
"Ihhh maunya", Indri pura kesal dengan ulah Adi, namun perempuan cantik itu melalui juga permintaan Adi.
Saat mereka masih asyik bermesraan, Dhea yang baru datang bersama Bu Sarmi langsung menghambur ke arah Adi. Gadis kecil itu lalu memeluk tubuh Adi.
"Dhea kangen ayah. Ayah jangan pergi lagi", ujar bocil itu sambil terus memeluk Adi.
"Iya ayah janji gak pergi lagi. Ayah pergi kan hanya untuk kerja Nak", ujar Adi penuh kebapakan.
Entah kenapa gadis kecil itu gak mau pisah dengan Adi. Meski sudah di bujuk Bu Sarmi tapi Dhea tetap saja tidak bergeming. Alhasil walaupun sampai mandi, Adi harus tetap menemani nya.
Selesai mandi juga gadis kecil itu menempel terus pada Adi. Setiap di jauhkan sedikit saja langsung tangis nya keluar.
Indri nyaris marah karena jengkel dengan Dhea. Janda muda itu baru selesai mandi.
"Dhea sayang, jangan bandel ya.. Ayah itu capek nak..", ujar Indri berusaha untuk membujuk Dhea.
Bukannya nurut, gadis kecil itu nangis lagi.
"Udah yank, gak papa. Namanya juga anak kecil.
Dah, Dhea cantik gak usah nangis. Ayah gak kemana-mana kog", Adi menepuk-nepuk punggung Dhea.
Dhea menurut.
"Mas, sebaiknya mas segera mandi deh. Sudah malam mas, kalau terlalu sering mandi malam hari, bisa jadi rematik loh", ujar Indri yang kasihan dengan Adi.
"Mandi dimana yank? Ni Dhea aja masih ngambek begini kog", Adi menatap wajah Indri yang baru selesai mandi kelihatan segar. Dengan daster bermotif bunga-bunga, betul betul kelihatan keibuannya.
"Ya di kamar mandi to mas. Noh di belakang.
Dhea biar sama ibuk dulu", ujar Indri sambil tersenyum tipis.
"Mandiin yank", ucapan Adi spontan membuat wajah cantik Indri memerah seperti kepiting rebus. Otaknya langsung traveling kemana-mana.
"Ihhh maunya. Ogah ya..
Manja banget sih jadi orang", gerutu Indri sambil melengos pura pura kesal.
Adi menatap Dhea.
"Nak, ayah mandi dulu ya. Nih bau asem. Dhea sama ibuk Mi dulu ya", ujar Adi sambil memandang wajah cantik gadis kecil itu.
"Tapi ayah gak pergi kan?", gadis kecil itu menatap Adi dengan penuh harap.
"Iya ayah gak pergi", Adi tersenyum.
"Janji?", Dhea menjulurkan kelingking tangan kanan nya.
"Janji", Adi segera mengaitkan kelingking tangan kanan nya pada jari mungil bocah itu.
Dhea tersenyum senang. Segera gadis itu melorot turun dari gendongan Adi. Jaket kulit Adi langsung di pakai Dhea. Gadis cilik itu benar-benar takut di tinggal pergi.
Indri mengulurkan handuk bersih berwarna merah muda pada duda beranak satu itu segera.
Kemudian Adi beringsut menuju ke kamar mandi yang ada di belakang dapur.
Jebyurrrr
Jeburrr
Debur air bak mandi terdengar dari luar. Bu Sarmi yang sedang menghangatkan sayur untuk makan malam, terlihat memikirkan sesuatu. Besok malam adalah penentuan tanggal Adi dan Indri ijab kabul, sementara pak Jarno belum mengabari apa apa.
Aroma gosong seperti sesuatu terbakar segera tercium.
Indri dari ruang tamu setengah berlari menuju ke dapur. Terlihat Bu Sarmi sedang bengong di depan kompor gas.
"Ya ampun...
Buk sayur mu gosong!", teriak Indri yang segera menyadarkan Bu Sarmi.
__ADS_1
"Astaghfirullah..
Aku Ki piye to???!!", teriak Bu Sarmi yang segera mematikan kompor gas nya. Sayur blendrang lodeh nangka muda nya separuh hangus.
Adi yang baru keluar dari kamar mandi, mendekat ke arah mereka berdua.
"Ada apa yank? Kog teriak teriak gitu", Adi penasaran.
"Ibuk tu mas, ngangetin sayur sambil ngelamun. Gosong jadinya", jawab Indri sambil menunjuk ke ompreng yang gosong.
Bu Sarmi tersenyum malu.
"Lha terus gimana yank? Gak makan dong?", Adi menggosok handuk ke rambutnya yang basah.
"Masak mie instan saja. Ibuk masih punya telur ayam..
Gak papa ya Le?", ujar Bu Sarmi sambil menatap calon mantu nya itu.
"Lha ya terserah ibuk saja, kan Adi gak ikut makan buk", Adi tersenyum tipis.
"Lho lho lho gak bisa, malam ini kamu harus makan disini. Aku gak sanggup kalau Dhea ngamuk lagi..", Bu Sarmi melangkah ke arah rak gantung, mengambil 3 mie instan dobel.
"Maksud ibuk gimana? Kog Indri gak paham", Indri segera mengalihkan perhatian dari Adi ke ibunya.
"Ya biar dia nginap disini. Toh ini sudah malam ya", ujar Bu Sarmi sambil membuka plastik pembungkus mie instan itu.
"APAAA??!!
Adi dan Indri kompak berteriak kaget. Bu Sarmi sampai menutup kuping nya.
"Buk, apa kata orang nanti?", Indri mendelik tajam kearah Bu Sarmi.
"Memang kenapa? Toh dia calon suami mu. Sudah lamaran, besok menentukan tanggal ijab kabul.
Takut orang menggerebek?
Ibuk malah bersyukur biar kalian nikah gratis", ucap Bu Sarmi sambil terkekeh geli melihat wajah Adi dan Indri.
Asal ya ngomongnya.
Ibuk itu malah kayak gitu. Aku ini khawatir buk", ujar Indri panik.
"Ya kalau Adi mau pulang, ibuk gak ngelarang tapi kalau sampai ngambek lagi, ibuk gak tanggung jawab.
Ibuk capek baru pulang dari tegalan", Bu Sarmi menyeplok dua butir telur ayam ke dalam panci kecil diatas kompor.
"Tapi kan...",
Belum selesai Indri bicara, Bu Sarmi sudah memotong ucapannya.
"Gak ada tapi tapian. Malam ini Dhea kalian urusi".
'Huh gara gara Dhea', gerutu Indri dalam hati.
Indri mendengus kesal dan kembali ke ruang tamu dengan muka masam sementara Adi cengar-cengir sendiri sambil mengikuti langkah sang calon istri.
"Mas kenapa senyum senyum sendiri gitu?", Indri menatap wajah Adi dengan mimik curiga.
"Gak yank gak..
Cuma rasanya malam ini akan jadi malam pertama kita", Adi langsung mengulum senyumnya.
"Ihh jangan ngarep ya mas...
Tidak ada malam pertama sebelum ijab kabul", Indri merona wajah nya.
"Lah yang kamu pikirkan apa sih yank?
Jangan mesum dehh.. Maksud aku, ini malam pertama kita tidur serumah yank, bukan tidur seranjang", Adi menjulurkan lidahnya pada Indri.
__ADS_1
Indri semakin merah wajah nya. Adi seolah membaca isi kepala nya.
Dhea yang masih duduk bersila di depan TV dan memakai jaket kulit Adi langsung menghambur ke arah Adi begitu pria ganteng itu masuk ke ruang tamu. Mereka bertiga rebahan di ranjang Indri di ruang tamu sambil menonton TV bertiga.
Bu Sarmi membawa tiga mangkok mie instan campur telur, sebakul nasi dan tempe goreng ke depan TV. Mereka berempat makan dengan lahap. Dhea minta suap pada Adi. Dengan telaten, duda beranak satu itu menyuapi Dhea. Indri tersenyum tipis melihat mereka.
"Mas, motor mu tuh.. masukin ke rumah", ujar Indri kemudian.
Adi segera bangun dan keluar dari ruang tamu rumah. Dhea ikut berlari ke luar menyusul Adi.
Gadis kecil itu langsung minta naik ke atas motor. Jadilah motor Vixion Adi semakin berat saat di dorong masuk ke dalam rumah.
Adi kembali rebahan di ranjang Indri sambil menonton TV setelah mengirim pesan singkat ke Bu Siti.
Dhea yang tak mau jauh, ikut ndusel ke Adi. Indri hanya bisa tersenyum melihat tingkah putri kecilnya itu.
Jam sudah menunjuk angka 22.30
Bu Sarmi sudah tidur di kamar nya. Dhea juga sudah ngowoh dengan memeluk tangan Adi.
Tinggal Adi dan Indri yang masih terjaga menatap layar TV.
Indri yang deg-degan tak karuan hanya bisa menatap layar TV yang menayangkan FTV yang di bintangi aktor tampan Ibnu Jamil dan Kadek Devi.
Perlahan Indri melirik Adi. Duda beranak satu itu menguap lebar beberapa kali. Tak lama kemudian dia tertidur.
Indri yang ada di belakang tubuh Adi menata tubuhnya untuk tidur. Jadilah posisi Dhea di pinggir, Adi di tengah dan Indri dekat tembok.
Cuaca musim kemarau yang dingin memaksa Indri mendekat pada tubuh si duren gantengnya. Entah karena dingin atau apa, malam itu Indri ngelonin Adi sampai pagi.
Pagi menjelang tiba.
Indri perlahan membuka matanya. Perlahan perempuan itu menatap wajah Adi dengan kumis yang tidak dicukur dua hari itu.
Indri tersenyum bahagia. Perlahan tangan lentik perempuan itu mengelus wajah lelaki itu.
'Calon suamiku tampan. Aku akan mencintaimu seumur hidup ku'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OMG!!!!😱😱😱😱
Author pengeeeeeeennnnnn!!!!
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya terhadap cerita ini ya kakak reader tersayang semuanya ❤️❤️
Selamat membaca 😁😁😁