
"Sudah puas melihat kegantenganku?"
Indri tersentak mendengar suara Adi yang masih menutup mata. Rupanya Adi sudah bangun dari tidurnya sejak tadi.
"Mas sudah bangun?', Indri berusaha meyakinkan diri nya kalau itu adalah suara Adi.
"Sejak tadi pagi saat kamu masih ngelonin aku yank", jawab Adi sambil membuka matanya. Senyum manis mengembang di bibirnya.
Wajah cantik Indri langsung merona merah.
'Berarti dia sudah tau apa yang ku lakukan sejak tadi. Duh malunya', gumam Indri dalam hati.
Indri yang merasa malu, hendak beranjak dari ranjang tapi tangan kekar Adi menahan tubuh nya. Dengan cepat Adi langsung menarik tubuh Indri yang kemudian langsung menindih tubuh Adi.
Saat mata mereka bertemu, ada desir desir aneh yang memenuhi hati Indri. Perlahan Adi mendekatkan wajahnya ke wajah Indri, dan perlahan mencium bibir mungil janda cantik itu.
Seperti terbius pesona sang duda, Indri hanya pasrah saat lidah Adi mulai mengeksplorasi mulutnya. Lidah mereka saling berpilin layaknya ular yang sedang bercinta.
Sebagai wanita normal yang sudah pernah merasakan surga dunia tentu saja Indri juga merindukan saat disentuh oleh lelaki.
Nafas mereka sampai terengah-engah akibat hot kiss mereka pagi itu. Perlahan tangan Adi mulai menyelusup ke belahan dada Indri.
Indri semakin gelagapan dengan serangan Adi, antara iya dan tidak. Ingin menolak, tapi dia juga menginginkan hal itu.
Saat mereka hampir mencapainya titik tidak bisa berhenti, suara erangan Dhea membuyarkan kegiatan panas mereka di pagi hari ini
Oaaahhhhh..
Gadis kecil itu menggeliat dari tidurnya yang nyenyak.
'Duh Dhea kenapa mesti bangun sih?', gerutu Indri dalam hati.
Adi dan Indri langsung menjaga jarak agar Dhea tidak curiga.
Yah sudah resiko. Kalau sudah punya anak, mau cari waktu bersama memang harus nunggu anak tidur hehehehe....
Dhea mengerjapkan matanya. Melihat Adi masih di sampingnya, gadis kecil itu meringis memamerkan gigi susu nya yang ompong.
Adi bangun dari tempat tidur nya. Dengan langkah pelan dia menuju kamar mandi, untuk mencuci muka dan mandi.
Usai mandi, ternyata Bu Sarmi sudah merebus air untuk bikin kopi. Adi menunduk dan segera melangkah ke ruang tamu.
Indri segera mengantar Dhea ke kamar mandi untuk mandi. Walaupun dengan sedikit tertatih, Indri mulai terbiasa berjalan tanpa kruk nya.
Adi menyulut sebatang rokok yang dia ambil dari tas kecilnya.
"Diminum Le, mumpung masih hangat", ujar Bu Sarmi sambil meletakkan segelas kopi yang baru dia buat.
"Terimakasih buk", Adi mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, Indri dan Dhea masuk ke ruang tamu.
"Bu, kalau boleh tau, nanti yang ke rumah berapa orang??
Habis ini saya pulang ke rumah dulu sebelum berangkat kerja", tanya Adi sambil menatap wajah tua Bu Sarmi.
"Belum tau Le, nunggu Jarno dulu. Dia bilang pagi ini mau kesini.
Kita tunggu saja. Kamu agak telat berangkat kerja gak masalah to?", tanya Bu Sarmi kemudian.
Adi hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Jam sudah menunjukan pukul 8.15 saat pak Jarno datang ke rumah Bu Sarmi. Setelah memastikan bahwa kedatangan mereka setelah magrib, Adi berangkat kerja. Indri mengantar Adi sampai ke teras. Tak lupa mencium punggung tangan Adi.
Motor Vixion Adi segera meraung meninggalkan rumah itu.
Adi langsung mampir ke proyek talud tikungan CV Multi Guna itu. Antok tampak sedang menaikkan molen beton nya ke atas pikep.
Adi sedang mendekati nya.
__ADS_1
"Kamu sudah tau lokasinya Tok?", tanya Adi pada kepala tukang nya itu segera.
"Lha ya belum to bos, nanti kan bos antar baru tau", jawab Antok sambil mengikat tali pada molen beton nya.
"Hari ini aku repot. Kamu tau tempat nya Tok, sebelah pekerjaan kita dulu di selatan rel. Lewat nya pasar Sambi ke selatan", Adi menatap ke arah pak Wito yang sedang meladeni pak Hari yang sedang ngeban.
"Yang kuburan itu ke selatan ya bos?", tanya Antok kemudian.
"Ya, sudah ada patok nya. Kamu gali gali dulu", jawab Adi singkat.
"Assiaapp bos", gaya Antok lebay.
Adi hanya tersenyum kecut mendengar gurauan Antok.
Setelah meninggalkan duit buat beli bensin plus sewa pikep, Adi meninggalkan lokasi proyek talud itu. Dengan cepat, motornya menuju ke arah kecamatan Sela tempat tinggal nya.
20 menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah nya. Begitu sampai, duda beranak satu itu segera menuju ke arah dapur karena tercium bau gorengan.
Terlihat Nita sedang menggoreng kentang dan bumbu dapur. Yu Sih sedang mengiris tahu dan tempe.
"Mbak, Buk e kemana?", tanya Adi sambil meraih kentang goreng yang baru saja matang.
"Ke rumah Jeng Retno, pesen ayam potong untuk nanti malam.
Kamu sih semalam pakai nginep di rumah Indri. Bikin ibu kerepotan", gerutuan Nita terdengar.
Hehehehe
Adi terkekeh geli mendengar omelan kakak iparnya itu.
"Malah ketawa lagi, dasar gak jelas.
Mbok ngempet (tahan), wong bentar lagi juga sudah sah", Nita kesal dengan ulah Adi.
"Sebenarnya juga gak mau nginap mbak, tapi Dhea ngamuk gak mau tak tinggal. Yo terpaksa harus menginap..
Itu juga karena dipaksa Bu Sarmi", ujar Adi mencoba menjelaskan.
Dhea apa Dhea? Jangan jangan ibuk e Dhea", Nita mencibir ke arah Adi.
Hemmmm
"Percaya atau tidak itu bukan urusan ku,
Yang penting aku sudah jujur apa adanya", Adi menghela nafas panjang.
Dari arah ruang tamu, Bu Sarmi datang membawa satu tas plastik besar berisi daging ayam potong. Di belakangnya, Sartik tetangga depan rumah Adi membawa satu tas plastik yang sama.
"Kog banyak amat buk? Kayak mau tahlilan saja", komentar Adi saat melihat banyaknya daging ayam yang di beli.
"Gak usah protes. Ini untuk keluarga besan ku, bukan untuk kamu", omel Bu Siti sambil berlalu.
Adi tersenyum tipis sambil menyambar kentang goreng buatan Nita. Setelah memberitahukan kepada Bu Siti tentang jam kedatangan keluarga Indri, Adi berangkat kerja lagi.
Seperti biasanya, dia keliling wilayah Gandu, SMP Jati dan Wana. Menjelang sore, Adi sudah sampai di rumah. Duda beranak satu itu segera bergegas mandi dan berganti pakaian.
Kesibukan terlihat di rumah Adi.
Pak Puh Bud, Mas Hari, Paklik Di dan Heru anak Paklik Di sudah datang sebelum magrib tiba.
Bu Sarmi, Budhe Mut, Nita, Bulik Nur dan Diah istri Heru juga sudah bersiap. Di dapur Yu Sih dan Sartik sibuk menata nasi dan lauk pauk, juga jajan jajan diatas piring.
Adzan magrib berkumandang.
Usai sholat bergiliran, mereka menanti kedatangan keluarga Indri sambil bercakap-cakap.
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil Xenia datang di ikuti 4 motor.
Keluarga Adi segera keluar menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Sugeng rawuh Pak Jarno, selamat datang di gubug keluarga Bu Siti sekeluarga.
Monggo silahkan masuk", ujar Pak Puh Bud pada Pak Jarno sambil bersalaman.
Dari keluarga Indri yang datang adalah Pak Jarno, Pak Wito, Bu Sarmi, Narsih, Indri, Nanik dan seorang sopir rental bernama Tatok. Dhea dan Aldi ikut di mobil. Barisan bermotor ada Sudarti, Yu Nem, Sandi dan Aris.
Mereka segera bergegas masuk.
Adi di dalam duduk bersama Cinta segera berdiri saat mereka masuk. Senyum manis nya segera mengembang saat Indri dan Dhea masuk ke rumah.
Setelah rombongan duduk di lantai rumah yang di lapisi permadani Made in Tulungagung, mereka segera di suguhi aneka jajan dan minuman.
"Mohon maaf sebelumnya Mas Bud. Kedatangan kami sekeluarga bermaksud menjelaskan perihal lamaran kemarin.
Tadi saya sudah tanya sama Mbah Sunar, soal tanggal dan hitungan yang di pakai acara menikahkan Adi dan Indri", ujar pak Jarno membuka omongan serius.
"Ya ya Mas Jarno, saya mengerti. Terus gimana selanjutnya? Kami dari keluarga sini hanya ikut saja, soalnya ijab kabul di rumah sana", Pak Puh Bud tersenyum tipis.
"Iya mas Bud,
Dari Mbah Sunar, tanggal 12 bulan depan. Ijab kabul pagi jam 9, hari nya Selasa Legi. Kalau temu manten nanti habis magrib di lanjutkan malamnya walimah", ujar Pak Jarno menatap ke arah Adi dan Indri yang duduk berjejer.
"Berarti sebulan kurang ya mas Jarno?
Wah Di, siap siap kamu cari surat ke pak Modin Jamroni segera ini", Pak Puh Bud tersenyum simpul memandang kearah Adi.
"Siap to kamu?".
Adi tersenyum tipis sambil mengacungkan jempol nya.
"Harus siap, biar besok kalau tidur disana tidak takut dengan warga lagi yo mas bos", timpal pak Wito kemudian.
Gerrrrrrr
Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kata kata pak Wito.
Adi dan Indri kompak menunduk. Wajah mereka merah menahan malu.
Duhhh...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat ya Mas Adi dan Mbak Indri 😁😁
Bulan depan sudah SAH loh 😎😎
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ya ❤️❤️❤️
Love you pull sekebon pisang 😂😂😂
__ADS_1
Selamat membaca guys 🙏🙏