garap juga wes. Nilai kontrak 200 juta juga. Itung itung buwuhan saya untuk pernikahan mu Mas.
Besok uitzet ya? Tak tunggu jam 8.30 di lokasi makadam. Jangan molor datang nya ke lokasi", perintah Bu Rini, sang kontraktor bangunan besar.
"Nggeh Bu, siap. Matur nuwun sebelumnya", ujar Adi sambil tersenyum tipis.
"Oke. Wassalamu'alaikum", Bu Rini menutup percakapan mereka.
"Wassalamu'alaikum".
Ceklek.
"Ada apa mas? Kog kelihatan seneng banget", Indri menaruh cangkir kopi tubruk di meja.
"Rejeki anak Sholeh yank..
Itu tadi telpon dari Bu Rini. Besok aku diajak uitzet di desa Wentar hehehehe", Adi terkekeh.
"Uitzet itu opo mas?", Indri yang awam istilah proyek masih juga belum paham.
Adi menepuk jidatnya seketika.
"Ukur pekerjaan yank. Jadi sebelum pelaksanaan pekerjaan, itu ada yang namanya uitzet. Itu mengukur panjang pekerjaan antara CV, dinas PU, konsultan pengawas, konsultan perencana dan mandor nya", Adi menjelaskan pada Indri.
"Ngomong kek ukur pekerjaan gitu. Pakai bahasa aneh gitu, mana aku ngerti mas", Indri melengos pergi tanpa menoleh lagi.
'Hadehhh dasar perempuan,
Salah benar tetap saja ngamukan', batin Adi dalam hati.
Adi segera mendekati Antok yang baru turun dari memasang reng kayu pada usuk kap rumah Adi.
"Tok, ada pekerjaan lagi. Kamu masih mau nerusin ini atau mulai di saluran?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.
"Ya elah bos, bercandanya jelek. Seleketepp!!
Ya pasti pilih di proyek to bos, disini juga sudah ada kakak ipar mu to bos? Kan tinggal ngaci doang, 3 hari sudah rampung.
__ADS_1
Eh posisi pekerjaan dimana bos?", Antok mulai kumat kepo nya.
"Besok uitzet, kamu selesaikan kamar ku dulu, baru tak kasih tau", ujar Adi sambil tersenyum simpul.
"Ya elah bos bos, pelit banget soal informasi.
Daerah mana bos?", Antok masih ngeyel.
"Ora tak dudoi (Tidak aku kasih tau), sebelum itu genteng terpasang rapi diatap", Adi berlalu menuju teras rumah nya.
Antok pun hanya bisa pasrah...
Sore itu Adi juga menerima telepon dari Pak Purwadi. Dia punya pekerjaan rabat beton bertulang di kecamatan Wates. Besok jam 1 dia diminta hadir di lokasi proyek.
Benar benar rejeki anak sholeh.
Indri turut senang suaminya mendapat pekerjaan lagi. Memang selama masa jeda Adi banyak waktu bersama nya, tapi itu juga menipiskan tabungan sang suami. Apalagi mereka mendekati kebutuhan besar akan kelahiran anak mereka. Pasti butuh duit banyak.
Seperti biasa, Indri selalu mengajak Adi keluar saat anak anak di TPQ. Entah itu beli makanan atau sekedar naik motor keliling kecamatan Selo. Dia begitu menikmati masa pacaran dengan sang suami setelah menikah. Apalagi dulu mereka pacaran tidak lebih dari 2 bulan.
Adi pun juga memberikan hapenya kepada sang istri agar tidak ada kecurigaan terhadap pekerjaan Adi saat dia ada di rumah. Password nya juga Indri tau.
Setelah keluar dari apotek untuk membeli obat yang diresepkan oleh Dokter Herman, ponsel Adi berdering lagi saat mereka hendak meninggalkan apotek.
Tutttttt
Tuttttt..
Ceklek..
"Halo Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?", tanya Indri dengan sopan.
"Walaikumsalaam. Ini Heni. Aku mau bicara dengan Mas Adi", terdengar suara ketus dari seberang telepon.
Haahhhhh?!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya.
Oh iya, mohon doanya salah seorang sahabat author dari Indramayu positif terkena Covid-19.
Semoga sahabat segera sembuh dari penyakitnya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Pesan author : Tetap jaga kesehatan, selalu pakai masker dan selalu menggunakan hand sanitizer.
Selamat membaca kak 😁😁