
Maya tersenyum sambil mengguyurkan air hangat dari shower kamar deluxe. Dia sudah kehilangan akal sehat nya. Setelah video viral kemarin, otaknya hanya di penuhi Adi, Adi dan Adi. Cinta pertama nya yang membuat nya tidak bisa berpindah ke lain hati.
Setelah hampir gila karena masalahnya, tak sengaja dia mendengar pembicaraan ayahnya Dedi Barata dengan Om nya, Eros Barata terkait tender proyek besar propinsi lewat telepon. Selama ini, setiap ada masalah, Dedi selalu mencari solusi pada kakak nya itu. Dan selalu berakhir sukses.
Maya matanya berbinar seketika kala itu. Apapun itu, asal bisa mendapatkan Adi dia akan lakukan.
Kini, dia sudah satu kamar hotel dengan Adi. Impian nya menjadi nyonya Adi tinggal menghitung detik.
Adi yang seperti orang bodoh, hanya termangu dengan tatapan aneh. Ada sisi hati nya yang berbicara agar dia segera keluar dari kamar itu segera.
Tapi disisi lain, ada yang menahannya untuk tetap tinggal.
Gemericik air shower terus terdengar.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Room servis"
Terdengar suara dari luar pintu kamar. Suara seorang wanita.
Adi bergegas membuka pintu kamar hotel. Si mbak resepsionis hotel!
Saat pertama melihat Adi dengan pandangan linglung, si mbak resepsionis hotel itu sadar ada yang salah dengan pasangan ini. Saat bellboy turun dari mengantar mereka ke kamar deluxe nomor 97, si mbak langsung bertanya kepada nya. Jawaban bellboy itu sama persis dengan dugaannya. Adi terkena pelet.
Dia jadi ingat kejadian yang pernah menimpa kakaknya beberapa tahun. Rumah tangga kakaknya hancur berantakan akibat sang kakak di pelet purel.
Tak ingin melihat ada orang lain bernasib sama dengan kakaknya, dia bertekad untuk menolong orang itu. Saat masuk tadi dia melihat cincin emas di jari manis Adi, pertanda Adi sudah memiliki pasangan. Sedangkan pada Maya, cincin itu tidak ada. Sudah jelas Maya bukan pasangan Adi.
Si mbak resepsionis hotel itu langsung menyiram Adi dengan air bercampur daun kelor yang ada di taman belakang hotel. Dari pengalaman nya, kakaknya dulu bisa lepas dengan perantara daun kelor.
Byurrr
Adi yang di siram langsung marah.
"Mbak apa apaan ini? Kenapa menyiram ku?".
"Pak, sekarang bapak ada dimana??", tanya si mbak resepsionis hotel itu sambil memicingkan matanya. Dia ingin tau apa Adi sudah sadar apa belum.
Adi tolah toleh menatap sekelilingnya. Dia mencoba mengingat kejadian tadi pagi. Ingatan nya mulai kabur setelah bersalaman dengan Eros Barata, om nya Maya.
"Ini ini dimana mbak?", tanya Adi kebingungan.
Si mbak resepsionis hotel segera tersenyum tipis. Pria itu sudah separuh lepas dari pengaruh pelet ternyata.
"Mari pak ikut saya", ajak si mbak resepsionis hotel itu. Adi langsung menyambar tas kecilnya dan mengikuti langkah si mbak resepsionis hotel. Sesampainya di lobi hotel, si mbak resepsionis hotel segera mengajak Adi duduk di sofa yang ada di sana.
Sebotol minuman mineral segera di berikan pada Adi.
"Bapak minum dulu. Nanti saya cerita".
Adi langsung membuka tutup botol minuman mineral dan menenggak nya.
Gluk gluk gluk..
Setelah meminum air itu, tiba tiba pikiran Adi menjadi cerah lagi.
"Loh kok saya ada di sini?", Adi sudah sadar sepenuhnya.
Si mbak resepsionis hotel itu tersenyum menatap wajah Adi.
"Alhamdulillah bapak sudah sadar. Bapak kena pelet pak, sama cewek yang pakai mobil itu", si mbak resepsionis hotel menunjuk sebuah mobil Fortuner putih terparkir di halaman hotel.
Adi langsung tau mobil siapa itu.
"Brengsek!", umpat Adi seketika. Dia tidak menyangka bahwa Maya akan berbuat sejauh ini kepada nya.
__ADS_1
"Mbak terima kasih atas pertolongan nya. Kalau tidak ada mbak, mungkin saya masih ada di dalam kamar bersama wanita itu", timpal Adi kemudian.
Si mbak resepsionis hotel hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Mbak, saya mohon diri dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya", ujar Adi sambil berdiri dan menyalami si mbak resepsionis hotel.
Adi segera bergegas menuju ke arah jalan raya. Saat itu sebuah bus antarkota sedang melintas. Kondektur bus yang melihat Adi segera memberi kode kepada sopir.
"Kiri satu pir!", teriak si kondektur bus.
Bus menjadi pelan dan Adi segera naik ke bus. Bus itu segera melaju meninggalkan hotel menuju kota Patria.
Maya yang asyik mandi lama, tidak sadar kalau Adi sudah tidak ada di kamar. Begitu keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat Adi.
"Mas... Mas Adi", panggil Maya, namun Adi tidak kelihatan batang hidungnya.
'Kemana mas Adi?', batin Maya kebingungan. Dengan memakai kimono mandi, perempuan itu celingukan mencari Adi sampai di lobi hotel.
Si mbak resepsionis hotel tersenyum sinis memandang Maya.
'Dasar pelakor', batin si mbak resepsionis hotel.
"Maaf mbak, ada apa ya?", tanya si mbak resepsionis hotel dengan wajah ramah.
"Kamu lihat orang yang bersama aku tadi?", tanya Maya sambil menatap wajah si mbak resepsionis hotel itu.
"Orang nya sudah keluar mbak, naik bus baru saja", jawab si mbak resepsionis jujur.
"Apa?!", Maya kaget mendengar ucapan perempuan itu. Buru buru dia kembali ke kamar nya. Si mbak resepsionis hotel menatap berlalunya Maya dengan senyum senyum sendiri.
"Rasain Lu"
Maya segera mencari ponsel pintar nya, mencoba menghubungi Adi. Berulang kali dia mencoba namun Adi tetap tak mengangkat nya.
Dengan kesal, Maya menelpon kakak ayah nya, Eros Barata.
Tuutttt Tuuttttt
📞
Maya: Om, Mas Adi kog malah kabur sih. Gimana sih om??
Eros : Lah kog bisa? Harus nya dia sudah bertekuk lutut sama kamu May, orang om pakai yang terampuh kog.
Maya : Ampuh apanya Om? Bukti nya dia bisa kabur gitu.
Eros : Mungkin dia punya pagar May..
Maya : Huh!! Tau gini aku ogah minta tolong om..
📞
Ceklek
Maya dengan geram menutup pembicaraan dengan om nya itu.
"Aaaarrrggghhh!!!"
Maya berteriak keras di dalam kamar nya. Dia mencoba menelpon Adi lagi. Namun si Adi tetap tak mengangkat telepon nya.
Dengan geram, perempuan itu membanting ponsel pintar nya.
Pyarrrr..
Ponsel pintar itu langsung hancur berkeping-keping. Maya duduk di sudut ruangan kamar hotel itu dengan depresi.
Sementara itu Adi yang sedang duduk di kursi belakang bus, terus mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hari ini dia lolos berkat pertolongan tak terduga dari si mbak resepsionis hotel itu. Tuhan selalu punya rencana untuk hambanya yang beriman, begitu pemikiran Adi
__ADS_1
Bus antarkota terus melaju menuju ke arah kota Patria.
Sesampainya di tikungan kecamatan Demang, Adi berkata pada kondektur bus.
"Tikungan depan kiri bos".
"Tikungan pos polisi, turun 2 pir", teriak si kondektur bus. Bus perlahan menurunkan kecepatan dan Adi turun bersama seorang wanita paruh baya.
Adi menyebrang jalan dan masuk ke halaman salah rumah bercat hijau di pinggir jalan raya kabupaten.
Ting tong
Suara bel pintu membuat seorang pria berusia 40 tahunan berdiri dan menuju ke teras rumah nya.
"Eh Adi, silahkan masuk bro"
"Kapan kapan saja Mas Ron. Bisa tolong aku gak?", Adi menatap wajah Roni, mantan senior admin di CV Barata Konstruksi era pak Dedi Barata. Sekarang dia usaha peternakan ayam petelur kecil-kecilan selepas mundur dari dunia konstruksi.
"Minta tolong apa bro? Tumben banget", tanya Roni penasaran.
"Antar aku pulang", jawab Adi singkat.
Roni yang penasaran, tak bertanya lagi lebih jauh. Dia segera mengeluarkan motor Win 96 nya.
Mereka berdua segera naik motor Roni dan melaju kencang kearah timur menembus hutan jati.
Setelah memasuki wilayah eks Kawedanan Daya, mereka belok kiri. Nyampe lampu merah mereka belok kanan.
Saat Roni sampai di pertigaan jalan, Adi mengkode Roni untuk lurus.
"Kita mau kemana??", tanya Roni penasaran.
Dengan keras Adi menjawab,
"Ke rumah calon istri ku".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huft nyaris saja ya😁😁🙏🙏🙏🤲🤲
Untung ada doa dari para reader tersayang semuanya, Mas Adi selamat dari jebakan cinta Maya 🙏🙏🙏🙏
Terimakasih atas dukungannya terhadap cerita ini ya para Mak Mak reader tersayang yang tidak bisa author sebut satu persatu.
__ADS_1
Salam hangat dari author buat kalian semua.
Selamat membaca 😁😁😁