
"Kau mau nikah lagi Le?", tanya Darsiman penasaran.
"Ya Lek Man, biar kalau malam tidur ada yang ngelonin dah hehehehe", Adi cengengesan sambil mengeluarkan sebungkus rokok Diplomat, mengambil sebatang dan menyulutnya.
"Bener itu Le, tidur itu kalau sendiri gak enak..
Yo dengerin tuh Yo, kamu itu harus nikah lagi. Contoh ponakan mu itu. Sudah bisa melupakan sakit hati nya. Sudah bisa mup mup opo Yo mup... ", Darsiman lupa lupa ingat kata bahasa Inggris itu.
"Move on Lek", sahut Adi kemudian.
"Ya itu mup on Yo, kamu itu harus mup on.. Tak baik berlama lama menduda, tuh liat ponakan mu", Darsiman terus menerus mengomeli Darsiyo.
Darsiyo yang jarang bicara, langsung nyeletuk.
"Lah ponakan gemblung buat apa ditiru?".
"Wooo dasar duda pikun, di kasih tau malah ngegas", gerutu Darsiman sambil meneguk kopi nya.
Adi hanya tertawa kecil mendengar dua saudara itu bertengkar. Lucu lucu nyebelin gimana gitu pokoknya hehehehe..
Dengan pertimbangan penuh, Adi ingin mulai membagi orang nya menjadi dua kelompok. Soalnya waktu pekerjaan dari Bu Rini ini juga terbilang mepet. Sebelum deadline pekerjaan sudah harus selesai.
"Lek Man, gak kasbon lagi?", tanya Adi pada Darsiman.
"Gak Le, wong besok juga sudah rampung. Sekalian besok saja", jawab Darsiman sambil beringsut hendak bekerja lagi.
Setelah meneguk kopi pemberian warga setempat, Adi segera memutar motor nya. Motor Adi melaju kencang meninggalkan tempat itu menuju ke arah kecamatan Wana.
"Loh Kang, bensin mu kan habis, lha kog gak bon?", tanya Darsiyo mengingatkan.
"Woh lha iyo yo, kog goblok banget sih aku. Trus nanti pulang nya gimana Yo?", Darsiman kini kebingungan. Duit nya tinggal 2 ribu rupiah.
"Lha Yo mbuh kang, aku ya gak punya duit kog", Darsiyo garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu sih gak ngingatin aku lebih awal", gerutuan Darsiman langsung keluar.
"Yeee situ yang salah, kenapa ganti nyalahne orang lain?", Darsiyo tidak terima.
Mereka berdua terus ribut sampai sore.
Sementara Adi langsung menuju proyek pengaspalan di kecamatan Wana. Setelah melewati hutan jati yang sedang meranggas, Adi tiba di lokasi pekerjaan di kecamatan Wana.
15 pekerja nya tampak sibuk bekerja. Ada yang mengayak koral, ada yang menyapu lobang di jalan aspal. Adi langsung memarkir motornya di pinggir jalan dekat tempat tungku aspal.
Operator alat tumbuk, Alan, mendekatinya.
"Bos, selesai sini pindah kemana?", tanya operator muda itu.
"Rencana sih ada, tapi pelaksanaan yang belum", jawab Adi sambil melepas helm nya dan menggantungnya di setang motor Vixion.
"Maksudnya bos? Gak paham aku", Alan penasaran.
"Ya pokoknya ada pekerjaan aspal. Ni masih bingung menata pekerja nya", Adi menatap para pekerjanya.
"Oh gitu. Lokasi nya mana bos?", Alan mulai kepo.
"Dekat rumah", jawab Adi singkat padat dan jelas.
Alan diam tak bertanya lagi.
Adi langsung mendekati Ismoyo. Pekerja lama nya itu sedang asyik menyapu jalan berlubang dengan sapu koreknya.
"Is, sini kamu".
Mendengar suara Adi, laki laki bujang lapuk itu langsung bergegas menuju ke Adi. Perlahan dia melepas kaos oblong yang berubah fungsi menjadi masker di wajah nya.
__ADS_1
"Ada apa bos?? Kayak penting banget deh", tanya Ismoyo sambil mengibaskan tangannya ke arah leher. Gerah.
"Besok kau pindah ke depan SMP Jati. Menata makadam. Bisa kau?", Adi menatap Ismoyo.
"Lah ya bisa bos. Cuma siapa teman ku? Masak aku sendiri bos?", Ismoyo balik bertanya.
"Kalau kamu, cocok dengan siapa??", Adi mengeluarkan sebungkus rokok, dan menawarkan pada Ismoyo. Laki laki itu segera mengambil sebatang dan menyulutnya.
"Aku itu ikut bos e saja, tapi kalau di suruh milih ya, aku lebih cocok dengan Gunadi itu bos. Dia itu kayak kebo. Tenaga nya kuat dan yang paling penting, tidak banyak omong", Ismoyo mengebulkan asap rokoknya.
"Yo wes, besok kamu kesana sama Gunadi. Juga cari tambahan 3 orang lagi. Jangan yang disini. Orang baru maksud ku. Bisa gak?", tanya Adi kemudian.
Ismoyo hanya mengacungkan jempol nya.
Usai urusan Ismoyo beres, Adi segera mendekati Pak Warno.
"Pak No, besok Ismoyo aku pindah ke depan SMP Jati. Untuk mulai menata onderlaag disana.
Sama Gunadi juga.
Kamu punya orang lain lagi gak??", Adi menatap wajah tua pak Warno.
"Kalau orang yang mau ikut sih banyak bos, cuma saya tidak yakin mereka bisa kerja atau tidak", balas pak Warno sambil melemparkan kayu pada tungku aspal nya.
"Aku butuh tambahan tenaga sedikitnya 5 orang. Untuk ganti Ismoyo dan Gunadi, 2 orang. Tambah 3 orang untuk membantu Ismoyo disana.
Bisa kau usahakan??", Adi menyulut rokok nya yang sempat mati barusan.
"Kalau ada, langsung kerja disini atau di depan SMP Jati bos?", tanya kepala kerja itu.
"Depan SMP Jati aja dulu pak No", Adi mengebulkan asap rokok nya.
Pak Warno manggut-manggut tanda mengerti.
Usai menata orang di proyek pengaspalan jalan itu, Adi memutuskan untuk pergi ke proyek talud tikungan CV Multi Guna.
Cacing di perutnya sudah menyanyikan lagu orkestra sedari tadi.
Usai mengisi perut nya, Adi melanjutkan perjalanan. 10 menit kemudian, motor itu sudah sampai di proyek talud tikungan.
Molen beton mereka tidak berbunyi lagi. Memang pekerjaan itu sudah bisa dikatakan selesai. Tinggal nyetrik dan ngeban saja. Juga memasang plonto. Sebuah papan nama juga sudah terpasang disana.
Antok tampak serius mengoleskan campuran semen dan air untuk membuat cover pada lapisan atas.
Melihat Adi datang, laki laki itu segera berhenti dan mendekati bos nya itu.
"Bos, kita jadi pindah ke kecamatan Sambi kan?", tanya Antok.
"Lha kalau sini rampung ya pindah kesana Tok", jawab Adi sambil memandang pekerjaan nya itu.
"Ini kan tinggal bagian ngover bos, sebagian orang kita bisa di pindah ke kecamatan Sambi", Antok memberi pertimbangan.
Hemmmm
"Besok bawa beberapa orang mu, siapkan pikep sekalian.
Bisa kau?", Adi menatap wajah Antok.
"Siap bos, siap thok ini", jawab Antok segera.
Adi tersenyum saja mendengar jawaban Antok. Jam sudah menunjuk angka 15.00
Adi segera memutar motor Vixion nya, lantas menggeber motornya itu menuju ke arah rumah Indri. Setelah melewati jalan rabat beton itu, Adi sampai di rumah Indri. Perempuan itu terlihat sedang duduk di kursi teras rumah.
Begitu melihat Adi datang, Indri langsung berdiri. Dengan sedikit terpincang-pincang, janda muda itu mendekati Adi.
__ADS_1
"Lah kog gak pakai kruk yank??", tanya Adi sambil melepas helm nya.
"Latihan mas. Aku gak mau nanti pas ijab kabul aku masih pakai kruk", jawab Indri sambil menyambut uluran tangan Adi dan mencium punggung tangan nya.
"Apa masalah nya yank?", Adi segera menuntun tangan Indri.
"Ya aku gak mau bikin mas malu", Indri terus berjalan dengan di tuntun Adi.
"Yank, kenapa harus malu? Dengar ya yank.. Aku mau nikah sama kamu bukan karena aku itu menikahi kesehatan mu. Aku itu nerima kamu apa adanya, bukan semata-mata karena fisik mu saja".
Ucapan Adi sontak membuat Indri terharu. Adi benar benar baik pada nya. Mata perempuan cantik itu langsung berkaca-kaca.
"Yehh malah nangis. Kenapa yank? Aku salah ngomong ya?", Adi kebingungan.
"Gak mas, mas gak salah kog.
Indri terharu mas Adi begitu baik sama Indri, sama Dhea, sama ibuk. Indri bersyukur bertemu sama mas", bulir air mata bening perlahan menetes dari mata janda muda itu. Indri segera mendudukkan tubuhnya di kursi teras rumah.
"Yank, aku datang di hidupmu itu untuk membawa bahagia, bukan air mata.
Aku tidak bisa menghapus semua luka hati mu, tapi setidaknya biarkan aku mengobati rindu mu pada cinta dan bahagia", ujar Adi kemudian.
Ohhh so sweet!!!!
Entah kesambet setan darimana Adi bisa gombal kayak gini. Perempuan mana yang gak meleleh mendengar gombalan maut Adi? Melting kan?
Dan cup...
Indri segera mencium pipi sang calon suami dengan cepat. Adi terpana. Tak diduga dia dapat sweet kiss on his right cheek. Ah bahasa apa sih, ciuman manis di pipi kanan Adi maksud nya.
Ketika sadar aksi Indri barusan, Adi dengan bloonnya langsung memasang pipi kirinya.
"Yang kiri belum yank"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author paling gak kuat sama part romantis 🤦
Ngiri bingit pokok e 😁😁😁
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada novel ini yak, semoga yang sudah meninggalkan jejak dapat rejeki yang berlimpah ❤️❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁