
Motor Adi terus melesat menuju ke arah rumah nya. Indri yang duduk di jok belakang berdebar tidak karuan. Hati nya sungguh cemas. Takut ibu Adi akan menolaknya, karna kondisi kakinya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Seolah tau apa yang dipikirkan oleh Indri, duda beranak satu itu segera menggenggamnya telapak tangan Indri yang melingkar di pinggang nya.
"Gak usah takut. Kita ke rumah bukan untuk berperang. Tenang saja", ujar Adi sambil melirik spion motor nya. Terlihat raut wajah Indri yang gugup itu tampak tersenyum tipis mendengar perkataan Adi.
Motor terus melesat menuju ke kecamatan Selo tempat tinggal Adi. Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka sampai di rumah Adi.
Jam menunjukkan angka 14.00
Adi segera memarkir motornya di samping teras rumah nya. Indri dengan perlahan turun dari jok belakang, di topang kruk nya.
Bu Siti yang kebetulan sedang di dapur, segera bergegas menuju ke arah ruang tamu rumah nya. Dan melihat Adi sedang menuntun Indri untuk naik ke teras rumah. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
"Lho sudah pulang Le? Kog tumben cepat".
Suara Bu Siti mengagetkan Adi dan Indri.
'Perasaan kemarin ibuk deh yang menyuruh buat ngajak Indri kesini. Kenapa masih bertanya? Apa sudah pikun ibuk ku ini?', batin Adi.
"Buk ini perkenalkan Indri Hapsari. Pacar ku juga calon istri ku".
Indri segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bu Siti. Begitu wanita paruh baya itu menyambut, Indri segera mencium punggung tangan Bu Siti.
Wanita paruh baya itu tersenyum manis.
Dia segera mempersilakan Indri masuk ke dalam rumah. Adi segera membantu Indri untuk duduk di sofa ruang tamu.
Duda beranak satu itu segera bergegas menuju kamar mandi. Dari tadi nahan pipis. Bu Siti menyusul nya.
"Le, pacarmu itu sakit ya?", tanya Bu Siti pada Adi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sssstttttt, dia itu orang yang Adi tabrak kemarin buk", jawab Adi setengah berbisik.
"Heeee gitu. Kalian kenal setelah kecelakaan itu ya?", tanya Bu Siti sambil mengaduk teh di dalam gelas.
"Sebenarnya sebelum kecelakaan itu Adi sudah kenal buk. Cuma setelah ibuk bilang kalau mau bertanggung jawab atas kecelakaan itu dengan menikahi nya, Adi jadi berpikir lalu memutuskan untuk memacarinya", jawab Adi seraya melirik ke arah tudung saji di meja makan.
"Kelihatan nya masih muda. Umur berapa le?", Bu Siti terus menginterogasi Adi layaknya seorang tahanan.
"Baru 23 buk, janda anak satu", Adi membuka tudung saji di meja makan.
Ohhhh...
Bu Siti bergegas membawa nampan berisi teh ke arah ruang tamu. Sementara Adi sibuk mengisi piring yang baru dia ambil dari rak dengan nasi, sayur bobor bayam, sambel korek dan bakwan jagung manis. Usai penuh sepiring, duda beranak satu itu menyusul ibunya ke ruang tamu.
Di ruang tamu, Bu Siti nampak sedang asyik berbincang dengan Indri.
"Rumah mu mana Ndri?", tanya Bu Siti sambil tersenyum memperhatikan Indri.
Indri yang sedang gugup saat itu, dengan terbata-bata menjawab,
"De-desa Marga buk".
Keringat dingin mulai membasahi kening janda muda itu. Bu Siti tersenyum melihat kegugupan Indri. Yahh dulu dia juga pernah mengalami hal yang sama.
"Gak usah gugup Nduk, santai saja. Ibu cuma tanya kog".
"I-iya buk iya", Indri benar benar grogi.
Adi yang baru datang langsung duduk di sebelah Indri sambil memegangi piringnya.
"Kenapa berkeringat gitu yank? Kayak baru ketangkap basah saja", Adi menyendok nasi ke mulutnya.
Melihat Adi sedang makan tiba-tiba cacing di perut Indri langsung orkestra. Sejak tadi pagi dia memang belum makan.
Kriukkkkk kruuukkk..
Adi yang mendengar suara itu segera menoleh kearah Indri.
"Kamu lapar yank? Belum makan dari tadi?", tanya Adi sambil memandang kearah Indri yang menunduk karena malu.
__ADS_1
"Sudah kog mas. Sudah tadi", Indri berusaha keras untuk menahan diri. Dia malu kalau sampai bilang dia sedang lapar.
Kriukkkkk kruuukkk kriuk
Kembali perut Indri berbunyi lagi. Adi segera menyendok nasi dan sayur bobor bayam juga secuil bakwan jagung dan menyodorkan ke bibir Indri.
"Buka mulut mu yank".
Indri dengan wajah merah merona perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan nasi dari Adi.
Mata Indri melebar. Masakan ibu calon suaminya itu enak.
Bu Siti tersenyum penuh arti memandang kearah Adi dan Indri yang sedang menikmati sepiring nasi berdua.
"Ehemmmm ehemmm".
Deheman Bu Siti segera membuat Adi dan Indri kompak menoleh ke sumber suara.
"Kalian ini ya benar benar kompak. Tega bener pamer kemesraan di depan orang tua", Bu Siti pura pura sewot.
Indri segera menunduk dan Adi malah cengengesan. Bu Siti segera meninggalkan ruang tamu, membiarkan mereka berdua untuk menghabiskan makanan nya.
"Mas, ibuk sepertinya marah sama kita", ucap Indri sambil mengunyah nasi yang baru disuapkan Adi padanya.
"Gak, tenang saja yank. Ibuk ya seperti itu. Jarang sekali dia marah, tapi kalau marah bisa ngomel tujuh hari tujuh malam los gak berhenti", Adi sibuk menyendok nasi bercampur kuah bobor bayam.
"Oh gitu. Syukurlah kalau ibuk tidak marah", Indri menarik nafas lega.
Mereka berdua terus makan sampai nasi habis.
"Yank, tambah lagi gak?", Adi berdiri hendak pergi ke dapur.
Janda muda itu menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia masih lapar, tapi kalau nambah lagi dia tidak akan punya muka.
Cinta yang baru pulang bermain dari rumah kakaknya pulang di antar Nita, begitu masuk langsung mendekati Indri.
"Eh perawan ayah Adi sudah pulang", ujar Indri sambil menyambut uluran tangan Cinta. Gadis kecil itu segera mencium punggung tangan Indri.
"Baru saja sama ayah Adi", jawab Indri sambil tersenyum simpul.
"Cinta ke dalam dulu ya Te?".
Indri mengangguk dan Cinta segera bergegas menuju ke arah kamar dan berpapasan dengan Adi.
"Sudah salim dengan Bu Indri?", tanya Adi.
"Sudah yah", jawab Cinta sambil terus berjalan masuk ke kamar nya. Adi tersenyum tipis lalu segera menuju ke ruang tamu.
Bu Siti yang ke belakang rupanya mempersiapkan sesuatu untuk Indri. Perempuan paruh baya itu sibuk memasak telur dan ayam yang ada di kulkas.
"Mas ibuk beneran marah seperti nya. Dari tadi gak balik lagi kesini", ujar Indri menatap Adi dengan nada ketakutan.
"Haesh jangan berfikir macam macam. Noh orangnya sibuk di dapur lagi masak", Adi menyulut sebatang rokok.
"Huft Indri takut mas, kalau ibuk tidak merestui hubungan kita", Indri menunduk.
"Alah belum juga bahas masalah nikah, udah kejauhan mikirnya.
Kebelet nikah ya yank?", seloroh Adi yang membuat wajah cantiknya Indri memerah seperti kepiting rebus.
"Aihhh apaan sih mas?? Ya gak lah enak aja", Indri memandang kearah lain, dia tak mau Adi menatap wajah nya. Dia paling tidak bisa berbohong.
"Cieeeee, ada yang pengen segera di nikahi", goda Adi sambil memonyongkan bibirnya.
"Hihhhhhhhh nyebelin banget deh ni orang.
Godain lagi, Indri pulang nih", ancam Indri yang tak tahan di goda Adi terus terusan.
"Yah ngambekan..
Iya deh janji gak goda lagi. Cuma ada syaratnya", Adi tersenyum licik.
__ADS_1
"Apa mas?", Indri menatap wajah duda beranak satu itu dengan serius.
"Sun ping dua (Cium dua kali)", jawab Adi santai.
Blushhh
'Ihhh, apaan sih mas Adi nih? Ini di rumah loh, ketahuan ibuk bisa langsung di nikahin', batin Indri. Wajah cantik Indri langsung merona merah.
"Ih gak lah mas. Malu kalau ketahuan ibuk", ujar Indri.
"Alah, orang nya lagi sibuk di dapur. Aman yank. Buruan nanti orang nya kesini", paksa Adi sambil melirik ke arah dapur.
Cupp
Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Indri.
Saat Adi mau mencium untuk kedua kalinya, sebuah tangan menjewer telinga nya.
"Eeeettttt mau apa kamu Le?", teriak Bu Siti sambil menarik telinga Adi.
"Waduhhh sakit buk, sakit...
Adi cuma meniup pipinya Indri yang kena debu tuh", Adi meringis menahan sakit.
"Alah jangan bohong kamu. Ibu tau kamu mau mencium pipi Indri kan? Awas kamu jangan macam-macam. Belum muhrim", Bu Siti melepaskan jeweran nya. Adi mengelus telinga nya yang panas akibat jeweran Bu Siti.
Indri yang sudah malu, segera berpamitan.
"Buk sudah sore. Indri pamit dulu. Yuk mas".
"Eh sebentar ya, tunggu", Bu Siti segera berlari menuju ke arah dapur. Dan kembali membawa rantang susun plastik.
"Bawa ini pulang. Untuk anakmu dan ibumu ya Nduk".
Setelah Indri mengucapkan terima kasih, perempuan itu naik ke atas motor Adi. Bu Siti melambaikan tangannya.
"Hati hati ya calon mantu", ujar Bu Siti. Indri tersenyum bahagia mendengar suara Bu Siti.
Motor Adi melaju meninggalkan rumah itu.
"Aku senang sekali hari ini mas", ujar Indri saat motor Adi sudah memasuki jalan kabupaten.
"Emang kenapa yank?", Adi menoleh ke arah pacarnya itu.
"Ternyata mertuaku tak seseram di tv"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ihhh ya jelas to Mbak Indri, mertua kejam hanya ada di sinetron doang
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys 👍👍👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁