
Adi yang kekenyangan hanya bisa geleng-geleng kepala saat Indri mengulurkan bakpao isi strawberry di tas plastik itu.
"Mas...", raut muka Indri di tekuk lagi melihat gelengan kepala Adi.
"Iya nanti mas makan, ini perut sudah penuh yank", ujar Adi berusaha untuk meredakan emosi Indri.
"Beneran ya mas,
Awas kalau bohong tak suruh tidur di sofa", ancam Indri sambil melengos pergi usai meletakkan bakpao isi strawberry itu diatas meja.
Malam itu itu Adi dengan perut begah nya terlentang di sofa ruang tamu. Anak anak sudah tidur di kamar. Indri yang baru menidurkan Dhea, menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Melihat bakpao isi strawberry itu masih utuh, dengan geram dia masuk kamar dan menguncinya.
Adi yang sempat ketiduran berniat untuk tidur menyusul sang istri. Saat tangan nya mendorong pintu kamar, ternyata tidak bisa di buka.
'Hah?! Di kunci?', batin Adi.
Langsung Adi teringat ancaman Indri tadi sore. Dengan menghela nafas panjang, Adi berjalan menuju ke depan TV. Mau tidur di kamar sebelah juga tidak bisa karena kamar itu kotor dan jarang sekali dipakai.
Hemmmm
Adi segera menjajarkan tubuh nya pada kasur busa di depan TV.
Jam 1.00 Indri terbangun setelah ketiduran usai kesal karena bakpao isi strawberry yang tidak di makan Adi. Selama menikah, dia selalu meminta tidur di dada sang suami. Sekarang dia tidak bisa tidur, hanya bolak balik diatas ranjang nya.
Mengesampingkan rasa marah nya, perempuan itu membuka kunci pintu kamar nya dan bergegas menuju ke sofa ruang tamu. Namun sang suami tidak ada disana. Indri kemudian berbalik menuju depan TV.
Adi terlihat pulas tertidur. Perlahan Indri ikut merebahkan tubuhnya di samping Adi kemudian perlahan menempatkan tubuh nya di pelukan hangat Adi. Tak berapa lama kemudian wanita itu sudah tertidur dengan nyenyak sambil memeluk tubuh suaminya.
Adzan subuh berkumandang dari mushola Kyai Harun.
Bu Siti yang hendak ikut sholat subuh berjamaah, terkejut melihat Adi dan Indri kompak pulas di depan TV.
"Masya Allah...
Kog malah tidur di depan tv begini?
Le, bangun le... Sudah subuh", ujar Bu Siti sambil menggoyangkan badan Adi.
Adi menggeliat dari tidurnya. Dia kaget melihat Indri sedang ndusel di dadanya.
'Lah kog nyusul', batin Adi sambil tersenyum tipis.
Bu Siti segera berlalu pergi menuju mushola Kyai Harun yang tidak terlalu jauh dari rumah nya.
Dengan perlahan, Adi mendekatkan bibirnya ke bibir Indri.
Cuppp
"Yank, bangun yank..", bisik Adi perlahan. Sang istri pun menggeliat perlahan. Saat sadar bahwa ia tidur di pelukan hangat sang suami, Indri tersenyum malu-malu.
"Mas kog sudah bangun?", tanya Indri sambil bangun dari tidurnya.
"Di bangunin ibuk. Buruan ambil wudhu dan sholat subuh", ujar Adi kemudian.
Indri mengangguk dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Adi menyusul istri nya itu.
Pagi itu Adi menelpon Antok untuk memberi tahu bahwa mungkin hari ini dia tidak ke lokasi karena ada keperluan.
Setelah mengantar Cinta ke sekolah, Adi bergegas kembali ke rumah nya. Dia menunggu sang istri yang sedang berdandan cantik. Dhea pun sudah siap dengan seragam PAUD nya. 10 menit kemudian Indri mendekati suaminya.
__ADS_1
"Mas, ayo kita berangkat", Indri menoel suaminya yang sedang merokok di ruang tamu.
"Sudah siap yank?", tanya Adi sambil mematikan rokoknya di dalam asbak.
"Sudah dong. Udah cantik gini", jawab Indri dengan senyum manis nya. Perempuan itu segera menuntun Dhea sambil berjalan menuju ke teras rumah.
Usai menaikkan Dhea, Indri menyusul di belakangnya. Motor Adi melaju meninggalkan rumah menuju ke arah PAUD Kasih Bunda yang berdampingan dengan TK Dharma Wanita. Indri segera turun dari motor, setelah Adi memarkir motornya di depan PAUD.
"Eh mbak Dhea datang", sambut Bu Meda pada putri kecil Adi itu. Dhea segera salim dengan Adi, kemudian pada Indri lalu pada Bu Meda gurunya. Gadis kecil itu berlari masuk ke sekolah nya.
Indri langsung mendekati Bu Meda.
"Bu, minta tolong nggeh.
Nanti andai aku belum pulang, titip Dhea ya. Ada keperluan ini Bu", ujar Indri penuh harap.
"Enggeh Bu, nanti tak antar sampai rumah", jawab Bu Meda sambil tersenyum tipis.
"Ngapunten merepotkan loh", Indri tersenyum tipis kemudian segera naik ke boncengan motor Adi. Motor Adi melaju ke arah kota Patria. Sepanjang perjalanan, Indri menggelayut mesra bak ABG yang baru pacaran.
30 menit kemudian Adi dan Indri sudah sampai di sebuah rumah sakit swasta yang ada dokter spesialis kandungan nya. Adi hapal tempat itu karena dulu sewaktu Niken mengandung Cinta, dia memeriksakan kehamilan pada sang dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu.
Usai parkir, Adi dan Indri segera menuju ke ruang tunggu. Setelah itu mengambil nomor antrian. Untung saja mereka berangkat pagi, jadi dapat antrian nomor 6. Usai mendapat nomor, Adi duduk di teras taman sedang Indri duduk di kursi tunggu. Di samping Indri, nomer 5 ada seorang ibu muda yang datang tanpa ditemani oleh suaminya. Sepertinya usia kandungan nya sudah 5 bulan keatas, terlihat dari perut ibu muda itu yang buncit.
"Diantar suami ya mbak?", tanya si ibu muda itu pada Indri.
"Iya mbak, demi anaknya dia rela libur kerja", kata Indri sambil tersenyum melirik ke arah Adi.
"Wah mbak beruntung sekali.
Anak ini bapaknya malah belum sempat tau sudah terbang ke negara tetangga", ujar si ibu muda itu memelas sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Ya yang sabar mbak, toh dia kerja untuk anaknya kan?", Indri menyemangati ibu muda disampingnya itu.
"Bu Indri Hapsari".
Indri segera masuk ke dalam ruang sang dokter spesialis kandungan di temani Adi.
Dokter spesialis kandungan itu, Dokter Herman namanya.
Segera si perawat membantu Indri naik ke atas ranjang. Perawat lalu menyibak baju Indri sampai bawah dada nya. Kemudian mengoleskan sejenis gel tanpa warna ke perut Indri yang masih rata.
Dokter Herman kemudian memeriksa keadaan janin dalam rahim Indri.
Adi yang melihat layar monitor menatap pada sebuah bintik hitam disana. Dia tersenyum tipis menatap bintik hitam itu.
Usai pemeriksaan, Indri segera turun dari ranjang lalu duduk di kursi sebelah Adi.
"Usia kehamilan Bu Indri Hapsari sudah 4 Minggu. Tolong jangan sampai bekerja keras atau angkat beban ya Mas Adii.. sebentar Mas Adi Prasetyo", ujar Dokter Herman kemudian dia menatap wajah Adi.
"Loh ini bukan nya Mas Adi yang dulu itu ya?", tanya Dokter Herman kemudian.
"Iya Dok, ini saya", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Mbak Indri ini istri Mas Adi?", Dokter Herman sedikit kaget.
"Iya Dok, Indri Hapsari ini istri saya. Tepat nya istri kedua saya", jawab Adi sambil tersenyum malu.
"Walah pantesan. Yang dulu itu kan agak pendek gitu ya mas hehehehe..
Ah ngomong apa aku ini..
__ADS_1
Jadi begini Mas, itu usia kandungan Mbak Indri sudah 4 Minggu, ya lebih 3 atau 4 hari ya.. Tolong di perhatikan gizi sama vitamin nya.
Jangan kerja yang berat berat, karena awal trimester pertama kehamilan biasanya rawan loh", ujar Dokter Herman sedikit menjelaskan.
Adi dan Indri kompak mengangguk bersamaan.
Usai membayar biaya konsultasi dan USG serta vitamin penambah darah mereka berdua segera menuju ke arah parkiran motor rumah sakit.
"Eh mas, aku kog pengen maem bakso solo yang banyak taburan bawang goreng gitu ya", celetuk Indri saat mereka hendak melaju meninggalkan rumah sakit itu.
"Siap berangkat", jawab Adi sambil tersenyum tipis. Segera Adi memacu motornya menuju ke sebuah warung bakso solo yang ada di depan kantor bupati.
Usai memarkir motornya di depan warung bakso solo, mereka segera memesan dua porsi bakso solo lengkap dengan teh hangat nya. Tak lupa ekstra bawang goreng sesuai harapan Indri.
Perempuan itu makan bakso dengan lahap. Karena tadi pagi mereka berangkat juga belum sarapan. Habis satu mangkok, Indri melirik bakso yang ada di mangkok Adi yang baru habis separuh.
Melihat lirikan sang istri, Adi paham.
"Nambah yank?", tanya Adi sambil memandang wajah cantik Indri. Namun kepala Indri menggeleng cepat namun matanya tetap tidak beralih dari bakso di mangkok Adi.
Adi segera mendorong mangkoknya ke depan Indri sambil tersenyum tipis. Tanpa malu-malu, Indri segera menyantap bakso di mangkok Adi dengan lahap.
Dengan senyum manis, Adi memanggil mas mas pelayan untuk minta satu porsi lagi.
Setelah bakso solo pesanan Adi datang, Adi makan sambil terus menatap istrinya itu. Ada raut puas di wajah perempuan itu.
Usai makan bakso dan membayar nya, mereka berdua melangkah keluar dari warung bakso solo itu.
"Eh mas, kayaknya makan mie ayam yang sayurnya ijo ijo gitu enak ya.."
Haaahhhh??!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mulai deh ngidamnya 🤦🤦🤦🤦
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁😁
Yang sudah memberikan dukungannya, author mengucapkan beribu terima kasih banyak ya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁