Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Kisah Kita Berakhir Disini


__ADS_3

Adi memacu motornya dengan kecepatan sedang menuju ke Desa Jati di kecamatan Selo. Dari share lokasi aplikasi WA Bu Rini tadi, sepertinya ada di dekat sebuah sekolah SMP negeri. Adi bergegas menuju kesana.


Sebuah mobil Fortuner putih terparkir di salah satu sudut jalan. Adi segera menghentikan motornya.


Bu Rini tampak sedang asyik berbincang dengan admin kantor nya. Adi mendekat ke arah mereka.


"Selamat siang Bu Bos", ucapan Adi membuat bos perempuan itu menoleh ke arah Adi.


"Gaya mu mas mas, biasanya kulonuwun saja pakai selamat siang. Huuu...", cibir Bu Rini.


Adi terkekeh geli mendengar omelan Bu Rini. Dia tidak kaget sama sekali. Hampir 3 tahun mengikuti nya membuat Adi hafal dengan kebiasaan bos perempuan nya itu.


"Ini lokasinya mas, panjang nya enam ratus... enam ratus berapa tadi Gus?", Bu Rini menoleh ke arah Agus, staf admin kantor nya.


"695 meter Bu", jawab si Agus sambil membetulkan posisi kacamata nya.


"Ya itu pokoknya. Nanti kamu jadikan 700 meter lah, yang 5 meter amal. Kira kira kamu siap kapan Mas?", tanya Bu Rini sambil memandang kearah Adi.


"Lha batu gebal nya di kirim kapan Bu?", Adi balik bertanya.


"Rencana nya besok. Leveransir nya bilang gitu", jawab Bu Rini.


"Ya kalau sudah setengah jalan batu gebal nya, nanti saya kirim orang untuk mulai membelah nya Bu.. Ada banyak kog tukang kepruk batu saya Bu", Adi memandang kearah lokasi.


"Yo wes, besok biar di mulai. Oh iya mas, mumpung ketemu. Duit mu mau diambil kapan?", tanya Bu Rini sambil membuka dashboard mobil nya. Mengambil air minum mineral.


"Bu Bos memang pengertian. Tau saja kalau saya lagi butuh duit. Kalau ada sekarang ya boleh Bu hehehehe", Adi cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Alah aku sudah hafal dengan mu mas mas..


Daripada nanti aku kau kejar kayak leasing, mending tak tawari. Kalau sekarang belum bisa full mas, cuma ada 10 juta. Kalau besok siang sudah full semua nya", Bu Rini memandang Adi.


"Ya Bu bos, 10 juta dulu aja. Sisanya besok gak pa pa", ujar Adi tersenyum.


"Awas jangan sampai di bawa ke karaoke. Kalau sampai aku tau ini duit buat main sama purel, taun depan gak tak kasih proyek lagi kamu", Bu Rini mengulurkan amplop coklat berisi duit pada Adi.


"Siap Bu Bos".


Bu Rini di ikuti Agus si admin kantor, segera meninggalkan tempat itu. Fortuner putih nya melesat menuju kota.


Adi segera memasukkan amplop coklat berisi duit dari Bu Rini ke dalam tas nya. Istri anggota DPRD itu terkadang baik, terkadang juga menjengkelkan. Kalau kumat baiknya, puih terasa dunia saja di berikan. Tapi kalau kumat menjengkelkan, jangan pernah mendekati nya.


Setelah bersiap, Adi men-start motor Vixion kesayangannya menuju rumah seseorang. Masih terhitung saudara sebenarnya. Darsiman, seorang tukang kepruk batu.


15 menit kemudian, Adi sudah sampai di rumah Darsiman. Rumah semi permanen yang ada di dalam gang kecil itu terlihat sepi. Hanya seekor anjing besar peliharaan nya terlihat di teras rumah.


"Kulonuwun, Lek Man.. Lek Man", ucap Adi sambil celingukan ke dalam rumah.


Adi yang takut dengan anjing, segera melompat ke atas dipan saat anjing besar itu menggeram ke arahnya. Seorang wanita paruh baya keluar rumah dan segera mengusir anjing besar itu.


"Lho mas Adi. Ada apa kog janur gunung kesini? Ada pekerjaan to buat Kang Man??", tanya Lik Nah, istri Darsiman.


"Iya Bulik, ada pekerjaan. Lek Man kemana Bulik?", Adi masih belum turun dari dipan.


"Lagi merumput. Sebentar lagi juga balik, tunggu saja", jawab Lik Nah yang kemudian berlalu ke belakang.


Adi yang masih anteng di atas dipan, mengeluarkan rokok Diplomat favoritnya dan menyulut sebatang.

__ADS_1


Tak berapa lama, seorang lelaki paruh baya berbadan gempal datang membawa sekeranjang rumput. Raut wajahnya terlihat lelah. Setelah meletakkan rumput di kandang, lelaki itu mendekati Adi.


"Kog tumben kemari? Ada apa Le?", tanya Darsiman sambil duduk di teras. Dia mengipaskan topi nya untuk menghilangkan penat.


"Ada pekerjaan Lik, bisa gak?", Adi mengepulkan asap rokok nya.


Wajah lelaki paruh baya itu sumringah mendengar ucapan Adi. Buru buru dia mendekat. Adi mendorong rokok Diplomat nya ke arah Darsiman.


"Dimana Le? Okeh opo ora ( Banyak atau tidak)?", tanya Darsiman semangat.


"Paling 55 rit Lik, tuh di dekat SMP Jati", Adi memandang Darsiman.


"Kapan mulai Le? Tak ambil godam ku dulu, kemarin di pinjam Topik. Eh tak ngajak Darsiyo boleh gak??", tanya Lek Man kemudian. Tangan kekar pria paruh baya itu menyulut rokok.


"Besok mulai drop Lik, terserah Lik Man, yang penting cepat selesai", jawab Adi singkat.


Dari dalam rumah, Lik Nah membawa 2 gelas kopi tubruk. Adi dan Darsiman menikmati kopi sambil berbincang hangat.


Lepas tengah hari, Adi bergegas pamit kepada Lik Man. Niatnya mau ke proyek jembatan, tapi sebuah pesan singkat membuat nya memutar niat nya.


Dari Depi!


Perempuan itu meminta bertemu Adi di sebuah rumah makan lesehan di kecamatan Kani. Mau tidak mau Adi kesana. Depi sudah mengancamnya akan mengekspos foto saat mereka berdua bercinta di medsos. Adi yang tidak ingat apa-apa, harus segera mengatasi masalah ini.


Adi tiba di Lesehan tempat Depi menunggu. Wanita itu tersenyum manis saat Adi masuk ruangan yang di pesan nya.


"Masuk mas".


Adi hanya tersenyum kecut menatap wajah Depi. Tak disangka wanita itu berubah menjadi sangat licik. Adi benar benar tidak menduga.


"Mas Adi ada apa sih emosi gitu? Makan dulu, baru nanti bicara", Depi tersenyum tipis


'Dasar perempuan ular. Aku tidak akan tertipu lagi'.


"Aku sudah kenyang, tadi baru makan", tolak Adi walaupun perutnya hanya kemasukan kopi saja dari tadi pagi.


"Hemmmm tapi mubazir lho mas..


Atau jangan-jangan mas Adi curiga aku kasih sesuatu ke makanan ini?", Depi tersenyum simpul.


"Pengalaman baru-baru ini membuktikan itu", jawab Adi ketus.


"Maaf mas, terpaksa harus ku lakukan. Aku ingin balas dendam kepada suami ku. Cuma dengan cara itu mas Adi mau melakukan nya", jawab Depi sambil menunduk.


"Apa maksudmu Dep?", Adi mengerutkan keningnya.


Depi menarik nafas panjang sebelum berkata.


Lalu dengan mata berkaca-kaca, dia menceritakan tentang kisah pengkhianatan suami nya. Adi tertegun saat mendengar ini.


Hemmmm


Adi menghembuskan nafas panjang.


"Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu Dep..


Tak semua nya bisa disembuhkan dengan pembalasan dendam. Aku pernah merasakan pahitnya di posisi mu saat ini. Bahkan trauma ku belum pulih sepenuhnya.

__ADS_1


Kau sudah memutuskan untuk berbaikan dengan suami mu. Itu sudah bagus. Demi anakmu.


Belajarlah untuk memaafkan dia", ujar Adi kemudian.


"Tapi hati ku masih sakit mas, setiap aku menatap wajah suamiku, kenangan pengkhianatan itu selalu muncul di kepala ku", jawab Depi sambil terisak lirih.


"Jangan bodoh Dep. Memaafkan memang sulit, aku pun kesulitan melakukan nya. Tapi waktu yang akan menjawabnya.


Pandang anakmu. Lakukan itu hanya untuknya. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti ikhlas memaafkan suami mu", nasehat bijak meluncur sempurna dari Adi.


"Tapi aku pengen bersama orang lain mas, bukan sama suami ku lagi.


Aku pengen bersama mu mas", Depi memelas.


Adi tersenyum kecut.


"Maaf Dep, aku sudah punya orang lain yang mengisi hati ku. Apa yang pernah terjadi antara aku dan kamu itu adalah kesalahan. Dan kesalahan itu bukan aku penyebab nya.


Kisah kita berakhir disini".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Noh denger tuh kata mas Adi 😁😁


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa sedekah like vote dan komentar nya agar author terus semangat menulis 👍👍👍👍


Selamat membaca 😁😁

__ADS_1


__ADS_2