
Indri langsung merona wajah nya. Otaknya langsung traveling kemana-mana. Bayangan kegilaan dalam pelukan hangat Adi membuat berdiri bulu roma.
"Loh kog malah bengong yank?".
Ucapan Adi sontak membuyarkan halusinasi Indri soal menemani tidur Adi.
"E-eh anu mas itu...."
Indri bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab permintaan Adi.
Saat yang bersamaan, Wawan dan Bu Sarmi datang bersama Dhea. Mereka berdua baru dari tukang dekorasi dan rias manten. Begitu melihat Adi, Dhea langsung berlari menuju laki laki itu. Seperti biasanya, Dhea langsung minta gendong Adi.
Indri menarik nafas lega melihat kedatangan Dhea menyelamatkan dirinya dari permintaan Adi.
"Loh Le, kog sudah kesini? Bukan nya besok kesini nya?", tanya Bu Sarmi sambil menatap Adi yang memakai baju kerja nya.
"Hehehehe, baru dari lokasi proyek buk.. Tadi ada pengawas mau bertemu, jadi harus ke lokasi", jawab Adi sambil cengar-cengir.
"Mbok istirahat, wong besok mau nerima tamu loh", ujar Bu Sarmi geleng-geleng kepala melihat ulah Adi yang masih sempat bekerja.
"Tadi juga maunya gitu buk, tapi pengawas nya pengen ketemu, ya terpaksa berangkat", Adi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya wes, gak papa. Besok kesini nya sore saja. Sekalian bawa baju ganti untuk persiapan ijaban nya", ujar Bu Sarmi kemudian.
"Oh iya Ndri, bersihkan kamar yang barat. Besok mas mu biar tidur disana", Bu Sarmi berlalu menuju dapur.
Wawan mengikuti Bu Sarmi sambil menjinjing tas yang entah apa isinya.
Indri melongo mendengar ucapan sang ibuk, sementara Adi bersorak dalam hati.
"Besok ayah tidur disini?", tanya Dhea sambil menatap wajah Adi.
"Iya nak, besok ayah bobok disini, sama ibuk sama Dhea", jawab Adi sambil mencium pipi bocah cilik itu.
"Horee.. Dhea sama ayah lagi", Dhea berteriak kegirangan.
Adi hanya tersenyum tipis melihat kepolosan Dhea. Indri menghela nafas panjang.
"Besok malam siap-siap ya yank", bisik Adi pada Indri.
Perempuan itu langsung merah wajah nya.
"Apaan sih mas? Jangan ngaco deh", Indri segera menoleh ke arah lain, agar Adi tidak melihat perubahan warna kulit wajah nya.
Jantung nya deg-degan tak karuan.
"Ya itu yank, nemenin bobok", Adi tersenyum nakal.
"Gak ada kata nemenin bobok sebelum akad nikah. Titik! ", Indri berlalu meninggalkan Adi di ruang tamu rumah nya.
Adi terkekeh geli mendengar jawaban calon istri nya itu. Dia memang sengaja menggoda Indri.
Dari arah luar, muncul pak Jarno dan dukun manten yang akan menyatukan mereka lewat upacara adat. Mbah Sunar namanya.
"Monggo silahkan Mbah. Silahkan duduk dulu", ujar Pak Jarno sambil mengarahkan pria tua berpenampilan serba hitam ala adat Jawa itu.
"Ini calon manten nya?", tanya Mbah Sunar pada Pak Jarno waktu melihat Adi yang sedang menggendong Dhea.
"Enggeh Mbah. Perkenalkan ini Adi calon suami nya Indri", jawab Pak Jarno. Adi segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Lelaki tua itu segera menjabat nya.
"Pantesan loh Indri mau, wong orang nya ganteng begini hehehehe", ujar Mbah Sunar seketika.
Adi hanya tersenyum simpul mendengar kata kata pria tua itu.
Setelah mereka duduk, Bu Sarmi datang dari belakang sambil diikuti Indri yang membawa nampan berisi kopi.
__ADS_1
Adi yang tidak ingin tau apa percakapan mereka, menggendong Dhea keluar dari ruang tamu. Saat yang sama, satu truk bak datang. Membawa terop dan sound sistem. Adi mengenali salah satu anggota pemasang terop itu. Bagio, teman sekelas Adi waktu SMP.
'Kayaknya aku kenal ini orang', batin Adi.
"Ini Bagio kan? Anak kelas E SMP Jati?", tanya Adi yang mendekati pegawai terop itu.
Bagio kebingungan. Darimana orang yang menggendong bocil itu tau namanya.
"Eh enggeh mas. Sampean siapa ya? Kog aku lupa", Bagio mencoba mengingat teman teman SMP nya, tapi otaknya blank sama sekali.
"Eh anak tuyul. Lupa kau dengan teman nyolong legen di tempat pak Marto?", Adi tersenyum tipis sambil berupaya membongkar ingatan lama Bagio.
"Jangkrik, kamu Adi? Mantan ketua kelas dulu?", Bagio masih tak percaya. Dulu Adi dekil dan kurus, sekarang sudah kekar dan berisi. Asli membuat pangling Bagio.
"Lha siapa lagi teman mu yang mau nyolong legen selain aku sama si Purwanto? Hehehehe", Adi terkekeh kecil, saat Bagio mulai mengenalinya.
"Cukkk... Kau sekarang gemuk Le..
Dulu badan mu seperti gagang sapu lidi, gak ada dagingnya. Sekarang sudah makmur jadi gendut kau", Bagio menonjok lengan kiri Adi.
"Ssst mulut mu Bag.. Ada anak kecil ini...
Kau itu yang tidak berubah dari dulu. Tetep kurus gitu. Eh ini terop punya mu?", tanya Adi kemudian.
"Iya coy.. Sekarang aku usaha terop sama sound. Ya lumayan lah, untuk menghidupi anak pak Modin hehehehe", Bagio mulai memerintahkan anak buahnya untuk mulai bekerja.
"Ya syukur lah, kerja apa saja yang penting halal dan cukup untuk biaya hidup", ujar Adi sambil menatap anak buah Bagio yang cekatan dalam bekerja. Dhea anteng dalam gendongan Adi.
"Eh kamu ngapain disini ***?
Disini keluarga mu?", tanya Bagio kemudian.
"Hari ini belum, besok setelah ijab kabul mereka jadi keluarga ku Bag..", Adi tersenyum tipis.
"Asemm.. jadi kamu yang mau nikah? Woo dasar wedus gembel..
"Yang kedua Bag dan insyaallah yang terakhir", Adi senyum senyum menyebalkan.
"Kampret...
Sunat mu bener hari nya. Yo wes tak lanjut manjing dulu. Nanti kita ngobrol lagi", Bagio kemudian melangkah menuju ke arah anak buah nya yang mulai menata besi besi penyangga atap terop.
Adi tersenyum tipis sambil menggendong Dhea berjalan masuk ke ruang tamu. Mbak Sunar tampak nya sudah selesai juga dengan acara komat kamit nya.
Adi segera mohon pamit undur diri, setelah Dhea diajak Bu Sarmi untuk mandi.
Motor Vixion nya melaju meninggalkan tempat itu.
20 menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah nya. Di rumah pun suasana tidak kalah heboh dengan di rumah Indri.
Di dapur, Bu Siti, Nita, Diah, Yu Sih sibuk dengan kegiatan dapur. Nita sibuk mengolah ayam, Diah mengiris bawang merah, Yu Sih menggoreng tahu dan Bu Siti sibuk dengan urusan gula.
Beberapa tetangga depan rumah juga membantu di dapur.
Beberapa orang lelaki, sibuk mengaduk jenang ketan di belakang rumah. Bau nya tercium sampai ke ruang tamu.
Adi langsung bergegas kesana.
Kang Min, Andri, Memet, Rio dan Kholik tampak bergantian mengaduk adonan jenang ketan itu.
Yang memegang sudu sekarang adalah Kang Min dan Memet.
Rio berpeluh sambil menyulut sebatang rokok di bawah pohon petai. Andri dan Kholik sedang meneguk es teh yang ada di ceret.
"Lha ini manten e datang,
__ADS_1
Buruan sini gantiin aku", ujar Memet sambil terus mengayunkan sudu nya.
"Eh ora ilok (pamali) Met, manten gak boleh ngapa-ngapain loh", potong Kang Min.
"Nah bener itu, gak boleh ngapa-ngapain. Hehehehe", Adi langsung lega mendengar perkataan Kang Min. Pria itu lalu menaruh 2 bungkus rokok Diplomat dan Surya 12 di kursi plastik di sebelah nya.
Tak berapa lama kemudian, Kang Syamsi dan Kang Ali yang merupakan saudara jauh Adi, datang dan menggantikan Kang Min dan Memet untuk mengaduk jenang ketan yang mulai meletupkan gelembung udara.
Kang Min segera masuk, mengambil baki dan besek untuk wadah jenang ketan nya.
Setengah jam kemudian..
Satu persatu besek diisi dengan jenang ketan. Tak lupa di taburi wijen diatasnya.
Rio, Andri, Kholik langsung membawa nampan besar untuk mengangkut jenang Ketan yang masih panas itu dan menaruh nya diatas meja besar di dapur.
Pada saat tinggal sedikit, Adi mengambil pelepah pisang yang sudah di sediakan oleh Kang Min untuk mencicipi jenang ketan yang mereka buat.
"Gimana Di rasanya?", tanya Kang Min untuk rasa jenang ketan nya.
Dengan gaya sok cool, Adi menjawab pertanyaan itu.
"Manis Kang,
Kayak manten e"
jenang ketan
pic by Google
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduh Mak, songongnya mas Adi 😂😂😂
Terimakasih banyak author ucapkan kepada semua kakak reader tersayang atas dukungannya terhadap cerita ini ya 👍👍
Kalau ada kesamaan antara nama orang, tempat maupun benda, itu hanya kesalahpahaman semata 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Lophe untuk kalian semua ❤️❤️❤️❤️
Selamat membaca guys 😁😁😁😁