Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Keong Racun


__ADS_3

Pagi itu Adi dengan segera menelepon Eko, sopir carteran langganan nya untuk menjemput Indri di rumah sakit.


Eko patuh, dan segera meluncur ke rumah Adi.


"Mau kemana bos? Tumben ngajak aku", tanya Eko saat Adi melangkah masuk ke mobil sejuta umat nya.


"Jemput orang di rumah sakit. Baru kecelakaan, tapi cuma retak tulang kaki saja", jawab Adi sambil memasang sabuk pengaman mobil.


"Cewek apa cowok bos?", tanya Eko menyelidik.


"Apa ada bedanya jemput cewek sama cowok Ko?", Adi membuka kaca samping mobil lalu menyulut rokok Diplomat favoritnya.


"Ya beda lah bos, kalau cewek kita mesti lembut. Pakai perasaan. Sepenuh hati dan pikiran", ujar Eko lebay sambil memundurkan mobil sejuta umat nya.


"Lha kalau cowok gimana coba?", Adi melirik spion.


"Ya lempar aja bos, biar mampus sekalian hehehehe", Eko terkekeh geli. Adi mendelik geram.


Mobil meluncur cepat kearah rumah sakit. Setengah jam kemudian, mobil sejuta umat nya Eko mulai masuk parkiran rumah sakit. Adi lalu turun dan bergegas ke ruang kasir untuk menyelesaikan administrasi dan sisa pembayaran.


Beres semua, Adi berjalan ke kamar perawatan Indri. Tampak Bu Sarmi dan Wawan sedang membereskan semua barang bawaan dari rumah.


"Bu, mobil nya sudah siap", ujar Adi begitu masuk ke kamar. Indri tersenyum tipis, begitu juga Bu Sarmi. Hanya Wawan saja yang wajahnya masih di tekuk. Si kecil Dhea langsung menghambur ke arah Adi dan mengulurkan tangannya minta gendong. Adi menggendong gadis kecil itu.


Tak berapa lama, seorang suster masuk sambil mendorong kursi roda. Dengan di bantu Wawan dan suster, Indri di naikan ke kursi roda. Kemudian Indri di dorong suster sedangkan Bu Sarmi dan Wawan membawa barang bawaan. Adi? Tentu saja menggendong Dhea.


Sesampainya di parkiran mobil, Eko buru buru membuka pintu belakang mobil sejuta umat nya. Dengan bantuan Wawan dan suster, Indri dipindahkan ke dalam mobil. Eko lalu membuka bagasi, dan membantu Wawan dan Bu Sarmi memasukkan semua bawaan. Bu Sarmi segera masuk ke mobil di sebelah Eko, sedangkan Adi dan Dhea duduk di samping Indri.


Seorang perawat laki laki berlari mendekati mobil.


"Maaf pak, kruk nya ketinggalan".


Adi menerima kruk dan menaruh nya di belakang. Mobil Eko perlahan meninggalkan rumah sakit, sedangkan Wawan naik motor Supra nya. Sepanjang perjalanan, Dhea yang di pangku Adi selalu mengoceh membuat suasana meriah. Yang membuat Eko bertanya tanya adalah sebutan ayah dari bibir Dhea untuk Adi.


30 menit kemudian, mereka sudah sampai di Warkop X. Lewat jalan rabat beton di samping warkop X, mobil sejuta umat nya Eko melaju mulus. Mereka lalu berhenti di sebuah rumah semi permanen, dengan sebagian besar terdiri dari lembaran kayu jati. Rumah bergaya klasik ini lumayan besar. Ada sebuah pohon sawo besar di tengah halaman nya.


Keluarga besar Indri berkumpul ramai di halaman rumah termasuk Bu Yati istri pak Wito dan Narsih istrinya Wawan.


Eko buru buru turun dan membuka bagasi mobil sejuta umat nya. Dibantu Bu Sarmi dan keluarga Indri mereka mengeluarkan barang bawaan.


Dhea langsung berlari ke luar. Sementara Adi perlahan membantu Indri. Takut membuat Indri cidera, Adi langsung menggendong nya.


Semua orang melongo melihat aksi Adi. Indri wajah nya merah seperti tomat matang.


"Om ganteng, turunin", bisik Indri yang melirik ke arah keluarga nya. Pandangan mereka penuh sejuta tanya.


"Ogah, kalau kamu sampe gips nya geser terus cedera lagi, siapa yang mau tanggung jawab selain aku??", Adi cuek.


Bu Sarmi tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Buru buru perempuan tua itu mendahului Adi dan membuka pintu rumah nya. Kemudian mengarahkan Adi untuk menidurkan Indri di salah satu tempat tidur yang ada di ruang tamu.


Bu Sarmi langsung berlari ke arah dapur, membuatkan kopi tubruk untuk Adi dan Eko.


Adi keluar dari rumah dan menyulut rokok Diplomat favoritnya. Eko segera mendekatinya.


"Bos, itu anak beneran anakmu ya?, Eko tak dapat menahan beban pikiran nya lebih lama lagi.


"Memang kenapa?", tanya Adi balik.


"Ya gak papa sih, cuma aku penasaran. Si bos kapan kawin nya dengan perempuan itu si Aaah siapa bos namanya??", Eko menggaruk kepalanya.


"Indri maksud mu"


"Ya itu si Indri. Kapan bos? Orang aku juga tau, si bos baru 2 tahun resmi jadi duda", Eko terus mencecar pertanyaan pada Adi yang terlihat santai.


Hehehehe


Tawa Adi membuat Eko kebingungan.


"Nak, kesini..


Sudah tak buatkan kopi", kata Bu Sarmi sambil membawa nampan berisi kopi tubruk menyelamatkan Adi dari kepo nya Eko.


"Yuk ngopi dulu Ko, untuk obat ngantuk", Adi segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Eko mengekor di belakang nya. Suasana di rumah semakin ramai. Para tetangga berdatangan menjenguk Indri. Ada juga yang penasaran ingin melihat wajah Adi.


Nanik, tetangga Indri yang biang gosip, mendekati Indri sambil berbisik lirih.


"Iya mbak Nik, dia itu juragan nya Pak Wito yang punya proyek plengsengan di tikungan itu loh", jawab Indri.


"Wohhh ganteng juga ya Ndri. Dan sepertinya orang kaya. Udah sikat aja Ndri", kompor Nanik sambil tersenyum simpul.


"Emangnya baju pakai di sikat mbak??", Indri tersenyum tipis.


"Lha daripada kamu kelamaan jadi janda, kalau ada yang bening bening gitu buat apa nunggu lama lama? Coba kalau aku janda, sudah aku kekepin itu orang hehe", ujar Nanik cengengesan.


"Itu mulut makan apa sih tadi pagi, lancar benar ngomong nya? Ingat mas Waluyo, mau taruh dimana?", Indri mendelik sambil tersenyum.


"Yah Ndri, Mas Waluyo jauh kalau di banding dia. Ibarat langit dan bumi. Kalau boleh jujur nih, aku rela tukar mas Waluyo dengan dia. Nombok juga gak apa apa", Nanik memelas.


"Dasar nih orang. Keong racun", potong Indri sambil memandang kearah Adi.


'Om ganteng itu benar-benar mempesona. Keong racun seperti Nanik saja klepek klepek melihat dia, apalagi perempuan lain'.


Adi yang sudah menghabiskan kopi tubruk nya segera berdiri. Lalu mendekati Indri dan menyerahkan duit 10 lembar merah.


"Apa ini om ganteng??", ujar Indri kebingungan.


"Buat pegangan. Kalau pengen apa apa kan tinggal nyuruh ibuk", ujar Adi.

__ADS_1


Nanik melotot memandangi duit itu.


'Indri beruntung banget sih bisa kenal laki laki ini'


"Gak usah repot-repot om ganteng, aku masih punya pegangan kog", jawab Indri menolak halus. Namun Adi tetap menaruh duit itu di dekat Indri. Adi lalu mengulurkan tangannya dan Indri segera menyambut nya. Tak lupa mencium punggung tangan Adi.


"Buk, Adi berangkat kerja dulu ya. Sudah siang ini", pamit Adi sambil melangkah keluar rumah.


Bu Sarmi buru buru bergegas dari dapur.


"Kog buru buru Le?"


"Sudah siang buk, waktunya kerja. Adi titip Indri sama Dhea ya buk. Kalau ada apa-apa, Indri sudah punya nomer telpon ku", jawab Adi sambil menyalami Bu Sarmi. Eko ikut menyalami. Mobil Eko perlahan meninggalkan rumah itu.


Bu Sarmi mengantar sampai pagar.


"Semoga saja dia jadi mantu ku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.......


*Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍

__ADS_1


Author juga punya karya lain nya. Yang suka cerita silat Nusantara, ini karya author khusus buat kamu*



__ADS_2