
Tak menunggu waktu lama, Adi segera mencium bibir mungil Indri dengan ganas. Indri menyambut nya tak kalah liar. Keinginan untuk menyatu dalam cinta dan kasih sayang yang sudah lama mereka tunggu, tercurah sudah pada malam itu.
Tak kurang 4 kali mereka mendaki puncak asmara membuat Adi dan Indri sama sama kelelahan dan tertidur pulas di ranjang malam pertama mereka.
Adzan subuh berkumandang keras dari mushola Kyai Samingun yang tak jauh dari rumah Bu Sarmi.
Indri terbangun saat adzan subuh menggema. Perempuan yang baru menyandang status sebagai nyonya Adi itu perlahan mengangkat kepalanya. Dilihatnya sang suami tengah memeluknya dari belakang.
Indri begitu bahagia. Bahagia dengan cara Tuhan menghadirkan Adi dalam hidupnya.
Dengan tersenyum manis, Indri membangunkan suaminya. Perlahan dia berbalik arah dan menggoyangkan bahu Adi.
"Mas.. Mas Adi..
Bangun mas, sudah subuh mas..
Mas Adi bangun, sudah subuh".
Adi mengerjapkan matanya sebentar kemudian tersenyum.
"Apa yank, imbuh (lagi)?".
"Ihhh mas, subuh mas bukan imbuh", Indri memutar bola matanya dengan malas.
"Imbuh aja deh yank", ujar Adi sambil tangannya merogoh sesuatu di bawah selimut yang menutupi tubuh Indri. Dengan lembut Adi mengelus dan meremas nya.
Indri yang semula malas, langsung panas ketika Adi beraksi. Dengan nafas memburu perempuan itu langsung bergerak mencium bibir suaminya.
Pagi itu, erangan kenikmatan dan desahan penuh nafsu kembali memenuhi ruang kamar pengantin baru itu. Benih cinta dari Adi kembali menyembur ke dalam rahim Indri.
Indri dan Adi kembali tertidur pulas setelah ritual puncak asmara mereka. Wajah Indri terlihat lelah, namun senyum puas menghiasi bibir mungil wanita itu. Dengan penuh cinta, perempuan itu tertidur di bahu sang suami sambil memeluk tubuh nya.
Suasana pagi hari di rumah Bu Sarmi kembali sibuk. Para pladen laki laki sibuk mengembalikan kursi dan meja yang mereka pinjam dari tetangga sekitar.
Sedangkan para perempuan sibuk mencuci piring dan perkakas lain nya di dapur.
Bik Sum membuat jenang sumsum (putih) untuk para rewang, sementara Yu Nem membuat juruh ( cairan pemanis dari gula Jawa).
Jam sudah menunjuk angka 7.15.
Dhea yang sudah sejak pagi ikut Bu Sarmi ke warung Bu Sutik untuk belanja sabun mandi dan sabun cuci bersama Wawan.
Ditangan gadis kecil itu sudah ada dua makanan ringan yang di beli dari warung Bu Sutik. Begitu sampai di rumah, gadis kecil yang sempat lupa akan ayahnya karena jajan, langsung berlari menuju ke kamar tidur Adi.
"Ayaaaahhhhh"..
Teriakan keras Dhea membuat Adi dan Indri kompak terbangun seketika. Setelah saling berpandangan sejenak, mereka berdua buru buru memakai pakaian masing-masing.
Usai berpakaian, mereka segera membuka pintu kamar nya dan melihat Dhea sedang berdiri di sana.
"Buk In, kenapa ada di kamar ayah?", tanya Dhea dengan polosnya.
Indri gelagapan dengan pertanyaan dari mulut putri kecilnya itu. Dia melirik ke arah Adi dan melihat Adi cengar-cengir sambil memijat lengannya, timbul ide di kepala Indri.
"Ibuk In tadi mijitin ayah Ya, kasian ayah badan nya capek", jawab Indri sambil berjongkok, menjajarkan tinggi nya dengan Dhea.
Adi segera menggendong Dhea agar tidak bertanya lagi kepada Indri. Segera dia menggendong Dhea menuju teras setelah mengerlingkan sebelah matanya pada Indri.
Indri buru buru menyambar handuk besar di dalam kamar dan bergegas menuju kamar mandi.
Sampai di dapur, Sudarti langsung berteriak saat Indri melintas.
"Woyyy manten e mbangkong (kesiangan), mambengi enek lindu lokal (semalam ada gempa bumi lokal).
Semua orang segera mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Jangan fitnah Mbak Tik, semalam gak ngapa ngapain kog", jawab Indri mencoba ngeles.
"Eehhhhh...
Lambe mu iso ngapusi Ndri (bibir mu bisa menipu Ndri), tapi gulu mu ora (tapi leher mu tidak)", ejek Sudarti sambil tersenyum penuh arti.
Indri buru buru bergegas ke kaca yang ada di lemari dapur.
Tharaaaaaaa!!!!
"Ya ampun Mas Adi....!!!", teriak Indri yang langsung merah wajah nya. Bagaimana tidak, puluhan jejak kepemilikan kemerahan mewarnai leher jenjang Indri yang putih.
Gerrrrrrr
Para rewang wanita langsung tertawa terbahak-bahak.
"Wes ora usah isin Ndri ( Sudah tidak usah malu-malu Ndri), biyen aku wes tau ngono kui ( dulu aku sudah pernah seperti itu)", ujar Bik Sum sambil senyum-senyum sendiri.
Indri segera kabur menuju ke kamar mandi sedangkan para rewang langsung terkekeh geli.
'Duh kog bisa aku sampai gak sadar dengan cupangan mas Adi sih', gerutu Indri sambil mandi.
Usai mandi, Indri langsung masuk ke dapur tanpa berhenti dan bergegas menuju kamar tidur nya untuk berganti baju.
Adi yang sedang menggendong Dhea, asyik keliling halaman rumah Bu Sarmi sambil menatap para pekerja dekor yang mulai membongkar pelaminan.
"Mas, mandi dulu sana.. Nanti kesiangan loh, bukan kah nanti habis dhuhur pondohan di sana?", Indri yang sudah berganti baju mendekati suaminya itu.
"Iya, disana nanti juga ada walimah kecil-kecilan agar tetangga tau Adi bukan duda lagi hehehe", Adi cengengesan.
Indri mengulurkan tangannya untuk menggendong Dhea, tapi bocah itu malah melorot dan kabur ke rumah Wawan. Akhirnya Adi menuju kamar tidur untuk mengambil handuk. Segera dia menuju kamar mandi yang ada di belakang dapur.
Nanik yang baru datang langsung mencegat Adi.
"Gimana mas bos? Lancar tidak semalam?", Nanik cengar-cengir sendiri karena penasaran.
"Eh nik, bukan cuma lancar tapi juga Brut.. Brut.. opo Tik Brut opo yang kayak di film gulat itu loh", Yu Nem menoleh ke arah Sudarti yang sedang mengelap piring.
"Brutal to Yu?", Sudarti meneruskan kegiatan nya.
"Ya itu, Brutal Nik", Yu Nem tersenyum tipis.
"Lha kog bisa brutal Yu Nem?", Nanik auto kepo banget.
"Gak percaya? Coba lihat nanti leher Indri,
Puhhhhh
Semalam suntuk Indri habis di hisap darah nya oleh drakula ganteng ini huahahaha", tawa Yu Nem pecah. Kembali tawa terdengar di dapur rumah Bu Sarmi.
Adi cengar-cengir sambil berjalan ke arah kamar mandi. Segera dia menyiram tubuh nya yang letih sehabis pertarungan sengit semalam suntuk. Rasa segar langsung terasa di sekujur tubuhnya.
Sementara itu Nanik yang penasaran langsung mencari Indri. Dia celingukan kesana kemari mencari teman nya itu. Melihat Indri sedang duduk memakan jajan di ruang tamu, Nanik bergegas menghampiri.
"Ini dia orangnya.."
Suara Nanik membuat Indri menoleh.
"Ada apa Nik??", tanya Indri sambil memandang kearah Nanik yang segera duduk di sebelah nya.
"Gak ada apa apa. Cuma penasaran sama omongan orang di dapur. Semalam kamu baru di gigit drakula ganteng.
Dan ternyata benar", Nanik tersenyum penuh arti.
Mendengar itu, Indri langsung salting berat. Refleks, dia menutup leher nya.
__ADS_1
"Eleh lagakmu..
Aku sudah melihatnya", Nanik menoyor kepala Indri.
"Ganas ya Ndri semalam? Berapa kali?", sambung Nanik kemudian.
"Jangan kepo deh. Urusan pribadi tau", Indri tersenyum bahagia.
"Busyet...
Pakai rahasia lagi. Dulu waktu aku nikah kamu juga tanya gitu, aku jawab. Sekarang giliran mu menjawab Ndri", Nanik kekeuh bertanya.
Indri tak menjawab hanya mengacungkan 5 jari tangan nya ke arah Nanik sambil tersenyum malu-malu.
"Gendeng..
Itu doyan apa seneng?", Nanik geleng-geleng kepala.
"Suka suka kita lah, yang penting lega", jawab Indri sengit sambil menjulurkan lidahnya ke arah Nanik.
Nanik ingin sekali menarik lidah teman nya itu.
Pagi itu semua nya sarapan jenang sumsum buatan Bik Sum. Sesuai kebiasaan yang berlaku, kalau habis rewang di masakin bubur sumsum, katanya untuk menghilangkan rasa capek.
Menjelang siang, Bagio si juragan terop datang untuk membongkar terop dan sound sistem nya. Tak lupa memberi tahu Adi kalau elekton plus pesanan nya siap nanti sore. Adi mengacungkan jempol tanda mengerti. Sebenarnya niat Adi elekton plus nya disini, tapi karena waktunya berbenturan dengan prosesi pernikahan, maka di pindah ke rumah Adi.
Pas tengah hari, Eko datang ke rumah Indri. Sesuai kesepakatan, hari ini pondohan ke rumah Adi. Bu Sarmi juga meminta Wawan, Pak Jarno juga beberapa orang untuk ikut kesana. Sudah di sewakan mobil. Sudarti, Yu Nem, Bu Yati dan Bik Sum serta Nanik ikut kesana.
Mobil Eko perlahan meninggalkan rumah Bu Sarmi.
"Bos, acara nanti habis magrib kan?", tanya Eko sambil menatap jalan rabat yang di lalui nya.
"Iya, kamu harus datang. Kamu harus nyanyi", ujar Adi sambil tersenyum tipis.
"Kog nyanyi bos? Emang ada apa?", Eko penasaran.
Adi tersenyum lebar dan berkata,
"Dangdutan".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
😁😁