
Adi menggeliat dari tidurnya. Sambil menguap lebar beberapa kali, dia segera bergegas bangun. Bu Siti geleng-geleng kepala melihat tingkah Adi.
"Buruan bangun,
Gak malu apa sama istri mu? Tuh dia aja udah sholat", ujar Bu Siti seraya berdiri meninggalkan Adi yang masih setengah sadar.
Adi kembali tengkurap di dekat anak anak nya. Indri yang baru selesai sholat subuh, hendak menuju ke dapur. Melihat Adi tidur lagi, dia segera membangunkan suaminya itu.
"Ya Allah mas..
Tidur lagi?? Bangun mas ihhh", ujar Indri sambil menarik sarung Adi.
Adi kembali membuka matanya. Melihat Indri mendelik tajam kearah nya, Adi mengucek matanya. Dengan senyum tipis, laki laki yang baru melepas status duda itu bergegas ke kamar mandi.
Suara kemericik air tumpah segera terdengar dari kamar mandi.
Adi keluar dengan menggigil. Pria itu bergegas menuju kamar tidur nya untuk melaksanakan sholat subuh.
Pagi itu Indri sibuk membuat sesuatu untuk suami dan anak anak nya. Kebetulan banyak sisa bahan makanan yang bisa dia masak. Dengan semangat Indri memasak capjay untuk sang suami.
Bu Siti tersenyum tipis melihat semangat Indri.
Usai masak, Indri segera membangunkan Cinta untuk mandi persiapan berangkat sekolah. Gadis kecil itu biasanya ribut dulu sebelum bangun, tapi kali ini dia sama sekali tenang dan segera ke kamar mandi.
Dhea pun juga tidak rewel. Usai bangun dia cuma minta gendong Adi tanpa banyak bicara.
Usai Cinta mandi dan berganti baju sekolah, Indri langsung mengambilkan sarapan untuk Cinta.
"Hayo mbak Cantik maem dulu, sudah ibuk masakkan capjay loh", ujar Indri sambil menyendok nasi dengan capjay buatan nya.
"Tapi buk, Cinta gak mau sarapan", rengek Cinta.
"E-eh gak boleh nolak. Satu suap saja. Kalau gak enak, mbak cantik boleh tidak sarapan", ujar Indri mengulurkan nasi capjay ke mulut Cinta.
"Haaaakkk....
Satu suapan pertama dan mata Cinta langsung melebar.
"Ini enak banget sih, lagi buk", ujar Cinta yang kesenangan.
Alhasil satu piring nasi capjay masuk perut gadis cilik itu. Setelah itu, Indri mengantar Cinta pergi ke sekolah dengan motor matic Adi yang jarang dia gunakan. Sepanjang jalan Cinta tersenyum bahagia. Baru kali ini dia berangkat sekolah diantar oleh ibunya.
Saat Cinta turun dari motor, Bu Lina wali kelas Cinta menyambut di gerbang sekolah. Setelah salim dengan mencium punggung tangan Indri, gadis kecil itu berlari masuk ke gerbang sekolahnya.
"Cinta diantar siapa tuh?", tanya Bu Lina yang penasaran.
"Ibu baru Cinta Bu Guru", jawab Cinta sambil tersenyum manis.
Mendengar jawaban Cinta, Bu Lina segera menganggukkan kepalanya pada Indri. Indri balas anggukan kepala dari Bu Lina dengan senyum tipis. Segera Indri memutar motor matic Adi itu. Saat itu pula, dari selatan, Heni yang sempat melihat Cinta turun dari boncengan Indri, seketika memandang kearah Indri dengan tatapan mata dingin.
'Jadi dia istri baru mas Adi. Kelihatan banget kalau perempuan desa', batin Heni sambil terus melajukan motornya menuju ke SMA tempat dia bekerja.
Indri langsung mengegas motor matic kearah rumah Adi. Dia sempat melihat tatapan mata dingin dari Heni.
Begitu sampai di rumah, orang orang sudah ramai. Seperti halnya di rumah Bu Sarmi, di tempat Adi pun para rewang perempuan sibuk memcuci perkakas yang beberapa hari ini mereka pakai untuk memasak.
Dhea juga sudah mandi, dengan bantuan Adi tentunya.
Yu Sih juga sibuk membuat jenang sumsum selayaknya kebiasaan setelah rewang. Bu Siti dan Nita sibuk menakar beras ke kantong plastik untuk oleh oleh para rewang perempuan di dapur. Sabun cuci dan sabun mandi mereka masukkan ke plastik terpisah, lalu di jadikan satu dalam beras.
Di depan, para pladen laki laki bekerja sama mengembalikan kursi dan meja yang mereka pinjam dari tetangga sekitar untuk keperluan acara. Sementara terop yang dipinjam dari Kamituwo Slamet juga mulai di bongkar oleh para pekerjanya.
Adi sambil menggendong Dhea berkeliling melihat-lihat keadaan.
__ADS_1
Karna hari ini masih repot dia tidak berangkat kerja. Hanya kontrol dari hape saja.
Yang pertama dia telpon adalah Pak Warno. Karena ini adalah hari terakhir pekerjaan di depan SMP Jati. Lepas itu Didik di proyek dam sungai kecil di kecamatan Gandu, dan terakhir Antok di saluran drainase kecamatan Sambi.
Tuuuttttttttttttt
Tuuuttttttttttttt
📞
Adi : Hallo.. Assalamu'alaikum..
Antok : Walaikumsalaam bos...
Adi : Gimana Tok? Lancar?
Antok : Lancar bos, cuma stok semen tinggal 5 sak tuh.
Adi : Pasir, batu aman??
Antok : Masih cukup untuk 2 hari bos.
Adi : Ya sudah, habis ini aku telpon pak Bakri untuk stok semen biar di kirim lagi.
Antok : Siap bos, eh ngomong-ngomong itu kado dari Didik sudah dipakai belum bos? Huahahaha..
Adi : Bajingan.. Pasti idenya dari kamu ya Tok?
Antok : Huahahaha, biar gas pol bos..
Adi : Tanpa pakai gituan, masih mampu 5 kali.
Antok : Haaaaaaaahhhh?! Yang bener bos?
Sudah jangan banyak omong, lanjutkan kerja mu..
Antok : Siap bos, Wassalamu'alaikum.
Adi : Walaikumsalaam.
📞
Ceklek.
Adi meletakkan ponsel pintar nya ke tas kecil nya. Selama ini dia tidak pernah pakai dompet, karna tas kecilnya bisa nampung banyak benda, seperti nota, kuitansi pembayaran, ponsel pintar nya, juga duit dan rokok.
Sementara itu di dapur, Indri langsung membantu memarut kelapa. Kelihatan nya untuk buat sayur lodeh tahu sama telur gitu.
Yu Sih langsung tersenyum melihat Indri.
"Yo ngono, nek omah e morotuwo kudu sregep ( Ya gitu, di rumah mertua harus rajin)", ujar Yu Sih sambil terkekeh kecil.
"Saya wanita desa BuLik, mengerjakan hal seperti ini sudah biasa", jawab Indri sambil meneruskan kegiatan nya.
Bu Siti yang jagoan bumbu, langsung meracik sendiri bumbu untuk sayur lodeh nya. Sebagai seorang juru masak di hajatan, dia memang terkenal dengan masakan yang lezat.
"Kamu harus belajar sama ibu mertua mu kalau urusan makanan Adi loh Ndri, dia itu pintar sekali memasak. Adi jarang makan di warung saat kerja karena jarang warung makan bisa masak seenak ibu mertua mu itu", ujar Jeng Retno sambil menata piring keatas rak.
"Iya Bulik, saya juga tau kalau ibuk masakan nya enak", Indri mengangguk tanda mengiyakan. Dia sudah 2 kali makan masakan ibu mertua nya itu.
Setengah jam kemudian, lodeh tahu dan telur sudah siap di santap.
"Monggo sedoyo mawon (Mari semuanya saja), kita sarapan dulu. Seadanya saja nggeh", ujar Bu Siti meminta semua orang untuk makan.
__ADS_1
Kang Min, Rio, Kholik dan Memet langsung bergegas. Bau wangi masakan buatan Bu Siti membuat perut mereka keroncongan.
Pagi itu mereka sarapan bersama. Adi dan Indri juga ikut menikmati kebersamaan itu. Indri pun memberikan sebagian capjay buatan nya pada Adi.
"Masakan siapa yank??", Adi menatap curiga capjay buatan Indri. Dia tidak segera menyendok nya. Seingatnya Bu Siti tidak pernah masak seperti ini.
"Masakan ku mas, tadi buat ndulang (nyuapin) Cinta sebelum berangkat ke sekolah. Itu sisanya", jawab Indri sambil tersenyum tipis.
"Mosok?
Coba deh kalau gitu", Adi semangat menyendok capjay buatan istri nya itu.
Hemmmm
"Gimana rasanya mas? Gak enak ya?", Indri sudah ngedrop duluan.
"Enak yank, masakan buatan istri itu paling enak sedunia", jawab Adi gombal.
"Elehhh mas ngerayu nih. Jangan bikin ge-er deh", Indri melengos pura pura kesal walau dalam hati dia bersorak gembira di puji suaminya.
"Beneran yank,
Ini masakan kamu paling top deh", jawab Adi sambil terus menyuapkan sesendok capjay buatan Indri ke mulutnya.
"Alasannya apa coba? Kog bisa gitu", Indri menatap wajah Adi dengan serius.
Adi segera tersenyum manis.
"Karena kamu masaknya gak cuma pakai bumbu dapur yank,
Tapi juga dengan cinta dan kasih sayang", ujar Adi kemudian.
Duhhh...
Siapa gak melting coba dengar ucapan Adi?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungan kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca semua 😁😁😁😁