
Nita kaget mendengar ucapan Indri. Bu Siti dan Bu Sarmi juga terkejut.
"Maksud kamu anak mu kembar Le?", tanya Bu Sarmi segera.
"Iya Buk, Dokter Herman tadi sudah memastikan bahwa anak kami kembar cowok", Adi tersenyum tipis.
"Kalau dari keluarga kami sih tidak ada riwayat kembar Jeng", ujar Bu Siti seraya mengingat silsilah keluarga nya.
Bu Sarmi hanya tersenyum tipis.
"Kalau dari kami ada Bu.. Itu si Jarno juga lahir kembar cuma sayang nya kembaran nya si Jarni meninggal dunia saat berusia 6 tahun. Sakit tipes dan tidak segera tertolong oleh dokter", Bu Sarmi melirik ke arah perut Indri yang besar. Memang tidak sewajarnya perut perempuan hamil segede itu.
Adi dan Indri hanya tersenyum saja mendengar ucapan keluarga mereka.
Setelah mengetahui bahwa Indri mengandung anak kembar, Adi semakin sayang pada istri nya itu. Apalagi dia tahu bahwa dua anak kembar nya itu adalah cowok, beuh Adi luar biasa manjain Indri nya.
Apa apa sedikit saja, Adi memilih untuk mengerjakan nya daripada harus melihat Indri yang kerepotan bergerak dengan perut besarnya.
Untuk kontrol ke bidan saja, Adi menyewakan mobil sejuta umat nya Eko agar Indri tidak harus naik motor. Walaupun Indri protes karena memboroskan uang, tapi dia juga tidak berdaya menolak kemauan Adi.
Sembilan bulan sembilan hari sudah Indri mengandung. Kaki nya membengkak membuat Adi mesti rela memijat kaki sang istri yang mengeluh kecapekan.
"Masih sakit yank?", tanya Adi sambil terus memijit kaki istri nya itu dengan penuh perhatian.
"Sudah gak mas, terimakasih ya. Mas sangat baik pada Indri", jawab Indri sambil tersenyum tipis.
"Ya harus dong yank,
Ini kan hasil perbuatan ku", seloroh Adi yang disambut cubitan mesra Indri.
"Mulai deh mesumnya", ujar Indri pura pura sewot.
"Ya dikit kan gak apa apa yank", Adi masih juga ngeles.
Tiba tiba saat mereka asyik bercanda, mendadak perut Indri mulas bukan main.
"Aduuhhhh..."
Erangan kesakitan terdengar dari mulut Indri. Adi yang masih duduk di sampingnya segera bergegas mendekati istrinya itu.
"Kau kenapa yank?", tanya Adi penuh kekhawatiran.
"Ini sepertinya si dedek bayi sudah mau keluar mas, duhhhh....
Mas cepat antar aku ke rumah sakit sekarang", teriak Indri yang terus menerus merasakan mulas merata di perutnya.
Haaahhhh
Adi kaget mendengar omongan Indri, kemudian bergegas menyambar ponsel pintar nya. Dia menghubungi Mas Hari.
Tuuuttttttttttttt
Tuuuttttttttttttt
Ceklek
"Assalamualaikum Di,
Ada apa malam malam nelpon?", tanya Mas Hari di seberang telepon.
"Anu mas,
Indri mau melahirkan. Tolong mas bawa mobil mas cepat kesini", jawab Adi dengan gugup.
"Oke kamu tenang Di, mas segera kesana", Hari kemudian mematikan panggilan telepon Adi.
Ceklek
Sementara itu Adi mulai menata beberapa keperluan untuk Indri sambil menunggu kedatangan Hari. 10 menit kemudian Hari sudah sampai bersama dengan Nita.
__ADS_1
Mendengar keributan, Bu Siti segera berlari menuju ke kamar Adi. Melihat menantunya yang sudah pecah ketuban, Bu Siti sedikit kebingungan.
Mereka segera membopong tubuh Indri ke mobil Panther nya Hari. Segera mobil meluncur cepat menuju ke arah rumah sakit daerah.
20 menit kemudian mobil sudah sampai di UGD rumah sakit daerah. Para perawat yang bertugas jaga malam langsung membantu Adi yang membopong Indri keatas brankar.
Para perawat dan Bidan juga seorang dokter jaga segera mendorong brankar ke ruang bersalin di salah satu bagian rumah sakit daerah. Usai menutup pintu tempat bersalin, dokter dan bidan segera melakukan tindakan persalinan.
Sementara Adi tampak mondar mandir di depan pintu tempat bersalin.
"Di, coba tenang dulu.
Kamu sudah menghubungi mertua mu belum soal ini?", tanya Hari segera.
"Belum sempat mas, Adi masih panik tadi", jawab Adi sambil memandang kearah kakak kandungnya itu.
"Hubungi mereka dulu, kabarkan situasi mu sekarang", ujar Hari kemudian.
Adi segera mengangguk. Segera dia menelpon kakak iparnya untuk mengabarkan bahwa Indri sedang melakukan persalinan.
Wawan langsung mengiyakan, dan meminta Adi tetap tenang.
Selesai mengabari keluarga mertua nya, Adi kembali mondar mandir di depan ruang bersalin.
Setengah jam kemudian, Bu Sarmi dan Wawan datang ke rumah sakit daerah.
"Bagaimana Di? Sudah lahir anakmu?", tanya Wawan setelah dia dan Bu Sarmi menyalami Adi dan Hari serta Nita.
"Masih belum mas,
Sudah sejam lebih kog belum keluar juga ya?", ucap Adi yang kebingungan.
"Belum saatnya Le,
Doakan semoga lancar persalinan istri mu", sahut Bu Sarmi sambil tersenyum simpul.
Hampir satu jam kemudian, terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar bersalin.
Oeekkk oeeekkkk...
Wajah Adi langsung sumringah mendengar suara bayi itu.
"Alhamdulillah", ucap syukur kepada Tuhan terdengar dari bibir Adi.
5 menit kemudian, tangis bayi kedua terdengar lagi dari dalam kamar bersalin.
Semua orang terlihat lega termasuk Adi yang diam diam meneteskan air mata bahagia.
Seorang perawat muncul dari balik pintu kamar bersalin. Adi dan keluarganya segera berlari mendekati nya.
"Selamat ya pak, putra putra bapak lahir dengan berat badan normal dan sehat", ujar si perawat sambil tersenyum.
Adi dan keluarganya langsung mengucapkan syukur.
"Bagaimana keadaan istri saya Bu?", tanya Adi dengan harap harap cemas.
"Ibunya juga sehat, dia hebat loh. Melahirkan kembar tanpa operasi Caesar", jawab si perawat itu segera.
"Boleh kami melihat nya sekarang Bu?", Adi tak sabar untuk melihat keadaan Indri.
"Sabar ya pak, para perawat sedang membersihkan tempat bersalin. Nanti kami panggil setelah ibunya kami pindah ke ruang perawatan. Untuk bayinya sedang dimandikan", jawab si perawat dengan ramah.
Adi segera mengangguk tanda mengerti.
Setengah jam kemudian, Indri yang masih diatas brankar di pindah ke ruang perawatan.
Setelah perawat memberikan ijin, Adi dan keluarganya segera menuju ke kamar perawatan.
Begitu sampai, Adi segera mendekati Indri yang masih pucat wajah nya.
__ADS_1
"Yank,
Kamu hebat", ujar Adi sambil tersenyum simpul memandang kearah Indri.
Indri tersenyum bahagia mendengar pujian Adi.
Perlahan Adi mengecup mesra kening perempuan itu.
Semua orang di kamar itu ikut berbahagia.
"Mas,
Sudah punya nama untuk anak anak kita?", tanya Indri sambil tersenyum.
"Ah nanti dulu yank, liat bayi kita mirip siapa dulu", seloroh Adi yang disambut tawa orang yang ada di kamar itu.
Tak berapa lama kemudian dua orang perawat membawa dua putra kembar Adi ke kamar itu.
Setelah di adzan dan Iqamah, Si sulung segera di gendong Adi, sedang si bungsu di berikan kepada Indri.
"Yang ini aku beri nama Narendra Putra Prasetyo. Yang kamu gendong aku beri nama Nayaka Putra Prasetyo yank", ujar Adi sambil tersenyum memandang istri nya.
"Panggilan nya apa Mas?", tanya Indri sambil tersenyum melihat bibir merah bayinya itu.
"Adik Rendra dan adik Yaka yank", jawab Adi yang terus menggendong putranya itu. Mereka terlihat sangat bahagia dengan kehadiran anggota baru keluarga mereka.
Selama 3 hari di rumah sakit, keadaan Indri pasca persalinan semakin membaik. Oleh dokter Indri diijinkan untuk pulang.
Mobil Hari yang menjemput mereka dan mengantar mereka sampai di rumah.
Dhea dan Cinta terlihat senang dengan adik adik mereka. Terlihat wajah gembira mereka saat dua adik mereka dibawa pulang.
Kini lengkap sudah kebahagiaan Adi dengan tambahan dua putra dari Indri. Dalam hati dia selalu berdoa semoga keluarga mereka selalu bahagia.
Tamat
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah akhirnya selesai juga novel ini.
Terimakasih banyak author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya atas dukungannya terhadap cerita ini.
Tetap jaga kesehatan selalu
See you on my next novel
Wasalam
🙏🙏🙏
__ADS_1