Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
SAHHHH!!


__ADS_3

Indri langsung terjaga mendengar teriakan Dhea. Dia berusaha memulihkan kesadaran nya. Perlahan dia melihat sekelilingnya dan mendapati dirinya sedang dalam pelukan Adi.


Blushhh!


Semburat merah segera terlihat di wajah Indri.


'Semalam aku di keloni mas Adi? Kog tidak terjadi apa-apa?', seribu pertanyaan melintas di kepala wanita itu.


Walaupun dia tidak mengharapkan terjadi apa apa sebelum ijab kabul, tapi dalam hati kecil nya, Indri juga berharap agar Adi menyentuhnya. Adi benar benar tidak menyentuh tubuhnya, meski semalaman mereka berdua. Indri tersenyum manis menatap wajah Adi yang masih tertidur pulas.


'Dia benar benar menepati janjinya'


Indri segera mendekatkan bibirnya ke bibir Adi.


Cuppp!


Perempuan itu mencium bibir sang lelaki yang sebentar lagi sah menjadi miliknya.


"Ibuuuuukkkkkkkkkkk"


Teriakan keras Dhea kembali membuat Indri bergegas bangun, dengan perlahan dia turun dari ranjang dengan berjingkat. Berharap Adi tidak terganggu tidurnya.


Ceklek


Kriettttt....


Pintu kamar terbuka dan di depan pintu, Dhea dan Bu Sarmi sudah berdiri.


Melihat Adi di dalam kamar, Dhea hendak berlari menuju ke ranjang. Indri buru buru menyambar tubuh gadis cilik itu.


"Dhea,


Ayah masih ngantuk. Jangan ganggu ayah mu ya. Kasihan nak", ujar Indri lembut.


Dhea yang biasanya tidak mau mendengar ucapan Indri, seketika menoleh pada Adi yang masih tertidur pulas. Seakan mengerti, gadis kecil itu hanya menurut saja saat Indri membawanya ke dapur. Indri segera mencuci muka nya dan kembali ke dapur bersama Dhea.


"Kau tidak membangunkan Adi, Ndri?", tanya Bu Sarmi saat mereka di dapur.


"Semalam mas Adi ikut menyusul Lik Wito bermain kartu di depan buk, padahal sudah hampir jam 12. Dia pasti masih ngantuk", jawab Indri sambil mengaduk kopi yang baru dia seduh.


"Lah kog bisa? Tak kira kalau kalian...", Bu Sarmi tidak meneruskan kalimatnya. Dia senyum senyum sendiri.


"Ihh ibuk ngeres mulu deh.


Haram buk, belum sah", Indri merona merah wajah nya.


"Ohhh ..", hanya itu yang keluar dari mulut Bu Sarmi sambil tersenyum simpul.


"Udah, bangunin sana calon suami mu. Suruh mandi dan sholat. Dia sepertinya rajin ibadah tuh", ujar Bu Sarmi kemudian.


Indri segera bergegas menuju ke kamar tidur.


Adi masih juga tertidur pulas.


"Mas, bangun...


Udah pagi mas, buruan.. Mas sholat gak???", Indri menggoyangkan tubuh Adi.


Perlahan Adi menggeliat dari tidurnya. Matanya mengerjap sebentar, kemudian tersenyum manis.


Pria itu segera bangkit dan melirik ke gelas kopi di tangan Indri.


"Bagi kopi nya yank", ujar Adi tersenyum tipis.


Indri segera mengulurkan gelas kopi yang ada di tangannya. Adi perlahan meniup kopi dan menyeruput kopi tubruk itu.


Indri tersenyum menatap sang calon suami.


Adi segera bergegas mandi dan sholat subuh lalu berganti pakaian. Indri pun sama. Rias manten yang sudah di pesan Bu Sarmi datang jam 7 tepat. Bersamaan dengan itu, tukang dekor menata dekorasi di bawah terop.


Jam 7.30 tukang kembar mayang kampung mereka, Pak Mujiono datang membawa 2 pasang kembar mayang yang ternyata sudah di bikin semalam di rumah Wawan. 2 perjaka dan 2 perawan membawa kembar mayang itu masuk ke dalam rumah Bu Sarmi.


Usai pasrah kembar mayang, Pak Mujiono dan beberapa orang kenduri di teras rumah Bu Sarmi.

__ADS_1


"Ayo ndang di dum Kang Ji, selak awan (Ayo segera di bagi Kang Ji. Keburu siang)", ujar Pak Wito yang ikut kenduri.


"Iya Wit. Pak Naib e selak teko ( Pak penghulu nya segera datang)", jawab Pak Mujiono sambil membagikan daun jati dan daun pisang untuk alas berkat mereka.


Ingkung ayam, nasi putih dan nasi gurih, sambel goreng kentang, mie goreng dan urap sayuran menjadi menu berkat kenduri kembar mayang.


Usai kenduri, mereka segera membubarkan diri.


Pagi itu ruang tamu rumah Bu Sarmi segera di sulap menjadi tempat ijab kabul. Karpet di gelar juga beberapa tikar. Meja kecil yang di pinjam dari Kamituwo Mukti sudah tertata rapi di tengah ruang tamu. Mik speaker dari mixer sound sistem ada dua juga sudah siap.


Sementara itu jam 7.45 keluarga Adi terutama Hari dan pak Puh Bud datang dengan Cinta. Tukang rias pengantin langsung merias Cinta karena dia akan ikut mendampingi Adi melaksanakan ijab kabul.


Sementara di bawah terop, Bu Sarmi masih sibuk menyalami para tamu yang hadir.


Jam 8.30 Pak Penghulu dari KUA Kecamatan Panggung datang beserta Modin desa Marga. Pak Jamroni juga hadir.


Adi sudah bersiap dengan kemeja putih lengan panjang, jas hitam, celana kain dan kopyah hitam. Indri juga sudah terlihat cantik dengan kebaya pengantin putih, rambut bersanggul ala pengantin Jawa, jarit parang kusumo, juga kerudung putih. Make up tipis nya semakin menunjukkan kecantikan alami wanita itu.


Adi dan Indri duduk di depan meja, di sebelah kiri Adi ada Cinta dan di sebelah kanan Indri ada Dhea. Di samping Cinta ada Mas Hari dan Pak Puh Bud, sementara di samping Dhea ada Wawan dan Pak Jarno.


Sementara itu di seberang meja, ada Pak Penghulu dari KUA kecamatan Panggung, Pak Modin desa Marga dan Pak Jamroni.


Tukang photo terus mengabadikan momen paling sakral dalam kehidupan Adi dan Indri.


Pak Penghulu dari KUA kecamatan Panggung segera meraih mik speaker nya,saat jam menunjukkan pukul 9.01.


"Saya mulai nggeh bapak ibu semua.


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.


Assolatuwasala mu'alla asrofil 'anbiyaa'i wal mursaliin, wa 'ala alihi wa sobihi ajmain,


Ama bakduh..


Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita ucapkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, bahwa pada kesempatan pagi hari ini, Selasa Legi tanggal 12 April tahun 2018 kita semua masih diberikan Rahmat, Taufik beserta hidayah dari Allah SWT sehingga pada kesempatan ini kita masih bisa menghadiri ijab kabul saudara Adi dan saudari Indri.


Sholawat beserta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw yang kita harapkan syafaat nya min hada ila yaaumil qiyamah.


Langsung saja, saya tanya nggeh. Siapa yang bernama Mas Adi?"


"Woh ganteng manten e hehehehe..


Mas Adi Prasetyo, lahir 27 Desember 1985, usia 33 tahun nggeh.


Tempat tinggal Desa Mande RT 04 RW 03 Kecamatan Sela, pekerjaan swasta, status cerai hidup..


Bener ini mas?", tanya pak penghulu sambil menatap ke Adi.


"Betul pak Naib", jawab Adi dengan santainya.


"Jadi ini pernikahan kedua nggeh mas, semoga awet sakinah mawadah warahmah nggeh", ujar Pak Penghulu sambil tersenyum simpul.


Adi hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Yang bernama saudari Indri mbak e ya?", pak penghulu menatap wajah Indri yang sedikit gugup.


"Iya pak Naib, itu saya", ujar Indri sedikit grogi.


"Ndak usah grogi mbak, grogi nya nanti malam saja ya", ujar Pak penghulu yang disambut senyum dan tawa segenap hadirin di ruangan itu.


"Saudari Indri Hapsari, lahir 17 Februari 1995, usia 23 tahun nggeh.


Alamat Dusun Jetis RT 7 RW 01 Desa Marga kecamatan Panggung, pekerjaan mengurus rumah tangga, status cerai hidup.


Bener itu mbak?", tanya pak penghulu sambil tersenyum tipis melihat kegugupan Indri.


"Benar pak", jawab Indri singkat.


"Jadi ini akan jadi pernikahan kedua antara mas dan mbak nggeh, semoga selalu rukun dan bahagia sampai maut memisahkan", ujar pak Penghulu yang disambut ucapan aamiin dari para anggota keluarga dan Indri serta Adi.


"Ini siapa yang bertindak sebagai wali untuk mbak Indri Hapsari?", Penghulu berusia paruh baya itu menatap wajah Wawan dan Pak Jarno.


"Saya pak Naib, saya Wawan kakaknya", ujar Wawan sambil sedikit mendekat ke meja.

__ADS_1


"Saudara Wawan Suwondo, bener nggeh? Akan saudara nikahkan sendiri adik saudara atau njenengan wakilkan ke saya?", tanya Pak Penghulu sambil tersenyum.


"Saya wakilkan ke Pak Naib saja", ujar Wawan sedikit bergetar. Grogi berat dia.


"Yakin mas Wawan nggeh?", tanya Pak Penghulu sambil tersenyum tipis.


"Yakin pak Naib", jawab Wawan segera.


"Monggo, salaman dulu mas Wawan sebagai bukti. Nanti njenengan ikuti kata kata saya", Pak Penghulu segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Wawan segera menyambut nya.


Setelah pasrah nikah, Pak Penghulu segera berpindah menatap wajah Adi.


"Mas Adi sudah siap ijab kabul?".


"Insyaallah sudah pak", jawab Adi tanpa grogi sedikit pun.


"Masih hapal ijab Kabul ya mas? Apa perlu di ulang lagi biar mas Adi gak lupa?", tanya Pak Penghulu sambil tersenyum.


"Insyaallah masih bisa pak Naib", ujar Adi sambil tersenyum.


Pak Penghulu segera menjabat tangan Adi.


"Baiklah kalau begitu,


Nanti saat tak pijat tangan e njenengan, langsung jawab saya terima nikah dan kawinnya nggeh.


Bismillahirrahmanirrahim..


Saudara Adi Prasetyo bin Almarhum Suhadi, saya nikahkan engkau dengan saudari Indri Hapsari binti Almarhum Sujiono dengan mas kawin uang 1 juta dua ratus ribu rupiah dibayar tunai.."


Tett.


"Saya terima nikah dan kawinnya Indri Hapsari binti Sujiono dengan mas kawin uang 1 juta dua ratus ribu rupiah dibayar tunai", jawab Adi mantap.


"Bagaimana para saksi? Sah nggeh?", tanya pak penghulu pada pak Jarno dan Pak Puh Bud.


"SAHHHHH!!!!", teriak seluruh orang di ruangan itu segera.


"Alhamdulillahirobbil 'alamiin.."


Terdengar ucapan syukur memenuhi ruang tamu rumah Bu Sarmi.


Bu Sarmi tampak berkaca-kaca saat kata sah terdengar.


"Akhirnya putri bungsu ku sah menjadi miliknya Adi"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah sah yaaa❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Beribu terima kasih author ucapkan kepada semua kakak reader tersayang yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini 👍👍👍👍👍


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2